Seorang pria yang mempunyai kekuatan supranatural yang mana kekuatan tersebut tidak dapat diidentifikasi asal dan jenisnya bahkan oleh dirinya sendiri.
Namun dunia dimana ia berada saat ini, sangat jarang atau mungkin hanya dia seorang diri yang mempunyai kekuatan supranatural.
Sehingga bagi mereka yang telah mengetahui kekuatannya, merasa takut dan menjauhinya bahkan keluarga terdekatnya termasuk orang tuanya.
All hasil, ia terpaksa menjadi seorang penyendiri menjalani hidup yang membosankan dan tak berwarna.
Sampai suatu ketika saat ia sedang tidur di kamarnya, terjadi sebuah fenomena aneh yang membawanya ke dunia yang sama sekali tidak ia kenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Self-intropection
Setelah Shiran dkk berkumpul, mereka memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat serta mengisi energi sembari menunggu waktu dimulainya tahap kedua kompetisi.
Duduk di salah satu meja makan penginapan, entah mengapa suasana di antara mereka terasa aneh.
Penyebabnya tidak lain adalah Shiran yang masih belum mengetahui letak kesalahannya sehingga membuat Yugana dan Kirei mengacuhkannya.
Hal itu telah berlangsung sejak mereka bertemu di kursi penonton arena pertarungan hingga saat ini.
Tidak tahan dengan keheningan yang sangat aneh tersebut, Shiran mencoba untuk mencairkan suasana
"Ehemm,, apakah kalian ingin memesan sesuatu untuk dimakan ?
Kali ini biar aku yang bayar !"
katanya sembari menawarkan traktiran kepada teman-temannya.
Dengan penawaran itu, Shiran berharap dapat menghibur Yugana dan Kirei agar tidak lagi mengacuhkannya.
Sayangnya, Yugana dan Kirei tidak bergeming sedikitpun dan masih tetap diam.
Berbeda dengan Sekushi yang segera menanggapi
"Benarkah tuan ?
Apakah kami bebas untuk menentukan sendiri menu dan jumlahnya ?"
tanyanya memastikan dengan antusias.
Belum menyerah dengan rencana itu, Shiran sekali lagi menyatakan
"Ya, tentu saja !
Silahkan pesan sesuka kalian !"
katanya mencoba menggoda Yugana dan Kirei berharap mereka tergerak.
Namun sekali lagi semua itu hanya berujung kesia-siaan di mana Yugana dan Kirei masih belum juga menunjukkan reaksi apapun.
Sedangkan Sekushi, setelah mengatakan
"Wow,, tidak sia-sia aku melayani anda !
Tuan memang yang terbaik !"
ia segera bergegas ke meja resepsionis.
Dipuji seperti itu, spontan Shiran menampilkan senyum puas dan bangga dengan dirinya sendiri.
Disisi lain, mengamati dan menyimak percakapan yang terkesan intim antara Shiran dan Sekushi, kekesalan Yugana dan Kirei malah bertambah hingga salah satu dari mereka tidak sengaja menyentak meja makan.
Dikagetkan oleh sentakan itu, Shiran segera menoleh ke arah mereka dan mendapati mereka menampilkan ekspresi yang jauh lebih kesal dari sebelumnya.
Menyadari hal itu tidak lain disebabkan olehnya, Shiran tidak tahu mau menangis atau tertawa karena sekali lagi tidak mengetahui letak kesalahannya.
"Memang benar kata pepatah "wanita adalah makhluk yang sulit dimengerti""
Desah Shiran dalam hati.
Bertingkah seolah tidak menyadari hal itu, Shiran malah bertanya
"Ada apa Yugana, Kirei ?
Apakah kalian ingin ku pesankan sesuatu, juga ?"
tanyanya polos.
Mendengar pertanyaan itu, sekali lagi Yugana dan Kirei semakin bertambah kesal saat salah satu dari mereka menjawab
"Iya, kami ingin pesan saraf perangsang buat kak Shiran !
Agar bisa lebih peka."
Dengus Yugana kesal dengan nada sinis.
Seketika, Shiran dibuat terdiam tidak dapat berkata-kata dengan senyum kikuk tergantung di wajahnya.
All hasil, keheningan kembali terjadi diantara mereka yang bahkan terasa lebih aneh dari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, Sekushi kembali dengan dua piring besar berisi makanan di atas kedua tangannya.
Tanpa mengetahui apapun yang yang sedabg terjadi, ia dengan lahap mulai menikmati makanannya sesaat setelah duduk di kursinya.
Namun baru saja beberapa suap ia melahap makanannya, Sekushi mulai merasakan ada yang janggal dengan suasana diantara mereka.
Mengenakan ekspresi bingung di wajahnya, Sekushi bertanya
"Tuan, nyonya Yugana, juga nyonya Kirei, mengapa kalian diam saja ?"
tanyanya santai.
Dengan pertanyaan itu, lagi-lagi suasana di meja makan malah bertambah canggung.
Pasalnya, baik Yugana dan Kirei yang tidak mungkin terang-terangan menyatakan kecemburuan mereka, maupun Shiran yang masih belum mengetahui letak kesalahannya.
Sekushi pun bertambah bingung karena pertanyaannya belum juga mendapat jawaban untuk waktu yang cukup lama.
Beberapa saat kemudian, seolah tersadar akan sesuatu, tiba-tiba Sekushi melanjutkan
"Hmmm ?
Mungkinkah kalian sedang merencanakan untuk merebut makananku ?"
tanyanya sambil melingkari kedua piringnya dengan kedua tangannya seakan mencoba melindungi makanan tersebut.
Seketika, Shiran, Yugana, dan Kirei terlepas dari tawa mereka akan pikiran dan tingkah konyol Sekushi tersebut, yang entah dari mana asalnya.
"Hahaha,,, Sekushi !
Mulai saat ini sebaiknya kau memperbanyak membaca buku pengetahuan, agar diwaktu berikutnya kau dapat berpikir dengan matang sebelum melakukan sesuatu.
Sebab aku tidak ingin memiliki pelayan yang berpikiran pendek seperti itu.
Anggap saja itu perintah dariku !
Hahaha."
Shiran menegur disela-sela tawanya.
Mendapat teguran secara blak-blakan seperti itu, Sekushi hanya dapat mengenakan ekspresi masam saat menjawab
"Ugghh,, b-baik tuan !"
jawabnya.
Disisi lain Yugana dan Kirei yang juga mendengar teguran Shiran, tawa mereka malah semakin pecah karena menganggap Shiran terlalu blak-blakan.
Untungnya mereka adalah teman Shiran jika bukan, Sekushi sudah pasti akan segera mencabik-cabik mereka akibat tak kuasa menanggung malu.
Sisi baiknya, saat ini suasana yang aneh sebelumnya sudah mulai mereda.
Memanfaatkan kesempatan itu, saat mereka telah berhasil mengendalikan gejolak tawa mereka, Shiran berkata lagi
"Ehemm,, Yugana, Kirei !
Aku ingin meminta maaf kepada kalian berdua, jika aku secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang membuat kalian kesal.
Untuuk itu, aku pun berharap agar kalian memaklumi hal itu, bukankah kalian tahu sendiri bahwa aku memiliki karakter yang kurang peka ?"
Katanya dengan ekspresi serius dan tulus bahkan merendah dengan mengakui kekurang pekaannya.
Mendengar Shiran menyatakan itu, kali ini malah giliran Yugana dan Kirei yang balik merasa bersalah padanya.
Pasalnya, hanya karena masalah sepele dan keegoisan mereka, Shiran sampai merendahkan dirinya sendiri.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya salah satu dari mereka menanggapi
"Ugghh,, tidak kok, kak Shiran sma sekali tidak salah !
Kami lah yang salah karena terlalu sentimen !
Jadi, kami lah yang harus meminta maaf karena telah berperilaku seperti sebelumnya yang membuat kak Shiran tidak nyaman."
kata Yugana yang malah balik meminta maaf serta diikuti anggukan dari Kirei yang berada disisinya.
Mendengar pernyataan itu, Shiran malah dibuat terdiam, bingung akan pergantian keadaan yang tidak pernah ia bayangkan.
Menganalisis keadaan saat ini, Shiran menemukan bahwa pernyataan tersebut sangat ambigu.
Di satu sisi menyatakan Yugana dan Kirei yang salah karena terlalu sentimen, di sisi lain malah menyatakan Shiran yang salah karena menyebabkan mereka menjadi sentimen.
Sehingga dengan nada ragu ia membalas
"Eh ?
Uggh,, sudahlah !
Anggap saja kita sama-sama salah !
Bukankah dalam persahabatan, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah ?
Yah, anggap saja kasus ini sebagai pelajaran agar kita saling mengintropeksi diri masing-masing."
katanya sembari menyimpulkan.
Mendengar kesimpulan itu, Yugana dan Kirei sebenarnya senang karena Shiran tidak secara langsung menyatakan mereka bersalah.
Namun mereka juga masih merasa sedikit bersalah karena faktanya, satu-satunya orang menjadi korban dalam kasus ini adalah Shiran sendiri dimana ia sama sekali tidak sengaja melakukan kesalahannya.
Akan tetapi mereka juga berfikir bahwa benar apa yang dikatakan Shiran bahwa ini adalah media untuk mereka mengintropeksi diri.
Dengan semua pemikiran itu, salah satu dari mereka menjawab
"Hmmm,, baiklah kami berjanji akan selalu mengingat kasus ini dan menjadikannya sebagai pelajaran."
jawab Yugana lagi yang juga mendapat anggukan dari Kirei.
Begitulah akhirnya, semua pertentangan diantara mereka berhasil dihilangkan tanpa ada yang dirugikan.
Setelah itu, mereka kembali bercakap santai sembari mencoba memperbaiki suasana yang telah kacau sejak awal.
Sementara itu tanpa mengetahui topik pembicaraan antara Shiran, Yugana, dan Kirei, hingga saat ini Sekushi masih diliputi rasa kebingungan.
Saat hendak mengutarakan kebingungannya, Sekushi malah teringat akan teguran Shiran sebelumnya yang menyuruhnya agar berpikir matang sebelum bertindak.
Dengan perasaan frustasi, iapun menghentikan niatnya itu sambil berpikir
"Huffh,, memang benar apa yang dikatakan oleh tuan !
Sebaiknya aku segera menambah wawasan, terutama wawasan dalam bersosialisasi."
pikirnya.
Saat suasana diantara mereka telah benar-benar stabil seperti biasa, Shiran tiba-tiba berkata
"Ehemm,, Yugana, Kirei !
Bisakah kalian menjelaskan perbuatan apa yang telah aku lakukan hingga membuat kalian menjadi sentimen sebelumya ?"
tanyanya penasaran.
Yugana dan Kirei yang baru saja melahap makanan yang telah mereka pesan, spontan tanpa sengaja memuntahkan kembali makanan itu karena tersedak.
"Uhuk-uhuk !"
batuk mereka serempak.
Menyaksikan hal itu, Shiran sama sekali tidak memiliki kecurigaan terhadap mereka yang malah segera memberikan mereka air untuk diminum.
Saat keadaan Yugana dan Kirei mulai membaik dari tersedak makanan yang baru saja mereka alami, keduanya saling memandang satu sama lain dan menampilkan ekspresi tersipu dimasing-masing wajah mereka.
Beberapa saat kemudian setelah mengatur kata-kata yang akan diucapkan untuk menjawab pertanyaan Shiran, salah satu dari mereka menjawab
"Ughh,, begini kak Shiran !
Sebenarnya kami hanya merasa bahwa kak Shiran berperilaku tidak adil kepada kami !
Sebelumnya kami mengira, bahwa kak Shiran lebih perhatian kepada Sekushi di bandingkan kami berdua.
Namun setelah semua, kami sadar bahwa itu hanyalah kesalah pahaman kami.
Jadi, kak Shiran tidak perlu memikirkan masalah itu lagi !"
seperti biasa, kali ini lagi-lagi Yugana yang menjawab sebagai pembicara terbaik diantara keduanya.
Mencerna penjelasan yang sedikit ambigu namun masuk akal tersebut, dengan ekspresi serius Shiran membalas
"Oh, rupanya begitu !
Yah, lain kali sebaiknya tidak terulang, sebab kaliankan tahu sendiri bahwa hanya kalianlah yang bisa aku anggap sebagai rekan di dunia ini.
Dan aku mempunyai prinsip, tidak akan pernah membanding-bandingkan diantara sesama rekan-rekanku.
Jadi, kalian juga tidak perlu khawatir hal itu akan terjadi selama kalian masih berstatus sebagai rekanku."
katanya sembari memberitahukan salah satu prinsipnya.
Kemudian ia bertanya dalam hati
"Perilaku apa sebenarnya yang telah aku lakukan pada Sekushi sehingga membuat mereka berpikir bahwa aku lebih perhatian padanya ?"
pikirnya sembari mengingat-ingat semua perlakuannya terhadap Sekushi.
Disisi lain, bernafas lega karena Shiran tidak mendeteksi kecemburuan mereka saat Shiran memuji Sekushi sebelumnya, Yugana dan Kirei saling pandang dan tersenyum penuh makna satu sama lain.
Sedangkan Sekushi, seperti biasa masih mencoba sebaik mungkin menyimak dan memahami arah pembicaraan mereka.
up up up up
up up up
up up
up
Satu hal lagi, kalau sudah pakai kata 'berkata' gak perlu lagi pakai kata 'katanya' itu adalah pemborosan kalimat. Lagipula pada dasarnya arti kedua kata itu sama saja. Intinya terlalu banyak pemborosan kata. Kurang lebihnya mohon maaf, aku juga pemula. Tapi saling membagi ilmu tidak ada salah bukan? Sekian, semoga bisa direvisi jadi lebih baik lagi.