NovelToon NovelToon
Jagoan Di Tanah Sunda

Jagoan Di Tanah Sunda

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Panel Bola

Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Darman dan lebih di kenal dengan nama si rawing, dia adalah anak dari seorang jawara silat, tapi sayang bapaknya meninggal akibat serangan kelompok perampok yang datang ke desanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panel Bola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sulit untuk Setia

Si Rawing sangat menyesal karena gagal membalas dendam kepada si Bewok, tapi hatinya sedikit terobati karena mendengar dari Kartika kalau ibunya sudah pergi meninggalkan tempat kelompok Macan Liar, jadi dia masih memiliki harapan untuk bertemu dengannya.

"si Bewok benar-benar manusia biadab, sayangnya, aku gagal membunuhnya."

"nenek mengerti dengan suasana hati kamu, sekarang lebih baik kita hilangkan dulu epek racun beruang roban dari tubuh kamu, setelah kamu sembuh, kamu bisa kembali menantang si Bewok, tapi nenek masih penasaran, siapa orang yang telah menurunkan ilmu silat Ulin Karuhunan kepada kamu Rawing?"

"guru aku namanya Ki Debleng nek."

Nenek Iswari mengerutkan keningnya, setahu dia ilmu silat Ulin Karuhunan itu ciptaan kekasih hatinya yaitu Binta Raga.

"terus, selama kamu hidup bersama dengan Ki Debleng, apa pernah dia menyebut atau menceritakan tentang orang yang bernama Binta Raga?"

"belum pernah nek, aku baru kali ini mendengar nama Binta Raga dari nenek."

Nenek Iswari terdiam, lalu berbicara dalam hatinya, "kalau memang yang menurunkan ilmu silat Ulin Karuhunan kepada Si Rawing itu bukan kang Binta Raga, terus siapa Ki Debleng, yang aku tahu ilmu silat Ulin Karuhunan hanya di miliki oleh kang Binta Raga."

Nenek Iswari lalu melirik ke arah Kartika, "sekarang kamu bawa pergi ke dapur obat-obatan yang aku bawa tadi Kartika, terus nyalakan tungku."

Si Rawing kembali merebahkan tubuhnya sambil memegangi kepalanya.

Sebelum pergi, Kartika menatap Si Rawing, lalu berkata, "kamu harus kuat kang Rawing, nenek Iswari pasti akan berusaha untuk mengobati kamu." setelah itu dia lalu pergi.

Nenek Iswari tersenyum ke arah Si Rawing lalu berbicara dengan suara sedikit pelan, "hehe, sepertinya Kartika sudah ada rasa sama kamu Rawing, kamu tadi melihatnya kan, betapa perhatiannya dia sama kamu, nenek setuju kalau kamu dan Kartika bersatu. Hehe."

Meskipun sambil menahan rasa sakit, tapi saat mendengar perkataan nenek Iswari yang menyetujui hubungannya dengan Kartika, Si Rawing tersenyum, "hehe, jadi nenek setuju kalau aku dan Kartika hidup bersama? jang bohong nek."

"hehe, waktu kita bertarung, kamu bisa mengalahkan nenek, terus kamu juga yang bilang kalau kamu mau menikahi si Kartika, tapi nenek minta tolong sama kamu, kasih Kartika kesenangan."

"susah itu nek, sebab kalau mau ngasih kesenangan harus punya banyak harta, sedangkan aku orang yang tidak punya apa-apa nek."

"maksud nenek bukan seperti itu, tapi kamu harus benar-benar mencintai si Kartika dengan sepenuh hati, kamu juga harus setia jangan pernah melirik wanita lain."

"hehe, itu juga berat nek, aku tidak sanggup untuk setia, sebab kata Ki Debleng, kita di berikan mata itu untuk melihat hal yang indah-indah, melihat wanita yang cantik-cantik nek, jadi kalau setia itu berat nek, heheh. Aduhh, sakit sekali nek."

"sabar jang Rawing, nenek buatkan kamu ramuan, mudah-mudahan saja itu bisa meredakan rasa sakit kamu."

Nenek Iswari lalu pergi ke dapur menyusul Kartika.

******

Di tempat lain, Narsiyah terus melakukan perjalanan mencari Si Rawing, laki-laki yang telah mencuri hatinya itu, dia sudah tidak perduli dengan rasa cape, kalau saat malam hari, Narsiyah numpang tidur di salah satu rumah warga yang merasa kasihan kepadanya.

Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya, waktu sampai di salah satu tempat, Narsiyah mendengar suara dua orang laki-laki yang mengobrol sambil berjalan.

Narsiyah lalu bersembunyi di dekat pohon besar, dia mempunyai pirasat kalau kedua laki-laki itu adalah orang jahat.

Kedua laki-laki itu berjalan sambil menahan rasa sakit, mereka berdua lalu beristirahat tidak jauh dari tempat persembunyiannya Narsiyah.

Mereka berdua menyandarkan tubuhnya ke pohon, ternyata mereka berdua adalah anak buahnya si Bewok yang di hajar oleh nenek Iswari.

"aduh, sakit sekali tulang rusuk aku, aku kira nenek Iswari itu tidak memiliki ilmu silat yang hebat seperti ini." ucap si kurus.

"bener, kaki aku juga sakit sekali, sial, kalau saja nenek Iswari tidak muncul, mungkin sekarang kita sudah berhasil membawa si Kartika."

"mau bagaimana lagi, kita masih beruntung bisa pergi dari sana, sekarang mending kita laporan saja ke bah Bewok, kalau si Kartika di lindungi oleh Si Rawing, jadi kita bisa aman dari amukan Ki Bewok."

"lebih baik seperti itu, memang benarkan kalau Si Rawing memang ada di tempatnya nenek Iswari, jadi sekarang kita pulang saja."

Kedua anak buahnya si Bewok pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah mengetahui kalau kedua orang itu adalah anak buahnya si Bewok, Narsiyah mengelus-elus dadanya, dia merasa bersyukur sekaligus senang karena dia mendapatkan kabar keberadaannya Si Rawing.

"aku harus menemukan rumahnya nenek Iswari, kalau sudah ketemu aku bisa hidup bersama kang Darman." batin Narsiyah.

Dengan tekad yang kuat, Narsiyah melanjutkan perjalanannya, dia berencana mencari rumahnya nenek Iswari.

Setelah berjalan cukup lama, Narsiyah mendengar suara perempuan yang sedang berlatih ilmu silat.

Narsiyah berjalan ke arah sumber suara, setelah dekat, Narsiyah bersembunyi.

Narsiyah bisa melihat ada seorang nenek-nenek dan seorang gadis cantik yang baru saja berhenti latihan silat, dua orang itu tidak lain adalah nenek Iswari dan Kartika.

"kamu kenapa Kartika? sepertinya ada yang kamu pikirkan hingga membuat kamu jadi tidak fokus, apa jangan-jangan kamu lagi kepikiran Si Rawing, hehe."

Kartika membuang mukanya ke samping, dia merasa malu karena di goda oleh nenek Iswari, "apa sih nek, aku itu bodoh nek, susah untuk mengingat gerakan-gerakan yang di ajarkan oleh nenek."

"ohh jadi itu yang sedang kamu pikirkan."

Narsiyah memusatkan perhatiannya kepada Kartika sambil berbicara dalam hatinya, "emm, benar-benar ada wanita cantik disini, tapi kenapa aku belum melihat kang Darman."

Nenek Iswari kembali berkata, "hehe, menurut nenek, Kartika dan Si Rawing sangat cocok, sebab sama-sama di besarkan oleh Ningsih."

"jangan seperti itu nek, aku jadi ingat sekarang aku belum menyiapkan makanan untuk kang Rawing."

"hehehe, itu artinya kamu mengkhawatirkan Si Rawing, itu datang dari rasa sayang, jadi menurut nenek kamu memang cocok dengan Si Rawing."

"sudahlah, obrolan nenek selalu saja kesitu, lebih baik sekarang kita melihat ke adaannya kang Rawing saja nek."

"hehehe, ya sudah, kalau begitu kita lihat keadaannya Si Rawing."

Nenek Iswari dan Kartika meninggalkan tempat itu.

Narsiyah mengikuti nenek Iswari dan Kartika, dia pengen karena belum melihat Si Rawing.

Pipi Narsiyah basah karena air mata, hatinya merasa sakit saat mendengar obrolan nenek Iswari dan Kartika yang menggambarkan ada hubungan spesial antara Kartika dan Si Rawing.

1
Simoncelli
mantap
anggita
ok👌thor, terus berkarya tulis moga novelnya lancar.
anggita
klo Sunda 'Emang, nek Jowo 'Pak Lik' klo Batak Tulang atau Amang😁🙏.
anggita
ikut dukung ng👍like aja.,👆👆2iklan buat novel laga lokal.
Zan zan: terimakasih kak
total 1 replies
anggita
awalnya Macan Liar... tapi biasanya nanti bisa jadi macan jinak🤭.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!