NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan yang Membawa Petaka

Aroma minuman beralkohol menguar pekat dari tubuhnya. Langkah kakinya sempoyongan menyusuri jalanan sempit nan gelap. percikan kecil air sisa hujan yang baru reda, melompat tinggi di setiap jejak kakinya. Mulutnya terus meracau, mengumpat dengan segala kata-kata kasar yang terdengar fasih dari sana.

Lalu, bibir itu mengulas senyum begitu berhenti di depan sebuah pagar besi rendah yang sudah lama tidak dia kunjungi. Aroma korosi pada permukaannya tercium lebih pekat daripada sebelumnya. Meski begitu, rumah ini menjadi satu-satunya rumah yang terbilang layak di antara jajaran rumah kumuh di sekitarnya.

Gang sempit dan berbau tak sedap tak sedikit pun menghalangi langkahnya menuju rumah.

"IBU!! ALANA!!" teriaknya dari balik pintu yang tertutup rapat.

Saking lantangnya, suara itu terdengar menggema dalam perkampungan sempit ini. Genangan air pun ikut bergetar dibuatnya. Beberapa tetangga yang semula hanya memandanginya dengan tatapan aneh dari balik jendela, kini mulai berani menyembulkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka.

Sementara pria dengan aroma alkohol yang pekat itu masih setia berdiri di depan teras kecil yang sedikit becek. Dahinya bertumpu pada permukaan pintu. Kedua tangannya menggenggam erat di balik saku celana yang kering.

"Alana!" panggilan itu masih terus terdengar bersama dengan ketukan pintu yang tiada habisnya.

Usahanya tak sia-sia. Lampu ruang tamu di dalam sana kembali menyala. Suara langkah kaki yang semakin mendekat juga terdengar samar. Begitu pula dengan gemerincing kunci yang diputar dari dalam sana. Memuatnya tersenyum seketika.

Begitu pintu terbuka, tubuhnya terjerembab ke depan. Sosok perempuan yang membukakan pintu untuknya langsung menyingkir begitu saja. Membuat pria bertubuh kurus dengan perut sedikit buncit itu mencium lantai yang cukup dingin malam ini.

"Mas Dipo?" ucapnya heran begitu melihat pria yang terjerembab di depannya.

Merasa namanya disebut, Dipo mendongak. "Lo kalau nggak mau bukain, nggak usah!!!" bentaknya pada sang adik.

Alana yang menerima bentakan itu, tak terima. Dia berkacak pinggang tanpa membantu kakaknya  berdiri sedikit pun. Dia hanya menatap pria itu tanpa minat. Padahal Dipo menjadi satu-satunya orang yang dia tunggu di acara pernikahannya tempo hari.

Perempuan itu mendongak pada kakaknya. "Ngapain ke sini?" Nada suaranya tak terdengar ramah sama sekali.

Sementara, Dipo tertawa kecil dengan bahu yang sedikit terangkat. "Ngapain lagi? Pulang lah! Lo lupa kalau gue masih kakak lo?" sahutnya.

Alana menghela nafas pelan. Pandangannya beralih pada jajaran rumah tetangga di luar sana. Tak nyaman dengan tatapan yang diberikan mereka padanya dan Dipo yang tengah berdebat di ambang pintu. Sementara, dia juga tak ingin mengusik kenyamanan ibu dan kakak iparnya di dalam sana.

Alhasil, Alana menarik kasar kerah baju kakaknya untuk ikut masuk dan kembali menutup pintu rumah. Meski mungkin akan membangunkan Sukma yang kini tidur di kamarnya.

"Mas Dipo mabuk?!" tanya Alana tajam. Matanya melotot ke arah kakaknya yang tampak berusaha membuka matanya.

Dipo tertawa kecil. "Bukannya lo yang ngasih undangan ke gue? Kan lo sendiri yang minta gue datang ke nikahan lo sebagai wali lo," timpalnya.

"Udah lewat!" balas Alana ketus.

Alana memalingkan wajahnya. Jika bisa, dia ingin sekali memuntahkan segala sumpah serapah dan seluruh kosakata kasar yang sudah membeludak di dalam hati dan kepalanya untuk kakaknya ini. Namun, Alana tak dididik untuk menjadi seseorang yang seperti itu oleh kedua orang tuanya.

Tepat di saat itu pula, pintu kamar Alana terbuka. Sukma yang Alana kira sudah tidur di sana sebelumnya, kini tampak segar dengan langkah lebar menuju pada kedua kakak beradik yang kini masih berdiri di ruang tamu.

Begitu langkah wanita itu berhenti di depan suaminya, tangannya dengan ringannya melayang di udara. Seolah dia sudah menahan diri terlalu lama. Satu buah tamparan keras sudah cukup untuk melampiaskannya.

"Orang gila! Bisa-bisanya kamu masih berani datang ke sini!" pekik Sukma tertahan. Wajahnya merah padam dengan urat leher yang mencuat keluar. Matanya melotot tajam pada Dipo yang kini tersungkur di atas lantai.

Alana yang menyaksikan itu tak sekali pun berpihak pada kakak kandungnya. Dia malah sibuk memeluk Sukma dan berusaha menenangkan wanita itu dengan usapan lembut pada lengan dan punggungnya. Meredakan deru nafas tak beraturan dari kakak iparnya ini.

"Mbak... Ibu udah tidur, jangan sampai Ibu dengar, ya," ucap Alana sembari menguraikan pelukannya. Dia menatap dalam mata Sukma yang ada di hadapannya.

Ada setitik kecewa yang bersembunyi di balik mata itu. Marah dan sedih bercampur menjadi satu, membentuk bulir air mata di ujung matanya. Alan usap beberapa kristal yang baru saja meluncur dari sana.

Sedangkan, Dipo mematung di tempatnya. Pipinya dibuat mati rasa oleh tamparan itu hingga tak sadar titik-titik cairan merah menetes dari sudut bibirnya. Sudut bibirnya koyak hanya karena tamparan dari seorang wanita yang pernah mencintainya dengan sungguh-sungguh.

Detik selanjutnya, barulah dia kembali tersenyum. Perlahan berubah menjadi tawa. Suaranya terdengar leih lantang dari sebelumnya. Pria itu terguling di atas lantai dengan tawa yang entah apa artinya.

"Gue baru balik dan ini sambutan dari kalian?" Dipo menatap Alana dan Sukma bergantian. "Makasih loh! Sambutannya meriah sekali!"

Setelah mengatakan itu, arah mata Dipo beralih pada seseorang di baik tubuh Sukma dan Alana. Dia dengan santainya mengangkat sebelah tangannya dengan senyuman yang tersisa. Menyapa sosok yang berjalan dari arah kamar belakang.

Dipo berdiri. "Halo, Bu! Apa kabar? Masih hidup ternyata," sapanya tanpa sopan santun sama sekali.

"Mas Dipo!" tegur Alana dengan mata melebar.

Sementara Dipo hanya menarik kedua sudut bibirnya ke bawah. Bahunya terangkat sedikit dengan pandangan pada anaknya. "Salah aku nanya begitu? Kan emang dia udah sakit-sakitan."

Tanpa ingin kembali berbicara baik-baik dengan Dipo, Alana maju mendekati kakaknya. Di tarik kembali kerah kaus pria itu hingga berdiri di hadapannya. Lalu, dengan sekuat tenaga, dia dorong Dipo hingga menabrak dinding di baliknya tubuhnya.

"Kalau udah tahu Ibu sakit, harusnya Mas Dipo datang waktu aku minta tolong jagain Ibu di rumah! Tapi, apa? Ada Mas Dipo datang ke sini?! Nggak sama sekali!!" bentak Alana.

Rumah yang biasanya paling tenang itu menjadi yang paling riuh malam ini. Suara Alana yang biasanya terdengar lembut, kini terdengar tajam. Matanya yang biasanya tampak tenang, kini tak henti melotot tajam ke arah sang kakak. Rahangnya mengetat tanpa ampun, membuat giginya saling bertabrakan di dalam sana.

"Seenggaknya kalau Mas Dipo udah nggak bisa bertanggungjawab sama aku dan Ibu, jangan sampai ninggalin sebagai suami dan ayah juga!"

"Alana!" tegur Laksmi yang kini direngkuh oleh Sukma.

Wanita yang paling tua itu untuk pertama kalinya meninggikan suara pada anak perempuannya. "Kamu nggak berhak bilang begitu ke Dipo, Lan! Dia itu kakakmu!"

Alan menunduk dalam. Senyumnya mengembang getir di antara panas telinganya. "Lihat kan, Mas? Ibu tuh masih bela kamu mau kamu seburuk apa pun!"

"Aku yang merawat Ibu selama ini aja nggak pernah dibelain sebegitunya, Mas. Kamu ini anak yang dapat perlakuan istimewa!" lanjut Alana menggebu.

Mungkin karena terlalu marah. Mungkin karena terlalu lama memendam emosi. Mungkin juga karena dirinya yang lebih sensitif dari hari-hari biasanya. Alana tak dapat lagi menahan diri lebih lama.

Dipo menyunggingkan senyum remeh di wajahnya. "Mungkin, lo yang nggak becus jaga nyokap lo itu," sahutnya pongah.

Sama seperti Sukma sebelumnya, Alana tak dapat lagi menahan diri. Pipi yang masih memerah akibat tamparan sebelumnya itu kembali dia bubuhi dengan pukulan yang lebih keras. Alana bahkan sampi tak dapat merasakan telapak tangannya lagi.

"Ibu!" panggil Sukma begitu tubuh Laksmi luruh di tangannya. "Alana udah, Lan!"

Alana yang baru saja puas menumpahkan segala emosinya itu menoleh ke arah Sukma. Di situlah dia melihat ibunya yang sudah tak sadarkan diri dalam pelukan Sukma. Alana lantas berderap cepat ke arah tubuh ibunya.

"Aku panggilin ambulance sebentar," ucap Sukma sambil memberikan ubuh Laksmi pada Alana.

Sementara, sumbu dari semua ini hanya duduk diam di ujung ruangan. Dia keluarkan rokoknya dan mengisapnya dengan tenang. Seolah semuanya tak berarti apa-apa untuknya.

Satu hal yang keluar dari bibirnya dan membuat Alana kembali bersungut. "Lihat, kan? Lo yang nggak becus jaga dia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!