ARE YOU A MERMAID? SEASON 2
Please don't SPAM!! Hargai sesama author.
Update : Di usahakan seminggu 3-4 kali Up.
Diharapkan untuk membaca cerita sebelumnya agar dapat memahami jalan ceritanya. Terima kasih 🙏
Sinopsis :
Namaku Deryne Mikaelson, kalian tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa takutku saat aku mengetahui takdirku yang sebenarnya!
Aku ditakdirkan mati di usia 18 tahun karena tidak bisa meminum darah kedua orangtuaku sesuai ritual yang sudah di tentukan oleh kakek buyut'ku...
Aku ingin merubah takdirku, merubah nasib buruk yang diberikan oleh gadis gila itu! Mampukah aku melewati ini semua? Apakah mereka akan percaya jika aku bilang aku ini putrinya? Sementara umur kita sama di tempat ini.
~
Jangan lupa LIKE!! dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIND (PART 2)
"Ng??"
Ryn merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, gadis itu merangkak bangkit dari ketidaksadaran nya. Ryn menyentuh bagian kepalanya yang terasa berdenyut akibat benturan kuat ketika ia jatuh dari ketinggian.
"Sakit sekali" Ryn menyentuh benjolan besar di dahinya, "Akkhh...."
Mata Ryn menyipit menatap area sekitarnya. Gelap, gelap dan gelap, semuanya gelap hanya itulah yang bisa Ryn lihat.
"Benar-benar ruang kosong! Apa benar ini pikiran mama??"
Gadis bermata biru itu kemudian berdiri dan berjalan tertatih-tatih menyusuri kegelapan yang tiada habisnya.
"Aku seperti mengalami kematian dan sedang berada di alam lain" gumam Ryn pelan.
Seett...
"Hah??"
Ryn terkejut ketika mendengar suara seseorang seperti melintasinya begitu saja. Mata Ryn fokus memperhatikan area sekitarnya.
Sseet...
Pupil mata Ryn bergetar, ia mendelik dan semakin fokus memandangi sekelilingnya. Gadis itu bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kikiki.... Tribrid"
Ryn melompat kaget, ketika mendengar suara seseorang tepat di telinga kirinya. Tangan Ryn bergerak mencoba meraih sosok itu namun ia tak berhasil, bahkan Ryn belum melihat siapa gerangan yang saat ini sedang menggodanya.
"Darah... Berikan darahmu..."
"Siapa itu??"
Kedua tangan Ryn saling memutar membentuk sebuah bola, lalu dengan sihirnya ia mampu membuat bola lampu dengan cahaya yang sedikit terang.
Ryn mengarahkan lampu itu ke sumber suara, namun ia tak menemukan apapun! Hanya lantai yang basah beserta beberapa daun kering berserak. Rupanya Ryn juga sedang berdiri di tempat itu.
"Sebenarnya tempat apa ini?? Dimana jiwa mama??"
Sebelum Ryn mengarahkan bola cahaya yang ia pegang ke tempat lain, dari genangan air itu muncul sosok yang aneh.
"A... Apa itu??"
Awalnya hanya lingkaran hitam yang aneh. Namun saat sosok itu semakin muncul ke permukaan, Ryn yakin dengan jelas itu kepala seseorang.
"Oh My..." Ryn menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanan, kedua kakinya gemetaran melihat sosok misterius itu.
Tanpa aba-aba, Ryn mundur perlahan. Ia ingin sekali lari namun tanpa sebab kedua kakinya terasa mati rasa, mau tak mau Ryn harus memperhatikan sosok menyeramkan itu lebih lama.
"Tribrid?? Kikikiki...."
"A... Aku tidak takut padamu!"
"Kikiki, oh iya?? Kemari lah sayang..." Ucap sosok aneh itu.
Nafas Ryn naik turun, ia menguatkan kedua kakinya untuk menjauhi sosok menyeramkan dan menakutkan itu. Ryn berlari sekuat tenaga menuju ke sebuah tempat, di tempat ini Ryn bertemu pintu lagi.
"Ya Tuhan! Pintu lagi??" Ryn meraih gagang pintu, "Ku mohon... Jangan tangga lagi"
Rupanya keberuntungan tak memihak pada Ryn, gadis itu mengalami hal yang sangat sial. Dibalik pintu itu, Ryn menemukan sebuah anak tangga yang amat panjang.
Namun berbeda dengan sebelumnya ketika ia menemukan tangga turun, sekarang ini justru Ryn menemukan tangga naik.
"Apa jika aku menaiki ini aku akan sampai ke tempat yang sebelumnya??"
Ryn berpikir sejenak, ia merasa bahwa dirinya sedang dalam sebuah labirin pikiran mamanya sendiri. Ryn tidak dapat menemukan jiwa Fuu dimana pun.
Sebenarnya ini alam bawah sadar mama, atau seseorang sengaja menjebak ku dengan permainan ini?? - Ryn.
Ryn melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama, secara ajaib pintu tempat Ryn masuk hilang. Jadi sudah tak ada pilihan lain lagi untuk kembali.
"Pintunya hilang?" Ryn mengangkat sebelah alisnya bingung. "Jadi, mau tidak mau aku harus menaiki tangga ini kan??"
Setapak demi setapak, Ryn berhasil menaikinya. Sama halnya dengan tangga sebelumnya, Ryn tak dapat melihat ujung anak tangga ini.
"Ini benar-benar membuatku gila! Apa masih sangat jauh hah??" Omel Ryn kesal.
Ryn membuang muka kesal, gadis itu sudah tak sanggup lagi menaiki anak tangga. Ia memilih duduk sebentar dan memikirkan semua teka-teki atau jebakan ini.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa membuat permainan seperti ini padaku?" Gerutu Ryn.
"Aku?? Kikiki...."
Eh? Di jawab?? - Ryn.
"Iya! Kau pikir aku akan takut jika kau mengujiku begini?"
"Tribrid memang pemberani ya?? Kelahiran mu begitu mengagumkan!"
"Kenapa kau sangat tergila-gila dengan statusku yang Tribrid ini??"
"Karena lewat dirimu lah, aku akan mampu membalaskan dendam"
"Dendam ke siapa??" Ryn penasaran.
Saat ini, Ryn terlihat seperti orang gila yang sedang berbicara sendirian. Gadis itu memang sendirian di sana, namun ada satu suara lain yang ikut berbicara pada Ryn.
"Orang yang banyak tahu, akan cepat tiada!"
"Hei, dengar ya?! Siapapun dirimu! Aku tidak pernah takut padamu, dengar itu baik-baik" ledek Ryn kesal.
"Begitu kah?" Orang misterius itu diam sejenak. "Bagaimana kalau begini??"
GRUDUK!
TAK! TAK! TAK!
"Eh?? Apa yang...."
Ryn sangat terkejut ketika anak tangga yang sedang ia duduki saat ini perlahan retak dan jatuh ke ruang hampa di bawah sana, kaki Ryn terpaksa berlari sekuat mungkin untuk mencapai atas agar dirinya tidak ikut jatuh.
Namun, sayang seribu sayang.... Tangga itu lebih dulu menjadi puing-puing batu yang kecil, membuat gadis bermata biru itu jatuh ke bawah.
"Tidak! TIDAKKK" teriak Ryn kencang.
Di dunia nyata, Densha sedang kebingungan membangunkan Ryn yang menangis. Pria tampan itu mengusap-usap kedua pipi Ryn agar gadis yang mengaku sebagai putri nya itu segera bangun.
"Hiks... Hiks... Tidak... Tidak...."
Ryn meracau tak karu-karuan, gadis itu menangis kencang sambil kedua tangannya terkepal. Tubuh Ryn juga nampak gemetaran seperti sedang sangat ketakutan.
"Ryn! Hei, Ryn!! Bangun!!!"
Menepuk, mencubit, menjitak sudah Densha lakukan untuk membangunkan Ryn. Namun tak berhasil, pria itu sampai kebingungan harus bagaimana lagi?
Moa melambaikan tangan pada Densha, ia menyuruh Densha agar menggenggam kedua jemari Ryn dan membuat gerakan menarik benda agar Ryn bisa kembali.
"Hah?? Kau tahu itu darimana?" Tanya Densha yang ragu untuk melakukannya.
"Aku melihatnya di komik, ayolah coba saja! Siapa tahu berhasil"
"Jika keadaannya semakin buruk, bagaimana??"
"Tidak akan!" Moa menggelengkan kepala kuat.
Perlahan, Densha meraih kedua telapak tangan Ryn. Pria itu menuruti semua perintah Moa, lalu dengan hitungan ketiga Densha menarik kedua tangan Ryn.
"Hah...." Kedua mata Ryn terbuka lebar.
Moa menepuk tangannya sendiri, ia senang. Tak di sangka kegemaran nya membaca komik juga bisa membantu di kehidupan nyata.
"Ryn?? Apa yang terjadi??" Densha melepas genggaman tangannya.
"Hiks... Hiks... Hiks...."
Bukannya menjawab, Ryn malah menangis. Gadis itu menangis kencang, seketika itu langsung memeluk Densha yang tengah duduk di depannya. Densha yang sebetulnya merasa risih hanya diam saja membiarkan Ryn melakukan semaunya hanya untuk malam ini.
"Di... Dia..." Ungkap Ryn terbata-bata.
"Bicara dengan benar Ryn!!!"
"Dia mengusirku!"
Densha mendorong tubuh Ryn agar melepas pelukannya. Pria dingin itu beralih menatap kedua mata Ryn dalam-dalam.
"Dia??" Densha mendelik. "Siapa??"
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin itu bukan Fuu ataupun Katrina"
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Aku hafal suara Fuu dan Katrina, itu tidak mungkin salah satu dari mereka" Ryn menundukkan kepala sedih.
"Triton benar! Ada orang lain lagi yang ingin membunuhku" timpal Ryn lagi.
Densha masih kebingungan dengan setiap kalimat yang keluar dari bibir ranum Ryn.
"Aku tak mengerti Ryn! Jadi... Sebenarnya kau bisa atau tidak menyelamatkan Fuu??"
"Aku akan mencobanya sekali lagi" ucap Ryn tenang.
"Hah?? Apa aku harus mengeluarkan darah lagi??"
Densha yang masih merasakan rasa sakit di telapak tangan kirinya tanpa sadar mengusap tangannya sendiri di tempat rasa sakit itu berada.
"Tentu saja! Ayo!" Ryn memasang wajah serius.
Demi Fuu!! - Densha.
"Baiklah, ini..." Densha mengulurkan tangan kirinya pada Ryn. Pria dingin itu menutup kedua matanya rapat-rapat saat Ryn mulai mengambil liontin pisau kecil miliknya.
CRAK!!!
(Suara goresan)
"Aw... Sakit!!" Pekik Densha kesal.
"Maaf..." Ryn mulai mengarahkan telapak tangan Densha agar darahnya menetes tepat di atas darah gadis itu.
"Baiklah! Sudah siap??" Ryn menatap kedua mata Densha.
"Iya...."
Kedua remaja yang nyatanya ayah dan anak itu saling berpegangan tangan, lalu bibir Ryn mulai mengucapkan mantra-mantra yang tak diketahui oleh Densha. Ryn mencoba memasuki pikiran Fuu lagi.
Bersambung!!
Halo, Jangan lupa Like, Favorit, Follow, Komentar dan Rating ya?? 😘 Terima kasih...
baru tahu ad novel sebagus ini tentang mitologi..
kebetulan aku sangat suka mitologi..
maaf ya jarang meninggalkan kesan pd eps🙏
tp fiks aku suka...
tp yg manis2 saja...
tp berharap tdk ad katrina ke 2