NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggil Mas Saja..

Semilir angin malam masih terasa ketika Kanaya dan Dirga kembali melangkah memasuki rumah melalui pintu samping. Langkah keduanya terdengar pelan menyusuri lorong kecil yang langsung terhubung ke ruang tamu.

Berbeda dengan beberapa puluh menit sebelumnya yang dipenuhi suara para vendor dan desainer, suasana rumah kini jauh lebih tenang.

Laras dan Wina yang sejak tadi masih berbincang santai seketika menghentikan percakapan mereka ketika mendengar langkah kaki mendekat. Kedua wanita itu hampir bersamaan menoleh kearah pintu samping, lalu saling bertukar pandang sesaat sebelum senyum tipis mengembang di wajah mereka.

"Nah..." ucap Laras lebih dulu sambil tersenyum jahil. Pandangannya bergantian mengamati Kanaya dan putranya seolah sedang mencari sesuatu dari ekspresi keduanya. "Sudah selesai ngobrolnya?"

Kanaya yang berdiri beberapa langkah di belakang Dirga tampak sedikit tersenyum. Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di depan tubuh sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala pelan.

"Sudah, Tante." jawabnya lembut.

"Bagus." Laras mengangguk puas sambil menyandarkan kembali tubuhnya ke sofa. "Gitu, dong. Memang tidak mungkin langsung akrab dalam satu hari. Semua juga butuh proses."

Ia melirik sekilas ke arah Dirga yang masih berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

"Makanya, sering-sering ngobrol. Sesekali jalan berdua, makan berdua atau sekadar keliling kota juga gapapa. Lama-lama nanti kalian juga terbiasa."

Kanaya mengangguk lagi sambil tersenyum sopan.

"Iya, Tante. Naya mengerti."

Laras tampak semakin senang melihat jawaban itu. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya kembali beralih kepada putranya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.

"Kalau begitu..." katanya sambil mengangkat sebelah alis. "Kapan kalian mau keluar berdua?"

Pertanyaan itu membuat Kanaya refleks menoleh ke arah Dirga. Begitu pula sebaliknya. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat sebelum Kanaya kembali mengalihkan pandangannya.

"Lusa..." jawab Kanaya pelan. "...kami rencananya mau cari cincin, Tante."

"Oh..." Laras mengangguk pelan sambil melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "Bagus. Tapi jangan cuma cari cincin."

Kanaya tampak sedikit bingung.

"Maksud Tante?"

"Sekalian jalan-jalan." Laras tersenyum lebar. "Makan siang berdua, ngopi atau ke mana kek. Masa keluar cuma beli cincin terus pulang? Kalian ini kan calon suami istri."

Kanaya tersenyum canggung. Ia sempat melirik Dirga seolah berharap pria itu mengatakan sesuatu lebih dulu.

"Eh... kalau itu..."

Dirga yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya beralih kepada ibunya beberapa saat sebelum menjawab dengan suara tenang.

"Iya, Bu."

Jawaban singkat itu justru membuat Laras terkekeh kecil.

"Nah, gitu. Sekali-kali nurut sama ibu."

Dirga hanya menghembuskan napas pelan. Meski wajahnya masih datar seperti biasa, setidaknya kali ini ia tidak lagi membantah.

...****************...

Setelah percakapan itu, suasana ruang tamu kembali sedikit tenang. Laras melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian menghela napas kecil sebelum meraih tas yang sejak tadi diletakkan di sampingnya.

"Kalau begitu, kami pamit dulu ya Win. Sudah cukup malam juga."

Wina yang mendengar itu segera ikut bangkit dari duduknya. Ia merapikan ujung bajunya sebelum tersenyum kepada Laras.

"Iya, Mbak. Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari."

Kanaya pun mengambil langkah mendekati ibunya, lalu berdiri di samping Wina ketika Laras mulai berjalan meninggalkan ruang tamu. Dirga yang sejak tadi berdiri dengan tenang akhirnya bangkit menyusul ibunya.

"Terima kasih sudah datang, Tante." ujar Kanaya sambil tersenyum sopan.

Laras menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh kepada Kanaya. Senyum hangat langsung terlihat di wajahnya.

"Iya, sayang. Kamu jangan lupa istirahat. Jangan terlalu banyak memikirkan soal persiapan pernikahan. Biar orang-orang yang mengurus."

"Iya, Tante."

Laras mengangguk puas sebelum melanjutkan langkah menuju pintu utama. Wina dan Kanaya berjalan di belakangnya, sementara Dirga mengikuti dari belakang dengan langkah tenang.

Begitu sampai di teras depan, udara malam yang lebih sejuk langsung menyambut mereka. Lampu-lampu taman menerangi halaman rumah dengan cahaya kekuningan, sementara dua mobil yang terparkir di depan rumah tampak berkilau terkena pantulan lampu teras.

"Kalau begitu, kami jalan dulu." ujar Laras sambil menoleh kepada Wina.

"Iya, Mbak. Hati-hati, ya."

Wina kemudian menepuk pelan lengan Laras sebelum keduanya saling tersenyum. Sementara itu, Kanaya berdiri sedikit di samping ibunya dan tanpa sadar melirik ke arah Dirga yang sudah berjalan menuju mobil.

Pria itu berhenti sesaat di dekat pintu mobil ketika menyadari tatapan Kanaya. Ia menoleh, membuat pandangan mereka bertemu dalam jarak beberapa langkah.

Kanaya tersenyum tipis.

"Hati-hati dijalan, Pak Dirga."

Dirga menatapnya sejenak sebelum menganggukkan kepala.

"Iya."

Setelah itu, ia membuka pintu mobil untuk ibunya. Laras masuk lebih dulu ke kursi penumpang, sementara Dirga berjalan menuju sisi pengemudi. Sebelum masuk, ia kembali menoleh sekilas ke arah teras, lalu mendapati Kanaya masih berdiri di sana bersama Wina.

Tidak ada yang di katakannya kali ini. Dirga hanya menganggukkan kepala kecil sebelum masuk ke dalam mobil.

Beberapa detik kemudian, mesin mobil menyala. Wina dan Kanaya tetap berdiri diteras ketika mobil itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah.

Setelah memastikan mobil Laras dan Dirga benar-benar meninggalkan halaman rumah, Kanaya dan Wina akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Pintu utama di tutup perlahan, menyisakan suasana rumah yang kembali tenang setelah sejak sore di penuhi percakapan mengenai persiapan pernikahan.

Baru beberapa langkah melewati ruang tamu, Wina tiba-tiba memanggil putrinya yang sudah hendak menuju tangga.

“Naya…”

Kanaya menghentikan langkahnya dan menoleh. “Iya, Bu?”

Wina berjalan mendekat sambil menatap putrinya dengan ekspresi yang sejak tadi seperti menyimpan sesuatu. “Kok kamu panggilnya Pak Dirga, sih?”

Kanaya mengerjapkan mata, seolah baru menyadari bahwa cara panggilannya memang terdengar terlalu formal.

“Ya… karena dia lebih tua dari Naya, kan, Bu?”

“Ya memang lebih tua dari kamu.” Wina terkekeh kecil, kemudian menggeleng pelan. “Tapi jangan di panggil pak juga. Dia itu masih muda. Masa calon suami sendiri di panggil Pak?”

Ucapan itu membuat Kanaya seketika salah tingkah. Pipinya perlahan memerah ketika kata calon suami kembali terdengar begitu jelas ditelinganya. Ia menundukkan wajah sebentar, lalu mengusap ujung jarinya sendiri dengan canggung.

“Terus Naya harus panggil apa?”

“Panggil Mas saja...” jawab Wina santai. “...atau panggil apa kek yang lebih enak di dengar. Jangan Pak Dirga...kayak kamu lagi ngomong sama dosen aja.”

Kanaya semakin salah tingkah. Ia mengangkat wajahnya sedikit, lalu menghela napas pelan sebelum menjawab dengan suara lirih, “Nggak enak, Bu. Takut di kira nggak sopan.”

“Panggil Mas kan sopan, Naya.” Wina menahan senyum melihat wajah putrinya yang semakin merah. “Lagipula nanti kalian menikah. Masa mau panggil suami sendiri Pak terus?”

Kanaya terdiam sesaat. Ia tidak menemukan jawaban yang cukup masuk akal untuk membantah perkataan ibunya. Akhirnya, ia hanya mengangguk kecil sambil mengalihkan pandangan.

“Ya sudahlah. Nanti Naya tanya orangnya dulu.”

Setelah mengatakan itu, Kanaya segera melangkah menuju tangga sebelum ibunya sempat kembali mengg0danya. Ia menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah sedikit lebih cepat, sementara Wina hanya berdiri di dekat ujung tangga sambil memperhatikan putrinya.

“Eh, mau ke mana?” tanyanya ketika melihat Kanaya terus berjalan ke atas.

Kanaya menoleh sebentar dari anak tangga.

“Ke kamar.”

Wina menggelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat putrinya yang memilih kabur begitu saja.

“Ck, dasar anak itu…”

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!