Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Merindukanmu
Tisha menoleh ke arah luar kaca mobil, dengan mata berkaca-kaca. “Kalau Anda terlalu baik dan kita berpisah nanti, orang akan berpikir bahwa sayalah yang bersalah. Dan itu membuat saya rugi.” Jelas Tisha.
Willie terdiam, seperti ditampar oleh kenyataan yang tidak pernah ia pikirkan.
“Maaf, Tisha. Aku tidak berpikir sampai ke situ,” ucapnya.
Ia kembali menatap jalan di depan. “Mulai sekarang, Aku akan menuruti kemauanmu,” lanjut Willie.
Ia kembali melajukan mobilnya. Tidak ada percakapan sepanjang jalan. Hanya keheningan yang terasa di dalam kabin mobil itu. Mereka menjemput Alia, dan langsung pulang ke rumah lagi.
Sesampai di rumah, Willie langsung masuk ke kamarnya. Alih-alih beristirahat, ia membuka laptop dan mengakses sosial medianya dengan akun anonim yang memang ia gunakan hanya untuk membeberkan video aib lawannya.
Tanpa ragu, ia mengirim video dan foto perselingkuhan pejabat itu ke akun berita besar untuk meledakkan informasi.
Tombol kirim ditekan, sederhana dan selesai. Namun Willie tetap gelisah. Malam itu ia tidak tenang. Kata-kata Tisha tadi terus terputar di kepalanya. Rasanya seperti duri halus yang menusuk.
Ia memandang foto pernikahannya dengan Vira didalam bingkai besar yang menempel di dinding kamar. Wajah dan senyum itu mengingatkan kebahagiaan yang dulu pernah memenuhi hidupnya.
“Vira, aku merindukanmu,” lirih Willie. “Aku membutuhkanmu, aku harus apa?".
Ponselnya bergetar di atas meja. Ternyata itu panggilan dari Rendra.
“Bro, barusan aku buka sosmed. Gila, kau mengikutinya hanya untuk itu?”
Willie tersenyum miring, “Itu tidak ada apa-apa dibanding perlakuannya.”
Rendra menghela napas di seberang, ia sangat khawatir dengan temannya itu.
“Sekarang sudah ramai, aku penasaran dengan responnya, apalagi pria itu masih di Thailand sekarang." Serunya.
"Bro, sepertinya kau sangat tertekan akhir-akhir ini. Ayo kita keluar sebentar ke Club. Kau butuh udara malam dan sedikit bersenang-senang.” lanjut Rendra.
Willie tidak langsung menjawab. Hanya memandang langit gelap di luar jendela.
“Ya, sebentar lagi aku ke sana,” jawabnya.
Telepon pun berakhir. Ia masih duduk di tepi ranjang, menatap foto Vira sambil memikirkan Tisha dan dirinya sendiri yang semakin ia tidak bisa kendalikan.
***
Lampu club bergemerlap, musik berdentum memenuhi ruangan, beberapa orang tampak menari tetapi hati Willie sama sekali tidak terhibur.
Ia duduk di kursi bar dengan tubuh berat, menunduk, hanya menatap gelas whiskey di depannya.
Jari-jarinya mengetuk pelan tepi gelas seolah mencari ritme yang tepat untuk pikirannya yang kacau.
Sesekali ia meneguk minuman itu, dan kadang menghembuskan napas panjang. Ia menatap kosong ke kerumunan manusia yang berkeringat dan tertawa.
“Vira…” gumamnya tanpa sadar.
Lalu beberapa detik kemudian, “Tisha…” lirihnya.
Ia sendiri tidak sadar mengapa nama kedua perempuan itu lolos dari bibirnya begitu saja. Entah sejak kapan hidupnya berubah begini.
Rendra menepuk bahunya. “Ayo lepaskan Bro, keluarkan semua perasaanmu.” ucapnya sambil menuangkan whiskey lagi ke dalam gelas Willie.
Willie meraihnya tanpa protes, menelan habis dalam satu tegukan. Rendra tahu apa yang menimpa sahabatnya itu dan ia tahu Willie adalah tipe yang menahan semuanya tanpa berkoar-koar dan mungkin karena itu Willie tambah tertekan.
Beberapa temannya yang lain memperhatikannya dari sudut ruangan. Mereka saling pandang tidak menyangka Willie muncul lagi di club setelah sekian lama.
“Wah, bro…” seru salah satu dari mereka. “Ada angin apa nih? sudah lama kita tidak berkumpul begini.”
Willie hanya melirik mereka, bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis dan datar lebih seperti formalitas.
“Cuma butuh suasana yang berbeda.” jawab Willie. Ada sedikit acuh pada sikapnya.
Mereka mendekat berusaha mencairkan keadaan dengan candaan bodoh.
“Willie, kudengar kau baru menikah lagi,” celetuk salah satu temannya sambil menyeringai. “Dapat perawan, cantik pula. Gila, kau hebat Bro."
Teman yang lain ikut menimpali sambil terkekeh. “Dibalik kesedihan, ada kenikmatan.”
Kata-kata itu disusul dengan tawaan keras mereka seperti tanpa dosa.
BRAK!!
Willie menghantam keras gelas yang sedari ia pegang ke atas meja. Gelas itu pecah berkeping, suara pecahannya menggema melebihi musik yang berdentum.
Darah segar langsung mengalir dari sela-sela jarinya, merah dan tajam kontras dengan serpihan kaca di meja bar itu.
Semua menoleh ke arahnya, suasana jadi menegang. Willie menatap tajam pada mereka.
“Coba ulangi lagi, aku tak akan segan merobek mulutmu.” geramnya.
Temannya yang tadi bercanda langsung terdiam dan pucat.
“Bro, tenanglah,” Rendra berusaha menenangkannya.
Willie menepis tangan Rendra. Ia bangkit dengan kasar hingga kursinya bergeser mundur.
Begitu berdiri, tubuhnya tampak terhuyung. Ternyata Willie sudah mabuk berat.
Rendra cepat menyusul dan berusaha menopang badan Willie yang tampak limbung.
“Will, kau sangat mabuk. Biar aku...”
Willie menepis tangan Rendra sekali lagi dengan kasar. “Aku bisa jalan sendiri.”
Dengan langkah tidak stabil, Willie berjalan menuju pintu keluar club. Rendra tetap mengekor beberapa meter di belakangnya, tidak berani memapah tapi juga tidak tega membiarkannya sendiri.
Willie terus berjalan lurus menuju parkiran membawa amarah, luka, dan kesedihan yang menumpuk di dadanya.
Ia membuka pintu mobilnya, langsung masuk, dan menutupnya lagi dengan kasar. Mesin menyala dan sesaat mobil itu pun melaju.
Mobil Willie tampak sedikit oleng di di jalanan membuat Rendra yang mengikuti dari belakang menahan napas sesaat.
“Ya Tuhan, jangan sampai dia menabrak apapun." gumam Rendra dengan mata tak lepas dari mobil sahabatnya.
Walau jalannya tak stabil, Willie akhirnya sampai juga ke rumah. Ia memarkir mobil dengan posisi agak miring, tapi setidaknya selamat.
Rendra berhenti sejenak di luar pagar.
“Syukurlah…” ucap Rendra, meski hatinya masih tetap cemas. Akhirnya ia berbalik arah dan meninggalkan tempat itu.
Willie berdiri di depan pintu rumah, menatap panel sandi yang tampak berputar di matanya.
Beberapa kali ia salah menekan angka. Ia terus mencoba namun tetap salah. Peringatan bunyi 'beep beep beep' terdengar keras dari speaker keamanan.
Kegaduhan itu menggema hingga ke dalam rumah. Di kamarnya, Tisha yang baru saja terlelap langsung terbangun. Jantungnya berdetak kencang. 'Apa ada orang yang sedang menerobos masuk?" batinnya
Dengan buru-buru Tisha memakai kerudungnya, ia mencoba tetap tenang meski matanya membesar karena panik.
Di luar, Willie menekan sandi itu lagi, kali ini dengan susunan yang benar. Pintu akhirnya terbuka.
Willie masuk sambil terhuyung, memegang kusen pintu untuk menyeimbangkan diri. Wajahnya merah, langkahnya goyah, napasnya berbau alkohol tajam.
“Sayaaang!" serunya keras, suaranya bergema di seluruh rumah.
“Aku pulang…”
Tisha yang baru keluar dari kamarnya langsung terpaku. Matanya melebar melihat Willie dalam kondisi seperti itu.
Lelaki yang biasanya dingin, terkontrol, dan rapi, malam ini tampak berantakan, rapuh, dan mabuk berat. Dan yang paling mengejutkan, ia memanggil "Sayang."