Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22. Jika Cinta....
...“Jika cinta membuat orang lemah dan membuat orang tidak berdaya. Aku akan menghilangkan semua itu, tak akan ada siapa pun yang bisa meruntuhkannya lagi.”...
...***...
Kebahagiaan seketika lenyap saat sumbernya telah pergi bersama bayangannya, namun bibirnya terus mengukir senyum tipis agar dia terlihat baik-baik saja. Maka semua orang nanti tidak akan mempertanyakan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Sepulang dari sekolah, Ryuna memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Dia memilih duduk di salah satu bangku dipinggir jalanan kota yang ramai, suasana hatinya tak seramai jalanan besar itu. Ditatapnya sepatu hitamnya dengan tatapan kosong, menikmati angin-angin yang berembus lembut menerpa wajah cantiknya.
Di tempat lain, ternyata Barry mengikutinya. Dia hanya menatap iba, seperti yang diduga. Barry tak pernah bisa meninggalkan gadis itu meski dirinya telah ditolak beberapa kali.
Memindahkan perasaan itu tidaklah semudah memindahkan sebuah gelas ke tempat lain, menyukai seseorang dengan menggunakan hati itu sulit untuk diubah atau menghapusnya dengan mudah. Meskipun bisa akan butuh waktu agak lama untuk berupaya melakukannya.
Biarkan aku saja yang patah hati karenanya, tapi jangan dia yang patah hati karena orang lain. Begitulah yang dipikirkannya. Barry yang meskipun disakiti oleh orang yang disukainya, tetap saja dirinya masih baik dengan orang itu hendak dia ingin melangkah mendekati Ryuna, menemaninya dan menghiburnya meski hanya sesaat. Setidaknya dia bisa menghilangkan kedukaan itu dengan damai.
Ryuna mengembuskan napasnya dengan pelan, di saat sedang asyiknya menatap sepatu hitamnya tiba-tiba saja seseorang sengaja melindungi dirinya dari sinar mentari sore. Sebenarnya dia malas untuk mengangkat dagunya untuk menatap orang itu tapi bagaimana jika dia memiliki niat buruk kepadanya? Itu lebih parah lagi.
Kedua matanya menyipit saat menatap siapa orang itu, tidak terlalu asing baginya. Dirinya kenal dengan orang itu meski tak dekat. Cowok itu menampilkan sebuah senyuman yang membuat dirinya tentang, senyuman yang dilihatnya untuk ke sekian kalinya. Dia tampak memesona dari segi mana pun.
“Kenal aku nggak?” Tanyanya dengan masih posisi yang sama.
Ryuna perlahan tersenyum kecil lalu mengangguk pasti. “Tentu. Kamu Xenzie, kan?”
Senang dengan jawaban itu, cowok itu tersenyum hingga matanya menyipit lalu beralih duduk di samping Ryuna. Dia juga habis pulang dari sekolah, dan secara tak sengaja dia melihat seorang gadis yang tengah duduk di kursi panjang dekat jalanan kota dan setelah memastikan orang itu orang yang dia kenal, ternyata dugaannya benar. Ryuna, perempuan cantik ini masih bisa ditemuinya lagi.
“Saat pertama kali bertemu, aku yang murung duduk di sini. Dan kali kedua kita ketemu, Kakak yang kelihatan sedih hari ini. Kenapa?” tanya Xenzie menoleh ke samping dengan tatapan yang aww ....
“Sedih? Ah nggak, aku baik-baik aja.” Ryuna mengalihkan pandangannya ke depan, bibirnya masih saja menampilkan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.
Xenzie tahu itu. Meski dia masih SMP dan tak tahu banyak tentang masalah percintaan remaja, dia cukup tahu bagaimana hati seseorang yang sedang patah hati dan yang sedang dilanda masalah. Namun, dirinya memutuskan untuk tidak menanyakannya, tugasnya berada di sini bukan untuk mengungkit masalah Ryuna, tapi mengurangi beban itu.
Xenzie merogoh saku jaket biru tuanya mencari sesuatu di sana, dia sudah membelinya sebelum bertemu Ryuna lalu disodorkannya pemberian itu membuat gadis itu refleks menoleh.
“Buat aku?” tanya Ryuna mencoba memastikan.
“Bukan, buat orang yang lagi sedih itu tuh,” Jawabnya. Pada akhirnya dia tersenyum.
Ryuna ikut tersenyum lalu mengambil coklat dari pria kecil itu. “Makasih.”
“No problem,” jawabnya singkat.
Xenzie memperhatikan sejenak Ryuna yang begitu perfect dari segi cantiknya, jika dari sikap, sejauh ini dia suka karena Ryuna wanita yang ramah dan juga baik. Tapi, ada hal yang belum diketahui olehnya, dia menautkan alis matanya.
“Nama Kakak siapa?” tanya Xenzie yang memang dia belum tahu nama perempuan cantik ini, meski sudah akrab sekalipun.
“Oh, Rupanya kamu masih belum tau namaku?” Ryuna tersenyum geli. “Namaku Ryuna.”
“Sekolah?” tanya Xenzie.
Jika dulu Ryuna yang bertanya padanya dan sekarang malah Xenzie yang akan bertanya banyak pada perempuan itu.
“SMA Klaria 1,” jawabnya.
Xenzie tampak berpikir, rasanya tidak asing lagi mendengar sekolah menengah itu. “Bukankah SMA Klaria sudah bergabung dengan SMA Risoson, sekolah khusus pria?” Tebaknya.
“Ya, memang benar. Kok kamu bisa tau?”
“Beritanya sudah menyebar. Lagian ada abangku yang bersekolah di sana,” Jawabnya.
Ryuna memagut-magut mengerti, tanpa sengaja dia melirik jam tangannya sekilas dan jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam, dia terbelalak kaget kemudian buru-buru berdiri.
“Maaf ya, aku harus pulang.” Pamit Ryuna setengah membungkuk, Xenzie mengangguk kecil.
Sepasang mata indah milik Xenzie terus memperhatikan Ryuna yang telah menjauh. Pertemuan kedua kalinya cukup membuatnya untuk merasakan ... jatuh cinta.
Xenzie menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Dia tersenyum simpul.
...***...
Tap!
Bola terus dilemparkannya ke dinding yang tak bersalah melampiaskan kemarahan dan kekesalan yang terus menancap di hatinya. Bahkan langit juga memahami kondisinya saat ini. Badmood.
“Oh, ayolah. Barry, lo kenapa? Ada masalah cerita aja.” Lucio pusing melihat temannya pulang dengan keadaan hati panas entah sebab apa. Kompornya belum mati?
Tentu aku merasa kesal. Batinnya.
Barry kembali mengingat saat di mana dia hendak menghampiri Ryuna yang duduk sendirian di kursi panjang dengan jalanan kota, namun terlambat ada pria lain yang lebih dulu mendekatinya, bukannya mengabaikan cowok itu, Ryuna malah memberinya sebuah senyuman yang tulus. Barry merasa heran, siapa cowok berseragam SMP itu hingga mereka terlihat sangat akrab?
Tak ingin berlama-lama di sana, Barry membatalkan untuk bertemu Ryuna dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu dengan perasaan berkecamuk, kesal dan marah. semuanya bercampur menjadi satu.
“Cewek itu lagi jalan sama cowok lain ya?" Tanyanya. Siapa sangka pertanyaan Rafan adalah kenyataannya dan fakta.
Barry menoleh, dia kesal. “Ya, lo memang benar. Lebih tepatnya mereka lagi duduk berduaan di kursi pinggiran jalan kota dan mereka terlihat sangat dekat, bahkan Ryuna bisa tersenyum tulus dan itu bukan karena gue.”
Barry kembali mendribel bolanya dan melemparnya ke dinding, terus berulang-ulang. “Huh, kenapa sih dia nggak mau sama gue? Sebegitu bencikah dia sama gue, apa gue ini nggak pantas disukai cewek? Selalu ajaaja gue yang patah hati,” Gerutunya.
Di saat cowok itu mengutarakan perasaannya, di saat itulah Rafan berpikir dan seperti mempertimbangkan sesuatu lalu dia kembali fokus pada notebook-nya.
*“Daripada lo marah-marah begini, mending have* fun, Bar. Gue juga sempat patah hati karena Viona yang nyuekin gue karena dia memilih Rafan, tapi gue coba buat lupain dia. Jadi, lupakan aja dia Bar, sekarang ayo kita main. Main bola basket jangan sendiri-sendiri saja,” Cerewet Lucio.
“Jangan bucin.” Sindir Rafan dengan dingin. Tanpa menoleh ke mereka. Tetapi, mereka spontan menoleh.
“Siapa yang bucin? Ini semua gara-gara lo ya, coba aja kadar kegantengan lo itu nggak menyaingi kegantengan gue. Mungkin Viona sudah memilih gue.” Protes Lucio mendelik kesal.
“Bukan salah gue lah. Sikap lo yang mirip emak-emak di pasar itu kurangi.” Jawabnya masih dengan nada dingin dan tanpa menoleh ke orang yang diajaknya berbicara.
“Apa?! Lo bilang gue kayak emak-emak di pasar? Kurang ajar.” Lucio berdesis pelan.
Barry melemparnya dengan bola basket hingga mengenai kepalanya, Lucio mengaduh kesakitan.
“Wadaaoow ... sakit, Barry!!” Teriaknya dengan kesal sambil mengusap puncak kepalanya.
Rafan meliriknya sekilas dengan tersenyum miring lalu kembali menjatuhkan pandangannya ke notebook-nya.
“Sikap lo berlebihan. hilangkan itu, Viona nggak akan mau sama lo yang sikapnya kaya emak-emak di pasar, heboh dan genit.” Serangnya. Barry tidak mau menutupi sikap buruknya lagi jika mau berubah.
“Ya udah, kalau gitu gue harus apa?” tanya Lucio pasrah. Setidaknya dia mulai berusaha berubah demi menarik simpati sang pujaan hati.
“Gue kasih tau nanti. Sekarang ayo main.” Barry memantul-mantulkan bola ke lantai dengan satu tangannya hingga sampai ke tengah lapangan.
“Lagi? Oi yang benar saja. Ini hujan deras, Bar.” Teriak Lucio, enggan mau menerobos hujan.
“Ayolah. Lo takut jadi putri duyung?” Ejeknya. Barry mengangkat alisnya sebelah, menantang Lucio.
“Nggak. Gue nggak takut.” Bantahnya, akhirnya Lucio ikut menerobos hujan yang begitu lebat.
Di saat mereka tengah asyik bermain, Rafan masih disibukkan dengan notebook-nya. Di usia remaja saat ini dia selalu menyibukkan dirinya dengan merancang masa depannya ketimbang ikut bergabung dengan Barry dan Lucio.
Baginya waktu adalah yang paling berharga, dia tak akan membuang-buang waktu untuk terus memikirkan kehidupan yang akan dihadapinya di masa yang akan datang.
...***...
Sementara itu di hari hujan yang deras ini, sebuah rumah yang bisa dikatakan seindah istana kerajaan. Tepat di sebuah jendela kamar di lantai dua terdapat seorang perempuan cantik yang menatap rintikan hujan. Embun-embunnya menerpa jendela kacanya dari luar, suaranya seperti ingin sekali membuatnya berteriak.
*Ryuna tersenyum kecil, dia suka suasana ini. Duduk di sofa panjang soft* pink-nya dengan ditemani secangkir susu coklat hangat disertai buku novel berwarna biru muda yang siap menemani harinya saat ini.
Namun, suasana hatinya sulit sekali diajak kompromi meski berusaha mengalihkan pikirannya ke yang lain. Tetap saja sosok Dewa selalu menghantui pikirannya, meski bisa dihilangkan sesaat. Tetap saja jika di kala dirinya termenung dan sedang sendirian, bayangannya selalu datang menghampiri.
"Huh..." Ryuna menghela napas berat. Sesak di dadanya masih ada, rasa kehilangan dan rindu.
Meski tak ada lagi kabar dari sosok Dewa, Ryuna selalu saja melihat notifikasi ponselnya melihat kontak itu lagi yang tetap saja tak pernah dijumpainya lagi. Setiap dirinya memberontak perasaan itu, selama itulah batinnya seolah-olah tersiksa karena sudah membohongi perasaannya sendiri. Hal itu dilakukannya hanya ingin melupakan laki-laki itu.
Lagi-lagi Ryuna tersenyum pada hujan, menutupi rasa sakit hatinya saat ini. Ditopangnya dagunya sembari melamun, menatap hujan adalah kebiasaannya. Seandainya dirinya hujan, dia akan terjun bebas menimpa bumi tanpa ada rasa takut lagi. Seandainya jika dia telah merasakan bergejolak hati ini, ingin sekali dia menghadapinya terus tanpa harus mundur lagi. Tapi, nyatanya dia memang tidak bisa terus menumbuhkan rasa suka itu, sedangkan pria itu tidak merasakan hal yang sama dengannya.
Terkadang kita tidak bisa memaksakan keinginan kita dengan mudah. Kita tidak bisa memaksa orang untuk menyukai kita. Jika dia tidak menginginkan kita, kenapa kita memaksanya untuk suka sama kita?
Ryuna harus berubah. Dia tak bisa selalu begini, kehidupannya masih panjang. Ryuna harus bisa melupakan Dewa untuk kebaikan dirinya. Untuk itulah dia memutuskan untuk benar-benar melupakannya, meski ini adalah awalnya, dia yakin bisa melupakannya secara bertahap.
“Kalau cinta bikin orang lemah dan membuat orang nggak berdaya. Gue bakal ngilangin semua itu, nggak akan ada siapa pun yang bisa meruntuhkannya lagi.” Itulah tekad Ryuna sekarang, hanya hujan yang bisa mendengarnya. Sudah cukup dia dibuat patah hati dan perasaan itu hanya membuat orang lemah dan menjadi bodoh.
Sekarang Ryuna tak akan memakai hati lagi,!tapi menggunakan pikiran agar semua tak berkehendak ke arah yang merusak harga dirinya lagi.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja