Rani Yuliana, harus merasakan kepedihan berumah tangga saat sang mertua ikut tinggal bersama mereka. Apalagi saat itu kondisi Ilham Hadiwijaya sedang tidak bekerja karena di PHK. Setiap hari Bu Rumiati memperlakukan Rina menantunya seperti seorang pembantu. Ilham sendiri diluar sana dia juga berselingkuh dari Rani
Apakah Rani bisa bertahan dengan kondisi rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaRa69, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Rani berencana menemui Ilham di kontrakannya beberapa waktu yang lalu Rani mendapatkan informasi jika Ilham dan ibunya juga istri barunya itu menghuni rumah kontrakan tak jauh dari tempat tinggalnya. Belum sempat Rani menutup pintunya suara berat seseorang terdengar di telinganya.
"Apa maksud kamu ini, Rani?"
Ilham dengan tergopoh-gopoh datang menemui Rani, di tangannya dia membawa map dengan logo Kantor Urusan Agama. Rupanya berkas perceraian mereka sudah dikirim ke tempat lelaki itu.
"Bukannya kamu bisa membacanya sendiri." Jawab Rani datar.
"Dan kamu sudah tahu jawabannya, kan, kalau aku tidak mau cerai sama kamu." Ucap lelaki itu setengah membentak.
"Dan asal kamu tahu juga mau atau tidak aku tetap akan mengajukan gugatan cerai." Rani membalas tak kalah sengit, ia kesal dengan sikap Ilham. Terlebih lagi setelah mendengar kesaksian Mbak Nina semalam.
"Oh, ya, ngomong-ngomong apa kamu yang mencuri barang-barang di rumah ini?" Tanya Rani menyelidik.
"Mencuri? Di rumah ini? Apa maksud kamu?" Ilham bertanya bingung.
"Jangan pura-pura, deh, beberapa hari lalu kamu, kan, yang masuk rumah ini saat aku nggak ada. Dan kamu juga, kan, yang mengambil barang-barang elektronik di dapur?" Rani menjelaskan dengan kesal karena pria di hadapannya ini tetap menyangkal.
"Jangan ngawur kamu, kapan aku mencuri di rumah ini? Apa kamu punya bukti kalau aku pelakunya?" Ilham masih saja menyangkal bahwa dirinya tidak melakukan perbuatan itu.
"Ada saksi yang mengatakan kamu memasuki rumah lewat jendela, lihat." Rani menunjukkan jendela rumahnya yang bekas dibuka paksa. Ilham ikut mendekat ke arah yang ditunjukkan Rani.
"Enggak, aku nggak melakukannya, kok, meski kemarin butuh uang aku nggak ada niat untuk mencuri di rumah ini."
Rani tertegun sejenak, sejak menikah dengan Ilham dia hafal watak suaminya ini. Dia tidak akan bisa melakukan perbuatan ini. Rani ingat dulu Ilham pernah tidak sengaja menemukan dompet di jalan, isinya uang dalam jumlah lumayan banyak. Tidak ada identitas di dalamnya, hanya ada satu foto dengan nama orang tersebut.
Ilham lalu meminta bantuan salah seorang temannya yang bekerja di kantor Dinas Kependudukan. Mencari informasi data orang tersebut lewat nama dan fotonya. Dan untungnya mereka berhasil menemukannya. Dan uang itu kembali kepada pemiliknya yang sah.
Namun, Rani tidak ingin percaya begitu saja, karena jelas ciri-ciri orang yang disebutkan Mbak Nina kemarin sama dengan Ilham.
"Kamu yakin bukan kamu pelakunya?" Rani masih tidak percaya dengan Ilham.
"Aku berani sumpah kalau aku bukan pelakunya." Ucap Ilham sambil mengangkat telapak tangannya.
"Ya, sudah." Ucap Rani setengah hati.
"Jadi, kamu mau, kan, membatalkan perceraian ini. Aku janji akan memperbaiki semuanya dari awal."
Suara Ilham terdengar melemah, berusaha memohon kepada Rani.
"Nggak bisa, Mas, sesuatu yang sudah dirusak tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Begitupun pernikahan kita, aku harap kamu bisa menerimanya?" Rani berkata selembut mungkin agar Ilham mau menerima keputusannya.
"Apa gara-gara laki-laki itu?" Mata Ilham berkilat marah, ia merasa tidak terima.
"Laki-laki mana yang kamu maksud?" Rani menatap tajam suami lebih tepatnya calon mantan suaminya.
"Siapa lagi kalau bukan lelaki yang mengantarmu waktu itu. Pandai sekali kamu membuat skenario. Menceraikanku agar bisa menikahi lelaki kaya itu, katakan siapa dia?" Ilham membentak Rani, ia tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku nggak punya hak untuk menjelaskan siapa dia ke kamu. Asal kamu tahu aku dan orang yang kamu maksud itu tidak ada hubungan apa-apa. Tidak seperti dirimu yang menjalin hubungan dibelakangku." Rani membalas dengan tatapan tajamnya, ia tidak takut sama sekali menghadapi Ilham.
"Aku tidak akan pernah mau menandatangani surat ini." Ilham melemparkan map itu begitu saja, kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Rani.
Rani terduduk lemas setelah kepergian Ilham, pikirannya berkecamuk. Kalau bukan Ilham lalu siapa pelaku pencurian ini, belum lagi masalah perceraian ini. Ilham jelas-jelas tidak mau menyetujuinya. Apa yang diinginkan pria itu, memiliki dua wanita sekaligus.
Belum sempat ia menarik napasnya, masalah baru sudah datang lagi. Kali ini dari Ananta putri majikannya. Baru saja gadis kecil itu menghubungi kalau ia ingin bertemu Rani. Dan satu lagi bagian keuangan di kantornya juga menghubungi Rani berkali-kali menanyakan laporan terakhir yang ia buat sebelumnya.
Rani memijat pangkal pelipisnya, hari ini terasa begitu berat. Ia merutuki sikap atasannya yang tidak bertanggungjawab. Seharusnya dia bicara pada bagian keuangan dan mengalihkan tugas yang seharusnya dia pegang pada orang lain. Padahal dia mengabaikan tugas itu juga atas perintah Alvin sendiri, yang memintanya menjadi pengasuh Ananta.
Rani bangkit dari duduknya dan melangkah gontai menuju ke kamarnya. Dia bingung mana yang harus dikerjakan lebih dahulu. Sebelum mengambil keputusan, ia menghubungi atasannya terlebih dahulu.
"Hallo, selamat pagi Pak Alvin, saya…."
"Jangan banyak tanya saya sudah ada di dekat rumah kamu, saya tunggu sekarang."
Rani melongo mendengar ucapan Alvin barusan, belum selesai ia mengucapkan salam pria itu sudah bicara layaknya kereta api. Apalagi dengan sikap otoriternya yang membuat wanita itu kesal. Akhirnya dia keluar juga menemui atasannya tersebut.
"Cepat masuk mobil, Ananta masuk rumah sakit lagi."
"Apa?"
🏵️🏵️🏵️🏵️
terima kasih sudah mengikuti cerita Rara, sambil menunggu part selanjutnya rara akan merekomendasikan novel keren dengan judul:
Ketulusan Cinta Aluna
karya: Febriyanti
Aluna diagnosis alzheimer, suatu penyakit yang mampu menghapus memori hingga berakhir pada kematian. Di saat raga tak mampu lagi bertahan, Aluna dipertemukan dengan seorang pria bernama Iskhandar. Gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama.
Namun, Iskhandar tak mencintainya. Dia terpaksa menikahi Aluna. Iskhandar merasa terhina karena dirinya orang tak berpunya. Semua bisa didapatkan karena uang, dan Iskhandar merasa cinta itu tak seharusnya ada. Cinta tak bisa dibeli, tanpa ia tahu bahwa Aluna tulus mencintainya. Sampai Aluna rela hidup susah hanya demi cinta.
Apakah Aluna berhasil meraih cinta Iskhandar? Apa dia berhasil mendapatkan kebahagiaan di sisa umurnya?
Suami dapat pembantu, Istri dapat boss ya🤣🤣
moga kak thor sukses selalu 😘😘
terbaiklah kak thor 👍👍