Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu
Pukul jam 6 pagi, kabut tipis membuat hawa dingin menyelimuti Desa itu. Burung-burung mulai berkicau.
Di pekarangan rumah, Sebuah mobil hitam terparkir di salah tempat penginapan Oma Fani tinggal.
Fani yang sedang duduk di kursi kayu sambil menikmati secangkir teh nya pun beranjak dari tempatnya ketika melihat sosok yang turun dari mobil.
"Jackson," panggilnya pelan sambil melilitkan syal dilehernya.
Jackson keluar dengan wajah kusut, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Ya, memang benar, selama perjalanan ia tidak tidur. Kepalanya terus berputar, hatinya tidak tenang sebelum ia memastikan apakah itu betul Farah atau bukan.
Jackson berjalan cepat menghampiri Oma, dan langsung memeluknya. "Aku datang, Oma" bisiknya lirih.
Oma mengangguk sambil mengusap punggungnya lembut, "Terimakasih sudah datang, son."
Jackson menarik nafas panjang, ia mengurai pelukannya. Matanya menatap desa itu. Tumbuhan tampak menghijau, Terlihat sangat indah dan tenang. Udara nya sangat segar.
Fani menatap wajah cucunya, ia kasihan melihat keadaan cucu nya saat ini. Benar-benar seperti orang yang kehilangan arah. Namun bagaimana lagi, mungkin ini adalah hukuman untuknya.
"Oma, dimana anak-anak itu? Aku ingin bertemu dengan mereka." Ucapnya tak sabar.
"Oma sudah menyelidiki tempat tinggal mereka. Tapi sepertinya, kamu belum bisa menemui mereka saat ini."
"Kenapa?"
"Wanita itu.... Oma melihat luka dan ketakutan yang teramat dalam saat Oma bertanya siapa ayah dari anak-anak nya."
"Tap—"
"Tenanglah, son. Kamu harus bersabar sampai waktunya tiba."
"Tapi Oma. Kalau betul itu Farah... Dan anak-anak itu adalah milikku, bagaimana bisa aku hanya diam saja."
Oma menghela nafas pelan, "Kita pastikan dulu apakah dia betul Farah atau bukan. Jika betul, baru kita pikirkan bagaimana cara untuk menemui nya tanpa membuat nya merasa takut dan terancam."
"Jika kau menemuinya sekarang, takutnya dia akan pergi lagi dari kita. Dan Oma tidak yakin, kali ini apa kita masih bisa menemukan nya atau tidak."
Jackson mengusap kasar wajahnya. Benar kata Oma, ia tidak boleh gegabah kali ini.
"Apa anak-anak itu.... Biasanya main di pantai, Oma?"
Oma menggeleng ragu, "Oma juga ngak tau pasti. karna Oma bertemu mereka tepat hari weekend kemarin. Kalau di pantai tidak ada, kita bisa ke toko nya saja."
"Toko?"
"Ya, wanita itu memiliki toko kue sendiri. Dan kamu tahu? Toko itu Tidak pernah sunyi, selalu ramai pembeli."
Fani tersenyum, "Dia wanita yang hebat. Menjadi seorang ibu tunggal itu Tidak lah mudah. Ia membesarkan dua anaknya sendirian dengan sangat baik. Oma yakin, hidupnya tidak lah mudah beberapa tahun kebelakangan ini." gumam Oma merasa terharu melihat perjuangan Farah.
Oma menatap cucunya hati-hati, "Kalau beruntung, Mungkin kita bisa bertemu mereka hari ini."
Jackson menggenggam kunci mobil kuat. jantungnya berdegup kencang.
"Kalau mereka benar.... Kalau Mereka benar anak-anakku, Oma." suaranya serak, "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." gumamnya lirih.
Oma menepuk pundaknya pelan, "Kamu lihat dulu mereka, son. Setelah itu, baru kamu putuskan."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, setelah sampai.... Jantungnya berdetak kencang saat melihat satu persatu anak-anak yang bermain disana.
"Oma, apa mereka ada di antara anak-anak disana?" tanya nya.
Oma menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."
"Apa mungkin Mereka ngak bermain disini hari ini?" Gumamya.
"Sayang... Hati-hati... Awas jatuh!"
Deg!
Jackson terpaku. Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar suara itu.
"Farah?" gumamnya mencari asal suara itu.
Suara anak-anak terdengar riang, disertai ucapan cadel yang khas.
"Bang Aca... liat nih, istana kita cudah jadi!" teriaknya.
Jackson menahan nafas. suara itu menggetarkan hati nya.
Oma menunjuk ke arah dua bocah laki-laki dan perempuan d dekat balik pohon.
"Itu... disana.. anak kembar yang Oma ceritakan sama kamu, mereka ada disana." seru Oma dengan mata berbinar.
Jackson mengikuti arah pandangan om. Sejenak ia mematung melihat seorang bocah laki-laki dengan rambut hitam tebal, wajah tegas, sedang menumpuk pasir. Wajahnya begitu dingin, benar-benar fotocopy dirinya. seolah sedang melihat cermin.
Disebelahnya, seorang bocah perempuan. Rambutnya hitam bergelombang, pipi bulat, badan gempal tertawa keras disana. Mulutnya maju-maju saat berbicara.
Jackson terkejut saat Oma Fani menarik tangannya begitu saja, berjalan ke tempat Anaya dan angkasa.
Jackson berhenti melangkah, semakin dekat semakin jelas wajah-wajah anak itu sangat mirip dengannya.
Tiba-tiba angkasa menoleh, wajahnya begitu dingin, matanya yang gelap dan tajam langsung bertemu pandang dengan Jackson.
"Tatapan itu... sama persis seperti milikku." gumamnya dalam hati.
Angkasa berdiri sambil memeluk skop kecil di tangannya. Ia menatap Jackson lama, cukup lama.
melihat abangnya berdiri, Anaya pun bangkit dan menoleh ke belakang.
Melihat wajah Fani, Anaya langsung tersenyum senang dan berlari ke arahnya.
"Nenek, tantik.." serunya riang.
"Hai sayang... Kita bertemu lagi," Fani menangkap tubuh gembul itu.
"Anaya berdiri tepat di depannya, ia menatap Jackson lama, tanpa takut.
"Nenek...paman, ini ciapa?" tanya Anaya penasaran.
"Cucu nenek, sayang." Fani melepaskan Anaya mendekati Jackson.
Anaya memperhatikan wajah Jackson, seolah menganalisa nya. "Muka paman milip cama kita. Lebih tepatnya milip cama Aca." ucapnya setelah menyadari bahwa wajah pria itu mirip dengan mereka.
Angkasa langsung menarik adiknya ke Belakang dia.
"Kamu ciapa?" tanya angkasa dingin.
"Saya... Jackson,"
Angkasa mengerutkan dahinya.
Jackson menelan ludah. Jarak mereka begitu dekat sehingga Jackson dapat melihat jelas garis-garis wajah mereka. Tanpa tes DNA pun ia yakin kalau anak-anak ini miliknya.
Oma mendekat dan berbisik, "Mereka sangat mirip denganmu, kan? Oma yakin mereka ini adalah cicit-cicit Oma."
Jackson tak menjawab. Matanya berkaca-kaca melihat dua bocah kembar itu yang kemungkinan besar darah dagingnya.
Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa.
"Anaya! Angkasa!"
Suara itu.... Suara yang sudah bertahun-tahun tidak ia dengar.
Jackson mematung di tempatnya, nafasnya tercekat, jantungnya berdegup kencang.
Wanita itu berdiri tepat di depannya. Wajahnya panik, membeku total saat melihat jackson.
"Fa..." Dimas menyentuh bahunya, barulah Farah bisa bernapas.
Jackson terdiam. Ia menatap wajah Farah, wajah wanita yang dulu pernah ia hancurkan hidupnya. wajah wanita yang mampu memporak-porandakan hidupnya.
"Farah.."
Farah tak menghiraukan nya, ia langsung memeluk kedua anaknya seolah ingin menjauhkan mereka dari pria di depannya.
Tubuhnya bergetar hebat.
Anaya dan angkasa menatap ibunya kemudian Jackson. Angkasa bisa merasakan bahwa mama takut dengan pria ini.
"Kau salah orang," Ucap Farah cepat.
Jackson menatap mereka bertiga. Farah dan dua anak kembarnya yang sangat mirip dengannya.
"Tidak... Aku tidak mungkin salah. Kamu benar Farah, wanita yang aku cari selama ini."
Farah tak mempedulikan nya. Ia hendak membawa kedua anaknya pergi, namun suara Jackson menghentikan langkahnya
"Tunggu!"
Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Apa anak-anak itu milik—"
Farah menyela, "Tidak! Mereka anak-anakku... Tidak ada hubungannya denganmu!" Jawab Farah tegas.
"Tap—"
Angkasa langsung berdiri di depannya, "Jangan mendekat! Atau acu tendang."
Matanya bocah itu menyala, seolah menjelaskan ia tidak main-main dengan kata-kata nya.