NovelToon NovelToon
Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:449.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Dibuang bak sampah, dipungut bak berlian!!


****

"Jadilah pacarku! Jika suamimu bisa berselingkuh di belakangmu, kamu pun juga bisa melakukan hal yang sama. Aku akan membantumu."

****

Kehidupan Lingga Sari Andini seketika berubah setelah pertemuannya dengan seorang pemuda yang ia temukan terdampar di tepian sungai yang tidak jauh dari kediamannya. Ia yang baru saja pulang dari berkeliling berjualan jamu, terpaksa harus menyelamatkan pemuda itu terlebih dahulu.


Namun siapa sangka setelah pertemuannya ini justru menyeretnya ke dalam pusaran rasa dan peristiwa yang tidak pernah terbesit di dalam pikirannya.

Kehidupan seperti apakah yang sebenarnya dijalani oleh Lingga? Dan bagaimanakah akhir ceritanya dengan sang pemuda?


Ikuti saja ya ceritanya ❤️❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Membebaskan

Suara lolongan anjing hutan menggema memenuhi tiap sudut hutan belantara yang Lingga lewati. Dibunuhnya segala rasa takut yang menggerogoti, ia ganti dengan kobaran rasa berani untuk menemani jejak langkah kaki. Dengan headlamp yang bertenger di kepala, wanita itu mulai berjalan menembus pekatnya malam hari ini.

Suara kepakan sayap burung-burung malam mulai terdengar. Mereka terbang ke sana-kemari untuk mencari tempat paling nyaman untuk bertengger. Mendengungkan suaranya menjadi isyarat agar diakui keberadaannya.

Lingga mengedarkan pandangan matanya ke arah sekitar. Hanya ada barisan pohon-pohon yang menjulang tinggi yang ia anggap sebagai teman dalam perjalanannya kali ini. Cahaya rembulan pun menelusup masuk melalui celah-celah barisan pohon ini hingga tercipta suasana hangat yang kian terasa.

Lingga melangkahkan kakinya ke arah curug di mana ia menemukan raga Banyu yang tergeletak. Setelah berdiskusi dengan Darmaji, ia tidak harus sampai ke mata air di mana Banyu berendam diri setelah turun dari pendakian. Lingga cukup berada di curug di mana ia menemukan raga Banyu.

Lingga terhenyak saat tiba-tiba saja di hadapannya muncul anjing hutan yang nampak begitu besar. Dengan sorot mata tajam, anjing itu seakan menantang keberadaan Lingga. Wanita itu sedikit panik, namun ia tiba-tiba ia teringat akan kata-kata yang pernah diucapkan oleh sang ayah ketika masih hidup.

Jika kamu bertemu dengan anjing di dalam hutan, maka tunjukkan keberanian dan kekuatanmu. Dengan begitu dia akan segera pergi dari hadapanmu.

Kata-kata yang pernah diucapkan oleh sang ayah tentang bagaimana cara survive ketika tersesat di hutan kembali terngiang di dalam telinga Lingga. Sejenak, wanita itu membuang napas sedikit kasar dan berupaya untuk memperlihatkan kekuatannya.

Dengan sigap, ia mengambil potongan kayu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan mengarahkannya ke arah anjing hutan ini.

"Hus... Hus... Hus... pergilah. Jangan kamu ganggu keberadaanku di sini. Aku juga tidak akan mengganggu keberadaanmu pula!"

Anjing di hadapan Lingga terdengar melolong kembali. Namun setelah itu ia pergi dari hadapan Lingga. Wanita itupun bisa bernapas lega dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Entah mengapa menyusuri hutan di malam hari seperti ini serasa jauh sekali. Ia merasa hampir dua jam ia berada di tempat ini namun belum juga menemukan jalan untuk menuju curug di mana ia menemukan raga Banyu. Mungkin karena malam hari, yang membuat pandangannya terasa sangat terbatas. Tanpa sedikitpun merasa takut ataupun lelah, wanita itu kembali menyusuri hutan belantara ini.

Lingga kembali terkejut setengah mati kala tiba-tiba saja indera pendengarannya menangkap gelombang suara auman yang terdengar memekak telinga. Begitu kerasnya suara auman itu, ia yakin bahwa pemilik suara itu berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Lingga memilih untuk menghentikan langkah kakinya dan ia pun memilih untuk duduk bersimpuh terlebih dahulu.

Benar saja, dua hewan loreng berjalan di hadapan Lingga. Sinar yang keluar dari headlamp yang dipakai oleh Lingga ternyata menarik perhatian dua hewan loreng itu. Mereka berhenti berjalan dan sama-sama menatap tubuh wanita yang berada di hadapannya ini dengan tatapan tajam.

Ya Tuhan, ternyata ada dua harimau Jawa berdiri di hadapanku. Apakah mereka akan menerkamku dan menjadikanku mangsa? Apakah hidupku akan berakhir dicabik-cabik oleh dua binatang buas itu?

Lingga semakin bergidik ngeri. Bulu kuduknya seakan berdiri. Keberadaan binatang ini justru yang membuat sendi-sendi tubuhnya serasa lemas seketika. Bahkan tempurung lututnya pun juga terasa tidak memiliki tenaga. Bagi Lingga, berhadapan dengan binatang buas jauh lebih menyeramkan daripada berhadapan dengan makhluk tak kasat mata.

Jika kamu bertemu dengan harimau di dalam hutan, maka yang harus kamu lakukan adalah sebaliknya, jangan sekalipun kamu menunjukkan keberanian ataupun kekuatan yang kamu miliki. Itu semua hanya akan membuat harimau itu merasa tertantang dan merekapun tidak akan segan-segan untuk menerkammu. Hindari kontak mata dengannya sambil menunggu dia pergi dengan sendirinya.

Lagi, wejangan yang pernah diucapkan oleh sang ayah kembali terngiang di dalam telinga Lingga. Gegas, ia pun membuang wajah dan sedikitpun tidak menatap binatang buas itu. Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Pada akhirnya dua binatang buas itu kembali berjalan dan meninggalkan Lingga sendirian.

"Hah ... syukurlah mereka sudah pergi. Setelah ini, apalagi yang akan aku temui? Apakah serigala? Babi hutan? Atau apa? Ah... Ya Tuhan, jagalah selalu aku."

Lingga berupaya untuk mengatur napasnya. Sungguh berjumpa dengan dua harimau Jawa seakan membuat sukmanya seakan dicabut paksa oleh malaikat pencabut nyawa. Membuat tubuh dan kakinya gemetaran, sama sekali tidak memiliki kekuatan. Ketika sendi-sendi di kakinya dirasa sudah mampu untuk berdiri tegak, wanita itupun kembali bangkit dan melanjutkan perjalanannya.

Senyum simpul terbit di bibir Lingga kala mendengar gemercik aliran air sungai yang semakin terdengar jelas. Ia yakin bahwa sebentar lagi, ia akan sampai di curug itu.

Sedikit lagi Lingga... Semangat!!!

.

.

. bersambung...

1
Nggenk Topan
kurang panas thorr 😀
Nggenk Topan
Luar biasa
......Maiko.....
makin seruuuu lanjut
......Maiko.....
mungkin anunya Heru bermasalah 🤭GK mau tanggung malu,jdi nyalahin isterinya bau ikan asin 👻🥴
Evi
setuju thoor tikungan sepertiga MLM itu sangat dahsyat
karena aq mengalaminya
Sulaiman Efendy
LO HIRUP DLU AROMA KWANITAAN NYA LINGGA, BAU IKAN ASIN NGGAK SEPRTI KATA HERU...😂😂😂😂😂😂
Sulaiman Efendy
ANAK HERU. ATAU ANAK GENDERUWO TUHHH....
Sulaiman Efendy
KASIH SE CENG AZA, USH TULIS NMA, TULIS AZA DARI HAMBA ALLAH...🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sulaiman Efendy
MSKI LINGGA JANDA, TPI JANDA BRSEGEL....
Sulaiman Efendy
BRRTI SAPTO NORMAL NYU...😁😁😁😁😁
Sulaiman Efendy
TERLAMBAT, SAPTO GERCEP LAMAR AMBAR...
Sulaiman Efendy
JANDA SEMAKIN TERDEPAN, PERAWAN MMG MENAWAN, TPI JANDA SANGAT BRPENGALAMAN...😂😂😂😂😂😂😂
Sulaiman Efendy
NIKAH DLU, BRU KAWIN NYU😂😂😂😂😂
Sulaiman Efendy
WAHHHH, GK NYANGKA, GENTLEMEN JUGA SI SAPTO...
Sulaiman Efendy
BANYU KOQ JDI PRIA BODOH, KNP LO GK HAJAR TU SAPTO, KECEWA NYA SIH SAMA LINGGA, KNP GK TEGAS SAMA SAPTO..
Sulaiman Efendy
KLO KTELAN TU CINCIN KN BAHAYA....
Sulaiman Efendy
LO CIUM AZA TU LINGGA DIDEPAN SAPTO..
Sulaiman Efendy
OSKADON, PARAMAEX, BODREX MANA, KASIKN KE SAPTO TUHHH...😂😂😂😂😂
Sulaiman Efendy
APA HAK SAPTO DGN LINGGA, APA LINGGA PERNH MNERIMA SAPTO, ATAU MNERIMA LAMARAN ORTU SAPTO...
Sulaiman Efendy
SEK ASEKKKKK... SEMOGA HUBUNGN MREKA DIRESTUI YG MAHA KUASA HINGGA KE PRNIKAHAN KELAK..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!