Arasya Allidra, pria tampan yang akrab dipanggil Rasya memiliki sebuah harapan ingin menikahi cinta pertamanya yang tak lain merupakan sahabat masa kecilnya jika sudah dewasa dan sukses nanti. Keduanya harus terpisah jauh saat keluarganya pindah ke luar negeri.
Rasya yang bertekad untuk meraih cita-citanya dengan belajar dan bekerja keras sampai sukses. Namun disaat tujuannya hampir tercapai sebuah undangan didapatkannya bahwa Qila akan menikah dengan pria lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Dewi Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pengagum berat
Suasana apartemen Rasya dan Qila kini menjadi ramai karena banyaknya rekan-rekan kerja Rasya yang datang berkunjung.
Mereka sengaja datang ke apartemen untuk menyambutnya karena saat itu Rasya yang menikah secara dadakan sama sekali tak mengundang siapapun.
Qila sengaja menyiapkan banyak makanan untuk menjamu teman-teman dari Rasya. Sebagai seorang direktur perusahaan tentu Rasya harus memberikan yang terbaik untuk para rekan staf dan karyawannya.
"Pak Rasya selamat ya atas pindahannya. Apartemennya nyaman dan bagus sekali. Juga semoga betah ya.." ujar salah satu rekannya.
"Ya jelas betah dong, kan ditemani istri yang sangat cantik begitu. Kalian benar-benar pasangan serasi." Banyak sekali yang memuji kecantikan Qila.
Namun diantara rekan-rekannya ada salah seorang wanita yang seumuran dengan Qila tampak murung sejak tadi.
Entah ada apa namun saat Qila memperhatikannya wanita itu terus memandang Rasya. Tak ingin berburuk sangka Qila pun mengalihkannya dengan kegiatan lain.
"Kak, silahkan dinikmati hidangan seadanya ini." Qila mencoba mengakrabkan diri dengan menghampiri wanita itu.
"Ya, terimakasih. Saya mau numpang ke toilet sebentar." ujar wanita itu.
"baik, mari saya antar." Qila pun mengantarkan wanita itu ke toilet yang ada di apartemennya.
Saat melintasi ruang keluarga wanita itu tampak memperhatikan foto-foto pernikahan Qila dan Rasya yang terpajang di dinding. Entah kenapa ekspresi wanita itu menjadi semakin murung.
Sementara wanita itu ke toilet Qila pun menghampiri suaminya yang bergabung dengan tamu-tamu lainnya.
Qila yang dasarnya santun dan ramah memang tak sulit untuk berbaur dengan orang baru. Hal itu pula membuat Rasya bangga pada sang istri.
Hingga akhirnya para tamu itu pergi dan kini tinggal mereka berdua saja yang ada di apartemen.
Qila sibuk membereskan pring bekas para tamu dan Rasya membantu merapikan ruangan. Dua insan suami istri itu saling membantu dan berbagi pekerjaan.
Mereka memang belum mencari ART untuk mempermudah pekerjaannya. Lagi pula Qila sendiri tak ingin mencari jasa ART karena dia pikir pekerjaan mereka cukup sederhana dan bisa dikerjakan berdua.
"Mas, boleh tanya nggak?" Qila mengobrol sambil mencuci piring yang dibantu Rasya.
"Kenapa sayang? tanya apa?" Jawab Rasya.
"Tadi, yang datang kesini seorang wanita pakai baju sage itu siapa ya?" tanya Qila karena penasaran.
"Oh, yang rambutnya sebahu?" Rasya ingin memperjelas.
"Ya Mas. Dia orangnya." ujar Qila.
"Itu namanya Sita, dia kepala divisi keuangan, kenapa?" tanya Rasya.
"Dia cantik ya mas."
"Cantikan juga kamu yang." Rasya menjawabnya sambil menata piring-piring ke dalam rak.
"Tapi kayaknya dia terus memperhatikan mas loh, apalagi sata tadi menumpang ke kamar mandi. Saat lewat ruang keluarga dia kelihatan murung ketika memandang foto kita." Qila memilih jujur tentang prasangkanya.
"Ya, dia memang seperti itu. Dia dulu juga kerja di cabang Australia bersamaku sebelum setahun lalu transfer ke Indonesia. Dia dulu sering menyatakan perasaannya padaku." Rasya menjawabnya santai.
Qila yang mendengar itu langsung menghentikan aktivitasnya lalu menatap Rasya dengan tajam.
"Jadi dia suka sama kamu mas?" Qila langsung menyahut.
"Hmm.. begitulah. Tapi kan kamu tahu sendiri aku sukanya sama siapa? cintanya sama siapa?" Rasya menyenggol lengan Qila sambil tersenyum gemas.
"Ih mas sok gombal aja, padahal dia cantik loh. Terus kalau sampai sekarang masih nyatain cinta gimana?" jujur saja Qila merasa was-was sekarang.
"Baru juga dia ngirim pesan nyatain perasaannya." Rasya pun mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang dikirim oleh Sita.
Qila yang penasaran langsung mengambil ponsel Rasya dan membaca pesan itu dengan seksama.
"Rasya, jujur saja aku merasa sakit banget dengar kamu ternyata sudah menikah. Rasya sudah bertahun-tahun sejak kita masih sama-sama di Aussie dan sampai sekarang kita bertemu di Indo perasaanku nggak berubah, aku tetap menyukaimu tapi setelah mendengar itu semua hatiku benar-benar hancur. Aku sejujurnya masih mengharapkan kamu, berharap asih bisa mendapatkanmu. Tapi ketika tahu istrimu adalah cinta pertamamu maka aku benar-benar kalah. Aku hanya berharap keajaiban Tuhan agar bisa mengetuk hatimu. Dan aku akan selalu berdoa begitu."
Pesan panjang itu Qila baca dengan berkali-kali agar dia benar-benar paham dengan maksud pesan itu.
"Terus Mas mau jawab apa?" Qila jadi penasaran dengan jawaban Rasya.
"Biarin aja nggak usah dijawab, biasanya juga begitu." Rasya memilih untuk mengabaikannya saja.
"Nggak bisa gitu mas, bagaimana kalau dia nekat terus dekati Mas? Bukankah rasa sayang itu timbul karena terbiasa?" Qila masih saja was-was.
"Hmm.. baiklah, adi istriku cemburu nih ceritanya?" Rasya justru menggoda Qila.
"Udah tau cemburu malah masih tanya." Qila yang memang sudah cemburu pun semakin kesal jadinya.
"Maaf-maaf, aku akan membalas pesannya dan memberi tahu untuk tidak menggangguku lagi." Ujar Rasya akhirnya.
Qila merasa lega namun tak sepenuhnya lega karena bisa saja ada orang lain sekantor Rasya yang diam-diam menyukai suaminya, secara pria itu memang memiliki pesona yang luar biasa.
"Mas, maaf ya. tapi bisa kan mas bersabar sedikit lagi. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk segera sembuh. Aku yakin nggak lama lagi aku bisa menjadi istri yang berguna untuk Mas Rasya." Qila terus meyakinkan Rasya juga dirinya sendiri.
"Aku akan tunggu kamu sampai kapanpun asalkan kamu tetap ada di sisiku."Jawaban Rasya tentu saja membuat Qila sangat senang.
Dia langsung memeluk suaminya. Saking senangnya sampai lupa bahwa tangannya masih berlumuran busa sabun cuci piring.
***
Hari ini merupakan kali selanjutnya Qila konsultasi kepada psikiater. Jika di awal-awak dia sempat canggung namun sekarang sudah mulai terbiasa, bahkan dia berangkat tanpa harus ditemani suaminya.
Keduanya berbicara serius tapi santai dan rupanya Qila benar-benar merasa rileks karena dia bisa menceritakan semua keluh kesah yang dia rahasiakan sorang diri.
"Pada intinya Qila, kamu hanya perlu fokus pasa suami kamu, ingat yang baik-baiknya saja. Bagaimana kesabaran dan perjuangan suami kamu yang membantumu untuk sembuh itu luar biasa. Sudah sepantasnya kamu memberinya reward. Buang jauh-jauh rasa ketidak percayaan dirimu itu."ujar Ratna sang psikiater.
"Baik mbak Ratna, terimakasih banyak untuk hari ini. Aku yakin tak lama lagi aku bisa seperti dulu dan melupakan traumaku." Ujar Qila senang.
KIni sedikit banyak sudah dia lewati dan sekarang memang fokusnya harus pada Rasya saja, pria luar biasa yang datan dari masa lalu tiba-tiba mampu mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan.
"Emm.. sepertinya aku mau menghampiri Mas Rasya dan makan siang bersama." senyum mengembang di bibir Qila.
Qila pun memutuskan untuk bergegas menuju kantor Rasya. Dia ingin memberi kejutan untuk suaminya.
Setelah hampir setengah jam mengemudi kini Qila sampai juga di kantor tempat Rasya bekerja. Para karyawan dan staf yang mengenal Qila pun langsung menyambutnya dengan baik.
"Selamat siang Bu Qila. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang staf.
"Siang Pak, saya mau ketemu suami saya. dimana ya?" ujar Qila yang pertama kali berkunjung ke tempat kerja Rasya.
Sebenarnya Rasya berulang kali ingin mengajak Qila ke kantornya namun istrinya masih sibuk. Dan sekarang Qila sengaja memberi kejutan agar Rasya senang.
"Pak Rasya ada di ruangannya bu, mari saya antar." Qila pun mengikuti arah perginya staf tersebut.
"Ruangannya ada di sana bu, silahkan Bu Qila langsung kesana saja." pinta staf itu.
Dengan menenteng tas berisi makanan dari salah satu restoran andalan Rasya kini Qila pun segera bergegas.
Namun saat dia membuka sedikit pintunya dan hendak memberi kejutan namun tak disangka di dalam ruangan itu ada Rasya yang sedang berbicara serius dengan Sita, wanita yang katanya selalu menyatakan perasaannya pada Rasya.
...****************...
separo, setela itu menghilang sampai
kini gak ada kabar novel itu termasuk
novel yg sedang aku komen ini pun sama.
sama kisah bapaknya sean aysa dan roy