Arya adalah seorang CEO dari salah satu Perusahaan Besar di Kota-nya. Ia juga merupakan Pemimpin dari perkumpulan mafia terkuat di kota-kota dalam negeri itu.
Diusianya terbilang cukup matang, ia masih suka dengan kehidupan hingar-bingar tanpa mikirkan pernikahan. Hal itu membuat pihak keluarga memaksanya untuk segera mencari pasangan hidup. Tapi justru tuntutan itu membuatnya kesulitan dalam menemukan pasangan yang tulus mencintai apa adanya.
hingga suatu ketika, perusahaan yang ia dirikan itu berulang tahun dan ia memutuskan untuk merayakannya dengan berlibur ke sebuah pulau bersama para karyawan selama sebulan penuh. Menyamar sebagai karyawan biasa adalah tujuan utama untuk menemukan cinta sejati. Bersama sang asisten Bobby yang akan setia menemani.
Alona adalah gadis tomboy yang tak mengenal cinta. Kehidupan serba sulit membuatnya tak memikirkan calon pendamping hidup. Yang ia tahu hanya bagaimana cara agar bisa menghasilkan uang untuk kelangsungan hidup keluarganya yang harus terus berjalan. Ayah yang sudah lama meninggal membuat gadis itu terpaksa menggantikan posisinya menjadi tulang punggung keluarga. karena saking acuhnya ia terhadap laki-laki, ia bahkan rela dijuluki si wanita jadi-jadian.
Tapi siapa sangka, bertemu dengan Arya perlahan-lahan mengubah jalan hidupnya. Ia yang awalnya bar-bar, akhirnya berubah menjadi anggun.
Simak kisahnya dalam novel "Pencarian Jodoh Sang CEO"
Karya : Mariah_Alrayzan
Tak disangka, kisah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencurigakan
Arya sudah kembali dari Rumah Sakit. Menyisakan satu perban yang masih setia menempel pada jidat.
Ia pulang menggunakan jasa ojek online, sengaja tak memesan taksi online, sebab masih tersisa sedikit rasa trauma mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu.
Arya lebih suka memilih aplikasi itu, karena jika terlalu mengumbar kemewahan, takut para karyawan mencurigai identitas aslinya.
Namun, meski bepergian hanya menggunakan kendaraan roda dua, sang CEO mendapat pengawalan yang semakin ketat. Di manapun Arya berada, dan ke manapun Arya bepergian, selalu ada bodyguard dengan mobil hitam yang membuntutinya.
_________&&
Pagi itu Arya sudah siap dengan jaz dan sepatu fantopel. Hari ini ada meeting klien di luar pulau. Mungkin, ia hanya bisa kembali saat menjelang siang.
Lagi dan lagi, untuk menuju stadion besar miliknya, Arya hanya menggunakan jasa ojek online. Nantinya, Arya akan terbang keluar pulau menggunakan jet pribadi.
Setelah memesan, pria itu lantas menunggu si ojek di dekat halte.
Diliriknya arloji yang sempat menyelamatkan nyawanya, terpampang waktu yang menunjukkan pukul tujuh dini hari.
Meeting klien pukul delapan lewat. "Masih sempat!" gumamnya.
Sementara itu di lain tempat, seorang gadis tengah bermalas-malasan.
Bagaimana bisa gadis itu bersemangat. Sedang sepeserpun ia tak memegang uang. Padahal liburan masih akan berlangsung lama.
Direbahkannya tubuh di atas matras. Sudah semalaman ia tertidur, kini menjelang pagi, yang diinginkannya hanyalah kembali tidur.
Jangan tanya seperti apa kondisinya.
Air liur basi tampak mengalir di sela pipi mungilnya, rambut kumal teracak bak sapu ijuk. Kalian mungkin akan mual jika melihat kondisi si gadis, ditambah kamarnya yang lebih mirip ruang bermain kanak-kanak. Sangat berantakan.
Drrrttt! Drrrttt!
Ponsel Alona berdering. Panggilan masuk dari Jesica berhasil menyipitkan mata bulatnya.
Diraihnya benda yang baterainya tinggal beberapa persen.
Klik!
[Halo, Al? Lu di mana?] tanya si penelpon.
Alona menguap. Suaranya terdengar seperti angin dalam panggilan telpon Jesica.
[Halo, Al. Halo?]
"Iye, ada apa, Jes. Gue lagi di kamar ini!"
"Astaga! Ini tuh udah pagi, Al."
"Yaa, terus kenapa?" Suaranya terdengar parau. Gadis itu berbicara dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Lu gak mandi gitu?"
"Ngapain mandi? Mang mau ke mana juga!"
"Loh, hari ini kan para karyawan pada sibuk berbelanja!"
"Ya udah, biarin aja mereka belanja!"
"Eh, lu kan juga karyawan, Pekok!"
"Iyee, gue tau! Gue cuma malas keluar!"
"Astaga nih anak! Lu tunggu gue di sana ya, jangan ke mana-mana luu!"
"Kenapa emang?"
Tuuut! Tuuut! Panggilan terputus.
"Yee, dimatiin!" gumam Alona yang kemudian berbaring, meneruskan proses sleeping beauty yang sempat terganggu, dengan posisi tengkurap dan wajah yang bersembunyi di balik bantal.
Sepuluh menit kemudian ....
Alona berada di atas kapal pesiar. Heran, diedarnya pandangan ke sekitar. Anehnya, kapal itu tak berlayar di lautan, melainkan di atas udara. Bahkan, tampak jelas burung-burung beterbangan mengitari awan putih berlapis emas. Pelangi pun terlihat jelas di depan mata seakan dapat digapai hanya dengan menggunakan tangan. Gadis itu melongo, takjub dengan apa yang ia lihat.
Dan tiba-tiba, perjalanan kapal yang tadi mulus dengan jutaan permata menghiasi awan, kini terguncang hebat. Guncangan yang dahsyat seperti tertarik dan masuk ke dalam pusaran angin topan.
"Alona! Bangun, Alonaaa!" Jesica menggoyang-goyang badan Alona.
Ia mengerjap. "Loh, kok, elu ada di sini sih? Haiisssh!" Ia mendesah, menepis lengan Jesica lalu memalingkan wajah dengan raut cemberut.
"Lu kenapa, Al? Ngigau lu?"
"Kagak? Lu barusan ganggu mimpi indah gue! Gue tadi ada di awan, belum juga ketemu pangeran, ehh lu main goyang-goyang badan gue aja!"
Seketika Jesica terbahak.
"Mimpi indah apaan? Cepat bangun gih, dunia itu lebih indah dari mimpi!"
"Kata siapa?"
"Kata gue, barusan!"
"Mimpi jelas lebih indah!"
"Mana bisa, ya jelas dunia nyata lebih indah dong!"
"Mimpi lebih indah! Karena di sana, semua serba gratis!"
"Hiahahhahaha!" Kembali Jesica terbahak. "Iye iye iye, bener juga lu!"
"Ngeledek mulu lu!"
"Abis, lu kalo ngomong suka bener sih! Nasib lu deh, jadi wong kere!"
"Wah sialan! Lu makin hari makin rese yaa! Kesel gue!"
"Cie-cie, ngambeeek!"
"Auu ahh! Elaaap!"
"Ucuup ucuup ucuup, jangan marah ya, Dek! Entar beli es krim!"
"Dak, Dek, Dak, Dek! Lu sangka gue anak kecil!"
"Lah! Kan emang!"
"Kagak ya! Gue anak besar!"
"Ahahhaha! Ya sudah, sekarang anak besar mandi dulu, yaa!"
"Iyee, Budeee!"
"Gak Nenek sekalian!"
"Iyee, Nenek!"
"Hmm! Ya udah mandi sana!"
"Malas ah!"
"Aduuh, Al. Gue sudah rela-rela buang waktu buat jemput elu ke sini! Lu harus nurut, dong!"
"Tapi kan gue gak minta loe buat datang ke sini!"
"Ah udah! Pokoknya, lu mandi sekarang! Atau gue yang mandiin loe di atas kasur ini!"
"Iye,iye ahh! Dasar baweel!"
"Dasar, Bocil!"
"Baweel!"
"Bocil!"
"Bawel!"
"Yee, gitu aja terus! Gak usah pake mandi-mandian sampe lebaran monyet!"
Setelah drama percekcokkan selesai. Jesica akhirnya berhasil membuat Alona beranjak ke toilet.
Alona yang baru berusia sembilan belas tahun itu memang benar-benar polos. Tingkahnya bahkan lebih mirip anak berusia sembilan tahun. Dan hanya Jesica yang mampu mengimbangi sikap egonya.
Alona telah selesai berberes, mulai dari kasur hingga polesan make up ala-ala korea yang tak pernah luput dan selalu melekat di wajah tiap hendak bepergian.
Tentu saja, untuk urusan kasur lebih banyak di kerjakan oleh si gadis anggun yang berstatus tamu.
"Udah selesai, Jes?" tanya Alona.
Gadis itu hanya bisa menyeka keringat. "Harusnya gue di sini cuma nungguin elo! Bukan beresin kasur loe!"
"Ehehhe, kan biar lebih cepat kelarnya!"
"Iyee, terserah lu deh! Yuk kita berangkat sekarang, keburu ketinggalan pesawat!"
"Hah?!"
"Ketinggalan bus maksudnya! Gak paham satire nih!"
"Oo!"
"Cuuuz, Dek!"
"Siap, Nek!"
"Hahaha sialan, jangan beneran panggil Nenek dong!"
Kedua gadis itu akhirnya berangkat. Menunggu busway di pemberhentian. Selang beberapa saat, mereka akhirnya pergi setelah sebuah bus berhenti tepat di hadapan keduanya.
Sepanjang jalan, keduanya asyik berbincang. Apapun dapat di bahas jika kedua insan itu saling bertemu.
"Jes, coba deh lu lihat gedung itu!"
"Yang mana?"
"Itu!" Alona menunjuk pada sebuah gedung besar. "Duh, kebayang deh sama yang punya. Pasti orangnya kaya raya!"
Jesica memandang lekat. "Itu kan stadion milik bos Arya."
"Oh ya?"
"Iyaa!"
"Kaya raya banget ya bos kita itu!"
"Bangeet!"
Bus yang mereka tumpangi berhenti tepat di lampu merah yang bersebelahan dengan gedung itu.
Sejenak tak ada hal yang menarik di area itu. Lalu tiba-tiba, netra Alona membulat melihat seorang pria yang sering ia jumpai berada di ambang pintu utama stadion yang mereka perbincangkan sebelumnya.
"Jes, Jes!" panggilnya pada Jesica yang tengah sibuk bermain gawai.
"Hmm, kenapa?" sahutnya yang tetap fokus menatap layar ponsel.
"Lihat deh cowok yang di sana itu?"
"Yang mana?"
"Itu! Yang pake setelan jaz!"
Netra Jesica menyipit, sengaja agar lebih fokus saat memperhatikan sosok yang ditunjuk Alona.
"Itu, tuh cowok yang gue maksud!" ungkap Alona.
"Cowok yang lu maksud, apaan?"
"Iyee, cowok mesum yang udah bikin gue jatuh hati, dia juga cowok yang nyelamatin gue kemarin!" ungkapnya. "Ngapain ya dia di sana? Mencurigakan!" tukas Alona.
Lelaki itu lantas beranjak dari tempat ia berdiri. Menuju jalan tempat pemberhentian busway yang jaraknya sekitar dua ratus meter di depan mereka. Namun, beberapa pria dengan seragam serba hitam tampak mengikutinya dari belakang.
"Tunggu dulu, Al! Kayaknya ada yang gak aneh! Coba lihat deh!" Jesica menunjuk ke arah pria-pria kekar yang mengikuti Arya. "Orang-orang itu kayak ngelindungi dia!"
"Mana, mana??"
"Ituu!"
Alona memperhatikan. "Oh iya, Jes. Setiap ada yang melintas, tangan mereka langsung nutupin badannya ntuh cowok!"
"Iya, aneh kan temen loe itu!"
"Iyaa. Sebenarnya siapa dia?!"
"Itu dia, Al!"
Busway yang mereka tumpangi kembali bergerak kala lampu sudah berubah menjadi hijau. Lajunya hanya berada di kecepatan dua puluh perkilo meter. Sebab si bus akan kembali berhenti tepat di jarak dua ratus meter.
Beberapa penumpang turun di jalur pemberhentian itu. Sementara yang sedang menunggu di luar, bergantian masuk ke dalam. Termasuk pria yang sebelumnya diperbincangkan Alona dan Jesica.
Pria itu langsung duduk di kursi kosong yang berseberangan dengan kedua gadis itu. Namun, kedua gadis itu masih belum sadar dengan kehadirannya. Mereka sibuk memainkan benda pipih di tangan. Pun dengan si pria yang juga sibuk dengan ponsel mahalnya.
Lalu tanpa sengaja, ponsel si pria terjatuh dan tepat mengenai mata kaki Jesica.
Jesica meraihnya dan begitu hendak memberikan pada si pemilik, ia terkejut.
"Bimaa!!"
Bersambung ....
lanjut ah....