"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertamu kerumah Aru
"terus rumah kamu di mana?" tanya Alvin pada Sella, kini mereka tengah duduk di teras dengan pemandangan sawah yang menghijau karena padi
"deket sini kak, gak jauh kok kakak mau ikut ke rumah Sella nggak? hari ini kakak Sella juga pulang loh.. tapi kakak Sella galak nanti kakak jangan takut ya" jawab Sella yang sedang mengunyah jeruk
"ohh.. kakaknya Sella galak? kalau gitu kak Sam sama kak Al gak bakalan di makan kan?" tanya Samudra yang sedang mengupas jeruk untuk Sella
"hm.." Sella menggeleng kuat
"kakaknya Sella galak tapi gak doyan mana manusia, kakaknya Sella bukan jurik tapi kalo marah lebih serem dari jurik hahhahaa.." jawabnya sambil tertawa, Alvin dan Samudra tertawa keras mendengar celotehan Sella, seorang bocah yang baru berusia 5 tahun itu terlalu pintar bicara, mereka bahkan curiga jika Sella bukan anak 5 tahun
"habis ini kakak anterin kamu pulang ya? biar kamu gak jalan sendiri, kakak juga pengen liat kakak kamu yang galak itu" tawar Alvin Sella mengangguk semangat
"tapi jangan takut ya sama kakaknya Sella" ucap Sella sambil tertawa
"kamu gak tau ya, kak Al sama kak Sam ini titisan maung loh!" balas Alvin tertawa
"bisa seruduk pohon kayak kakaknya Sella gak?"
pertanyaan Sella membuat keduanya tertawa keras, entah seperti apa kakak dari gadis imut itu mereka menangkap jika dia mungkin seseorang yang sangat unik, mereka benar-benar tertarik untuk tau lebih banyak
"Nek.. Alvin sama Samudra anter Sella pulang ya? nanti kita balik lagi" izin Alvin pada Uswati
"ya,, pergilah.. Sena juga lagi istirahat di kamar Mamanya. kalian bermain lah jangan sampai bosan ingat kembali lagi kesini ya? jangan sampai kelaperan juga nanti, kalo laper kalian langsung pulang aja kesini" jawab Uswati tersenyum
Alvin dan Samudra kemudian pergi mengantar gadis kecil itu untuk pulang. sepanjang perjalanan mereka terus tertawa karena cerita Sella, Alvin dan Samudra jatuh cinta pada gadis kecil itu mereka tiba-tiba sedikit tak rela untuk pulang besok dan berpisah dari gadis itu
"nah.. ini rumah Sella, kak Al sama kak Sam ayo masuk!" ajak Sella. dua remaja itu baru sadar jika perjalanan mereka tak sebentar
"hei sella, ini yang kamu bilang deket? ini jauh loh.. kok kamu gak capek jalannya?" tanya Alvin
"iya nih, kamu bohong sama kak Sam, ini sih jauh Sella.. jarak rumah nenek sama kamu butuh waktu hampir 18 menit loh" sahut Samudra juga
"mana kita jalan lagi" lanjutnya
"hehe.. Sella mah udah biasa" celetuk Sella, Alvin dan Samudra terbungkam rasanya seperti di sindir oleh bocah 5 tahun itu. apa karena kata-kata mereka yang seperti mengeluh itu membuat ucapan Sella seakan meremehkan mereka? atau hanya mereka yang merasa seperti itu?
"kok diem? rumah Sella kecil ya?" tanya gadis itu yang sudah beberapa langkah di depan
"eh.. kaki kak Al sama kak Sam cuma keram dikit" jawab Alvin melangkah masuk
"loh.. Sella? kamu bawa siapa?" tanya Rini yang keluar membawa dua gelas air untuk menyambut dua remaja asing itu, Rini sadar ada tamu yang datang jadi cepat-cepat dia membawa air untuk mereka
"kalian pasti haus kan? silahkan minum" Rini tersenyum ramah memberikan air pada mereka. Alvin dan Samudra sempat melongo, ibu dari gadis kecil itu sangat ramah bahkan begitu baik menyambutnya dengan segelas air
"makasih tante" ucap sopan keduanya
"ayo masuk"
Rini mengajak kedua anak remaja itu masuk kerumahnya. Alvind dan Samudra sangat terkejut saat melihat Surya keluar dari sebuah ruangan, mereka ingat jika pria itu adalah kepala Desa dua remaja itu tiba-tiba merasa canggung saat sadar mereka berada di mana sekarang ini
"anu... kita cuma nganterin Sella doang, karena Sella nya udah sampai rumah kita kayaknya udah harus balik.. temen kita juga udah nunggu Tante" ucap Alvin mencoba tenang
"iya, bener! kita tadi bilangnya mau pergi sebentar jadi kita mungkin gak bisa lama-lama" sahut Samudra juga
"kalian canggung ya? Ahahahha... gak apa-apa.. duduk saja, saya gak akan makan kalian kok" celetuk Surya mencoba membuat dua remaja itu untuk tak lagi sungkan padanya
"saya senang ada tamu kerumah.. kalian udah makan?" tanya Surya mulai menyeruput kopi yang baru di bawakan oleh Rini
"udah Om.. kita udah makan di rumah nenek.. ne..nek..." Alvin mencoba mengingat nama nenek dari Deva itu
"Uswati! bareng.. Sena juga" celetuk Samudra menyelamatkan temannya dari rasa canggung yang mengganggu
"oh.. kalian teman-teman nya Sena? kebetulan sekali.." ucap Surya terkejut
"Maja sudah cerita tentang kalian, tentang Sena juga padaku.. sepertinya dia masih dendam padaku ya? sudahlah.. dia hanya belum tau kebenarannya. tidak perlu buru-buru memberi tahunya karena itu akan membuka paksa luka terdalamnya" lanjut Surya
"Maja bilang, kalian sering mencoba bicara pada Sena tentang masalah beberapa tahun yang lalu sampai sekarang masih di salah pahaminya ya? tidak apa-apa.. dia masih terlalu takut pada lukanya, kasihan sekali Sena"
Alvin dan Samudra terkejut untuk kedua kalinya, hari ini sangat plot twist untuk mereka. rupanya kepala Desa itu adalah orang yang Deva salah pahami selama ini, Alvin dan Samudra sudah berteman dengan Deva semenjak Deva pindah ke kota dan Liando Atmaja, papa Deva tau seberapa dekat pertemanan mereka.
"jadi...? kita kaget banget loh Om bener-bener gak nyangka, Dev.. Sena sampai sekarang masih ingat sama anak Om. namanya Aru ya? Deva sering gak sengaja nyebut atau nulis nama itu, dia mungkin masih rindu atau juga mungkin karena dendam" ucap Alvin bercerita
Surya terdiam mendengar kata-kata Alvin.
"terus, Aru di mana Om?" tanya Samudra buru-buru
"loh... dia kan teman sekolah kalian, baru seminggu kemarin dia pindah.. lah tante lupa dia kan gak mau lagi di panggil Aru, namanya Lusi" jawab Rini tersenyum meletakkan biskuit dan pie Apel untuk mereka semua
"LUSI!!?" kaget keduanya, Surya dan Rini terkejut dengan teriakan mereka
"kalian kenal?" tanya Rini duduk di samping suaminya
'gak cuma kenal, dia udah jadi target mainan kita tante..' batin Alvin menyembunyikan rasa bersalahnya
"oh.. kita cuma tau dia murid baru di sekolah, tapi gak pernah ketemu ha. ha. ha.." jawab Samudra berbohong
"Sena masih dendam sama saya, dia juga membenci Aru karena Aru putri saya.. saya harap Sena jangan dulu mengenali Aru, takutnya Sena malah menjauh jadi Maja diam-diam ingin membuat mereka dekat sebagai teman yang baru kenal tanpa masa lalu kelam.. Sena masih trauma dengan tragedi itu dan itu wajar. oh ya bagaimana dengan kemarin? mereka ada momen deket gak?" tanya Surya penasaran
"Om... kenapa gak jelasin secara langsung aja? iya saya tau dia trauma, dia takut tapi.. kalau terus dibiarkan dia akan makin tersiksa kan? dia juga gak akan berhenti benci sama kalian kenapa gak coba aja?" tanya balik Samudra
"gak semudah itu, apalagi semenjak Maja di nikah paksa dengan Sera Sena semakin menjauh, dan kalian tau soal itu" jawab Surya menghela nafas kasar
"Om tenang aja, kita berdua kayaknya punya rencana buat mereka" celetuk Alvin di sambut senyuman oleh Samudra
'mana kebetulan banget lagi Sella adiknya Aru, eh Lusi.. seru nih' batin Alvin