Aneuly Priliana (18) sejak kecil ia hanya tinggal dengan nenek nya, namun semenjak nenek nya meninggal ia harus tinggal di panti asuhan, ia sekolah memakai uang beasiswa dan uang hasil kerja paruh waktunya untuk menyambuh hidupnya.
Setelah lulus sekolah menengah atas, ia lebih memilih bekerja sebagai baby sister keponakan sahabatnya, yang ternyata menaruh hati pada Aneuly sejak mereka bersahabat.
Selama bekerja Aneuly tergoda oleh Duda Tampan, Ayah dari ketiga anak asuhnya.
Darendra Maximillan (27) Pria tampan yang sudah mempunyai tiga anak kembar ini, Mulai jatuh cinta pada gadis yang di cintai adiknya sendiri, gadis yang juga menjadi baby sister anak nya.
Namun Daren mati - matian berusaha mengelak rasa suka pada gadis bernama Aneuly itu. Tapi Ketiga anak nya sangat dekat dengan Aneuly dari pada dengan dirinya.
"Aku seperti mempunyai 4 orang anak, mereka semua sangat manja," gerutu Aneuly kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DLM II Eps 22
Daren terus mengusap lembut pinggang Aneu tanpa memperdulikan tatapan anak-anaknya. Jika Brisea dan Cryl menganggap hal itu biasa, berbeda dengan Axio yang menatap Daren dengan tatapan tajam.
"Dad apa kamu sadar diri? Usia mu sudah sangat matang untuk bermanja-manjaan," Axio menatap sinis ke arah Daddy nya.
Ucapan Axio membuat kedua adiknya menatap ke arah Daren, sementara Aneu dengan cepat mendorong tubuh Daren yang menempel.
"Ck, Ay kau kadang-kadang enak di ajak kompromi dan kadang kau sangat menyebalkan seperti sekarang!" Daren berdecak kesal seraya merapikan jas yang ia kenakan. "Ayo, kita berangkat ke kantor," ajak Daren menuntun Cyi berjalan.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Daren harus menerima telpon dari Diana yang sudah tau kabar jika Natasya kabur dari acara pertemuannya. Tentu saja Daren langsung mendapat ceramah yang sangat panjang dari Mami nya itu.
Sesampainya di perusahaan, Daren langsung di sambut baik oleh para kariyawannya. Aneu sangat risih menjadi pusat perhatian semua orang berbeda dengan Daren yang sudah terbiasa dan Aneu melihat Daren yang tampak dingin dan cuek bahkan tidak menerima satupun sapaan dari para kariawannya.
Apalagi saat Aneu mendengar pujian dari beberapa kariawan wanitanya, Daren sama sekali tidak menolah.
Daren yang sejak tadi berjalan di samping Aneu menyadari jika Aneu sedang menatap ke arahnya, lalu dia menggenggam tangan Aneu tanpa menghentikan langkahnya, membuat semua kariawanya semakin ricuh dan berbisik satu sama lain.
"Lepaskan, banyak orang yang melihat," bisik Aneu terlihat sangat khawatir. Namun bukanya di lepaskan Daren malah langsung mencium punggung lengan Aneu.
Sementara ketiga Anak Daren selama didalam lift mereka mondar-mandir dan memainkan tombol lift, membuat Daren mulai pusing dan kesal karena niatnya untuk beromantisan dengan Aneu membuatnya hilang selera melihat ketiga anaknya.
"Diam! kenapa kalian tidak bisa diam!" sentak Dqren membuat ketiga anaknya diam seketika.
"Dad, lanjutkan saja aktifitasmu dan biarkan kami bermain," ucap Daren menatap Dady nya sinis.
Namun Daren tidak mau kalah, dia menatap sengit ketiga anaknya itu, "Memang, aku akan membiarkan kalian main sampai sore dan di larang masuk ke ruangan Daddy!" sentaknya lalu membawa Aneu keluar dari dalam lift saat pintu itu terbuka.
"Yoland!!" panggilnya karena Daren sudah berada di lantai tempat ia bekerja. "Suruh orang untuk mengawasi ketiga anak lucnat ini! dan jangan panggil aku keluar ruangan ku hanya untuk melihat ulah mereka!" ketus Daren lalu menarik Aneu masuk kedalam ruangannya dan meninggalkan ketiga anaknya yang berada di dalam lift.
Yolanda melihat kepergian Bos nya dan menghela nafas kasar, "Kenapa aku yang harus menjadi tumbal," keluah Yolan lalu menatap ketiga anak itu yang berada di dalam lift.
"Hallo tante," ketiga anak itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Otomatis Yoland pun membalas lambayan tanganya sambil tersenyum.
Beberapa detik kemudian, dia tersadar jika mereka sudah tidak ada karena pintu lift yang tertutup, "sial! pantas mereka tumben tersenyum ke arahku!" pekik Yoland dengan segera menelepon seseorang untuk menangkap ketiga anak Daren.
Sementara di dalam ruangan Daren langsung membawa Aneu masuk dan mengunci pintu itu, "Tuan, bagaiamana jika anak-anak tersesat," Aneu nampak hawatir dan berusaha kembali keluar.
"Tenang saja, Yoland pasti menyuruh orang untuk menjaga mereka," Daren langsung melingkarkan lengannya di pinggang ramping Aneu dan menghilangkan jarak di antara mereka hingga Aneu bersandar di dada bidang Daren.
"Aneu, panggil aku Honey atau Sayang! Aku kekasihmu bukan lagi tuanmu!" tegas Daren karena sudah kesal dengan sebutan tuan.
"Tapi aku takut ketauan tante Diana …" lirih Aneu pelan menatap Daren yang sejak tadi melihat bibir ranum milik Aneu.
Daren sangat suka dengan bibir gadisnya, bibir ping merekah dan terlihat menggoda itu sudah menjadi miliknya.
"Cepat atau lambat aku akan memberi tahu kedua orang tuaku," ucap Daren tanpa mengalihkan pandangannya dari bibir ranum Aneu, "Cium aku Aneu," pinta Daren ingin merasakan jika Aneu yang lebih dulu menciumannya.
Aneu langsung mengecup bibir pria di hadapannya dengan lembut dan perlahan, Daren menggigit bibir bawah gadis itu yang sejah tadi hanya menempelkan kedua bibir mereka dan saat bibir itu terbuka dengan ceoat Daren memasukan lidahnya menyesap isi di dalamnya hingga saling bertukar saliva dan saling membelit lidah satu sama lain.
Daren menggendong Aneu dan mendudukan tubuhnya di atah pangkuan Daren tanpa melepas tautan bibir keduanya, Daren menarik tengkuk leher gadis itu untuk memperdalam ciumannya. "Ah..." Desahnya membuat Daren semakin menggebu untuk melakukan hal yang lebih.
Tangan Daren yang satu sudah mulai membuka satu per satu kancing baju Aneu, sementara tangan satunya masih tetap menahan tengkuk leher Aneu sambil sesekali menggigit bibir ranum Aneu hingga akhirnya tanpa sadar Daren sudah berhasil membuka baju dan kedua kacamata yang melingkar di dada Aneu.
"Woah …" ucap Daren.
.
.
𝑡𝑜 𝑏𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑...