Jaysen Avshallom seorang pria tampan dan kaya raya yang menjadi buta akibat kecelakaan yang menimpanya. Tragedi itu terjadi di malam saat dia memergoki kekasihnya sedang berselingkuh. Dia berniat membalas dendam pada wanita yg membuat dunianya kini menjadi gelap.
Emily Vionetta yang baru tiba di bandara, di culik dan ditawan oleh orang tak dikenal. Ternyata mereka telah salah menangkap orang. Mereka mengira Emily adalah Eleanor saudari kembarnya. Dia terpaksa menjalani hari-hari menyakitkan dan ketakutan.
Ternyata Jaysen adalah dalang penculikannya. Tanpa dia sadari, perasaan cintanya tumbuh. Dia tahu kalau gadis itu bukan Eleanor. Dia tak ingin melepaskannya. Tapi demi balas dendamnya, dia menjebak Emily dalam pernikahan.
Hingga suatu hari Eleanor kembali dan menyesal. Dia ingin kembali pada Jaysen sehingga mengancam Emily. Akankah Eleanor berhasil merebut kembali Jaysen? Benarkah Jaysen buta atau hanya pura-pura buta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meta Janush, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. PUTRIMU MILIKKU
Wajah Emily pun semakin merah padam karena amarah. Semua yang dilakukannya tadi bersama Jaysen kembali terlintas didalam pikirannya dan membuatnya jijik.
“Sepertinya kekasihku ini sekarang berubah jadi pemalu ya?” ujar Jaysen mendekat kearah Emily. “Padahal tidak perlu malu kan sayang? Toh tadi ibumu juga sudah melihat semuanya. Bagaimana kamu merasakan pelepasan dan mengejang nikmat dipangkuanku.”
Naura sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan Jaysen langsung membuang muka sementara Tiyus langsung mengayunkan pukulan kearah Jaysen yang langsung ditangkis oleh lelaki paruh baya yang selalu berada disamping lelaki buta itu.
“Hentikan Argya!” gumam Jaysen. Tetapi lelaki paruh baya yang dipanggil oleh Jaysen itu langsung menurut. Dia segera melapaskan tangan Titus yang lalu meringis merasakan nyeri ditangannya.
Jaysen mengangkat kepalanya dan berdiri tegak berhadapan dengan Titus Maleakhi. Sesaat dia menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tubuh Emily yang bisa diciumnya sebelum akhirnya dia tersenyum tipis meskipun eskpresi wajahnya masih dingin.
“Tuan Maleakhi! Lepaskan putri anda. Saya jamin anda dan Nyonya Maleakhi bisa pergi dari sini dengan tenang dan aman. Saya tidak akan melakukan apapun yang menyakiti kalian berdua.”
“Kamu telah melakukan kesalahan besar!” geram Titus menahan emosinya. “Kami tidak akan pernah menyerahkan putri kami pada iblis sepertimu. Dia Emily! Bukan Eleanor!’
Sebelah alis Jaysen naik, “Oh begitu? Masih mencoba peruntungan dengan membohongiku?” tanyanya dengan disertai dengus merendahkan.
“Kalau begitu, berarti kedatangan kalian berdua adalah untuk membayar kompensasi yang kuajukan sebelumnya. Dan ingat, berhenti berbohong dengan mengatakan dia bukan Eleanor!”
Titus dan Naura saling berpandangan, sebenarnya niat mereka datang kesini tadi untuk mengkonfirmasi sesuatu. Ada kabar kurang bagus yang perlu mereka beritahukan dan sebenarnya mereka sama sekali tidak mengira kalau mereka akan menemukan Emily disini.
Sekali lihat saja, keduanya tahu bahwa ini adalah Emily, bukan Eleanor. Meskipun mereka juga tidak paham mengapa putri mereka yang menghilang selama dua hari ini bisa sampai berada dalam cengkeraman Jaysen? Tapi ini terlihat semakin buruk, karena Jaysen sudah menahan Emily disini dan bagaimana caranya mereka membawanya keluar dari sana?
“Soal u—uang kompensasi yang kamu ajukan itu---” ucap Naura tapi Jaysen langsung memotongnya.
“Sangat jauh lebih kurang dari yang seharusnya kalian bayarkan padaku.” ujar lelaki buta itu sambil memainkan rambut Emily yang berdiri gemetar ketakutan dalam pelukan ayahnya.
“Biaya donor dan operasi mata. Biaya pengagtian mobil, biaya perawatan pasca kecelakaan. Belum lagi kerugian moril yang saya alami. Tentunya uang kompensasi sebesar seratus milyar itu bukanlah sesuatu yang terlalu besar bukan? Untuk mencari donor mata dan membelinya saja harganya sudah sangat mahal. Bisa kalian bayangkan juga kerusakan mobilku, harga mobilku saja sudah berapa?”
Emily terdiam terpaku, dia belum pernah mendengar soal tuntutan biaya kompensasi yang diajukan oleh Jaysen pada orang tuanya. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Jaysen dan Eleanor?
Kalau saja Eleanor ada disini sekarang, keadaan pasti akan lebih mudah untuk ditangani. Tapi kenyataannya bahwa kedua orang tuanya hanya datang berdua saja.
Lalu kemana Eleanor? Kenapa mereka hanya datang berdua saja tanpa saudari kembarnya itu? Ini memberi pertanda buruk bagi Emily. “Ayah, dimana Eleanor?”
Wajah Titus dan Naura pucat seketika, jumlah kompensasi yang besar itu tidak mungkin mereka sanggupi. Ditambah lagi, hal yang menjadi alasan mereka sampai datang kesini.
“Tidak bisa ya?” dengus Jaysen memecah keheningan. “Well, aku sudah memberikan kalian pilihan. Silahkan tentukan pilihan kalian sendiri dengan opsi yang tersisa kini.”
Emily menjerit saat Jaysen tiba-tiba menariknya. Lelaki buta itu langsung berjalan menjauh dengan membawa Emily dalam pelukannya, sementara entah darimana munculnya beberapa orang berpakaian jas hitam yang langsung mengepung Titus dan Naura.
“Jaysen! Lepaskan putriku!” raung Titus sama sekali tidak bisa mendekati Jaysen yang sudah melangkah pergi karena begitu banyaknya pengawal yang menghalanginya.
“Kamu membuat kesalahan terbesar! Dia bukan Eleanor! Eleanor ada dirumah sakit! Itu Emily saudari kembar Eleanor! Lepaskan dia, dia tidak ada hubungannya dengan semua kesalahpahaman ini!”
“Benarkah?” sahut Jaysen langsung berhenti, dia memeluk dan menciumi tengkuk Emily sementara gadis itu semakin gemetar ketakutan. “Kalau begitu coba tanyakan pada Nyonya Maleakhi, apa yang sedang kami lakukan tadi ditaman.” senyum menyeringai muncul diwajah Jaysen.
Titus menoleh kearah istrinya meminta penjelasan tetapi Naura langsung membuang wajah dan menangis terisak. Sementara itu Jaysen tersenyum puas! Baginya mau siapa gadis yang bersamanya ini, dia tidak peduli.
Mereka harus membayar kompensasinya, jika tidak mampu maka putri mereka akan menjadi taruhannya. Inilah jebakan balas dendam yang sudah disiapkan oleh Jaysen untuk Eleanor.
Sebelumnya, Argya pengawal kepercayaan Jaysen memang memberitahunya soal kedatangan pasangan Maleakhi. Jaysen tidak tahu apa maksud kedatngan pasangan suami istri itu.
Dia juga tidak mengerti darimana mereka bisa tahu kalau Eleanor ada bersamanya, tapi yang jelas kesempatan ini tidak bisa dibuangnya begitu saja.
Jaysen sangat paham bahwa tindakannya yang menculik Eleanor ini salah dan pasangan Maleakhi bisa kapan saja membawa pergi putri mereka itu atau bahkan menuntutnya.
Jadi alih-alih berusaha menyembunyikan Eleanor, dia memutar otak agar bisa tetap menahan gadis itu disisinya. Dia paun tidak peduli
“Baiklah kalau Nyonya Maleakhi diam saja dan tak mau mengatakan apapun. Biar saya saja yang memberitahukan.” ujar Jaysen membuat Emily semakin ketakutan.
“Tidak! Kumohon jangan katakan! Hentikan semua kegilaan ini! CUKUP!” teriaknya sambil menangis kencang. Dia tertekan dan lelah melewati semuanya ini. Tapi tak tahu bagaimana caranya.
Jaysen yang seolah tak punya hati nurani pun sama sekali tidak peduli. Tak ada sedikitpun rasa belas kasihan dihatinya melihat Emily yang menangis meraung. Dengan senyuman jahat diwajahnya, dia berkata, “Tadi di taman di udara terbuka yang terasa segar dan sejuk….aku dan….”
“Hentikan! Kumohon jangan lakukan itu.” pinta Emily memohon.
“Kami berdua sedang asyik bercinta.”
“Tidak! Bohong!”
“Kalau saja anda tadi mendengar bagaimana putri anda ini minta padaku untuk segera kumasuki! Dia memohon padaku bagaikan j*lang liar yang penuh gairah!”
“CUKUP! HENTIKAN!”
“Dia tadi mendesah dan mengerang untuk menggodaku dengan suaranya. Seharusnya anda disana tadi untuk melihat dan mendengarnya.”
“Hentikan Jaysen! Kumohon hentikan!” teriak Emily tapi pria itu mengacuhkannya.
“Dia bahkan menjadi sangat liar dipangkuanku tadi!”
“TIDAK!”
“Putrimu itu milikku Tuan Maleakhi! AH, lebih tepatnya dia adalah jal---”
PLAKKK
Belum sempat Jaysen menyelesaikan kalimatnya sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya. Sementara gadis itu terkejut dengan tindakannya yang spontan dan seketika itu juga gemetar ketakutan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau baru saja dia menampar Jaysen dengan sekuat tenaga.
Entah darimana datangnya keberanian dan tenaganya sehingga dia nekat melakukan itu tanpa berpikir panjang tentang konsekuensi yang akan dia terima nanti.
Didalam pikirannya langsung membayangkan hal mengerikan apa yang akan dilakukan lelaki buta itu sebagai balasan padanya. Tapi disatu sisi Emily juga tidak bisa diam saja saat orang tuanya dihina.
nyesel kan jaysen,
semoga akhrnya nanti bahagia