No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kebenciannya
Keheningan hanya berlangsung sesaat.
Lalu, tepuk tangan meriah memenuhi aula. Para tamu tersenyum melihat kemesraan pasangan muda itu.
“Ahh aku melihat keromantisan anak muda.”
“Mereka benar-benar pasangan yang sempurna.”
“Pengantin baru memang mendebarkan.”
Wajah Valerie memerah hingga ke telinga.
Sementara Damian berdeham kecil, berusaha menyembunyikan kecanggungannya. Tanpa mengatakan apa pun, ia menggenggam tangan Valerie.
Valerie masih belum mampu berkata-kata, ia hanya mengikuti langkah Damian.
Sesampainya di meja, Jennifer langsung bertepuk tangan kecil dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Astaga!”
“Kalian benar-benar membuatku gemas, aku seperti mabuk kecubung dibuatnya.”
Jennifer tersenyum lebar.
“Aku sangat senang melihat keharmonisan kalian berdua.”
“Akhirnya Damian terlihat seperti pria yang benar-benar jatuh cinta.”
“Aku berdoa semoga kalian hidup bahagia, dan segera memiliki momongan yang menggemaskan.”
Valerie langsung tersedak minumannya.
Jennifer tertawa kecil.
“Jangan malu.”
“Pasangan yang saling mencintai memang seperti itu.”
Harrison mengangguk sambil tersenyum.
“Kalian terlihat sangat serasi.”
Damian hanya diam sambil menyesap minumannya, namun sesekali ia melirik Valerie yang masih tampak malu.
Di sisi lain, Olivia memasang wajah kesal, tangannya mengepal pelan. Tanpa mengatakan apa pun, ia berdiri lalu meninggalkan meja.
Jennifer memperhatikannya sekilas, namun memilih untuk tidak menanggapi. Baginya, kebahagiaan adik iparnya jauh lebih penting.
Setelah acara berakhir, para tamu mulai berpamitan.
Jennifer memeluk Valerie hangat.
“Jangan sungkan berkunjung ke rumah, pintuku terbuka lebar-lebar untukmu Valerie.”
“Kalau pulang dari kampus dan ingin beristirahat, mampirlah.”
“Aku akan sangat bahagia jika kamu datang.”
Valerie tersenyum tulus.
“Terima kasih, Kak Jennifer.”
Jennifer mengusap punggung tangannya lembut.
“Sekarang kamu bagian dari keluarga kami. Jika Damian berani menyakitimu, kami akan membelamu.”
Mata Valerie sedikit berkaca-kaca, ia mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Setelah berpamitan dengan Harrison dan Jennifer, Valerie kembali berjalan berdampingan bersama Damian menuju mobil. Malam semakin larut, namun suasana di antara mereka terasa jauh lebih canggung dibandingkan sebelumnya.
Karena mereka berdua masih memikirkan hal yang sama. Ciuman singkat yang terjadi di lantai dansa. Sebuah momen yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam pernikahan kontrak mereka.
Namun entah mengapa, tak satu pun dari mereka benar-benar sanggup melupakannya.
•●✿●•
Sebulan telah berlalu sejak malam dansa itu.
Hari-hari Valerie perlahan berubah. Rumah yang dahulu terasa asing kini mulai terasa hangat. Kesedihan yang dulu selalu memenuhi dadanya perlahan memudar, digantikan oleh kehadiran seseorang yang tanpa sadar telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Damian.
Pria yang awalnya hanya hadir sebagai suami dalam sebuah perjanjian kini justru menjadi sosok yang paling sering mengisi pikirannya. Damian yang selalu memastikan dirinya makan tepat waktu, yang diam-diam membelikan makanan kesukaannya.
Damian yang gemar menggodanya hanya untuk melihat wajah kesalnya, selalu menemaninya mengobrol di taman saat senja tiba. Meskipun dingin dan kaku, selalu hadir ketika Valerie membutuhkannya.
Tanpa Valerie sadari, perhatian yang dahulu hanya ia dapatkan dari Hazel di dalam mimpi kini ia rasakan dari Damian di dunia nyata. Perlahan, sosok Hazel mulai memudar dari lembaran sketsanya.
Jika dahulu buku gambarnya dipenuhi oleh taman bunga, ayunan, serta gambaran sahabat masa kecilnya, kini halaman-halaman itu justru dipenuhi oleh wajah Damian.
Damian yang sedang membaca dokumen. Damian yang tersenyum tipis saat menggodanya.Damian yang sedang menikmati kopi pagi. Damian yang duduk bersamanya di taman.
Di salah satu halaman, Valerie bahkan menuliskan perasaannya sendiri.
Mungkin hatiku akhirnya berlabuh padanya...
Atau mungkin, ini pertama kalinya hatiku untuk seseorang yang nyata.
Seseorang yang selalu berada di sampingku, seseorang bernama Tuan Damian.
Valerie tersenyum kecil sambil menatap gambar itu.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Hari itu, Olivia datang berkunjung ke mansion keluarga Robert. Dengan sikap yang seolah telah menganggap rumah itu sebagai tempat yang sangat akrab baginya, Olivia berjalan menuju taman belakang. Dan di sanalah ia menemukan Valerie yang sedang duduk sendirian sambil menggambar.
“Wah, ternyata kamu bisa menggambar.”
Valerie tersentak lalu buru-buru menutup buku sketsanya.
Namun Olivia bergerak lebih cepat. Dengan senyum manis yang sulit ditebak ketulusannya, ia merebut buku gambar itu dari tangan Valerie.
“Olivia! apa yang kamu lakukan?”
Valerie berdiri dengan panik.
Namun Olivia justru membuka halaman demi halaman buku itu. Tatapannya perlahan berubah, karena hampir seluruh halaman dipenuhi oleh gambar Damian.
Olivia tersenyum tipis. Senyum yang tampak ramah, namun menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Wah, sangat menarik.”
Valerie berusaha mengambil kembali bukunya.
“Kembalikan.”
Namun Olivia berlari menuju ruang keluarga. Dan tepat saat itu, Damian baru saja pulang dari kantor.
“Damian akhirnya kamu datang.”
Olivia melambaikan tangannya ceria.
Damian menoleh.
“Olivia?”
Olivia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kamu harus melihatnya.”
“Kamu adalah pria paling beruntung.”
“Sayang kalau tidak melihatnya.”
Damian mengangkat sebelah alis.
“Apa yang kamu maksud.”
Olivia menyerahkan buku sketsa itu ke tangannya.
“Karena istrimu diam-diam mengambar dan menulis perasaannya, betapa ia sangat mencintaimu.”
“Cepat lihatlah, lihat.”
Wajah Valerie memucat.
“Olivia, jangan!”
Namun semuanya terlambat. Damian telah membuka buku itu, matanya menelusuri satu per satu gambar dirinya. Sketsa wajahnya. Ekspresi saat tersenyum, saat membaca, saat bekerja.
Bahkan ada beberapa tulisan kecil yang terselip di antara gambar-gambar itu. Tulisan tentang kekaguman, tentang kenyamanan, tentang perasaan yang perlahan tumbuh.
Olivia tersenyum manis.
“Gambarannya lumayan juga.”
“Walau sebenarnya, dia harus banyak latihan lagi.”
Damian menutup buku itu perlahan, ia tersenyum kepada Olivia. Senyum yang sopan, namun ketika tatapannya beralih kepada Valerie, ekspresinya berubah. Tatapannya tampak dingin, bahkan sedikit tidak ramah.
Valerie menundukkan kepalanya, dadanya terasa sesak. Ia merasa telah melanggar batas yang selama ini mereka sepakati. Tidak boleh ada perasaan diantara mereka, apalagi perasaan cinta.
Namun tanpa Valerie sadari, ia telah jatuh terlalu dalam.
Perlahan, Damian menyerahkan buku sketsa itu kepada Valerie. Tanpa tatapan hangat seperti biasanya.
Valerie menerima buku itu dengan tangan gemetar, tatapannya yang dingin membuat dada Valerie terasa semakin sesak.
Olivia tersenyum kecil di samping Damian. Tanpa menoleh lagi kepada Valerie, Damian berjalan memasuki mansion bersama Olivia. Meninggalkan Valerie berdiri sendirian di taman.