Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Seakan mencari perhatian dari calon mertua detik itu juga Emma memanfaatkan situasi yaitu mencoba membela Liam yang terus diintimidasi oleh Shopia. Kesempatan sekecil apapun akan selalu berguna bagi Emma, itulah yang selalu ia lakukan hingga membuat Liam sendiri muak. Emma berlari menuju Liam, ia memeluk pria tegap itu sangat erat.
"Aku merindukan dirimu, sayang. Dari mana aja, hem?"
Liam sangat risih dengan sangat mudah dan tanpa takut akan kemarahan Shopia pelan-pelan Liam mendorong tubuh Emma untuk menjauh. Emma terkejut karena dirinya merasa selayaknya sesuatu yang kotor dimata Liam.
"Berhenti memelukku, Emma. Kita belum menikah dan tidak ada perasaan tertentu yang ada dihatiku untuk membiarkan dirimu memelukku." Peringatan Liam terdengar dingin dan menyakitkan.
Wajah Emma tersenyum masam saja, ia menatap kearah Shopia yang terus memijat kepalanya. "Seharian kau menghilang, Liam. Jelas Emma merindukan dirimu, tolong.. jangan terlalu ketus pada calon tunanganmu." Shopia berusaha memperingati sekalipun hanya mendapatkan helaan napas kasar saja dari Liam.
Tidak mau terus merespon apa yang dikatakan oleh Shopia maka Liam lebih memilih menuju bangku kerjanya. Duduk disana dengan tatapan mata super datar merapikan segala barang-barang yang berantakan akibat ulah Emma.
"Ma, lihat, Liam. Dia selalu saja lebih memilih kertas-kertas itu dari pada mengobrol denganku." Emma merengek pada Shopia hal-hal biasa yang sering ia lakukan sampai mendapatkan perhatian Liam.
"Tenanglah, sayang. Mama yakin pasti Liam akan segera memperhatikan dirimu, santai saja.." Shopia mengelus penuh kasih lengan Emma, ia menuju Liam dibangku kerja. Emma hanya duduk disofa dengan raut wajah cemberut dan juga posisi tangan bersedekap didada.
"Mama rasa sudah cukup, Liam!" Shopia murka, putranya sudah satu tahun terus saja bersikap dingin pada wanita hanya karna kekecewaan pada Anna. "Apa kau masih memikirkan mantan istri tidak bergunamu itu?"
Sang Mama menyebut nama Anna tentu saja membuat darah Liam berdesir, ia menutup kertas tersebut sedikit kasar. Liam teringat dengan Anna yang telah mengandung anaknya, jika Shopia tahu hal yang sebenarnya pastinya tidak akan membiarkan Anna hidup lagi. Sedikit khawatir tentu saja, Liam takut jika suatu saat Anna ketahuan oleh Shopia atau bahkan Emma.
"Berhenti menyalahkan Anna atas semua hal, Ma. Dia sudah pergi, kenapa Mama selalu menyebut nama dia?!"
"Karna hatimu masih dikuasi oleh perasaan bodoh pada wanita itu!" Balas Shopia cepat, ia melempar Liam dengan pena yang ada di meja. "Sadarlah, Liam.. Lihat, Emma.." Tangan Emma menunjuk kearah Emma yang cantik, duduk manis disana dengan tatapan mata angkuh. "Dia wanita yang pantas untukmu, terdidik dan juga berstatus sama dengan kita."
Liam memutar bola matanya malas, memutar bangku kerjanya hingga posisi membelakangi Shopia. Tentu saja Shopia melotot sempurna karena ulah putranya, dengan tangan berkacak pinggang ia kembali berhadapan dengan Liam lagi.
"Pertunanganmu dengan Emma akan tetap terjadi, buktikan pada Mama.. jika kau benar tidak mengharapkan Anna lagi." Shopia menjatuhkan peringatan beratnya lalu pergi meninggalkan Emma dan Liam didalam ruangan tersebut.
Emma tersenyum puas karena mendapatkan dukungan sepenuhnya dari Shopia, hanya itu kelemahan Liam. Pastinya Liam selalu saja tidak berkutik jika Mamanya sudah memerintah sesuatu, Emma merasa takdir baik semakin berpihak padanya.
"Liam, aku tidak tahu seperti apa bentuk mantan istrimu itu. Tapi, aku rasa..." Emma bangkit dari duduknya, ia berjalan penuh tatapan menggoda kepada Liam yang menatapnya datar saja.
Tangan Liam sibuk memainkan pena, ia terus menatap datar Emma yang sudah duduk di meja menggoda dirinya. "Aku masih lebih dari apapun jika dibandingkan dengan istri miskinmu itu bukan?" Tanya Emma, ia membuka sedikit kancing bagian atas dress yang dikenakan untuk lebih menampilkan kesan sexy dan menggoda.
Liam melempar pena itu begitu saja, ia bangkit dari duduknya hingga bisa sangat dekat dengan Emma. Bahkan dada Emma saja tidak Liam perhatikan, ia lebih fokus pada ekspresi yang Emma tunjukan.
"Kau bisa menikmati tubuhku, Liam. Lalu katakan, lebih nikmat mana, aku atau istrimu.." Ucap Emma lagi dengan penuh percaya diri.
"Begitu?" Liam bertanya untuk memastikan dengan cepat Emma menganggukan kepala, Liam langsung tersenyum sinis. "Bukan masalah mantan istriku atau apa, Emma.. dimataku, tidak ada wanita yang menarik. Sekalipun itu dirimu, pergilah!" Liam sedikit menahan amarah dihati, ia tersinggung dengan ajakan Emma untuk melakukan hubungan lain-lain.
Emma tertawa kecil, tapi tidak dipungkiri hatinya sangat sakit mendapatkan penolakan seperti ini. Biasanya setiap pria akan terus memohon untuk mendapatkan tubuhnya hanya saja kenapa kali ini Liam sama sekali tidak tergiur padanya.
"Minta saran saja pada Mamaku yang selalu saja kau manfaatkan, bagaimana caranya aku agar bisa mau menerima dirimu. Bukankah begitu?"
"Diam kau, Liam! Kalau bukan karna kau kaya raya juga aku tidak akan sudi memohon, tau!" Emma sebal sekali, ia berlalu pergi meninggalkan Liam begitu saja setelah kata-kata pahit dan meremehkan dari pria itu.
Emma menutup pintu sekuat tenaga, tidak ada Liam melainkan tersenyum puas saja. Kaitan dasi yang ia pakai dilonggarkan karena rasanya sangat gerah berhadapan dengan manusia seperti Emma. Liam terduduk kembali, ia membuka lemari kecil dibawah untuk mencari sesuatu. Dan benar dugaaan Liam, jika ia masih menyimpan foto pernikahannya dengan Anna.
Tangan Liam terus mengelus wajah Anna disana, wajah Anna yang penuh dengan senyuman manis yang bahkan saat ini tidak akan pernah Liam dapatkan lagi. Rasa cinta telah tergantikan dengan rasa benci yang amat besar, apa lagi saat ini Liam telah memaksa Anna untuk mempertahankan benihnya.
"Aku tidak bisa membiarkan hasil buah cinta kita kau buang begitu saja, An. Anakku harus tetap hidup, dan dia milikku." Ucap Liam sembari terus mengelus wajah Anna dibingkai foto tersebut.
"Huh.." Liam kembali menyimpan foto tersebut di laci meja, ia kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda. Sebelum itu Liam menyempatkan untuk melihat Anna melalui rekaman CCTV. "Kelas kehamilannya pasti sudah selesai, apa yang dia lakukan dengan anakku?" Jari jemari Liam sibuk mengotak atik ponselnya.
Di rekaman tersebut Liam melihat Anna yang berjalan menaiki lantai dua, sepertinya mau membersihkan diri. Anehnya tidak bergegas mematikan layar ponselnya malah Liam tetap meneruskan melihat apa lagi yang akan dilakukan Anna didalam kamar.