Perkenalkan, nama ku Aero Wijaksono. Aku adalah putra tunggal di keluarga Wijaksono sehingga beban keluarga semua berada di kedua pundak ku. Termasuk beban untuk meneruskan keturunan keluarga Wijaksono.
Untuk memenuhi keinginan keluarga ku,akhirnya aku setuju untuk menikahi seorang gadis pilihan kakek ku.Wanita muda yang cantik dan ayu itu bernama Reandra Anastasia. Dia berasal dari panti asuhan yang selalu di danai oleh kakek ku.
Walaupun aku tidak mencintai nya tapi aku selalu nafkahi nya lahir dan batin.
Aku tahu Rea sangat mencintai ku. Itu sangat terlihat dari bagaimana dia melayani ku baik urusan ranjang mau pun urusan perut. Sehingga tidak ada celah bagi ku untuk mengeluh pada nya. Tapi Ibu ku selalu mencari cara agar aku dan Rea bisa bercerai.
Suatu hari harapan ibu 80 % dapat di katakan terkabul. Karena pada hari itu Rea meninggalkan ku tanpa jejak setelah melihat diri ku yang bercin ta dengan sahabat karib nya di kamar tidur kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
“Ya, kau benar tuan! Nyonya Rea memiliki dua anak. Putra putri. Dan mereka kembar. Sayang nya aku tidak dapat memperoleh nama dan foto nya.” Jawab Vicky, dengan raut wajah menyesal karena merasa tidak optimal dalam bekerja.
Aero kembali termenung. Kalau di pikir-pikir, semenjak bertemu dengan Rea kembali, Aero memang lebih banyak termenung seorang diri. Apalagi kalau dia sudah melihat surat gugatan cerai yang Rea berikan. Aero kembali termenung lama.
Keesokan hari nya, Aero kembali ngantor ke perusahan Zee setelah kemarin dia tidak datang dan memutuskan hanya stay di kantor nya saja.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu Aero langsung melihat Rea dan Daniel Isa sedang sarapan bersama. Dengan wajah datar Aero duduk di tempat nya kemudian membuka laptop nya. Apapun akan dia lakukan saat nini untuk mengalihkan perhatian diri nya dari pemandangan yang merusak Mood pagi ini.
“Kalau kau tidak suka dengan tomat, jangan kau buang Daniel! Sini berikan pada ku! Biar aku saja yang makan.” Terdengar suara Rea yang seperti nya sedang mengomeli Danniel Isa karena Danniel tidak suka tomat yang ada di piring Danniel.
Aero mengepalkan tangannya. Ia teringat sepuluh tahun yang lalu sebelum Rea pergi meninggalkan nya, Aero pun diperlakukan sama oleh Rea. Segala sesuatu yang Aero tidak ingin makan pasti Rea lah yang memakan nya.
Beda nya hanya lah, saat itu ekspresi Rea tidak selepas ini pada Aero. Mungkin karean Rea segan atau takut kalau Aero akan marah jika Rea mengatakan sesuatu yang tidak penting.
“Aku kembali dulu ke perusahaan ku. Nanti siang kalau kau sempat kita akan makan bersama.” Ucap Danniel Isa sambil merapikan jas nya.
“Nanti akan aku kabari bisa atau tidak nya.” Jawab Rea dan mengantar Danniel Isa ke pintu.
Setelah Danniel Isa pergi, Rea melihat sebentar pada Aero yang terlihat sibuk dengan laptop nya.”Aku tanyain atau tidak ya? Hmmm kalau tidak ditanya, bagaimana kalau dia lupa??” pikir Rea dalam.
“Ya sudah! Aku tanya aja.” Rea pun berjalan ke meja kerja Aero.
“Sudah sarapan?” tanya Rea berbasa basi. Ya! Rea memang harus memperlihatkan ke Aero bahwa Rea sudah selesai dengan masa lalu mereka dan sudah melangkah ke babak baru dalam hidup Rea. Tidak perlu ada tarik urat leher lagi diantara mereka.
“Hmm.. Belum. Aku masih kenyang.” Jawab Aero apa ada nya dengan wajah datar menahan rasa rindu yang menggebu di hati nya untuk Rea.
“Aero, bagaimana soal surat kemarin? Apa kau sudah tanda tangan? Apa kau membawa nya hari ini?” Tanya Rea lagi dengan suara pelan.
“Maafkan aku Rea. Tapi tolong berikan aku waktu sedikit lagi. Aku berjanji, aku tidak akan mencampuri urusan pribadi mu dan tunangan mu. Kalian bisa menjalani hidup kalian seakan-akan aku tidak ada. Aku hanya butuh waktu untuk diri ku sendiri. Ini bukan hal yang mudah untuk ku! Aku harap kau bisa memberi kan ku waktu lebih lagi." Aero berusaha meyakinkan Rea.
Rea sebenarnya ingin mendesak Aero. Tapi wajah Aero yang sedikit pucat seperti orang yang sedang banyak pikiran membuat Rea tidak jadi bicara.
"Berikan aku waktu seminggu untuk berpikir dan berbicara dengan keluarga ku!" sambung Aero, sengaja ingin mengulur-ulur waktu lebih lama.
"Keluarga? Keluarga Wijaksoni maksud mu? Aku rasa ibu mu pasti akan setuju dengan hal ini. Apalagi Risa. Dia pasti sangat menanti-nanti hal ini." Ucap Rea yang telah mengetahui kalau Aero dan Risa sama sekali tidak memiliki hubungan apapun pasca kepergian Rea sepuluh tahun lalu.
Saat Aero tidak datang kemarin, Rea mencari segala informasi mengenai Aero di internet. Dari situ lah Rea tahu kalau Aero tidak menikah dengan wanita lain setelah Rea meninggalkan rumah. Tapi di informasi yang Rea dapatkan, Rea juga mengetahui kalau Risa selalu setia menanti Aero.
Sempat terbersit rasa penasaran di hati Rea mengapa Aero dan Risa tidak jua kunjug menikah padahal sudah sepuluh tahun lama nya, oleh karena itu Rea pun menjadi lagi lebih banyak informasi tentang Aero dan muncul lah nama Sandra.
Rea sudah lama mendengar nama Sandra ini. Bahkan saat dia dan Aero belum menikah saja nama Sandra sudah kerap muncul. Hanya saja setahu Rea Sandra ini telah menikah. So bagaimana bisa, wanita yang bernama Sandra ini menjadi penghalang hubungan Aero dan Risa?
Tapi pencarian itu tidak Rea lanjutkan lagi. Bagi informasi yang dia terima saat ini sudah cukup. Tidak perlu menggali lebih dalam untuk pria yang akan segera angkat kaki dari hidup nya.
"Dua hari!" Rea mempersingkat waktu yang Aero minta untuk memikirkan perceraian mereka."Aku berikan waktu dua hari untuk berpikir. Bukan bermaksud mendesak mu Aero, tapi Danniel sudah mendesak ku untuk mempercepat pertunangan kami." Ujar Rea beralasan.
"Tiga hari, Rea! Beri aku waktu tiga hari."
Rea menghela nafas. Kaki nya mulai pegal karena harus berdiri dari tadi dengan sepatu high heels nya.
"Tolong, paling tidak kau pikirkan sedikit tentang aku." Aero masih berusaha membujuk Rea.
"Ha? Memikirkan tentang diri nya? Malas banget gue!" Rea menyimpan tawanya dalam hati.
"Maaf, Aero Aku tidak bisa. Dua hari.Hanya segitu waktu yang bisa aku berikan.." Ucap Rea, seakan-akan pasrah dengan keadaan.
"Apakah dua tahun tinggal bersama ku, kau tidak merasakan apapun Rea? Apa tidak ada yang tersisa dari hubungan kita?" imbuh Aero.
"What?! Hubungan? Apa dia baru saja menyebutkan apa yang dia dan aku lalui itu adalah sebuah hubungan? Yang benar saja Aero!!"Cemooh Rea dalam hati.
" Atau selama menikah dengan ku kau tidak merasakan apapun?” Aero mencoba playing victim dengan Rea.
"Jangan membuat ku tertawa keras Aero! Kau lah yang tidak merasakan apapun selama dua tahun itu. Sedangkan aku??? Aku baru sudah menetralkan semua rasa ku pada mu sepuluh tahun ini. Apa penjelasan ini jelas untuk mu?." Rea mengeluarkan kalimat azimat terakhirnya.
Walaupun sesungguhnya, dia ingin tertawa mendengar kalimat itu "Apa itu yang barusan aku katakan? Ck, aku pun tidak paham...."Gumam Rea, dalam hati.
" Baiklah! Dua hari. Aku akan pikirkan ini selama dua hari." Aero akhirnya pura-pura setuju dengan permintaan Rea. Bila jangka waktu nya telah tiba, maka pikirkan alasan yang lainnya. Kira-kira begitu lah rencana Aero.
"Huft! Akhirnya!! setuju." Ujar Rea dalam hati, Rea pun ingin kembali mea kerja nya.
"Rea tunggu!”tahan Aero.
“ya?”
“Setelah aku pikir-pikir, aku bersedia menanda tangani surat perceraian itu sekarang juga. Tapi aku punya dua syarat.” Ucap Aero.
☘️☘️☘️☘️
Yuck kita intip visual ala kak Upe.. yang punya visual beda...monggo halu kan sendir.😎
#aero
#Rea
#Danniel Isa
Yang mau lihat video halu nya . cek ig yanh zeyeng😘