Hallo semua! Kalian sedang membaca kisahku. Rachel Gautama, cenayang muda yang siap mengeksplorasi seluruh pelosok bumi mencari setan, berkenalan lalu aku ajak ngopi.
Bergabunglah dalam ekspedisi Gautama, mari kita telusuri lekuk bumi dan sejarahnya. Sejarah kelam manusia masa lalu. Aku tidak sendirian, kami bersepuluh, lima di antara kami ghaib. Selebihnya, mampu bersentuhan fisik.
Ekspedisi Gautama dimulai! Dengan portal ghaib, akan kubawa kalian mengarungi dimensi jelajah waktu. Tarik selimut kalian, tutup mata kalian, sumpal kuping kalian jika perlu. Sebab di sana, para Arwah sedang menunggu kedatangan jiwa hidup. Untuk digoda sampai mati!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Kembalikan Pusakanya 3
Melalui aura dari jimat milik Laras. Rachel pun sampai di dalam gedung siaran itu. Pertama kali memijakkan kaki ke sana. Aura kelam mbak Kunti di sana tidak pernah mampu Rachel lupakan.
Jimat ini adalah jimat turun temurun. Di mana keluarga Gautama oleh Buyut dulu di beri masing-masing satu jimat. Tiap jimat yang di bawa diisi oleh bawahan Nyai Ratu.
Astral Projection atau proyeksi astral adalah istilah yang digunakan dalam esoterisme untuk menggambarkan pengalaman keluar dari tubuh atas keinginan sendiri.
Yang diduga sebagai suatu bentuk dari telepati yang mengasumsikan adanya jiwa atau kesadaran yang disebut "tubuh astral" yang terpisah dari tubuh fisik dan mampu melakukan perjalanan ke luar ke seluruh penjuru alam semesta.
Rachel, dia terus berjalan menyusuri area itu. Memang jika digambarkan di dalam lantai tiga ini penghuni beragam.
Jika lantai dua di bawah adalah peternakan Mbak Kunti. Maka di atasnya lagi ada banyak jenis setan. Mulai dari hantu kepala tapi bukan kuyang, sebut saja gundul peringis.
Lalu ada juga dua tubuh yang sejak tadi berjalan mondar-mandir tanpa kepala. Kedua sosok anak kecil berkulit hangus. Dan penampakan pocong di sudut ruang dekat dengan toilet.
Para makhluk di alam sebelah itu memperhatikan kedatangan Rachel. Namun Rachel mencoba mengacuhkannya. Bahkan ada beberapa suara yang berkata padanya,
"Mangsa baru, orang hidup kenapa datang kemari? Cari mati, ya?" ujar beberapa suara itu bersaut-sautan.
Sudahlah, Rachel tidak ingin memperkeruh masalah itu. Intinya dalam kepalanya saat ini adalah mencari keberadaan Kuntilanak merah dan Hitam seperti yang dikatakan oleh Laras.
Rasanya kaya' masuk taman safari versi ghaib!. Batin Rachel dalam hatinya.
Rachel terus saja mencari keberadaan aura kedua setan itu. Hingga, suara tertawa seorang anak kecil di samping kanannya membuat Rachel terkejut. Sontak Rachel pun menoleh ke samping.
Dan rupanya di sana ada Barend, salah satu anak kecil Belanda yang selalu mengikutinya. Melihat Rachel yang terkejut Barend pun menutup mulutnya menggunakan kedua tangan kecilnya, dan dia tertawa.
"Wah.. Rachel kamu bisa kaget juga ya rupanya?" ujar Barend polos dan masih terkekeh.
Rachel menghela nafas mendengar itu.
"Kamu mau cari keberadaan mereka bukan? Aku akan menunjukkannya!" ucap Barend antusias.
Demit kecil ini berguna juga rupanya!. Ujar Rachel dalam hatinya lagi.
Rachel mengangguk pada Barend. Melihat itu Barend pun tersenyum. Kemudian dia mengulurkan tangannya. Rachel yang tak tau apa maksudnya pun membalas uluran tangan itu.
Di dimensi yang ini Rachel mampu bersentuhan fisik dengan Barend. Sebab yang berada di sini bukanlah tubuh fisik nyata Rachel.
Ketika kedua tangan mereka saling terpaut. Barend pun membawanya pergi. Mereka berjalan menyusuri kegelapan alam sebelah.
Diiringi dengan tangisan, suara sesuatu mengeram juga bahak tawa. Mereka terus masuk dan masuk. Hingga kemudian Barend berhenti tepat di hadapan sebuah pintu.
Hanya ada pintu itu di sana. Dan saat ini mereka sedang berada di atas anak tangga. Barend menunjuk ke arah pintu itu lalu menoleh pada Rachel di sampingnya.
"Rachel, aku tidak bisa kesana! Atau dia nanti akan mengambilku.Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini saja!" ucap Barend pada Rachel di sampingnya.
Rachel paham apa yang Barend katakan. Memang kebanyakan Mbak Kunti akan senang dengan keberadaan Demit kecil di dekatnya. Mereka pasti akan mengejar dan berusaha mengambil mereka.
"Iya, tidak apa! Kamu pulang saja ke Marsya. Di sini bukan tempatnya kamu. Terima kasih ya, Barend! Karena sudah datang dan membantu aku!" ucap Rachel padanya.
"Kamu berhutang permen kapas untukku dan aku ingin milk!" ucap Barend padanya.
Oke, lagi-lagi pemerasan! Ah, baiklah sepertinya tak apa jika sesekali aku belikan untuknya!. Ujar Rachel dalam hatinya.
"Ya, aku akan membelikannya setelah ini!" jawab Rachel padanya.
Barend berteriak senang mendengar itu. Setelah kesepakatan itu terjadi. Perlahan tubuhnya pun menghilang masuk ke dalam tembok.
Kembali, saat ini Rachel fokus menatap ke arah satu pintu itu. Dia pun berjalan ke sana. Ketika tangannya hendak membukanya. Aura menusuk jahat itu menguar dan Rachel merasakannya.
Bismillahirrahmanirrahim!. Ucap Rachel dalam hatinya. Lalu ketika sudah cukup mantap. Rachel pun membukanya.
Satu sosok pria berdiri membelakangi Rachel saat ini. Kira-kira jaraknya sekitar lima langkah dari tempat Rachel berdiri.
Pria itu menatap lekat ke arah dua mbak Kunti yang saat ini menghadapnya. Tepat di belakang mbak Kunti itu terdapat sesuatu yang bercahaya. Sesuatu itu melayang dan berwarna merah menyala.
"Balikno pusakae!" ucap sosok pria yang berdiri membelakangi Rachel. Dia menunjuk-nunjuk ke arah dua kuntilanak yang hanya tertawa mendengar ucapannya.
Rachel tau, sesuatu yang bercahaya di belakang Kuntilanak itu adalah pusaka yang dimaksud oleh pria ini.
Pria itu berbalik menatap Rachel kemudian. Melihat kehadiran Rachel di sana. Pria itu membungkuk memberi hormat padanya.
"Kanjeng Nyai Ratu! Pripun, mboten ningali hadire Panjenengan!" tutur Pria itu santun sekali.
Apa yang dilihat Pria ini? Kenapa dia mengira aku adalah Nyai Ratu?. Ucap Rachel dalam hati.
Namun jawaban Rachel terjawab ketika di belakang tubuhnya muncul sosok Nyai Ratu.
Lantas Nyai datang menghampiri sosok pria itu. Nyai Ratu berdiri tepat di hadapan Pria itu.
"Yen Ono masalah ndang ngomong, Senopati!" ucap Nyai padanya.
Pria itu kemudian mendongak menegakkan lagi tubuhnya. Di sana dia bicara bahwa ada satu pusaka yang sudah diambil oleh orang.
Dan Senopati ini memang bukan pemilik dari pusaka itu. Tapi dia adalah penjaganya. Senopati juga berkata bahwa saat itu dia kalah ilmu dengan orang itu.
Senopati berniat untuk menyesatkan orang itu masuk ke dalam alam sebelah lalu memberinya pelajaran di sana sampai mati.
Akhiran dari ceritanya membuat Nyai menatap tajam ke arah dua kuntilanak yang berada di sana. Rachel di sana merasakan bahwa dia kuntilanak itu ketakutan melihat kehadiran Nyai.
Tapi mereka tidak lari atau menghilang. Mereka justru tetap berada di sana. Mungkin saja, mereka masih taat atas perintah pemiliknya.
"Rungokne aku! Putu-putuku bakalan teko ngewei alasan kanggo koe ben mundur!" ucap Ratu geram.
Kemudian Nyai ratu berbalik pada Rachel. Di sana dia melemparkan satu senyuman pada Rachel. Dan Rachel tau arti dari senyuman itu.
"Nduk, tolong balikno nggih!" ucap Nyai Ratu lalu menghilang.
"Pusaka itu harus dikembalikan di Gunung Arjuno. Alas lali jiwo, belantara sebelah kiri keluar dari jalur pendakian!" ucap sosok Pria itu lalu menghilang mengikuti perginya ratu.
Hilangnya kedua sosok itu membuat Rachel kembali masuk ke dalam raganya. Perlahan Rachel membuka kedua matanya lalu menatap ke arah seluruh saudaranya.
"Pertama, kita harus ambil keris itu! Kedua, kita bakalan mendaki gunung arjuno. Sesuai dengan apa dikatakan Senopati, kita harus datang ke sana. Ke Alas lali jiwo, lalu ke arah belantara kiri dari jalur pendakian!" jelas Rachel pada mereka.
Bella menelan ludah mendengar itu. Dia memang menyukai alam. Tapi setelah tragedi matinya Rio di gunung Lawu. Rasan membuat nyalinya ciut di sini.
Cak Dika yang tau itu pun tersenyum. Dia menatap ke arah adik kandungnya yang berekspresi takut.
"Ayo kita muncak! Toh, kita punya guide gunung yang udah berpengalaman beberapa kali!" ucap Cak Dika sambil menatap ke arah Bella.
"Huh!" Bella terkejut mendengar itu lalu melempar pandangannya pada Cak Dika.
"Kok aku Cak?" tanya Bella padanya.
"Dek, katamu kamu mau belajar! Kalau memang mau, artinya kamu harus lawan rasa takutmu itu. Tragedi dulu biar berlalu dan hilang secara perlahan. Jangan terlalu dipikir dan diratapi lama! Yang sudah hilang gabakalan bisa kembali. Maka di manapun letaknya kita, hargai adat dan selalu jaga sikap!" jelas Cak Dika.
Bella diam mendengar itu. Apa yang Cak Dika katakan itu benar. Perlahan Bella mulai menyingkirkan rasa takutnya. Lalu mengangguk menyetujui permintaan Cak Dika.
"Berarti kita harus tunggu kamu dapat kerisnya ya, Cak?" tanya Marsya padanya.
Cak Dika mengangguk mantap mendengar pertanyaan itu.
"Nanti malam tak ambil kerisnya! Kita ke sana bareng-bareng!" ucap Cak Dika.
Baik Aldo dan Laras pun tersenyum. Mereka berdua setuju.
Ketika keluarga Gautama sibuk merencanakan niatnya. Di sisi lain seorang pria gemuk membuka kedua matanya. Dia sedang melaksanakan ritual dan di hadapannya adalah sesajen.
"Pengganggu! Tak bunuh kalian!" ujarnya geram.