Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulat Bulu
Mencari Daddy Bag. 22
Oleh Sept
Rate 18 +
Benci, iri dan cemburu, mungkin itulah yang saat ini dirasakan oleh gadis 21 tahun tersebut. Selama ini Gara hanya perhatian pada dirinya, Gara bahkan tidak pernah dekat dengan wanita lain. Hatinya panas, melihat Kanina.
Tap tap tap
Gendis berjalan dengan cepat, gadis itu langsung berbalik, ia kemudian mencari mamanya.
"Ma ... Mamaaaa!" teriaknya.
Yang dicari sedang berada di sapur, bu Sadewo sedang membuat sesuatu dengan Bibi. Rencananya buat dibawa oleh-oleh besok pas Gendis balik ke kota gudeg tersebut.
"Aduh ... kenapa teriak-teriak. Pelan-pelan Ndis, nanti suaranya serak."
"Maaa! Sebenarnya Kanina itu siapa? Kenapa dia tinggal di rumah ini? Lalu di mana suaminya? Kenapa Mas Gara yang ngantar dia ke rumah sakit?" protesnya.
"Hussst ... Aduh Ndis ... pelan-pelan kalau bicara. Nanti kedengeran orang-orang." Bu Sadewo menghampiri Gendis. Kemudian memegang pundak putrinya tersebut.
"Sini ... sini, ada apa kok marah-marah?" tanya bu Sadewo sambil mendudukan Gendis di atas kursi, lalu ia meraih kursi yang lain dan dusuk di sebelah putrinya itu.
"Kenapa dia tinggal di rumah kita, Ma? Lalu kenapa Mas Gara kelihatan perhatian sama orang itu?" akhirnya Gendis mengutarakan apa yang menjanggal dalam hatinya.
Bu Sadewo nampak berpikir, apa perlu ia menceritakan kejadian yang sebenarnya? Tapi ... Ah sudahlah. Ia akhirnya berbohong saja.
"Istri temennya Mas mu itu, makanya Gara antar dia periksa ke dokter."
"Lalu di mana suaminya?"
"Ada, lagi ada kerjaan di luar pulau. Kasian si Nina, jauh dari orang tua juga. Makanya sementara di sini dulu. Lagian nemenin Mama ngobrol juga. Papamu sudah ngantor pagi-pagi, Mas mu ... tau sendiri sibuknya dia seperti apa. Kalau kamu balik ke Jogya, ya udah ... Mama sendirian lagi."
"Tapi dia bakalan pergi dari rumah ini, kan?"
Gendis sengaja mengeraskan suaranya, sebab ia tahu mereka sudah sampai ruang tamu. Gendis sengaja biar Kanina dengar jawaban mamanya. Jujur, ia kurang suka. Sejak seminggu di rumah, ia perhatikan beberapa kali cara Gara menatap Kanina. Sangat berbeda sekali, pokoknya bukan tatapan biasa.
Padahal Kanina sudah menikah dan tengah hamil, masa Gara mau merebut istri orang? Itulah yang ada dalam kepala Gendis. Dia juga kurang suka sikap Kanina yang terlihat sombong. Masa tidak mau menyapa dirinya, hanya menunduk saat berpapasan. Sombong sekali!!! Protesnya.
Yang terjadi sesungguhnya adalah, Kanina memang berusaha menutup diri. Ia malu, seusia Gendis tapi malah hamil dan tidak ada bapaknya. Andai Gendis tahu, apa yang menjadikan Kanina jadi sosok yang pendiam dan murung. Bukannya malah dikira sombong. Kanina malu, karena itu adalah sebuah aib.
"Kapan? Kapan, Ma? Suaminya akan menjemputnya?" ulang Gendis saat Gara mulai mendekat.
"Menjemput siapa? Siapa yang mau dijemput?" tanya Gara sembari ke dapur dan membuka kulkas. Ia terus saja melirik Gendis meski tangannya meraih botol mineral dari dalam kulkas.
Sedangkan Kanina, gadis itu langsung ke kamarnya. Ia memang tidak suka membaur, lebih suka di dalam kamar. Merenung seorang diri. Atau melihat TV di kamar itu.
"Eh sudah pulang, bagaimana? Sehat-sehat, ka?" Bu Sadewo mencoba mengalihkan perhatian.
"Alhamduliah, semua sehat. Tadi ... siapa yang mau dijemput?"
"Kanina!" celetuk Gendis dengan kesal. Gadis itu kemudian cemberut, memperlihatkan ekpresi tidak suka pada abangnya.
"Kanina? Dijemput siapa?"
"Ya suaminya lah, Mas!" jawab Gendis ketus.
Mamanya langsung menghampiri Gara, "Gar! Tolong ambilin Mama buah mangga. Sepertinya ada yang sudah masak, sayang kalau dimakan codot."
Merasa tidak dihiraukan, Gendis langsung merajuk masuk kamarnya.
"Ada apa dengannya, Ma?"
"Biasa! Cemburu ... paling di ngambek karena kamu keluar sama Kanina. Dan jika Gendis tanya-tanya tentang gadis itu, bilang saja istri temenmu."
"Hah?"
"Jangan kasih tahu, pokoknya jangan."
Gara hanya mengangguk.
"Trus mangganya jadi nggak?"
"Gak usah!" jawab bu Sadewo sambil berlalu.
Gara kini seorang diri, karena sang mama kembali bersama bibi. Karena masih ada keperluan, ia juga pamit pada mamanya.
"Ma! Gara keluar bentar ya."
"Ke mana lagi?"
"Biasa, ke tempat proyek."
"Iya, hati-hati."
***
Di tempat lain.
Kepala Alung hampir pecah seharian ini, baru juga sehari, tapi ia sudah pusing. Sepertinya ia butuh hiburan malam ini. Otaknya sudah kram, ternyata menjadi seperti sang kakak, sangat melelahkan.
Red Box Club
"Tuan, besok ada meeting pagi-pagi, sebaiknya kita pulang."
Alung mengibaskan tangan, seolah tanda ia tidak mau diganggu. Tidak mau seorang diri, ia menghubungi kawan-kawannya. Sayang sekali, hanya satu yang bisa datang. Lainnya sibuk, ada yang sedang balap liar, pesta di club lain dan bersama pasangan masing-masing.
Beberapa saat kemudian
"Hey, Bro! Lama gak kelihatan. Gue pikir lo dah mati!" cetus seorang pria yang kemudian duduk di sebelah Alung.
Alung hanya tersenyum tipis, kemudian menuangkan minuman dalam gelas. Ia memutar-mutar gelas itu, mendekatkan ke wajahnya, menikmati aromanya. Kemudian meminumnya secara perlahan.
"Ke mana anak-anak?" tanya Alung basa-basi.
"Biasa, lagi ada event. Balap morot, lo tumben gak ikut."
Alung menghela napas panjang kemudian menyadarkan kepalanya pada sofa.
"Jangan bilang lo udah insyaf!" sindir Bagaskara sambil bercanda.
"Ish!" Alung hanya mendesis kesal.
Tanpa dipanggil, tiba-tiba seorang wanita muda langsung bergabung dengan mereka. Tidak permisi dulu, wanita muda dengan baju kurang bahan itu langsung duduk di pangkuan Bagas.
"Punya korek?"
Bagas langsung menggeleng sambil senyum.
"Punya rokokkkk?"
Bagas kembali terkekeh, sedangkan Alung, pria itu tersenyum kecut melihat temannya sedang digoda.
"Lalu punya apa?" bisik wanita muda itu sambil tangannya menjalar, berkelana ke mana-mana.
"Lung! Gue cabut dulu, ya!"
Bagas langsung menarik lengan wanita aduhai tersebut. Sepertinya ia akan memberikan apa yang ia punya. Bukan korek ataupun rokokkkk. Apa itu? Lol
Alung yang seorang diri hanya menikmati minumannya sendiri, temannya sudah nyangkut sama ulet bulu.
"Sendirian, Beb!" Ulat bulu yang kedua datang.
Alung bergeming, ia hanya memasang wajah dingin. Sambil terus menikmati minumannya.
"Mau aku temenin?" bisik wanita itu dengan nada manja dan bikin geli. Namun, Alung bagai batu. Sudah ia raba-raba tapi tidak mersepon. "Jangan-jangan dia homrengg!" pikir wanita tersebut.
"Singkirkan tanganmu!" Alung melotot tajam ketika tangan lentik itu sudah memasuki area rawan. Bersambung.