Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.
Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.
"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.
"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.
Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 : TCB
"Zergan, apa kamu akan menemui Alana?" tanya Imelda, berjalan mendekati sang putra yang baru saja turun ke lantai bawah.
Zergan yang sudah rapi dengan style kasualnya menganggukkan kepala, "Ya, aku harus menjelaskan pada Alana dan membujuknya kembali,"
"Bawa calon menantu Mama kembali, Zergan. Acara pertunangan kalian boleh gagal, tapi pernikahan kalian harus tetap terlaksana." Imelda tersenyum, menatap Zergan penuh makna. "Dan jangan lupa satu hal, secepatnya kamu kirim Karina pergi jauh dari negara ini. Dia selalu saja jadi perusuh yang menganggu kehidupan dan kebahagiaan kamu."
"Itu pasti, Ma." angguk Zergan. "Oya, bagaimana Kayla? Dia tidak rewel kan karena harus tinggal disini?"
"Ya, dia cukup memusingkan, tidak mau makan dan semua mainan diberantakin. Untung kamu bawa mbak Nana kesini buat ngurusin dia."
Ya, tadi siang Imelda memang sengaja berbohong pada Alana dan Karina saat kedua wanita itu datang berkunjung. Sebenarnya Kayla masih tinggal dirumahnya dan sedang tidur siang dikamarnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Ma. Tolong pastikan Kayla tidak membuat masalah dan jangan sampai dia keluar rumah." ucap Zergan.
"Akan Mama pastikan," sahut Imelda.
Zergan keluar dan langsung naik kedalam mobilnya yang sudah standby di halaman rumahnya. Bukan hanya pada Alana, tapi dia juga harus berusaha meyakinkan kembali kedua orang tua Alana dan menunjukkan kesungguhannya untuk tetap mempertahankan Alana.
Malam itu, langit membentang luas di atas kepala, dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip seperti butiran permata. Mesin mobil berderu kencang saat Zergan menekan pedal gas sekuatnya, dia ingin sampai ke rumah Alana secepat mungkin. Sayangnya, sebuah pemandangan yang membuat matanya sakit serta hatinya teriris harus dia saksikan saat mobilnya hampir sampai. Pemandangan dimana Alana tengah berpelukan dengan Zen didekat pintu gerbang rumah Alana.
Mata Zen langsung menemukan sosok Zergan yang baru saja turun dari mobil. Tangannya turun perlahan dari pinggang Alana, rahangnya mengeras tanpa dia sadari. Matanya menyipit, menatap Zergan dengan tajam seolah ingin menguliti tubuh pria itu. Pernyataan yang baru saja dia dengar dari bibir Alana membuatnya ingin membuat perhitungan dengan Zergan.
Udara di sekitar seolah menjadi kaku dengan Alana yang kini ikut menatap kearah Zergan. Langkah Zergan mendekat secara perlahan dengan tatapan yang terus tertuju pada Zen, sesekali dia menatap Alana yang juga menatapnya dengan tatapan campuran antara takut dan panik. Alana takut jika kedua pria itu akan saling adu otot.
Langkah Zergan terhenti saat jaraknya hanya sekitar dua meter dari Zen. "Alana masih kekasihku karena aku belum bilang setuju untuk mengakhiri hubungan dengannya. Jadi kamu tidak bisa sembarangan mendekati pacar orang dan mengambil kesempatan dari masalah yang sedang kami hadapi,"
Ujung bibir Zen melengkung sebelah, rupanya Zergan masih tetap mengharapkan Alana dan tidak mau bertanggungjawab atas Karina dan putrinya.
"Siapa yang kamu sebut sebagai kekasih?" suara Zen terdengar lantang, sama sekali tak menunjukkan kemarahan. "Harusnya kamu sedang mempersiapkan pernikahan kamu dengan Karina, bukan malah sibuk mendekati wanita lain disini. Apa kamu tidak malu dengan anak kamu dirumah?"
Kedua tangan Zergan mengepal kuat, "Badjingan! Jika bukan karena kamu yang mempengaruhi Alana, dia tidak mungkin sampai memutuskan hubungan denganku!"
Zergan sangat mengenal Alana yang begitu sangat mencintainya. Jika tidak ada Zen, mungkin Alana akan tetap menerimanya meskipun dia sudah memiliki anak dengan Karina.
"Cukup Zergan." Alana angkat bicara, "Tidak ada yang mempengaruhiku, keputusan untuk mengakhiri hubungan denganmu adalah pilihanku sendiri. Jika saja sejak awal Karina datang kamu langsung memberitahuku kebenarannya, mungkin aku sudah mengambil tindakan ini sejak lama. Karina mungkin tidak membutuhkan kamu, tapi Kayla... Dia membutuhkan kalian berdua."
"Alana, aku akui anak itu memang adalah anakku dengan Karina. Tapi itu karena Karina yang menjebakku lebih dulu hingga aku bisa tidur dengannya!" aku Zergan, jari-jari tangannya mulai mengendur. Mata basahnya menatap Alana dengan lembut.
"Karina sudah setuju, dia tidak meminta pertanggungjawaban dariku. Jadi, kita tetap bisa menikah, Alana. Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, Sayang."
Buuggh...
Selesai dengan kalimat itu, sebuah pukulan mendarat di wajah Zergan. Zen yang mendengar kata-kata cinta dari bibir Zergan merasa sangat muak dan berakhir memberikan bogem mentahnya diwajah pria itu.
Zen menarik kuat kerah jaket yang dikenakan oleh Zergan, membuat wajah Zergan kembali menatapnya, "Ternyata ada yang lebih tidak waras dariku. Karina tidak mau bukan berarti kamu lepas dari tanggungjawabmu, bodoh! Jangan jadikan dijebak sebagai alasan, sebenarnya kamu ini laki-laki atau bukan, hah?!"
"Hah!!" Zergan menurunkan tangan Zen dengan kasar, hingga pegangan tangan Zen dijaketnya terlepas. "Jangan mengguruiku, bocah! Tahu apa kamu tentang tanggungjawab? Usiamu masih muda, sebaiknya kamu pikirkan saja tentang bagaimana menjadi orang yang sukses dan berguna!"
"Jangan panggil aku bocah! Karena orang yang kamu panggil bocah ini juga sudah bisa bikin anak, sama sepertimu!" Zen mengepalkan tangannya, dengan sekali gerakan dia sudah melayangkan tinjunya kembali diwajah Zergan.
Kali ini Zergan tidak tinggal diam, dia membalas pukulan Zen hingga terjadi perkelahian sengit diantara keduanya. Pak Nanto, satpam yang berjaga di gerbang rumah Alana sampai bingung untuk memisahkan, pria berusia 45 tahunan itu tampak celingak-celinguk sambil berteriak meminta pertolongan untuk memisahkan mereka.
Suara keributan itu terdengar sampai kedalam rumah, Amara dan David yang sedang duduk santai diruang tengah pun langsung buru-buru keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar rumahnya.
"Hentikan! Ada apa ini ribut-ribut didepan rumah saya?!"
Suara keras David tak langsung membuat perkelahian itu terhenti. Tanpa menunggu lama, David dan Pak Nanto bergerak maju untuk melerai. David melesat ke belakang Zergan, satu tangannya menyelip ke bawah leher Zergan dan menarik jaketnya dengan kuat ke belakang. Sementara itu, tangannya yang satu lagi menahan kedua pergelangan tangan Zergan, mencegahnya bergerak lagi. Di sisi lain, Pak Nanto mendekati Zen dari belakang, tangannya menarik lengan kanan dan kiri Zen, lalu menahan kedua lengannya di sisi tubuhnya.
Nafas kedua pria itu terengah-engah, wajah memerah karena amarah dan kelelahan. Udara yang tadinya penuh keganasan perlahan-lahan mereda, wajah keduanya menunduk tanpa ada yang berani menatap David yang kini sudah berdiri dihadapan mereka.
Pria itu berdiri tegak, alisnya terjalin rapat, matanya memancarkan kemarahan yang mengerikan. "Sebenarnya ada apa ini?! Membuat keributan di depan rumah orang, apa yang kalian ributkan, hah?!"
Diam. Tak satu pun dari dua pria itu yang berani membuka mulut, bahkan nafas mereka seolah-olah terhenti untuk sejenak setelah mendengar suara kemarahan David.
Perlahan-lahan, Zen mengangkat wajahnya, matanya penuh sesal karena telah membuat keributan. Dia ingin berbicara, ingin meminta maaf, tapi kata-katanya seolah tercekat di tenggorokan.
"Saya minta maaf, Om." kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Zen setelah beberapa saat sempat hening. "Tujuan saya datang kesini sebenarnya bukan untuk membuat keributan, tapi untuk meminta restu dari Om dan Tante. Saya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Alana, Om."
Wajah Zergan terangkat cepat, menoleh pada Zen yang berdiri tidak jauh disampingnya. Kenapa Zen bisa seyakin itu berbicara, apa dia benar-benar ingin serius dengan Alana atau hanya debaran cinta sesaat saja. Setelah Zen merasa bosan, Alana akan ditinggalkan begitu saja dan Zen akan beralih pada cinta yang baru.
"Seratus persen aku yakin, kata-katanya tidak bisa dipegang. Dia hanya anak muda yang sedang tergila-gila dengan wanita saja, setelah bosan dia pasti akan meninggalkan Alana begitu saja." batin Zergan.
-
-
-
Bersambung...
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"
Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan
Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.