Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Non Nadia
"Nadia mana, tidak ikut?" tanya ketua kelas mereka, Riko.
Olivia menengok ke samping kanan kirinya, berharap Nadia akan muncul dan ikut bersama mereka menjenguk Pevita. Apa yang harus Olivia katakan jika Nadia akhirnya menghilang karena enggan menjenguk Pevita.
Olivia tidak ingin, Nadia menjadi bahan pergunjingan di kelasnya marena bermusuhan dengan Pevita. Belum lagi berita yang akan menyebar keseluruh sekolahan karena Nadia yang tidak mau bergabung bersama mereka untuk menjenguk Pevita yang tengah sakit.
"Jadi benar ya, Nadia sama Pevita ada slek?" tanya salah satu teman sekelas Nadia yang kini duduk di sebelah Olivia.
Mereka sudah masuk kedalam bus sekolah mereka, ini merupakan salah satu prasarana yang sekolah mereka berikan bagi murid-murid yang hendak menjenguk siswa yang tengah sakit atau berduka.
"Itu Nadia!" pekik salah satu teman sekelas Nadia saat melihat Nadia memasuki bus.
Olivia akhirnya bisa bernapas lega melihat Nadia masuk ke dalam bus. Teman-temannya langsung duduk dikursi mereka masing-masing untuk segera melaju ke rumah aakit tempat dimana Pevita saat ini tengah dirawat.
"Aku kira kamu nggak ikut," ucap Olivia menatap Nadia dengan tidak enak.
Kejadian tadi pagi rasanya masih membuat Olivia canggung untuk bertanya kepada Nadia. Olivia harus meminta maaf dengan Nadia.
"Dia kan teman sekelas kita," jawab Nadia tersenyum simpul.
Tentu saja, teman satu kelas yang ternyata saudara tirinya. Papanya sangat kejam dengan menempatkan Pevita satu sekolah dengannya. Ataukah mereka memang sengaja untuk menyiksa batin Nadia.
Tidak puaskah mereka telah menghancurkan mimpi memiliki keluarga bahagia darinya? Tidakkah mereka merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini?
Mengapa mereka enggan menjauh dari hidupnya dan sang mama. Padahal Nadia tidak pernah menerima sepeserpun nafkah dari papanya. Nadia benar-benar memblokade hubungannya dengan Ardika.
Tidak ada maaf untuk mereka yang sudah melukai perasaannya dan sang mama.
"Nad, aku minta maaf soal tadi pagi," ucap Olivia menatap Nadia takut.
"Sans aja kali Liv," kekeh Nadia menepuk punggung Olivia.
Olivia ikut tersenyum, padahal Olivia tahu benar bahwa tatapan mata Nadia adalah tatapan penuh luka. Wanita itu sangat jago menyembunyikan masalahnya sendiri tanpa mau berbagi dengan orang lain.
"Oke guys, kita on the way menjenguk Pevita sekarang," ucap Riko mengomando teman sekelasnya yang kini berada dalam satu armada bus sekolahan mereka.
Nadia meremas tangannya yang berkeringat, dia harus mempersiapkan mentalnya untuk bertemu tiga orang yang sangat dia hindari.
Bagaimana nanti jika Ardi membuka mulutnya dengan menyebut Nadia adalah putrinya? Bisa habis dia menjadi bahan gosip satu sekolahan.
Olivia mengamati gerak-gerik Nadia yang terlihat sangat gugup. Olivia menyodorkan minuman yang sengaja dia beli untuk perjalanan mereka,
"Thanks," jawab Nadia membuka minuman itu dan meneguknya perlahan.
"Tadi Kak Fernand mencarimu, sudah ketemu?" tanya Olivia diangguki Nadia.
Fernand mampu membuat moodnya kembali baik. Tanpa bertanya mengapa dan apa masalahnya, Fernand bisa membantu Nadia untuk mendapatkan kembali senyumannya yang sempat menghilang entah kemana.
Mantan Ketua OSIS tengil, menyebalkan, dan juga mantan musuh bebuyutannya kini menjadi moodboster Nadia. Nadia sangat beruntung.
Mereka semua turun dari bus dan berjalan dari parkiran penjenguk hingga menuju ruang rawat Pevita. Untung saja mereka datang di jam yang tepat, jika tidak maka mereka tidak akan bisa diterima masuk disana karena melebihi dari jam besuk.
Nadia mengambil napas dan membuangnya kasar, wanita itu melakukannya berkali-kali. Olivia yang berjalan disampingnya mengamati gelagat Nadia dalam diam.
Ada apakah sebenarnya dengan Nadia dan Pevita?
"Pevita anak orang kaya ya, makanya dia dirawat di kelas VVIP," ucap salah satu teman Nadia mulai bergosip.
'Dia anak wanita yang merebut suami dari istrinya, papa dari putrinya.' Ingin rasanya Nadia meneriakkan itu di depan teman-temannya yang kini bergosip tentang kekayaan keluarga Wijaya.
"Ku dengar dia anak dari istri kedua."
Nadia menoleh, dari mana temannya tahu bahwa mama Pevita istri kedua papanya.
"Lalu siapa istri pertamanya?"
"Kata mamaku, istri pertamanya pergi membawa putri sematawayang hasil pernikahan mereka," jelas yang satunya.
Nadia tersenyum sinis, rupanya gosip meskipun disembunyikan tetap akan keluar dari cangkangnya.
"Teman Pevita ya?" Suara seorang wanita membuat mereka semua menoleh.
Di sana Ferra, menatap teman-teman Pevita dengan ramah. Ferra membukakan pintu untuk ruang rawat Pevita, mempersilahkan teman-teman putrinya untuk masuk.
Nadia dan Ferra saling menatap, ada keterkejutan luar biasa di mata Ferra melihat Nadia datang menjenguk Pevita. Karena menurut cerita Pevita, Nadia mendiamkannya dan tak pernah berbicara satu katapun dengan Pevita.
Ferra mengerti benar, kesulitan yang tengah anak-anaknya alami karena masalah keluarga mereka.
Sungguh, Ferra sangat menyesal atas apa yang terjadi, dia menyesalkan hubungan antar saudara yang tidak bisa dekat seperti saudara pada umumnya. Kalau bisa, Ferra akan melakukan apapun untuk mempersatukan saudara sedarah itu.
"Nad, ayo masuk," ajak Olivia, menggandeng tangan Nadia untuk ikut masuk ke ruang rawat Pevita.
Pevita tersenyum bahagia melihat Nadia ikut datang menjenguknya,
"Hai Oliv, Nadia," sapa Pevita.
"Hai Vita," sapa Olivia membalas sapaan Pevita. Sedangkan Nadia hanya tersenyum masam membalas sapaan dari saudara tirinya.
Ferra meminta asisten rumah tangganya yang ikut menjaga Pevita membelikan makanan dan minuman dari kantin Rumah Sakit.
"Kalian mau bakso kan?" tanya Ferra dijawab anggukan semangat dari teman-teman Pevita.
"Tante tahu saja kami baru pulang dari sekolah," kekeh Rio malu-malu.
"Sambalnya gimana Buk?" tanya Asisten rumah tangga Ferra.
"Ada yang tidak suka pedas?" tanya Ferra, tiga teman Pevita mengangkat tangan.
"Empat yang tidak pedas Mbak," ucap Ferra memberikan perintahnya.
"Yang satunya siapa Buk?" tanya asisten rumah tangganya penasaran.
"Non Nadia tidak suka pedas," jawab Ferra membuat Nadia menatap Ferra tidak suka.
Sedangkan Olivia mengerutkan keningnya, 'Non Nadia?'. Kenapa Mama Pevita memanggilkan Nadia dengan sebutan Non Nadia? Sebenarnya apa yang telah terjadi di antara mereka semua?