Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikenal Dan Dicurigai
Sepulang sekolah, Madalena benar-benar menagih Gavino. Untuk pergi, sesuai dengan apa yang tadi dijanjikan.
Gavino pun mengangguk mengiyakan permintaan dari Madalena. Karena dia tidak mungkin mengingkari, apa yang sudah dia katakan pagi hari.
Bianca sudah langsung pergi keluar kelas, untuk pulang. Dia tidak mau melihat Gavino yang akan pergi bersama dengan Madalena. Ada rasa tidak suka, melihat kedekatan mereka berdua.
Dia jadi menyesal sendiri, karena menolak ajakan Gavino. Untuk ikut pergi bersamanya juga.
"Huhfff... kenapa Aku harus marah? Vin bukan apa-apa untukku."
"Hiks... tapi tetap saja Aku merasa kesal. Kenapa Vin mau jalan dengan Madalena?"
"Harusnya dia tidak mau. Kan Madalena juga temannya Alano."
"Hemmm... Vin emang anak yang baik. Tidak dendam pada orang yang sudah jahat dengannya. Tapi jika dipikir-pikir, Madalena kan gak ikut serta dalam kejadian kemarin itu. Ahhhh... aneh juga Aku ini!"
Bianca terus bergumam seorang diri, saat berjalan keluar dari halaman sekolah. Dia tidak sadar, jika kelakuannya itu diperhatikan oleh sepupunya, Dante.
"Bi, Kamu kenapa? sedari tadi Aku perhatian, ngoceh sendiri."
Wajah Bianca pias. Dia terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya itu.
"Eh, ehmmm... gak. Gak apa-apa kok."
Dengan gugup, Bianca menjawab pertanyaan dari Dante. Dia juga tidak mengatakan apa-apa, yang membuat hatinya sedang dalam keadaan tidak nyaman seperti ini.
"Yakin?" tanya Dante menyelidik.
Bianca pun mengangguk cepat. Dia tidak mau ketahuan jika sedang memikirkan Gavino, yang akan pergi bersama dengan Madalena.
Akhirnya Dante menawari Bianca untuk pulang bersama.
"Aku antar pulang ya Bi?"
"Eh gak. Gak usah Dante. Aku bisa pulang sendiri." Tolak Bianca, atas tawaran yang diberikan oleh Dante.
"Apa ada supir yang menjemputmu?" tanya Dante ingin tahu.
Dengan cepat, Bianca menganggukkan kepalanya lagi. Karena memang akan ada supir yang menjemputnya.
Dia diantar jemput supir. Karena orang tuanya tidak mau jika Bianca kenapa-kenapa lagi. Mereka masih saja merasa takut, dengan kejadian malam itu. Yang membuat anaknya itu diculik oleh kawanan Alano.
*****
Keadaan Gavino sekarang, tidak lagi sama seperti dulu. Dia menjadi seorang remaja yang berpengaruh. Setelah berhasil mengalahkan Alano.
Selama ini, geng Alano tidak pernah terkalahkan dan ditakuti oleh geng-geng sekolah lain. Karena sebenarnya, di sekolah-sekolah itu ada geng yang menguasai. Dan mereka, para geng itu, juga punya musuh dari geng sekolah lainnya juga.
Sebab itulah, sekarang ini pergerakan Gavino diperhatikan. Ada saja yang ingin tahu, seberapa hebatnya dirinya.
Mereka ingin menjajal kemampuan seorang Gavino. Yang katanya hanya murid sekolah yang tadinya tak punya apa-apa.
Seperti saat ini. Tanpa sepengetahuan Gavino, ada sekelompok orang yang mengikuti. Mereka adalah geng dari sekolah lain. Yang biasanya suka tawuran dengan geng Alano.
Tapi karena sekarang ini Alano sudah tidak ada lagi, mereka jadi ingin melihat seberapa besar pengaruh Gavino yang sudah mengalahkan Alano.
"Cihhh! Anak kurus itu yang mengalahkan Alano kemarin? Gak percaya Aku!" Satu diantara mereka, berkata tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Lihatlah Bos! Itu Madalena. Cewek yang dijuluki Putri halu. Karena mimpinya untuk bisa mendapatkan cowok impian seperti seorang pangeran."
Seseorang yang dipanggil dengan sebutan bos melihat dengan seksama. Dan akhirnya dia pun percaya bahwa, yang tadi dia katai kurus adalah Gavino.
Karena selama ini, Madalena memang dikenal lebih suka dekat dengan cowok terkeren, menurut mereka.
"Kita atur taktik!"
Akhirnya mereka berunding untuk bisa menghadang Gavino nanti.
*****
"Gavin, Gavin!"
Madalena memanggil Gavino, untuk mengikuti langkahnya ke area bermain di mall.
Gavino hanya mengangguk saja. Mengikuti ke mana yang diinginkan oleh Madalena. Tapi tak lama kemudian Gavino melakukan semuanya dengan cepat.
"Ahhh..."
Gavino dengan cepat menarik tangan Madalena, hingga mereka berdua jadi tampak seperti sedang berpelukan dan sedang mau berdansa. Apalagi, satu tangan Gavino yang satunya, juga memegang pinggang Madalena agar tidak terjatuh. Sehingga membuat Madalena terpana dengan apa yang dia alami saat ini.
Hal yang sering dia impikan, dengan agenda romantis di moment-moment indah suatu cerita. Dengan adanya gerakan cepat yang tak sengaja untuk menolong seorang wanita atau putri.
"Eh, maaf."
Gavino justru meminta maaf pada Madalena, dengan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan dan pinggang Madalena.
Ini dia lakukan bukan tanpa sebab. Karena tadi, Madalena hampir menabrak orang lain. sedang berjalan berlawanan dengannya. Sebab Madalena sedang asyik bicara dengannya dengan jalannya yang mundur.
"Huhfff... thanks Gavin. Ahhhh, untung Kamu cepat. Kalau tidak, Aku pasti terjatuh tadi. Dan lebih malu karena menabrak orang lain.
Dengan membuang nafas lega, Madalena menanggapi permintaan maaf yang diucapkan oleh Gavino barusan.
"Yuk!"
Tanpa rasa sungkan lagi, Madalena menarik tangan Gavino. Untuk dia ajak ke arena bermain.
Dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan pangeran impiannya selama ini. Seorang pemuda yang rendah hati, meskipun sebenarnya memiliki segalanya.
"Makan dulu Lena. Habis itu kita pulang. Kamu nanti kemalaman sampai di rumah. Bisa-bisa, kena marah mama atau papa Kamu."
Mendengar perkataan Gavino yang seperti sedang menasehatinya, Madalena memberengut kesal. Dia tidak mau diingatkan untuk pulang, pada saat sedang bersenang-senang seperti saat ini.
"Ihsss... Aku tidak lapar. Aku ingin bermain dulu," ujar Madalena menawar.
Dia ingin bernegosiasi dengan Gavino. Karena sadar bahwa, tadi tujuan mereka memang untuk makan malam saja sepulang sekolah.
Tapi Gavino juga tidak mau melakukan tawar menawar, sama seperti yang diinginkan oleh Madalena.
"Kita pergi makan, atau Kamu Aku tinggal di sini!"
"Huhfff..."
"Baiklah-baiklah. Aku ikut apa mau Kamu," sahut Madalena mengalah.
Dia tidak mau ditinggalkan sendirian di arena bermain. Dan membuang kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Gavino.
Tak jauh dari tempat mereka berdua, beberapa pasang mata, tajam mengawasi setiap gerak-gerik mereka berdua. Tak ada yang bisa terlewati. Karena sebenarnya, orang-orang itu memang sedang membuntuti Gavino.
"Cihhh! Putri halu itu sok kecentilan. Dia juga dulu bersikap manis dan manja dengan Alano. Dan sekarang, ganti haluan dengan Gavino itu."
"Hahaha... namanya juga putri halu Bos. Mana yang dia anggap terbaik, ya di dekati. Entar jika ada yang lain lagi juga, di Gavino itu ditinggal."
"Ya. Benar katamu. Itulah sebabnya, Aku tidak mau dia dekati. Pasti dia sama saja seperti cewek-cewek murahan, yang sering mendekati cowok-cowok keren."
Begitulah mereka membicarakan Madalena, yang mereka anggap sebagai putri halu. Dan memberikan penilaian terhadap Madalena, yang dianggap tidak bisa menjaga harga dirinya.
Mereka menilai seseorang Madalena, yang mencari kepuasan atas ke haluan nya tentang pangeran impian. Dengan kelakuan yang rendah.
Dengan demikian, mereka pun merendahkan seorang Madalena. Yang sebenarnya jauh dari apa yang mereka katakan tadi. Karena sebenarnya, Madalena tidak pernah melakukan hal-hal yang mereka pikirkan.