NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Biyan tiba di Rumah dengan cepat, melangkah masuk menuju kamar ibunya. Di sana, Dean duduk di pinggir ranjang sembari mengompres dahi sang ibu. Wajah wanita itu tampak begitu pucat dan semakin menirus. Semenjak kejadian yang menimpa Abhinara, ibu mereka memang terlihat lebih kurus. Lalu kini ketika mereka kehilangan Abhinara, sang ibu terlihat semakin hancur.

"Kak Dean," panggil Biyan pelan. Ia masih berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk— takut mengganggu sang ibu.

Dean menoleh lalu berdiri dan berjalan mendekati sepupunya. "Bibi tidak apa-apa. Aku tadi sudah memanggil Dokter untuk memeriksa dan katanya Bibi butuh istirahat."

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Biyan.

"Entahlah, tadinya aku ingin memanggil Bibi untuk makan malam bersama. Tapi saat aku membuka pintu kamar, Bibi sudah tergeletak di lantai. Jadi aku menelpon Dokter lalu menelponmu."

Biyan mengangguk, mendekati ranjang sang ibu. Ia menggenggam jemari wanita itu lembut sebelum merapikan selimutnya. Kemudian ia menatap ke arah Dean yang masih berdiri di dekat pintu kamar.

"Kak, ada yang perlu ku bicarakan."

***

Biyan dan Dean kini terduduk di ruang keluarga. Ia memperlihatkan video rekaman terakhir Abhinara kepada sepupunya. Biyan sadar, ia tak bisa melakukan ini sendiri dan ia membutuhkan bantuan. Satu-satunya orang yang terpikirkan olehnya adalah Deandra.

Dean sendiri menonton video rekaman itu beberapa kali dengan kening mengerut.

"Di menit ini raut wajah Abhi tiba-tiba saja berubah. Ada seseorang yang sepertinya membuatnya takut atau tak nyaman masuk," jelas Dean.

"Iya, aku juga sadar itu. Coba dengarkan lebih seksama, kak. Samar-samar ada suara yang memanggil nama Abhi di akhir. Aku ingin tahu apakah aku salah dengar atau tidak."

Maka Dean langsung mengambil earphone dan memasangnya ditelinga kemudian memutar ulang bagian yang dimaksud dengan volume maksimal.

"Benar. Aku juga mendengarnya. Samar tapi jelas dan itu suara pria," Dean melepas earphone nya dan menatap Biyan. "Tunggu, apa maksud video ini?"

"Kak Dean, sepertinya Abhi bukan bunuh diri— tapi dibunuh. Aku yakin itu."

"Biyan, kau tahu tak bisa langsung mengambil kesimpulan begitu tanpa bukti. Bahkan Dokter mengatakan tidak ada tanda-tanda kekerasan ditubuh Abhi."

"Bagaimana jika Dokter yang memeriksa mayat Abhi adalah kaki tangan si pelaku?"

Dean menghela napas, ia mengerti jika Biyan berpikir demikian. Anak itu sangat menyayangi Abhi dan kematian kembarannya benar-benar menjadi pukulan telak bagi Biyan. Tapi sampai membuat spekulasi di bunuh itu terdengar berlebihan.

"Kau tahu kan kau bisa dipidana jika membuat tuduhan tak berdasar begitu, Biyan."

"Aku tahu! Tapi kakak lihat sendiri kan videonya?! Jelas-jelas ada seseorang diruangan itu sebelum Abhi terjatuh!" kata Biyan dengan rahang mengeras. "Aku baru saja kembali dari Rumah Sakit untuk mencari tahu dan suster yang berjaga mengatakan sebelum kejadian, ada seorang pria yang datang berkunjung menggunakan setelan jas formal dengan sapu tangan merah di dadanya! Aku yakin orang itu ada kaitannya dengan kematian Abhi!" lanjutnya lagi.

Sebelah alis Dean terangkat naik. "Jadi tadi kau di Rumah Sakit saat aku telpon?"

Biyan mengangguk.

Gadis itu terdiam sejenak sebelum kembali membuka suara. "Jika yang kau ucapkan itu benar, maka ini mungkin bukan murni bunuh diri. Sepertinya ada sesuatu yang lebih dalam lagi dari hanya sekedar pembullyan dan pelecehan."

***

Keesokan harinya, Biyan berangkat ke sekolah seperti biasanya bersama Dean. Wajahnya masih terlihat murung dan pucat tapi setidaknya lebih baik dari kemarin. Di sekolah ini belum ada yang tahu tentang kematian Abhinara karena sengaja di rahasiakan dahulu. Apalagi posisinya Biyan masih menggunakan identitas sang adik saat ini. Hanya Ares dan Ara saja yang tahu. Itupun Ares tahu karena Ara yang memberitahu atas persetujuan dari Biyan.

Saat ia masuk ke dalam kelas, ia langsung di sambut oleh Ara juga Ares.

"Kau seharusnya ijin dulu," kata Ares.

"Ares benar. Kami bisa membantu membuatkan alasan untukmu," sambung Ara cemas.

Biyan menatap dua orang sahabat adiknya. "Aku tidak apa-apa."

Ara menggenggam jemari Biyan lembut, ia tahu meski Biyan mengatakan demikian kenyataannya tidak seperti itu. Tapi Biyan hanya tersenyum, jemarinya naik dan mengelus lembut wajah Ara.

"Aku tidak apa-apa."

***

Ketika istirahat, Ares dan Ara sudah lebih dulu ke kantin sementara Biyan menuju ke toilet. Setelah selesai dengan urusannya, Biyan akan keluar dari dalam bilik sebelum ia mendengar percakapan seorang siswa yang entah dengan siapa. Kemungkinan sedang menelpon.

"Arga dan Bagas sudah ditangkap polisi. Kemungkinan mereka bisa keluar lebih cepat karena masih di bawah umur tapi tetap saja, rencananya jadi berantakan."

Rencana?

Rencana apa?

"Aku tidak tahu tapi aku tetap merasa was-was. Apalagi Abhinara juga masih berkeliaran meski pun katanya ia amnesia. Bagaimana jika ingatannya tiba-tiba kembali? Kita semua akan tamat!"

Rahang Biyan mengeras saat nama Abhi disebut oleh siswa itu.

"Untuk sementara, kita jangan bergerak dulu. Aku juga belum bisa menghubungi Pak A. Pokoknya jangan melakukan hal yang mencolok dulu selama beberapa minggu ini sampai suasana kembali tenang."

"Um, baiklah."

Lalu siswa itu melangkah keluar setelahnya. Tak lama, Biyan keluar dari dalam bilik sembari menatap ke arah pintu toilet.

Jadi benar ada sesuatu dibalik kematian Abhi.

Lalu siapa "Pak A" yang dimaksud?

Apa ia ada keterlibatan dengan kematian kembarannya?

Apa yang sebenarnya terjadi?!

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!