NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Asia yang baru saja hendak membalikkan badan di dekat sakelar sedikit tersentak. Pertanyaan itu cukup tak terduga keluar dari mulut pria kaku yang biasanya hanya bicara soal hal-hal penting dan formal.

"Penjelasanmu ke Nero tadi... kamu terdengar sangat ahli," lanjut Hugo. Sudut matanya menyipit tipis. Seperti sedang menginterogasi namun dengan nada yang jauh lebih santai dari biasanya.

Asia mengusap tengkuknya pelan, mendadak merasa sedikit canggung. Ia tidak menyangka Hugo menyimak detail kebohongannya pada Nero dengan begitu cermat.

"Ah... itu." Asia tersenyum tipis, mencoba menguasai rasa canggungnya. "Ya... saya agak paham soal game itu, Pak Hugo."

"Hanya agak paham?" selidik Hugo pendek. Dia menoleh pada Asia yang merapikan ranjangnya. "Aku rasa itu bukan cara bicara orang yang agak paham tentang game. Kamu seperti orang yang memang sering memainkannya."

Tepat. Itu game yang sering aku mainkan, batin Asia.

"Banyak anak yang main game dilingkungan saya," ujar Asia mencoba menjelaskan kenapa dia paham game itu.

"Jadi seperti apa lingkungan tempatmu tinggal?" tanya Hugo. Dia memang tidak begitu tahu meski secara benar tempat asal wanita muda ini lahir.

Pertanyaan itu terdengar sangat tidak biasa keluar dari mulut pria dingin seperti Hugo. Hingga membuat Asia tertegun sejenak. Ini pertanyaan kedua yang lumayan mengejutkan untuk Asia. Pertama soal game, kedua soal lingkungan tempat ia tinggal.

Namun, Asia dengan cepat menguasai dirinya kembali.

"Tempat saya tinggal adalah Lingkungan keluarga yang ekonominya menengah ke bawah seperti kebanyakan di negara ini, Pak Hugo. Makanya saya bisa dikejar penagih hutang karena miskin," jawab Asia jujur dan santai. Tidak ada raut wajah sedih atau minder di parasnya saat menceritakan hal itu.

Hugo mengerjapkan mata saat mendengar pengakuan itu.

"Rumah-rumah saling berdempetan, anak-anak kecil ramai main di gang dari sore sampai malam. Karena letaknya dekat, suara HP dari rumah sebelah pun kadang kedengaran," lanjut Asia sembari mengulas senyum tipis yang tenang. "Makanya saya akrab dengan game-game yang dimainkan anak-anak seumuran Nero. Suara efek suara dari game mereka sudah jadi makanan sehari-hari."

Hugo menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang, mendengarkan setiap kata Asia dalam hening. Matanya menatap datar ke arah ceiling kamar, namun pikirannya mencerna gambaran dunia yang diceritakan wanita di depannya. Dunia yang sangat asing dan jauh dari kehidupan militer serta latar belakang keluarganya yang penuh disiplin keras.

"Terasa bising," komentar Hugo pendek, datar tanpa maksud menghina. Murni pengamatan dari sudut pandangnya.

Asia terkekeh pelan, nada tawanya terdengar sangat sopan. "Awalnya mungkin bising, Pak Hugo. Tapi kalau sudah terbiasa, suasana ramai seperti itu justru terasa hangat."

Kepala Hugo mengangguk mencoba paham.

"Tidurlah. Besok pasti kamu butuh banyak tenaga untuk menghadapi keluargaku," ucap Hugo datar. Ada nada peringatan yang jujur dalam suaranya. Sebuah pengakuan bahwa tinggal di rumah ini bersama keluarganya bukanlah hal yang mudah.

"Baik."

Asia kemudian melangkah perlahan menuju tempat peristirahatannya malam ini, menyiapkan posisi terbaik untuk memejamkan mata.

***

Aroma harum tumisan bumbu pagi itu memenuhi area dapur. Asia berdiri di dekat kompor, sibuk membantu Bik Nah memotong sayuran dan menyiapkan bahan sarapan. Kebiasaan bangun pagi dan bergerak di dapur adalah hal yang paling alami baginya, membuat rasa canggung tinggal di rumah mewah itu sedikit terkikis.

Langkah kaki yang halus terdengar mendekat. Nyonya Malinda muncul di ambang pintu dapur dengan senyum hangatnya yang khas.

"Selamat pagi, Bu," sapa Asia ramah sembari menghentikan sejenak kegiatan memotongnya.

"Selamat pagi, Asia. Lho, kamu tidak usah repot-repot bantu di dapur," ujar Nyonya Malinda lembut, terkesan tidak enak hati melihat menantu barunya sudah berkutat dengan pisau dan talenan.

"Tidak repot sama sekali, Bu. Sudah terbiasa," sahut Asia santai dengan senyum tulus. Ia mengambil sebuah cangkir porselen bersih. "Ibu mau saya buatkan teh hangat?"

"Boleh, terima kasih ya, Asia," jawab Nyonya Malinda senang, lalu melangkah mendekat dan menyandarkan tubuhnya santai di pinggir meja dapur. Pandangannya beredar sekeliling. "Nero mana? Belum bangun, ya?"

"Masih tidur di kamarnya, Bu," jawab Asia sembari menuangkan air panas ke dalam cangkir teh.

Nyonya Malinda menghela napas pelan, teringat kebiasaan cucunya. "Semalam Nero tidur jam berapa, Asia?" tanya Nyonya Malinda membuka perbincangan. Ada binar penuh kasih sayang di matanya saat menyebut nama cucu kecilnya itu. "Biasanya anak itu susah sekali disuruh lepas HP. Kalau tidak dibujuk Papa-nya dengan wajah galak, dia bisa main game sampai subuh."

Asia tersenyum tipis mengingat kejadian semalam sembari menyerahkan cangkir teh hangat itu pada Nyonya Malinda. "Semalam Nero tidur cepat kok, Bu. Setelah sedikit diingatkan, dia langsung masuk selimut."

Nyonya Malinda terkekeh pelan setelah menyesap tehnya, lalu mengangguk-angguk puas. Raut wajahnya berubah menjadi kombinasi antara takjub dan heran yang luar biasa.

"Sungguh? Hanya 'sedikit diingatkan'?" tanya Nyonya Malinda memastikan, matanya membelalak kagum. "Luar biasa. Padahal biasanya rumah ini bisa heboh dulu cuma gara-gara menyuruh bocah itu meletakkan ponselnya. Ibu sampai kewalahan kalau Hugo sedang tugas luar. Kamu pakai sihir apa sampai Nero bisa penurut begitu?"

Asia tertawa pelan, menggeleng sopan. "Tidak ada sihir kok, Bu. Cuma sedikit menakut-nakutinya."

Suara dengung halus kursi roda hidrolik memecah perbincangan hangat di dapur itu. Pria tegap itu muncul di ambang pintu jauh lebih pagi daripada biasanya. Penampilannya sudah rapi dan segar, meski sedikit letih masih tertangkap samar di paras tegasnya.

Nyonya Malinda langsung menoleh antusias pada putra sulungnya. "Hugo, kamu dengar tidak? Istrimu ini hebat sekali. Dia bisa membuat Nero segera tidur tanpa perlu acara drama atau bentakan."

Hugo menghentikan kursi rodanya di dekat meja dapur, mengarahkan pandangannya lurus pada Asia yang masih memegang pisau dapur.

"Itu bagus," sahut Hugo datar, namun ada nada bangga yang samar dalam suaranya.

"Bukan cuma bagus. Ini rekor, Hugo." Nyonya Malinda menatap Hugo dan Asia bergantian, lalu tertawa renyah. "Bagaimana perasaanmu pagi ini, Hugo? Kaki masih terasa pegal?" tanya Nyonya Malinda penuh perhatian, mengalihkan fokus pada putranya.

"Sudah jauh lebih baik, Bu," jawab Hugo singkat, lalu matanya kembali bergulir menatap Asia. "Pagi, Asia."

Asia yang disapa secara mendadak dan formal di depan ibu mertuanya hanya menyunggingkan senyum santai dan mengangguk sopan. "Selamat pagi."

Saat itu langkah kaki ringan Jenny sedang menuju kesana terhenti tepat di lorong dekat pintu dapur. Dari sana, gadis remaja itu bisa melihat nenek dan papanya sedang mengobrol akrab dengan Asia.

Tawa renyah Nyonya Malinda dan guratan senyum tipis di wajah Papanya yang biasanya dingin, membuat dada Jenny berdesir tidak nyaman. Dia kesal.

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!