Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah yang Terkoyak
Derap langkah kaki Melanie yang berlari menjauh perlahan tenggelam oleh deru hujan yang kian lebat menghantam pelataran Tamansari. Begitu bayang-bayang gadis itu sepenuhnya hilang di balik gerbang batu, kekuatan di kedua kaki Glen seolah menguap tak berbekas.
Ia luruh, terduduk di atas lantai selasar yang basah dengan punggung bersandar pada pilar beton yang dingin.
Glen mencengkeram dadanya sendiri yang terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya telah habis direnggut oleh kata-kata kejam yang baru saja ia muntahkan. Topeng marmer yang ia banggakan kini terasa begitu berat dan menyiksa, namun ia menolak untuk melepasnya. Kebencian ini adalah satu-satunya benteng yang menjaga kewarasannya agar tidak tenggelam dalam rasa bersalah kepada sang ayah.
Satu jam berlalu, dan hujan sore itu mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis yang membawa kabut hawa dingin. Dengan pakaian yang setengah basah dan langkah yang teramat kaku, Glen menuntun motornya keluar dari area parkir. Pikirannya kosong, menolak untuk memikirkan ke mana roda kendaraannya akan berputar, hingga tanpa sadar, ia kembali terdampar di depan pagar besi tempa rumah besar keluarganya.
Suasana rumah mewah itu masih sama; megah, sunyi, dan mati. Begitu pintu utama diketuk, sosok Bik Sisi muncul dengan wajah yang langsung dipenuhi guratan kecemasan yang mendalam.
"Gusti... Den Glen!" pekik Bik Sisi lirih, melihat penampilan berantakan anak asuhnya yang basah kuyup dengan tatapan mata yang kosong. "Aden dari mana saja toh, Den? Kemarin tidak pulang, sekarang datang-datang sudah basah begini. Ayo masuk, Den, ganti baju dulu sebelum masuk angin."
Glen hanya mengangguk samar, melangkah masuk melintasi ruang tengah yang luas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang lorong menuju kamar ayahnya. Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa melihat sang ayah sedang duduk diam di kursi roda dekat jendela, menatap rintik hujan dengan pandangan yang tak kunjung kembali ke dunia nyata.
Bik Sisi yang berjalan di belakang Glen menghela napas pendek, mengusap punggung tegap Glen dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Bapak tadi sempat mencari Aden... meskipun hanya menyebut nama kecil Aden berkali-kali waktu sarapan. Den Glen... Bik Sisi mohon, jangan siksa diri Aden terus-menerus dengan mengurung diri seperti ini. Hidup di masa lalu tidak akan pernah membuat masa depan Aden bahagia."
Glen mengepalkan tangannya di dalam saku jaket denim yang lembap. "Glen tidak apa-apa, Bik. Glen hanya butuh istirahat," bisiknya parau, sebelum melangkah cepat menuju kamarnya sendiri di lantai atas dan mengunci pintu dari dalam.
Sementara itu, di kediaman mewah yang berjarak beberapa kilometer dari sana, Melanie mengurung diri di dalam kamarnya yang luas. Gaun indahnya yang sedikit basah karena air hujan belum ia ganti. Ia duduk bersandar di kaki ranjang ber-kanopi, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan siluet dedaunan yang basah.
Kata-kata bentakan Glen di Tamansari terus berdengung di dalam kepalanya, mengoyak seluruh ketulusan dan harapan yang sempat ia rajut. "Setiap detik aku melihat wajahmu, aku hanya melihat penderitaan ayahku! Aku sangat membencimu, Melanie!"
Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk pelan, disusul oleh suara panggilan ibunya dari balik pintu. "Nduk, Melanie... kowe neng jero, toh? Ayo metu dhisik, Nduk, maem bengi wis siap. Bapakmu nggoleki kowe ket mau." (Nduk, Melanie... kamu di dalam, kan? Ayo keluar dulu, Nduk, makan malam sudah siap. Bapakmu mencarimu dari tadi).
Melanie mengusap sisa air mata di pipinya yang mulai mengering, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar serak. "Nggih, Bu... sekedap malih Melanie medal," jawabnya terbata-bata dengan logat Jawa yang kental. (Iya, Bu... sebentar lagi Melanie keluar).
Saat makan malam berlangsung, kecanggungan yang masif kembali menyelimuti meja makan panjang berbahan marmer tersebut. Sang ayah sesekali melirik putri tunggalnya dengan pandangan mata yang menyiratkan rasa bersalah yang teramat mendalam, seolah tahu bahwa air mata yang disembunyikan Melanie malam ini adalah akibat dari dosa masa lalu yang pernah beliau lakukan dua belas tahun silam.
"Melanie..." panggil ayahnya dengan suara berat yang serak, meletakkan sendoknya di tepi piring. "Yen pancen perkoro ing kampus kuwi nggawe kowe susah... kowe ora usah bali neng kosan dhisik. Ning kene wae karo Ibu lan Bapak." (Melanie... Kalau memang perkara di kampus itu membuatmu susah... kamu tidak usah kembali ke kosan dulu. Di sini saja sama Ibu dan Bapak).
Melanie mendongak, menatap wajah ayahnya yang kini tampak begitu menua. Rasa perih kembali menjalar di dadanya, menyadari bahwa benang merah yang mengikat takdirnya dengan Glen kini telah terkoyak sepenuhnya, menyisakan puing-puing rasa yang tak lagi tahu bagaimana cara untuk disembuhkan.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...