Disarankan untuk membaca terlebih dahulu Terjebak Pesona Mamah Muda.
Ricky memiliki anak diluar nikah, akibat dari perbuatannya dimasa lalu. Anak itu bernama Maira yang dibesarkan oleh ibu angkatnya yang bernama Aida.
Ibu Juwita menginginkan agar Maira diasuh oleh Ricky. Agar Aida mau menyerahkan Maira kepada Ricky, Ricky harus menikah dengan seorang perempuan yang mau menerima Maira dan menerima masa lalunya.
Follow Ig Deche : @deche62
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Datang Melamar
Ricky masuk ke dalam rumah dengan wajah gembira.
“Assalamualaikum,” ucap Ricky ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Juwita dan Pak Agus.
Ricky mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
“Kelihatannya sedang senang, nih,” sahut Handi sambil membawa segelas sirup.
“iya, dong,” jawab Ricky lalu mengambil gelas sirup yang dipegang Handi dan minumnya.
“Eh, jangan dihabisi!” Handi protes ketika sirupnya diminum Ricky.
“Cuma sedikit,” kata Ricky.
“Ini bukan cuma sedikit tapi banyak,” kata Handi kesal. Sirupnya tinggal dua pertiga lagi.
“Kamu kok di rumah? Ngaak kuliah?” tanya Ricky.
“Handi libur setiap senin,” jawab Handi.
“Abang kok nggak kerja?” Handi balik bertanya.
“Abang ijin tidak masuk kerja,” jawab Ricky.
“Kamu sakit?” tanya Ibu Juwita.
“Ricky tidak sakit, Mah. Hanya saja kemarin banyak yang harus Ricky urus di kantor polisi,” jawab Ricky.
“Kamu ke kantor polisi? Ada urusan apa kamu di kantor polisi?” tanya Ibu Juwita dengan khawatir.
“Ada kejadian yang menimpa Hanifa,” jawab Ricky.
“Kejadian apa?” tanya Ibu Juwita penasaran.
Ricky bukannya menjawab pertanyaan Mamahnya malah menoleh ke Handi yang sedang asyik main game di ponselnya.
“Di, bikini Abang sirup dong!” sahut Ricky kepada Handi.
“Nggak mau, bikin sendiri,” jawab Handi sambil fokus ke ponselnya.
“Sudah, biar Mamah buatin,” kata Ibu Juwita lalu bangkit dari sofa menuju ke ruang makan.
Tak lama kemudian Ibu Juwita membawa segelas sirup dingn lalu diberikan kepada Ricky.
“Terima kasih, Mah,” ucap Ricky. Ricky meminum sirupnya.
“Kejadian apa?” tanya Ibu Juwita setelah Ricky selesai minum.
“Ada laki-laki yang berusaha masuk ke kamar kami,” jawab Ricky.
“Kamar kami? Kalian tidur sekamar?” tanya Pak Agus curiga.
“Pah, kamar hotel di sana kebanyakan berbentuk bungalow. Kamar satu dengan kamar yang lain agak berjauhan. Seperti rumah kita ke rumah tetangga. Terpaksa Ricky hanya menyewa satu kamar, kalau terjadi apa-apa dengan Hanifa tidak akan kedengaran sampai kamar Ricky,” jawab Ricky.
“Iya sudah, Mamah mengerti. Kamu teruskan lagi ceritanya,” kata Ibu Juwita yang sudah tidak sabar.
Ricky menceritakan semua yang terjadi selama mereka di sana.
“Astagfirullahaladzim. Kok ada orang seperti itu?” tanya Ibu Juwita.
“Ya ada, Mah. Mereka bebas berkeliaran kemana-mana, tanpa ada pengawasan dari keluarganya,” jawab Pak Agus.
“Iiihhh Mamah jadi takut,” kata Ibu Juwita sambil merinding.
“Kantor tempat dia bekerja kira-kira tau nggak kalau dia sakit jiwa?” tanya Ibu Juwita.
“Ricky juga tidak tau. Tapi waktu Ricky dan Hanifa datang ke kantor polisi, sudah ada pengacara yang mendampinginya,” jawab Ricky.
“Sepertinya dia orang berada, sampai langsung menyewa pengacara,” kata Pak Agus.
“Dilihat dari penampilannya memang seperti orang berada,” jawab Ricky.
“Bang,” panggil Handi. Ricky menoleh ke Handi.
“Apa?” tanya Ricky.
“Oleh-olehnya mana?” tanya Handi.
“Nih,” Ricky mengambil plastik besar yang berada di sebelah tas travelnya lalu diberikan kepada Handi.
“Asyik. Ma kasih, Bang,” ucap Handi.
“Tadi waktu masuk ke dalam rumah Mamah lihat wajah kamu kelihatannya sedang gembira. Ada apa, sih?” tanya Ibu Juwita dengan curiga.
“Ricky baru melamar Hanifa,” jawab Ricky dengan seenang.
“Melamar Hanifa? Kamu nggak habis melakukan macam-macam dengan Hanifa, kan?” tanya Ibu Juwita dengan curiga.
“Iya nggaklah, Mah. Ricky tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama kedua kali,” jawab Ricky.
Ricky menceritakan ketika melamar Hanifa kepada kedua orang tuanya.
“Pah, berarti kita harus siap-siap melamar Hanifa,” kata Ibu Juwita kepada suaminya.
“Sabar, Mah. Jangan terburu-buru,” jawab Pak Agus.
“Apa Papah tidak mau punya menantu seperti Hanifa?” tanya Ibu Juwita.
“Bukan begitu maksud Papah. Kita jangan terburu-buru melamar Hanifa. Segala sesuatunya harus dipersiapkan dulu. Masa kita melamar anak orang tidak membawa apa-apa,” jawab Pak Agus.
“Kita persiapkan dulu segala sesuatunya. Untuk acara pernikahan kita mau kasih uang berapa ke keluarga Hanifa?” kata Pak Agus.
“Oh iya, ya. Nanti Mamah persiapkan dulu semuanya,” kata Ibu Juwita.
“Jangan lama-lama, Mah,” kata Ricky.
“Iya, nggak sabaran amat sih,” jawab Ibu Juwita.
Ibu Juwita mulai membuat daftar yang harus dipersiapkan untuk melamar Hanifa.
***
Dua minggu telah berlalu dan malam ini, keluarga Ricky datang untuk melamar Hanifa. Pak Agus dan Ibu Juwita tidak mengajak keluarga besarnya untuk datang melamar. Mereka tidak ingin merepotkan keluarga besar mereka. Cukup mereka saja yang datang melamar. Maira juga ikut melamar.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Agus ketika masuk ke halaman rumah Hanifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Jaka.
Pak Jaka adalah Paman Hanifa yang mewakili keluarga. Dan beliau juga akan menjadi wali nikah Hanifa.
“Mari silahkan masuk, Pak,” kata Pak Jaka.
Mereka masuk ke dalam rumah, dan mereka duduk di atas karpet. Ruang tamu di rumah Hanifa tidak besar, jadi agar muat untuk tamu mereka duduk mengampar di karpet. Ibu Rosma dan Ibu Mira menghampiri Pak Agus dan keluarga serta menyalami mereka satu persatu.
“Kedatangan kami ke sini adalah melamar putri Ibu Rosma yang bernama Hanifa, untuk putra kami yang bernama Ricky,” kata Pak Agus mengutarakan niat mereka datang ke rumah Hanifa.
“Putra kami masih bujangan, namun dia sudah mempunyai anak,” kata Pak Agus terus terang agar nantinya tidak timbul salah paham.
“Dan ini anaknya Ricky,” Pak Agus menujuk ke Maira yang sedang duduk di atas pangkuan Ricky.
“Lucu sekali anaknya,” puji Pak Jaka.
“Yang berhak menjawab lamaran Nak Ricky adalah Hanifa sendiri. Kami selaku orang tua hanya memberikan doa restu kepada Hanifa,” kata Pak Jaka.
“Mah, tolong panggilkan Hanifa,” kata Pak Jaka kepada Ibu Mira.
Ibu Mira masuk ke dalam kamar Hanifa untuk memanggil Hanifa. Tak lama kemudian Hanifa keluar dari kamar ditemani Ibu Mira. Hanifa duduk di sebelah Ibu Rosma sambil menunduk.
“Aya, Kaka tantik ya,” bisik Maira.
“Iya,” jawab Ricky.
Maira langsung bangun dari pangkuan Ayahnya.
“Maira mau kemana?” tanya Ricky.
“Maia au dudut cama Kaka,” jawab Maira.
Maira langsung menghampiri Hanifa dan duduk di atas pangkuan Hanifa.
“Sudah dekat dengan calon Mamah, ya,” kata Pak Jaka ketika melihat Maira duduk di atas pangkuan Hanifa.
“Kita lanjutkan lagi perbincangannya,” kata Pak Jaka.
“Hanifa, Nak Ricky beserta keluarganya datang ke sini untuk meminangmu. Apakah pinangan Nak Ricky kamu terima atau tidak?” tanya Pak Jaka.
Hanifa mau menjawab pertanyaan Pamannya, namun Maira membisikkan sesuatu ke Hanifa.
“Maia au uweh,” bisik Maira.
“Boleh,” bisik Hanifa.
Semua orang yang ada di ruangan itu sedang memandang ke Hanifa, menunggu jawaban Hanifa. Namun bukannya menjawab pertanyaan Pamannya, Hanifa malah saling berbisik dengan Maira.
“Ambiyin,” bisik Maira.
Hanifa mengambil kue yang ditaruh di hadapannya, lalu diberikan kepada Maira.
“Hanifa,” panggil Pak Jaka.
“Iya, Mang,” jawab Hanifa.
“Nak Ricky dan keluarganya sedang menunggu jawabanmu,” kata Pak Jaka.
“Oh iya, lupa,” kata Hanifa.
Hanifa memandang ke depan, Ricky sedang memperhatikannya. Hanifa cepat-cepat menunduk kembali.
“Hanifa terima lamaran Bang Ricky,” jawab Hanifa.
“Alhamdullilah,” ucap semua orang.
Kemudian Ibu Juwita memasangkan cincin di jari manis Hanifa. Akhirnya Hanifa sudah resmi menjadi calon istri Ricky. Setelah itu Pak Agus dan keluarga dipersilahkan untuk makan malam. Pak Agus, Ibu Juwita dan Handi berdiri menuju meja makan. Namun Ricky masih tetap duduk di tempat. Ia sedang memperhatikan Maira yang sedang makan kue sambil dipangku oleh Hanifa.
“Maira makan, ya. Kakak ambilkan makanannya,” kata Hanifa.
“Nga au. Maia au mamam uweh aja,” jawab Maira yang lagi anteng makan kue.
“Abang tidak makan?” tanya Hanifa melihat Ricky masih duduk.
“Abang mau ditemani sama kamu,” jawab Ricky.
“Maira duduk di sini dulu. Kakak mau menemani Ayah,” kata Hanifa. Maira mengangguk.
“Ayo, Bang,” ajak Hanifa.
Ricky dan Hanifa berdiri lalu menuju berjalan ke meja makan. Hanifa mengambilkan nasi untuk Ricky.
“Abang mau makan sama apa?” tanya Ricky.
Ricky menunjuk lauk pauk serta sayur yang ia inginkan. Hanifa mengambil makanan yang ditunjuk oleh Ricky lalu memberikan piring yang berisi makanan kepada Ricky.
“Kamu tidak makan?” tanya Ricky melihat Hanifa tidak mengambil makanan.
“Tadi sore Hanifa sudah makan,” jawab Hanifa.
“Makan sedikit saja, temani Abang,” kata Ricky.
“Tidak ah, masih kenyang,” jawab Hanifa.
“Kalau begitu, duduk di sebelah Abang saja,” kata Ricky.
“Iya, Bang,” jawab Hanifa.
Hanifa pun duduk di sebelah Ricky. Maira menghampiri Ricky.
“Aya, a,” kata Maira sambil membuka mulutnya. Ricky menyuapi Maira.
“Kakak suapi, ya,” kata Hanifa kepada Maira. Maira pun mengangguk.
“Ayo pilih sendiri mau makan sama apa,” kata Hanifa. Hanifa menuntun Maira menuju ke meja makan.
SEMOGA NOVEL VIVIN & ERIC SGERA LAUNCING...