Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bodoh Dan Lemah
"Aduh sakit banget, Bener-Bener wanita gila," keluh Klaudia berusaha untuk berdiri, karena sekujur tubuh terasa sakit semua.
Melani yang melihat Klaudia justru bukan nya iba malah merasa senang, Dia merasa putri nya memang harus mendapatkan pelajaran agar tidak membuat rusuh.
"Makanya, jangan membangunkan Singa yang sedang tidur, kena sendiri akibatnya," ucap Melani menatap putri nya dengan ngeri.
"Bukan nya di tolongin malah ngeledek, sebenernya yang anak Mama, Aku atau Dia sih?" dengus Klaudia dengan kesal, kemudian Dia langsung berjalan ke arah kamar nya dengan tertatih, sedangkan Melani hanya geleng-geleng kepala saja karena merasa lelah dengan sifat putri nya.
Sedangkan di dalam kamar, Glen langsung meletakkan Amara di ranjang, Dia menjadi berkeringat karena wanita itu tadi terus meronta minta di turunin.
"Apaan sih, orang belum kelar kasih pelajaran juga," gerutu Amara sambil berusaha untuk duduk.
"Kakak ku kalo di ladenin gak ada habisnya," jawab Glen berusaha menenangkan.
"Aaaah... Lo mesum deh," teriak Amara yang baru melihat Glen tidak memakai sehelai benang pun.
Pria itu langsung teringat saat tadi handuk nya melorot di depan pintu, karena Amara yang terus meronta-ronta.
"Lagian gara-gara kamu sih, tadi gak sabaran minta turun," jawab Glen sambil memungut handuk nya, lalu segera berjalan ke arah lemari pakaian.
"Bilang aja sengaja, biar Gue tertarik," dengus Amara dengan dingin.
"Emang tertarik?" tanya Glen sambil memakai celana nya, sedangkan Amara memilih untuk mengalihkan pandangannya.
Amara hanya diam, Dia sebenarnya merasa pusing karena tidur nya yang terganggu dan bangun secara tiba-tiba.
Glen yang merasa tidak ada sahutan justru mendekat ke arah wanita itu setelah memakai celana nya, Dia belum memakai baju nya.
"Itu gak sebagus Ma Xiaoyu, Dia lebih keren dan perkasa," cibir Amara mengendus kesal, karena merasa Glen sengaja menggoda nya.
"Pakai baju mu, Gue tidak tertarik," lanjut nya sambil rebahan kembali untuk menghilangkan pusing di kepalanya.
"Siapa Ma Xiaoyu? Kok aku baru denger?" Glen tidak menggubris perkataan Amara, justru dia malah penasaran dengan pria yang wanita itu sebut.
"Cari aja di google pasti ada," jawab Amara dengan malas.
Glen pun langsung merebahkan tubuhnya di samping Amara, lalu mencari sesuai yang di katakan wanita itu.
'Lah malah di samain sama aktor cina,' batin Glen yang jadi senyum-senyum sendiri, karena melihat beberapa pose aktor itu yang menampilkan tubuh kekar nya.
"Jadi seleramu yang berotot yah?" tanya Glen melirik ke arah Amara membuat Amara merasa terganggu.
"Apaan sih? Kakak nya tukang rusuh, adiknya pun juga sama, pengganggu," ketus Amara menggerutu dengan kesal karena rencananya ingin tidur kembali urung, akhirnya wanita itu memutuskan berjalan ke arah kamar mandi, karena merasa butuh merendam tubuh nya agar rileks.
Glen hanya menghela nafas panjang, saat melihat wanita itu yang selalu tidak bersahabat, padahal Dia selalu berharap wanita itu tidak dingin tapi fakta nya seperti nya sulit.
Keesokan harinya
Amara dan Glen pagi itu memutuskan untuk mengantarkan Nenek nya untuk pengobatan, yang Glen janjikan, kini mereka bertiga sudah berada di depan rumah tua, yang tampak sepi dan penuh aura mistis.
"Lo yakin pengobatan ini berhasil?" tanya Amara merasa ragu, karena melihat suasana rumah itu saja sudah ragu karena tampak tua dan usang.
"Insyaallah, selama kita mencoba apa salahnya, dulu Aku pernah terluka kaki nya, tapi Alhamdulillah sembuh," jawab Glen dengan meyakinkan.
Kemudian Glen mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk, hingga akhirnya terdengar sahutan dari dalam.
"Walaikumsalam, Glen silahkan masuk," ucap pria tua itu, saat melihat kedatangan Glen.
Kini mereka duduk di lantai yang sudah di gelar tikar, hal itu membuat Amara merasa tidak nyaman dengan itu.
"Kakek tempo lalu Saya minta pil ajaib itu, katanya ada efek samping nya yah." Glen mencoba untuk membuka obrolan, menyampaikan maksud nya.
Pria tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis, membuat Amara mengerutkan keningnya heran.
"Pasti kamu minta penawarannya yah?" tanya pria tua itu yang seakan sudah tahu.
"Tepat sekali, ini Nenek istriku, perkenalkan," Jawab Glen mengangguk mengiyakan, sambil memperkenalkan Yuni.
"Wah-wah, kok nikah gak bilang-bilang," pria tua itu menatap Glen dengan sedih.
"Itu kan Kakek gak bisa datang karena ada urusan, bukan nya waktu itu minta pil untuk menjemput nya, tapi dirimu malah menitipkan pada anak buah mu," Glen menjawab sambil berusaha untuk mengingatkan pikiran pria itu yang suka pikun.
"Oh iya, ingat waktu itu Aku lagi ada urusan di luar," pria tua itu mengangguk-angguk mengerti.
"Jadi ini wanita nya? Cantik dan pemberani, kuat dan punya tatapan tajam," lanjut nya menatap Amara dengan menyelisik, membuat wanita itu hanya tersenyum tipis karena merasa tidak nyaman.
Lalu setelah nya menyuruh Yuni untuk berbaring, pria itu memeriksa denyut nadi lalu berpindah ke kaki, setelah nya mengerutkan keningnya.
"Ini karena efek samping pil ajaib itu, kau memberikan nya sembarangan," ucap Pria tua itu sambil mengela napas panjang.
"Jadi Nenek ku gak bisa sembuh?" tanya Amara menatap Glen dengan tatapan tajam.
"Bisa, cuma gak bisa langsung akupunktur, kalian harus mencari bunga cahaya emas,di hutan sebelah utara, jika mau di obati, kalo gak ini bisa berakibat fatal," terang pria itu panjang lebar sambil tertunduk merasa obat itu cukup langka dan sulit.
"Kakek sendiri gak yakin, masih ada atau tidak," lanjut nya merasa putus asa.
"Aku mau mencari nya," jawab Amara dengan yakin.
"Tapi..."
"Tidak ada kata tapi, asal Nenek sembuh Aku akan melakukan nya, Glen ayo, Lo harus tanggung jawab," potong Amara sambil menyuruh Glen untuk berdiri, membuat pria itu langsung berdiri dengan malas.
Tidak membuang-buang waktu Amara langsung berjalan ke arah hutan, hanya berbekal keberanian dan tekad, wanita itu nekat pergi, walaupun kakek tua tadi sudah memperingatkan nya.
Glen hanya mengikuti wanita itu, pria itu seperti pecundang yang terus-menerus bersembunyi di belakang Amara, membuat Amara jengah dan kesal.
"Dasar selain bodoh dan lemah Lo juga penakut yah," sindir Amara yang di balas senyuman kecil oleh pria itu.
Perjalanan panjang itu mengantarkan mereka pada sebuah gua yang gelap gulita, Amara terus berjalan hingga akhirnya melihat sebuah pintu keluar dari gua itu, di sana dia melihat ada pemandangan yang cukup indah, yang ditumbuhi beberapa bunga, pandangan mata nya tertuju pada sebuah bunga yang berkilau berwarna mas.
"Itu bunganya," tunjuk Amara sambil tersenyum tipis, Dia merasa tidak sia-sia jauh-jauh ke tempat itu.
Namun saat hendak mengambil nya, Amara melihat bunga itu terletak di atas batu paling tinggi, perlu usaha untuk mendapatkan bunga itu.
"Glen, perhatian sekitar, Gue naik ke atas dulu," bisik nya membuat Glen menurut.
Amara kini sudah naik ke atas namun saat bunga itu di petik seolah banyak raungan serigala, harimau, dan ular berdatangan.
"My istri ada hewan buas, cepetan turun," teriak Glen dengan ketakutan.
"Sial, banyak banget hewan buas," umpat Amara langsung memasukkan bunga itu ke dalam tas, lalu segera melempat dari batu itu dan langsung lari meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Glen juga ikut serta lari, karena ketakutan melihat hewan buas itu mengejarnya.
Amara yang panik lari terlebih dahulu, Dia berhenti saat sudah keluar dari Gua, namun pandangan nya tertuju pada Glen yang tidak ada di belakang nya.
"My istri tooloong, Aku gak mau mati muda!" teriak Glen membuat Amara mendengus kesal.
"Pria itu, selalu saja bodoh dan lemah," umpat Amara langsung berjalan kembali ke arah pintu gua.
BERSAMBUNG