Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian di Ruang Musik
“Itu… itu…!” Soo-jin menunjuk dengan jari yang gemetar ke arah sudut ruang musik, dekat dengan piano yang berdiri megah di sana.
Ji-eun menoleh ke arah yang ditunjuk, dan langsung ia juga berteriak keras. Di sana, tergantung dari langit-langit adalah sosok murid yang terlihat pucat dan kaku.
Sebelum mereka sempat bereaksi apa pun, tiba-tiba terdengar suara piano yang sangat keras dan menyakitkan telinga. Bunyinya bergema di seluruh ruangan, membuat mereka segera menutup telinga dengan kedua tangan. Yang paling menakutkan adalah—tidak ada seorang pun yang menyentuh piano itu. Piano itu sendiri mengeluarkan suara dengan sendirinya.
Soo-jin berusaha membuka mata sedikit, dan melihat sosok hantu yang muncul berdiri di depan piano. Sosok itu memainkan kunci-kunci piano dengan gerakan cepat, tanpa melihat apa pun di depannya. Tapi tiba-tiba, sosok hantu itu berhenti sejenak, lalu melirik langsung ke arah Soo-jin dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kemarahan.
Soo-jin terkejut lebih lagi, tubuhnya mulai gemetar. Saat itu, Ji-eun menarik tangannya dengan kuat.
“Ayo kita pergi dari sini! Segera!” bisik Ji-eun dengan suara bergetar, takut jika hantu itu akan mendekati mereka.
Mereka berdua langsung berbalik dan berlari ke arah pintu secepat mungkin, tanpa mengingat lagi tugas membersihkan yang diberikan Ibu Mery. Pintu terbuka dengan tergesa-gesa, dan mereka melarikan diri keluar dari ruang musik itu, tidak berani menoleh lagi bahkan satu kali pun.
Setelah keluar dari ruang musik dengan tergesa-gesa, Ji-eun memutar wajahnya ke arah Soo-jin yang masih gemetar. “Soo-jin, kamu duduk disini sebentar. Aku akan langsung memberitahu Kepala Sekolah apa yang kita lihat!”
Tanpa menunggu jawaban, Ji-eun berlari cepat meninggalkan Soo-jin yang hanya bisa duduk di bangku taman tidak jauh dari ruang musik. Tubuhnya masih gemetar parah karena ketakutan—ini pertama kalinya ia melihat sosok seseorang yang bunuh diri, bahkan dalam bentuk hantu pun ia belum pernah menyaksikan kejadian semacam itu.
Setelah sekitar setengah jam, bunyi sirene ambulance terdengar mendekat. Di halaman depan sekolah, Min-woo dan Seung-hyun yang sedang berbicara tiba-tiba melihat mobil ambulance memasuki gerbang sekolah. Mereka saling bertukar pandangan, merasa ada yang tidak beres.
Tiba-tiba mereka mendengar percakapan dua siswi yang lewat:
“Kau dengar? Ada siswi yang bundir di ruang musik loh! Ambulance itu pasti dipanggil oleh Kepsek.”
“Siapa ya yang itu?”
“Aku tidak tahu. Tadi ada yang mendengar teriakan dari arah sana.”
Seung-hyun segera mengerutkan dahi, mata nya terkejut. “Dimana Soo-jin?” tanyanya dengan nada cemas.
Min-woo juga mulai merasa gelisah. “Soo-jin… Soo-jin…” ia mencoba mengingat.
“AHH! Soo-jin! Soo-jin bilang dia akan ke ruang musik untuk membersihkan bersama Ji-eun!” teriak Seung-hyun dengan tiba-tiba.
“Apaaaa?!” Min-woo langsung kaget, tanpa berpikir dua kali ia mulai berlari cepat menuju arah ruang musik, diikuti oleh Seung-hyun yang juga tergesa-gesa.
Saat tiba di depan ruang musik, sudah banyak guru dan petugas ambulance yang berkumpul. Pintu ruangan terbuka lebar, dan beberapa petugas sedang bekerja di dalamnya. Min-woo segera mencoba menerobos masuk, tapi seorang petugas menghalanginya.
“Berhenti! Kamu tidak boleh masuk ke dalam!” larang petugas itu.
“Tapi ada teman ku di dalam sana!” teriak Min-woo dengan suara penuh khawatir.
“Siapa? Yang bundir itu?” tanya petugas itu.
“Bu… bukan! Yang lain!” jawab Min-woo tergesa-gesa.
“Tidak ada siswi lain di dalam sini. Pergilah, jangan ganggu kami bekerja!” ucap petugas itu dengan tegas.
Seung-hyun menarik lengan Min-woo perlahan. “Mungkin Soo-jin sudah tidak ada disana lagi. Jangan paksa masuk.”
“Lalu di mana dia?” tanya Min-woo dengan suara bergetar.
Seung-hyun melihat sekeliling dengan cermat, lalu matanya terhenti pada sosok yang duduk sendirian di bangku taman jauh sedikit. “Itu Soo-jin!”
Mereka berdua pun berlari cepat menghampiri Soo-jin. Wajahnya masih pucat, mata terlihat kosong, dan tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia tidak menyadari kehadiran Min-woo dan Seung-hyun sampai mereka duduk di depannya.
Begitu tiba di hadapan Soo-jin, Min-woo segera mengeluarkan botol air mineral dari dalam tasnya dan menyodorkannya perlahan ke depan gadis itu.
“Minumlah, ini akan menenangkanmu,” ucapnya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Soo-jin mengangkat wajah sebentar, matanya masih terlihat sayu dan berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangan untuk menerima botol itu, tapi jari-jarinya terasa lemas dan masih gemetar hebat. Belum sempat ia menggenggamnya dengan kuat, botol itu terlepas begitu saja dari genggamannya dan jatuh ke lantai, airnya tumpah membasahi tanah di sekitarnya.
Melihat kejadian itu, Seung-hyun segera mengangguk pelan sambil menatap Soo-jin dengan rasa prihatin.
“Sepertinya dia sangat syok sekali,” gumam Seung-hyun dengan suara rendah, cukup didengar oleh Min-woo. “Tubuhnya masih belum bisa dikendalikan dengan baik.”
Min-woo tidak menjawab, tapi tatapannya semakin dalam dan serius. Ia mengambil botol itu, membersihkannya sebentar, lalu menuangkan sedikit air ke telapak tangannya sendiri dan mengusapkannya perlahan ke dahi dan pelipis Soo-jin.
“Tenang saja, kami sudah ada di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi,” bisiknya pelan, berusaha menenangkan detak jantung gadis itu yang masih berpacu kencang.
Soo-jin hanya menunduk dalam, bahunya terguncang perlahan. Gambar yang baru saja dilihatnya—sosok tergantung, suara piano yang menyakitkan, dan tatapan tajam makhluk itu—masih terputar terus di kepalanya, membuatnya sulit bernapas dan berpikir jernih.
Min-woo mengambil botol air yang terjatuh itu, menyekanya sebentar di bajunya, lalu menyodorkannya lagi dengan cara yang lebih hati-hati — kali ini ia menopang bagian bawah botol itu agar tidak terlepas lagi.
“Pegang saja pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru,” ucapnya lembut.
Soo-jin mencoba lagi, kali ini dengan kedua tangannya memegang botol itu. Tangannya masih sedikit bergetar, tapi ia berhasil membukanya dan meneguk sedikit airnya. Rasa sejuk itu turun ke tenggorokan, perlahan menenangkan rasa sesak yang terasa di dadanya.
Setelah beberapa saat hening, Seung-hyun berbicara dengan nada pelan dan menenangkan:
“Kami mendengar kabar ada kejadian di ruang musik. Apa yang sebenarnya kau lihat di dalam sana? Jangan takut, ceritakan saja pada kami.”
Soo-jin menunduk dalam, suaranya terdengar bergetar saat mulai bercerita:
“Aku… aku dan Ji-eun masuk ke ruang musik. Begitu lampu dinyalakan… aku melihatnya. Sosok seseorang tergantung di dekat piano… tubuhnya kaku, wajahnya pucat sekali.”
Suaranya terhenti sejenak, seolah harus menahan rasa mual dan takut yang kembali muncul. Min-woo dan Seung-hyun saling berpandangan — mereka langsung tahu bahwa ini bukan sekadar kejadian biasa.
“Lalu apa lagi?” tanya Min-woo pelan, mendorongnya untuk melanjutkan.
“Tiba-tiba… piano itu berbunyi sangat keras. Suaranya menusuk telinga, sampai rasanya ingin pecah. Padahal tidak ada siapa pun yang menyentuh tutsnya. Lalu aku melihatnya… sosok lain, berdiri di depan piano, sedang memainkannya dengan gerakan yang sangat cepat. Dan tiba-tiba… ia menoleh, menatapku dengan pandangan yang sangat tajam, penuh amarah… seolah ia tahu aku bisa melihatnya.”
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Min-woo berubah drastis — menjadi tegang dan penuh perhatian. Ia langsung mengerti siapa sosok yang dimaksud, dan mengapa ruang musik itu terasa begitu berat untuknya selama ini.
Seung-hyun menepuk bahu Soo-jin dengan lembut. “Kau sudah berani melewatinya. Sekarang sudah aman, kami ada di sini.”
Namun pikiran Min-woo sudah melayang jauh kembali ke kenangan lama tentang kakaknya, tentang ruang musik itu, dan alasan mengapa tempat itu selalu terasa seperti luka yang belum sembuh.