Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larut
Sesuai yang aku ceritain di chapter sebelumnya yah, mohon bijak, yang di bawah umur boleh baca novel lain.
Selamat membaca!
------
Malam semakin larut, Zoey dan Zayn sudah berhasil ku tidurkan, setelah berbagai macam drama tentunya. Bermain sampai puas, cerita dongeng putri dan ksatria, sampai kisah para nabi.
Memang mereka masih kecil, dan di negara kami tinggal sekarang ini, kepercayaan yang kami pegang adalah minoritas, tapi itu tak boleh membuatku lupa bahwa mereka harus ditanamkan nilai-nilai agama sejak dini.
Beruntungnya Zoey dan Zayn memang anak yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka bahkan memintaku untuk bercerita setiap hari dan mengajarkan mereka doa-doa pendek dan mereka dengan mudah menghafalnya.
Memang gen itu sangat memengaruhi kondisi si anak. Ayah mereka adalah orang yang sangat pintar, walau keluarganya termasuk orang kaya, tapi dia kuliah bahkan dengan usahanya sendiri, di Oxford University.
Dan aku juga tidak kalah ya, aku kuliah di Jerman juga dengan usahaku sendiri, malah dapat beasiswa. Sudah jelas kan bahwa aku termasuk anak yang sangat pintar? Narsis sedikit boleh kan ya? Hehe.
Aku berjalan mengendap agar tak membuat suara apapun dan akhirnya aku berhasil keluar dari kamar dua anak kembarku. Langsung aku berlari menuju kamarku sambil senyum-senyum sendiri karena mengingat tingkahku sendiri.
Memasak, makan, bermain, sampai menidurkan anak-anak pun butuh perjuangan ternyata. Sekarang sekujur tubuhku rasanya lengket, keringat sudah menempel di bajuku, aku butuh mandi.
Ku lihat Pierre sudah tidur telentang di atas kasur, dengan kaos oblong polos berwarna putih dan celana boxer kotak-kotak. Pasti ia lelah setelah bekerja seharian, ditambah ada jadwal operasi tadi.
Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. Aku berendam cukup lama dan lanjut bilas dengan shower. Dirasa selesai, aku keluar hanya dengan sepotong handuk yang melilit tubuhku.
Ku buka lemari panjang di dalam kamarku dan mencari daster tidurku. Ya, ku rasa jangankan untuk tidur, untuk kegiatan sehari-hari menggunakan pakaian sejenis daster itu adalah kelegaan yang hakiki untuk hampir semua ibu-ibu.
Tak ku sadari tangan besar sudah menangkup perutku, menarik paksa tubuhku untuk masuk ke dalam pelukannya. Terdengar tarikan dan hembusan nafas berat keluar dari pemilik tubuh kekar itu. Dia menciumi puncak kepalaku dan sampai ke daun telingaku.
"Siiiiii...."
"Hmmm.."
Ku coba menggodanya, mengerjai lebih tepatnya. Aku berusaha berjalan mendekati lemari dengan Pierre yang masih menggelendot memelukku.
"Hmmm?"
Tawa cekikikan kecil keluar dari mulutku, kurasa aku berhasil membuatnya cemberut. Haha. Tapi usahaku gagal sih, karena Pierre kembali memelukku erat.
"Kau sedang menggodaku, huh?"
Dengan lembut Pierre menciumi area tubuhku yang terekspose. Memang kalau mandi malam aku jarang keramas, pasti hanya ku ikat gelung rambutku, hingga sekarang leher sampi punggungku tersaji dengan sempurna.
"Sudah malam.. sebaiknya kita segera tidur sayang.."
Dengan sigap Pierre membalikan tubuhku dan menaikkan kedua kakiku melingkar di pinggangnya, hingga dua kakinya lah yang menjadi tumpuan badanku. Ia berjalan perlahan menuju ranjang dengan masih menyatukan bibir kami, ku peluk erat dan ku kencangkan peganganku yang membelit lehernya.
"Setelah urusan kita selesai sayang.."
Pierre melepaskan tautan bibir kami, menurunkan dan menidurkanku dengan hati-hati. Ia langsung melanjutkan aksinya. Rasanya bibirku sudah ngilu, kebas. Merasakan aku yang sudah mulai risih, kemudian dia beralih ke bagian lainnya.
Terdengar suara ponsel berdering yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur, tapi kami mengabaikannya dan terus melanjutkan kegiatan kami.
Namun benda pipih itu terus mengeluarkan suaranya, seolah tak rela membiarkan kami menggapai kesenangan kami. Dengan sedikit kesal Pierre meraih dan memberikan handphone itu padaku.
"Hhhaaaaahhhh.... Angkat lah, mungkin ada sesuatu yang penting"
Aku hanya menahan tawa melihat mimik muka cemberutnya. Ya, bayangkan saja, mungkin dia sudah sangat ingin, tapi ada-ada saja gangguannya.
Ku raih ponselku, ternyata om Ijal, adik ibuku. Dengan rasa penasaran, ku tekan tanda hijau dan mendekatkannya pada telinga. Ku dengarkan yang dikatakan om Ijal dengan seksama, tapi Pierre masih asyik dengan kegiatannya yang ternyata sudah bermain dengan yang di bawah sana. Cukup membuatku kaget.
"Hallo?"
"......"
"Hah?!"
"......"
"Apaaaa?!"
"......"
"Innalillahiiiii..."
----
Maaf beberapa chapter ini pendek banget dan aku padet2in.. akhir-akhir ini kerjaan kantor beneran numpuk 🥺✌️