Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. Respect
Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah-celah jendela basecamp, membangunkan Nathan dari tidur lelapnya yang diwarnai sisa-sisa pengaruh alkohol semalam.
Kepala Nathan terasa berdenyut berat dan terasa sangat pening begitu dia mencoba mengubah posisi tidurnya di atas sofa panjang.
Namun, rasa sakit di kepalanya seketika diabaikan. Hal pertama yang langsung berkelebat di benaknya adalah Acha.
Dengan gerakan tergesa-gesa, Nathan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan menyalakan layar benda pipih tersebut dengan penuh harap. Dia sangat berdoa agar ada notifikasi panggilan tak terjawab atau rentetan pesan dari gadis itu yang menenangkan kekhawatirannya.
Namun, layar ponselnya justru menampilkan kenyataan yang berbeda.
Kosong. Tidak ada satu pun panggilan atau pesan masuk dari Acha.
Dengan napas tertahan, Nathan membuka aplikasi perpesanan dan mengecek chatroom pribadinya dengan Acha.
Pesan-pesan panjang dan penuh kecemasan yang dia kirimkan sejak satu hari yang lalu masih berstatus centang satu—belum dibaca, bahkan belum diterima oleh Acha.
Jantung Nathan kembali berdegup kencang dilanda rasa cemas yang belum juga surut. Perasaan tidak enak kembali menghantam dadanya pagi itu.
Rasa frustrasi yang teramat sangat langsung menghantam dada Nathan. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar, napasnya memburu tidak teratur.
Otaknya benar-benar buntu dan bingung harus mencari Acha ke mana lagi, sementara waktu terus berjalan dan kecemasannya semakin membuncah.
Melihat kekacauan fisik dan mental Nathan yang tampak sangat berantakan pagi itu—rambut acak-acakan, mata memerah akibat kurang tidur dan sisa minuman semalam, serta wajah pucat pasi—Iyan dan Yana yang kebetulan baru saja bangun langsung mendekatinya.
"Wah, parah sih muka loh, Than. Kayak zombi hidup," tegur Iyan prihatin sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Iya, Than. Loh tenang dulu, jangan panik berlebihan begini," timpal Yana menambahkan dengan nada menenangkan.
"Coba loh pulang dulu sekarang, mandi pakai air hangat, terus ganti pakaian yang bersih. Pikiran loh nggak bakal jernih kalau kondisinya masih kusut kayak gini."
Iyan mengangguk setuju dengan saran Yana. "Betul kata Yana, bro. Kalau loh nyari Acha dengan kondisi acak-acakan, otak loh nggak bakal bisa jalan secara logika. Yang ada loh malah makin stres di jalan tanpa nemuin hasil apa-apa. Mending loh reset diri loh dulu di rumah."
Nathan terdiam sejenak, mencerna nasehat kedua sahabatnya di tengah kepalanya yang masih berdenyut sakit.
Dia sadar ada benarnya juga dengan kondisi fisiknya yang hancur lebur seperti ini, dia tidak akan bisa berpikir jernih ataupun bertindak efektif untuk menemukan Acha.
Dengan helaan napas berat dan berat hati, Nathan akhirnya mengangguk pasrah. Dia bangkit dari sofa, merapikan barang-barangnya, dan memutuskan untuk segera pulang ke rumah demi membersihkan diri agar bisa kembali mencari Acha dengan kepala dingin.
Langkah kaki Nathan terasa berat saat dia membuka pintu rumahnya yang sepi. Suasana pagi di rumahnya kontras dengan kekacauan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Sesuai saran Iyan dan Yana, Nathan langsung berjalan menuju kamar mandi.
Dia membiarkan cucuran air hangat membasahi tubuh dan kepalanya, berharap suhu air tersebut bisa meredakan pening di kepalanya serta melunturkan beban pikiran yang menyesakkan dada.
Namun, air yang mengalir sama sekali tidak mampu menghapus bayangan Acha. Di bawah deru air shower, pikirannya terus berputar kepada gadis itu—di mana Acha sekarang? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah dia baik-baik saja?
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian bersih, Nathan keluar dengan handuk yang masih mengalungi lehernya.
Dia langsung menyambar ponsel di atas tempat tidur, berharap ada keajaiban—notifikasi baru atau setidaknya centang dua biru pada pesannya.
Namun, layar itu tetap bisu. Pesan kemarin masih setia berstatus centang satu.
Nathan menghempaskan tubuhnya ke tepi kasur, menatap kosong ke arah lantai kamarnya. Rasa frustrasi, lelah, dan cemas bercampur aduk menjadi satu, membuatnya merasa begitu tak berdaya menghadapi ketidak pastian ini.
Sadar kalau terus berdiam diri di rumah tidak akan menyelesaikan apa-apa, Nathan langsung bangkit dari tepi kasur. Dia menyambar jaket dan kunci mobilnya, lalu memutuskan untuk kembali bergerak.
Kali ini, tujuan utamanya adalah minimarket tempat Acha bekerja. Nathan teringat bahwa kemarin dia hanya fokus menanyakan keberadaan Acha, tanpa sempat menanyakan alamat rumah tempat tinggal keluarga gadis itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Nathan untuk melajukan mobilnya dan tiba di minimarket. Dengan langkah cepat, dia langsung masuk dan menghampiri meja kasir.
Di sana sudah ada, Vika, Amina, dan Tasya tampak sedang merapikan beberapa barang di dekat komputer kasir.
Melihat kedatangan Nathan yang kembali dengan raut wajah penuh harap sekaligus cemas, ketiga gadis itu langsung menghentikan pekerjaan mereka.
"Eh, A Nathan? Balik lagi? Ada apa lagi, A? Acha udah ngabari?" tanya Amina bertubi-tubi, langsung menyambut Nathan.
Nathan menggeleng pelan, napasnya sedikit terengah-engah. "Belum. Dia masih belum ada kabar sama sekali. Makanya saya kesini lagi..." Nathan menghentikan sejenak ucapannya, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Saya mau tanya... kalian tahu alamat rumah orang tua Acha nggak? Saya benar-benar harus ke sana buat mastiin keadaan dia."
Vika, Amina, dan Tasya langsung saling berpandangan. Namun, alih-alih jawaban yang melegakan, kerutan di dahi mereka justru semakin dalam.
Vika mendesah pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Duh, A Nathan... jujur, kita bertiga kurang tahu persis alamat rumah orang tuanya Acha di mana. Soalnya Acha itu orangnya jarang banget cerita soal detail rumah keluarganya, dia biasanya lebih sering langsung cerita kalau pas lagi di kosan."
"Iya, A. Kita cuma tahu kalau rumah keluarganya itu masih di area kota ini juga, tapi kalau alamat lengkapnya atau jalan utamanya di mana, kita benar-benar gak tahu," timpal Tasya merasa bersalah.
Mendengar jawaban tersebut, bahu Nathan seketika lemas. Harapan terakhir yang dia gantungkan pada rekan-rekan kerja Acha ternyata berujung jalan buntu.
Rasa frustrasi kembali menghantam dadanya dengan telak, membuatnya semakin merasa tak berdaya di tengah kebingungan yang melanda.
Mendapati jalan buntu dari rekan-rekan kerja Acha membuat kepala Nathan kembali dipenuhi keputusasaan. Tidak ada waktu lagi untuk berlama-lama merenung.
Tanpa pikir panjang, Nathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menancap gas menuju basecamp—tempat di mana Iyan dan Yana berada.
Dia berharap kedua sahabat setianya itu memiliki akal atau cara lain untuk membantunya keluar dari situasi pelik ini.
Sesampainya di basecamp, Nathan langsung memarkirkan motornya dan melangkah buru-buru masuk ke dalam ruangan.
Iyan dan Yana yang baru saja selesai merapikan meja langsung terlonjak kaget melihat kedatangan Nathan yang tiba-tiba dengan napas memburu dan wajah tegang.
"Eh? Loh balik lagi, Than? Katanya mau nyari cewek loh, gimana hasilnya?" tanya Iyan langsung, menyambut langkah Nathan.
Nathan mengusap wajahnya kasar, lalu menjatuhkan diri ke kursi terdekat dengan putus asa. "Gue buntu, Yan. Gue tadi nanya ke anak-anak minimarket, tapi mereka juga nggak tahu alamat rumah orang tua Acha. Cuma tahu kalau keluarganya masih di area kota ini."
Yana mengerutkan keningnya, ikut prihatin melihat kondisi sahabatnya. "Wah, gawat juga kalau gitu. Terus sekarang rencana loh gimana, Than?"
Nathan mendongak, menatap Iyan dan Yana bergantian dengan sorot mata penuh harap. "Makanya gue kesini, minta tolong sama kalian. Gue benar-benar kehabisan akal harus nyari ke mana lagi. Tolongin gue, Yan, Yana... pasti ada cara kan buat nyari tahu alamat atau keberadaan Acha sekarang?"
Iyan dan Yana saling berpandangan sejenak, mengangguk pelan melihat betapa kalutnya Nathan.
Tanpa perlu diminta dua kali, keduanya langsung merapatkan kursi, bersiap memutar otak demi membantu Nathan memecahkan masalah pelik tersebut.
Di hadapan Iyan dan Yana, Nathan mencurahkan semua kecemasannya tanpa jeda.
Suaranya terdengar parau dan bergetar, mencerminkan betapa hancurnya perasaan pria itu setelah dua hari tidak mendapatkan satu pun titik terang tentang keberadaan Acha.
"Gue takut banget, Yan, Yana... Gimana kalau dia kenapa-napa? Kemarin fisiknya kan benar-benar belum pulih pas pingsan di minimarket. Kalau sampai dia drop lagi di tengah acara keluarganya, terus nggak ada yang nolongin gimana? Handphone-nya mati total, di-chat juga nggak dibaca sama sekali," keluh Nathan dengan nada frustrasi, menundukkan kepalanya sambil meremas rambutnya sendiri.
Melihat Nathan yang sudah separuh putus asa, Yana justru menyeringai kecil. Alih-alih memberikan penenangan seperti yang biasa dilakukan Iyan, Yana malah sengaja melontarkan candaan bernada menakut-nakuti untuk menggoda sekaligus mengetes mental sahabatnya itu.
"Wah, gawat sih kalau modelannya begini, Than," ucap Yana dengan nada serius yang dibuat-buat.
Dia melipat kedua tangan di dadanya. "Coba loh pikir deh. Cewek secantik Acha, tiba-tiba menghilang dua hari tanpa kabar, Handponnya mati, alamat rumahnya nggak tahu... Jangan-jangan dia sengaja ghosting loh karena aslinya dia udah dijodohin sama cowok lain sama orang tuanya? Atau parahnya lagi... dia sebenarnya lagi diculik alien, atau dibawa kabur sama mantannya yang posesif?"
Mendengar ucapan Yana, kepala Nathan langsung mendongak cepat. Mata tajamnya menatap Yana dengan horor dan kemarahan bercampur aduk.
"Sialan loh, Yan! Jangan ngomong sembarangan! Diseriusin juga malah bikin darah tinggi!" geram Nathan, napasnya memburu semakin kencang mendengar nama Raka disebut-sebut.
Iyan yang melihat Yana malah memprovokasi keadaan langsung terkekeh geli sambil menepuk bahu Yana. "Wah, gila loh, Yan. Jangan ditakut-takuti begitu, muka si Nathan udah pucat kayak mayat hidup, bukannya dikasih solusi malah ditakuti skenario horor."
"Hehehe, biarin biar otaknya jalan. Biar dia sadar kalau cewek model Acha itu harus dijaga beneran, jangan sampai diambil orang," balas Yana santai sambil nyengir lebar.
Meskipun tahu Yana hanya sedang bercanda, candaan tersebut sukses membuat Nathan semakin dibakar oleh rasa khawatir yang luar biasa.
Pikiran-pikiran buruk tentang kemungkinan Acha berpaling atau mengalami hal buruk akibat ulah Raka kembali berkelebat di kepalanya, membuat dada Nathan semakin terasa sesak dan tidak tenang.
Mendengar tawa santai dan candaan Yana yang sama sekali tidak membantu, emosi Nathan yang sejak kemarin memang sudah di ujung tanduk akhirnya benar-benar meledak. Wajahnya yang pucat kini memerah menahan geram.
"Kalian ini ya! Diseriusin malah ngelunjak!" hardik Nathan dengan suara tinggi, menatap tajam ke arah Iyan dan Yana.
"Gue ke sini bukan buat dijadiin bahan bercandaan atau ditakut-takuti skenario nggak jelas kayak gitu! Kalau nggak bisa bantu serius, mending diem aja deh!"
Suasana di basecamp mendadak hening seketika. Iyan dan Yana langsung menghentikan tawa mereka, menyadari bahwa candaan tadi sudah keterlaluan dan benar-benar memancing emosi sahabatnya yang sedang kalut.
Iyan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, ekspresinya berubah kikuk.
"Eh, santai, Than... Sorry, bro. Yana cuma lagi becanda biar loh nggak terlalu tegang, bukan maksud—"
"Gue nggak ada waktu buat becanda, Yan!" potong Nathan tegas dengan nada bergetar menahan kesal.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut atau mendengarkan bujukan dari kedua temannya, Nathan langsung bangkit dari kursinya dengan kasar.
Pria itu menyambar jaketnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu melangkah lebar meninggalkan ruangan basecamp dengan hati yang dipenuhi rasa dongkol, kecewa, dan frustrasi yang kian memuncak.
Iyan dan Yana hanya bisa terdiam kaku, menatap punggung Nathan yang berlalu begitu saja keluar pintu, menyadari bahwa kepanikan dan kebodohan mereka justru membuat Nathan semakin terpuruk seorang diri.
Suasana di dalam basecamp terasa begitu canggung dan senyap setelah kepergian Nathan.
Suara deru mesin mobil Nathan yang langsung melaju kencang meninggalkan halaman terdengar jelas, mempertegas betapa marahnya pria itu.
Iyan dan Yana saling berpandangan dengan ekspresi menyesal. Sisa-sisa senyum usil di wajah Yana seketika lenyap, digantikan oleh rasa bersalah yang mendalam.
"Duh, Yan... kita kelewatan ya?" gumam Yana pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maksud gue kan tadi cuma mau mencairkan suasana biar dia nggak terlalu overthinking, eh malah bikin dia ngamuk beneran."
Iyan menghela napas panjang, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Iya, bego banget sih loh. Situasi lagi genting, si Nathan udah mau copot jantungnya mikirin si Acha, lah loh malah nakut-nakutin dia soal mantannya sama alien. Jelas aja dia meledak."
Yana menggigit bibir bawahnya, merasa sangat bersalah. "Terus ini gimana? Kita kejar sekarang? Takutnya dia kenapa-napa di jalan kalau nyetir sambil emosi."
Iyan terdiam sejenak, menimbang-nimbang kemungkinan tersebut. Dia melirik pintu keluar, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Jangan. Kalau kita kejar sekarang, yang ada dia malah makin sewot dan kita bisa-bisa beneran berantem. Emosi Nathan lagi di puncaknya, biarin dia sendiri dulu buat nenangin diri."
Yana mengangguk lesu, membenarkan perkataan sahabatnya itu. Mereka berdua hanya bisa berharap amarah Nathan bisa segera mereda, dan mereka benar-benar berdoa agar Nathan bisa segera menemukan titik terang tentang keberadaan Acha tanpa harus mengalami hal buruk di jalan.
Sesampainya di rumah, Nathan langsung membanting pintu mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-sisa emosi yang masih bergejolak di dadanya.
Perasaan kesal pada teman-temannya bercampur aduk dengan rasa frustrasi yang belum juga mereda.
Suara Nathan yang meledak-ledak di ujung sambungan telepon membuat Acha yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur langsung terperanjat kaget.
Kepala Acha yang sejak kemarin dilanda pusing hebat mendadak semakin berdenyut nyeri mendengar bentakan panik bercampur emosi dari sang kekasih.
Dengan suara yang terdengar begitu lemah, serak, dan nyaris tak berdaya, Acha berusaha membela diri di hadapan Nathan.
"A... Aa... hiks..." panggil Acha terbata-bata dengan napas yang masih memburu.
Air matanya seketika tumpah, merasa bersalah sekaligus terkejut mendengar kemarahan Nathan.
"Maafin aku... aku gak sengaja mau ngilang..."
Mendengar suara Acha yang terdengar sangat payah dan gemetar, emosi Nathan yang tadinya meluap-luap seketika tertahan.
Napasnya yang tadinya memburu kini mendadak melambat, berganti dengan rasa curiga bercampur cemas yang kembali mencengkeram dadanya.
"Cha? Suara kamu kenapa lemas banget gitu? Kamu di mana sekarang?" tanya Nathan, nada bicaranya melembut, berubah drastis menjadi penuh kekhawatiran.
Di seberang sana, Acha menarik napasnya perlahan dengan susah payah sebelum menjawab.
"Aku... aku sakit, aa... Badan aku benar-benar drop total pas acara keluarga kemarin. Aku... aku bahkan nggak sadarkan diri, pingsan selama dua hari penuh... Dan... dan aku baru banget sadar dari pingsan aku sekarang ini..."
Mendengar pengakuan Acha, seketika darah Nathan terasa berdesir dingin. Seluruh potongan teka-teki yang membuatnya gila selama dua hari terakhir mendadak terjawab sudah.
Ponsel yang mati bukan karena disengaja, melainkan karena Acha terbaring tak berdaya di ambang ketidaksadaran.
Rasa marah yang sempat menguasai Nathan seketika menguap, berganti dengan gelombang rasa bersalah yang teramat besar dan ketakutan luar biasa.
Mendengar fakta bahwa Acha tidak sadarkan diri selama dua hari penuh akibat kondisi tubuhnya yang drop, seketika itu juga dorongan kuat untuk segera berlari menghambur dan menemui gadis itu bergemuruh di dada Nathan.
Kakinya seolah sudah siap melangkah keluar rumah, ingin menembus jarak demi memastikan sendiri keadaan Acha dengan mata kepalanya.
Namun, Nathan langsung menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menahan diri dan bersikap tenang.
Dia sadar, Acha baru saja sadar dari pingsannya yang panjang kondisi fisik kekasihnya itu pasti masih sangat lemah dan butuh ketenangan, bukan justru dikejutkan dengan kedatangannya yang tergesa-gesa.
"Cha... ya ampun..." gumam Nathan dengan suara yang bergetar hebat, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.
"Maafin aku ya, Cha... Aku tadi sempat marah karena panik banget nggak ada kabar dari kamu. Aku nggak tahu kalau ternyata kamu selemas itu..."
"Nggak apa-apa, aa... Aku ngerti kok aa pasti khawatir," jawab Acha lirih dari seberang telepon, napasnya terdengar masih tersengal-sengal.
Nathan berusaha mengatur intonasi suaranya agar terdengar menenangkan, meski dadanya masih bergemuruh hebat.
"Iya, Sayang. Yang penting sekarang kamu udah sadar. Oh iya, posisi kamu sekarang di mana? Kamu di rumah sakit kan? Biar aku bisa langsung ke sana sekarang."
Di seberang sana, Acha menggelengkan kepalanya pelan, meski Nathan tidak bisa melihatnya. "Bukan, A... Aku nggak di rumah sakit. Aku... aku dirawat di rumah aja sama Mamah."
Nathan mengerutkan keningnya, merasa sedikit lega sekaligus penasaran. "Di rumah aja? Terus penanganan dokter gimana? Kamu beneran nggak apa-apa dirawat di rumah, Cha?"
"Iya, kemarin sempat dipanggilkan dokter ke rumah pas aku pingsan. Dokter bilang aku kelelahan parah dan asam lambungnya naik drastis, jadi harus pasang infus di rumah biar badannya pulih," jelas Acha jujur sambil melirik sekilas ke arah tangan kanannya yang masih terpasang jarum infus dan terhubung ke tiang kecil di sebelah tempat tidurnya.
Mendengar penjelasan bahwa Acha harus terbaring lemah di rumah dengan selang infus yang menempel di tangannya, hati Nathan bagai diiris-iris. Rasa bersalah karena sempat menuduh yang tidak-tidak semakin menghimpit rongga dadanya.
Mengetahui Acha terbaring lemah di rumah dengan selang infus yang masih menancap di tangannya membuat Nathan tidak bisa lagi menahan diri hanya dengan berbicara di balik layar ponsel.
Kerinduan, rasa bersalah, dan kecemasan yang teramat sangat mendesaknya untuk segera berada di sisi gadis itu.
Dengan nada suara yang terdengar begitu lembut, tulus, dan penuh permohonan, Nathan kembali berbicara kepada Acha di ujung sambungan telepon.
"Cha... Sayang..." panggil Nathan pelan, mencoba meredam getar di suaranya.
"Boleh ya... aku ke rumah kamu sekarang? Aku pengen banget jenguk kamu, pengen lihat kondisi kamu langsung secara nyata. Aku janji nggak bakal bikin kamu repot, cuma mau mastiin kamu baik-baik aja."
Acha terdiam sejenak di seberang sana. Ada secercah keraguan di hatinya, mengingat kondisi rumahnya yang sedang ramai oleh keluarga dan dia sendiri masih terbaring lemas berbalut selang infus.
Namun, mendengar betapa tulus dan khawatirnya suara Nathan, pertahanan Acha perlahan runtuh. Terlebih lagi, dia juga sangat merindukan kehadiran pria itu setelah dua hari terlelap dalam ketidaksadaran.
"Tapi... rumah aku lagi agak berantakan, a... Lagian aa kan nggak tahu alamatnya," jawab Acha malu-malu dengan suara seraknya.
"Soal itu gampang, Cha. Kamu tinggal sharelok atau sebutin alamat lengkapnya ke aku ya? Aku mohon, izinin aku datang ke sana, ya? Aku pengen nemenin kamu," bujuk Nathan dengan gigih dan penuh kesungguhan.
Mendengar ketegasan dan ketulusan dalam suara Nathan, Acha akhirnya menghela napas pelan sambil tersenyum tipis di tengah rasa lemasnya.
"Yaudah iya... Nanti aku kirim alamat lengkapnya lewat WhatsApp ya, a."
Mendengar persetujuan itu, senyuman lebar seketika terukir di wajah Nathan. Beban berat yang sejak kemarin menghimpit dadanya mendadak terasa terangkat separuh.
"Makasih ya, Sayang. Tunggu sebentar ya, aku siap-siap sekarang dan langsung meluncur ke rumah kamu," ujar Nathan penuh semangat.
Setelah mematikan sambungan telepon dan menerima pesan berisi alamat lengkap rumah Acha, Nathan langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, dia melangkah pasti keluar rumah, bersiap menempuh perjalanan demi menemui kekasih hatinya yang sudah dua hari dirindukannya.
Baru saja Nathan hendak melangkah keluar menuju motornya, layar ponsel di tangannya bergetar menandakan sebuah pesan masuk dari WhatsApp Acha.
Dia langsung membuka pesan tersebut, mendapati sebuah sharelok beserta alamat lengkap rumah keluarga Acha yang sudah tertera jelas.
Namun, tepat di bawah alamat tersebut, Acha menyusulinya dengan sebuah pesan teks tambahan:
"Aa... tapi aa janji sama aku, aa pergi ke sininya besok aja ya? Ini udah mulai malam. Aku takut banget kalau aa kenapa-napa di jalan, apalagi aa bawa motor sambil kelelahan dan habis emosi seharian. Besok pagi-pagi banget ya, pliss..."
Membaca pesan itu, Nathan yang tadinya sudah siap menancap gas seketika terdiam. Dia melirik jam di dashboard mobilnya—hari memang sudah beranjak malam, dan langit luar sudah gelap gulita.
Awalnya, Nathan bersikeras. Dia mengetik balasan cepat, berniat menolak dan tetap memaksa berangkat malam ini karena rindunya sudah di ubun-ubun.
“Aku nggak apa-apa, Cha. Sebentar lagi aku nyampe,” begitu isi kepala Nathan yang tidak sabar ingin segera melihat kondisi kekasihnya.
Namun, sebelum dia sempat menekan tombol kirim, Nathan merenungkan kembali kalimat Acha. Gadis itu baru saja sadar dari pingsannya, kondisi fisiknya masih lemah, dan yang terpenting, Acha sedang mencemaskan keselamatan dirinya.
Jika dia nekat menerobos malam dalam keadaan pikiran yang belum sepenuhnya tenang, bukan tidak mungkin dia benar-benar mengalami kecelakaan di jalan, yang pada akhirnya malah akan membuat Acha jauh lebih stres dan khawatir.
Dengan helaan napas panjang yang sarat akan berat hati, Nathan akhirnya menghapus ketikannya. Dia memilih mengalah demi ketenangan wanita yang dicintainya.
Nathan kembali mengetik balasan dengan nada yang jauh lebih lembut
"Iya, Sayang... Iya, aku ngerti. Aku nurut perkataan kamu, ya. Besok pagi-pagi sekali aku pasti langsung datang ke rumah kamu. Sekarang kamu istirahat yang bener, jangan banyak pikiran dulu. Good night, Acha."
Setelah mengirim pesan itu, Nathan melangkah kembali masuk ke dalam rumahnya. Meskipun rasanya sangat berat menahan diri untuk tidak langsung meluncur malam ini.
Setidaknya kini dia sudah tahu di mana alamat Acha, dan yang terpenting, Acha sudah memberikan lampu hijau untuk pertemuannya esok hari.
Nathan pun membaringkan tubuhnya dengan perasaan jauh lebih lega, bersiap menyambut pagi esok untuk segera menemui sang kekasih.
Be to continued