Follow ig 👉 @sifa.syafii
Fb 👉 Sifa Syafii
Arka adalah seorang laki - laki anak semata wayang dari pasangan pak Hendro dan bu Widya. Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, hingga akhirnya cintanya berlabuh pada seorang gadis yatim piatu bernama Tia. Perjalanan cinta mereka tidak mudah tentunya lantaran kedua orang tua Arka menentang hubungan mereka.
Bagaimana akhir dari kisah cinta Arka? Dengan siapakah dia akan menikah? Yuk langsung saja simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Di dalam mobil, Tia menangis tiada henti. Rasanya air mata mengalir tidak ada habisnya. Tia memandang jendela yang berada di sampingnya. Ia menggambar bentuk hati dengan jari telunjuknya pada kaca mobil yang berembun karena suasa sedang hujan deras. Seolah-olah langit ikut menangis atas perpisahn mereka.
“Terima kasih Pak,” ucap Tia pada supir Arka setelah menurunkannya tepat di depan kos-kosannya.
“Iya, Mbak,” balas supir Arka lalu melajukan mobilnya pergi memecah derasnya air hujan yang membasahi jalanan.
Tia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kos-kosannya dengan langkah gontai tidak bersemangat. Ia membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan. Satu-satunya sumber penyemangatnya kini telah pergi jauh. Ia membuka kunci pintu kamarnya dengan termenung tanpa melihat lubang kuncinya.
Setelah pintu terbuka, ia melihat tempat tidurnya dan terlintas bayangan Arka yang sedang rebahan di sana dengan tersenyum padanya. Isak tangis Tia pun mulai terdengar kembali. Ia duduk di lantai di tepi tempat tidurnya dan menaruh kepalanya di atas kasur sambil melipat kedua lengannya. Ia menangis tersedu-sedu seorang diri. Kini hidupnya terasa sepi dan hampa.
“Arka … “ gumam Tia dengan suara lirih dan mencengkeram baju di dadanya. Hatinya sangat sakit.
Ia pun mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu menelepon Salsa.
“Sa … hiks,” ucap Tia saat Salsa sudah menerima teleponnya.
“Kamu kenapa Tia?” tanya Salsa panik saat mendengar isak tangis Tia.
“Arka pergi Sa … “ jawab Tia dengan suara lirih.
“pergi ke mana?” tanya Salsa.
“Amerika,” jawab Tia singkat.
“APA? AMERIKA?” tanya Salsa terkejut. Ia mengira Arka akan kuliah di kampus yang sama dengan Tia. Ia tahu betapa besar cinta mereka berdua.
“Hmmm” gumam Tia.
“kamu serius?” tanya Salsa lagi tidak percaya. Salsa saja tidak percaya, apalagi Tia.
“Iya Sa … “ balas Tia lalu tangisnya pecah kembali.
“Tia … cup-cup, jangan menangis lagi. Aku mau ke tempat kamu, tapi sekarang sudah malam,” kata Salsa dengan sedih. Ia tahu Tia sangat terpukul saat ini dan butuh teman.
“Tidak usah Sa. Aku baik-baik saja,” balas Tia dengan tersenyum paksa.
“Yakin?” tanya Salsa ragu.
“Iya. Aku mau mandi dulu ya, aku lelah,” pamit Tia. Salsa pun menyetujuinya.
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Tia menghembuskan napasnya dengan kasar melalui hidungnya. Paling tidak sekarang perasaannya sedikit lebih tenang setelah curhat dengan sahabatnya.
Tia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan keringat yang menempel pada tubuhnya serta bekas air hujan yang membasahi tubuhnya. Setelah mandi dan berganti baju tidur, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk guling. Kemudian ia bernyanyi dengan suara yang sangat lirih.
Sing a song
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan di sisiku
Takkan bisa menggantikanmu
Walau badai menerpa
Cintaku takkan kulepas
Berikan kesempatan
Untuk membuktikan
Kumampu jadi yang terbaik
Dan masih jadi yang terbaik
Kuakan menati
Meski harus penantian panjang
Kuakan tetap setia menunggumu
Kutahu kau hanya untukku
Biarlah waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu
Ku tetap menanti
Air mata pun menetes membasahi pipinya dan jatuh ke bantalnya. Setelah itu ia memejamkan matanya dan akhirnya tertidur lelap karena kelelahan.
***
Keesokan paginya, Tia membuka mata dan segera mencari ponselnya. Ia berharap Arka akan mengirim pesan ucapan selamat pagi seperti biasanya. Ia pun tersenyum saat melihat tanda pesan masuk pada ponselnya. Namun, senyum itu tiba-tiba memudar saat ia membuka pesan itu ternyata bukan dari Arka melainkan Salsa.
Salsa : Tia, apa kamu baik-baik saja sekarang?
Tia : Iya, aku baik-baik saja Sa ….
Meskipun itu bukan pesan dari Arka, Tia masih bersyukur masih memiliki teman yang perhatian padanya. Setelah itu ia bangkit dan mandi untuk bersiap-siap berangkat kerja. Apapun yang terjadi sekarang, ia harus tetap semangat bekerja untuk menyambung biaya hidupnya. Ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini, kalau tidak bekerja, kepada siapa dia akan meminta?
***
Amerika
Selisih waktu Amerika dan Indonesia adalah sebelas jam. Jadi ketika di Indonesia pukul lima pagi, di Amerika pukul enam sore. Kini Arka sudah di dalam apartemen yang dipersiapkan Pak Hendro sebelumnya. Semua kebutuhan Arka selama di Amerika sudah dipersiapkan Pak Hendro sejak lama.
Arka berdiri di balkon apartemennya dengan menumpukan kedua lengannya pada pagar sambil menatap mega di langit. Ia masih terbayang-bayang wajah Tia yang menangis saat ia pergi. Sungguh ia sangat tidak tega, tapi ia terpaksa melakukannya. Ia ingin menghubungi Tia, tapi operatornya tidak berlaku di Amerika.
“Arka, ayo makan dulu,” panggil Bu Widya yang baru saja pulang membeli makanan bersama Pak Hendro. Tadinya mereka mau makan di luar sekalian, tapi Arka menolaknya.
Arka pun masuk dan duduk di meja makan bersama orang tuanya. Terlihat sekali wajahnya sedih. Ia makan dengan malas. Bagaimanapun keadaan hatinya sekarang, ia harus tetap makan. Ia harus kuat menjalani hidupnya saat ini dan tidak boleh sakit. Ia tidak mau kuliahnnya tertunda hanya karena sakit yang bisa mengakibatkan semakin lama ia tinggal di Amerika.
Setelah makan ia masuk ke dalam kamarnya dan duduk di meja belajar. Ia membuka galeri ponselnya dan melihat foto-foto Tia yang ia ambil saat mereka jalan-jalan bersama. Di foto-foto itu Tia selalu menunjukkan senyum dan tawa bahagianya. Arka pun tersenyum sambil membelai wajah Tia yang ada di layar ponselnya.
Tidak lama kemudian ia melipat lengan di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di sana. Bahunya bergetar dan ia menangis meluahkan rasa sedih yang ia rasakan.
Ia merasa sedih karena tidak bisa menjaga gadis yatim piatu yang kini menjadi kekasihnya itu di sisinya. Ia membayangkan Tia yang hidup sebatang kara tanpa keluarga atau pun dirinya di sisinya. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya? Siapa yang akan menjaganya?
***
Indonesia
Di tempat kerja Tia mencuci piring dengan melamun. Pekerjaanya menjadi telat dan tidak selesai-selesai.
“Tia cepat! Pelanggan semakin banyak yang datang,” tegur pegawai yang bagian mengelap piring. Tia pun terkejut dan menoleh pada sumber suara.
“I-iya maaf,” ucap Tia seraya tersenyum paksa. Ia pun mempercepat pekerjaanya supaya segera selesai. Febri yang sedang mengupas sayuran segera menghampiri dan membantunya.
“Terima kasih,” ucap Tia seraya tersenyum. Febri pun membalas senyumnya.
Ketika waktunya jam makan siang, Farel memanggil Tia untuk menghadapnya. Dua hari ini ia melihat Tia tidak fokus bekerja dan matanya selalu sendu dan bengkak. Kalau memang ada masalah, ia ingin membantu Tia karena ia sudah menganggap Tia seperti adiknya sendiri.
mending buka hati dan belajar mencintai Jasmin
padahal penasaran gimana respon ibu Widya melihat Tia, yg lebih dulu jadi menantu pak Adam dan Bu Tari.
untung Ibu Tari tak seangkuh ibu Widya, walau awalnya sama tapi akhirnya ia direstui juga
yah Tia kok jadi perempuan juga terima-terima saja, mau dinikahi ia, dicumbui sama pacar LDR juga ia. antara Cinta dan Nyaman yah Tia🤭
lucu aja Thor, penasaran dengan respon Arka🤔