Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mataku tiba-tiba membulat saat mendengarkan apa yang dikataan Mika barusan. Aku berusaha mengumpulkan semua kesadaran yang aku miliki.
Karna aku tidak ingin salah menaggapi perkataan gadis itu kali ini. Aku memilih untuk bertanya sekali lagi.
"Apa maksud kamu?"
"Tidak ada maksud apa-apa kak Nino. Aku sudah bilang sama kaka pada awal kita bertemu, sebisa mungkin kaka harus bisa menghindari Mulya. Jangan sampai terlibat urusan dengannya, atau kaka akan bahaya."
Kini, baru aku sadari, kalau apa yang Mika lakukan barusan itu adalah caranya memgalihkan perhatian Mulya padaku.
Ya tuhan, aku malah telah menuduh gadis ini munafik. Dengan bermesraan dengan Mulya di depan umum. Padahal, Mika melakukan semua itu, hanya demi membuat aku menjauh dari Mulya.
"Maafkan aku Mika," kataku dengam nada sesal.
Hanya maaf yang bisa aku ucapkan pada Mika saat ini. Aku tidak tahu lagi, kata apa yang cocok untuk menunjukkan rasa bersalahku padanya.
"Tidak usah dipikirkan kak Nino, aku melakukan ini hanya karna tidak ingin kaka dan Mulya menimbulkan masalah saja kok."
Kata-kata Mika terlalu sulit untuk aku cerna sekarang. Entah apa yang ia pikirkan sebenarnya, aku juga tidak tahu.
Tapi baiklah, mungkin hal yang paling harus aku pikirkan adalah, bagaimana caranya supaya aku bisa melawan Mulya itu?
Pertama bertemu saja, ia sudah melihat aku dengan tatapan kebencian yang sangat tidak bersahabat. Bagaimana jalan selanjutnya? Mungkin ia akan memusnahkan aku dengan secepat mungkin.
Ya tuhan, aku merasa sangat tidak nyaman untuk melakukan apapun hari ini. Aku tidak ada mood untuk bekerja atau melakukan hal kegiatan di kantor.
Yang aku inginkan hanyalah, pulang dan mengistirahatkan tubuhku di rumah, sambil baring di kamar dan bebar berpakaian wanita di sana.
"Kak Nino, apakah yang kaka pikirkan?"
Sekali lagi, gadis ini membuat aku kaget dengan pertanyaannya.
"Ehm, gak apa-apa kok Mika. Kaka hanya merasa sedikit tidak enak badan saja. Mungkin karna kaka udah lama gak masuk kerja kali yah," ucapku dengan nada yang agak gelagapan.
"Apa kaka mau aku ambilkan kopi kak?"
"Gak usah Mika, aku gak mau kopi. Lagian, aku gak ngantuk kok."
"Kalo air hangat gimana?" katanya lagi.
"Gak perlu repot-repot Mika. Aku gak papa kok, aku baik-baik aja."
"Hmz, kalo gitu, kaka mau istirahat di rumah. Biar aku yang bantu kaka bicara pada Mulya, agar mengizinkan kaka pulang."
Aku melihat wajah gadia ini, Mika tersenyum manis kearahku. Ia terlihat sangat polos, namun aku tidak tahu, sejauh mana kepolosan itu mampu menipu orang lain.
"Mika, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"
"Hmz, mau tanya apa kak? Tanyakan saja, aku akan menjawabnya dengan senang hati."
"Kamu terlihat berbeda hari ini Mika. Kamu terlihat lebih bersemangat dan sangat ceria. Apakah semua itu karna Mulya pacar kamu yang masuk kantor hari ini?" kataku dengan sedikit hati-hati.
Aku merasa, Mika memang agak berbeda hari ini. Ia terlihat sangat hangat dan sangat ceria hari ini.
Bisakah aku menarik kesimpulan, kalau Mika memang bahagia karya Mulya yang masuk kantor hari ini. Atau mungkin ada hal lain yang aku tidak ketahui.
"Kenapa kaka bertanya hal itu? Adakah yang aneh dengan apa yang aku lakukan barusan?"
"Tidak ada, aku hanya ingin tahu soal hubungan kamu dengan Mulya, itu saja. Soalnya, kamu bilang, kamu tidak cinta pada Mulya bukan?"
Seketika, wajah Mika berubah datar tanpa ekspresi sedikitpun. Matanya menatap kosong kedepan layar monitornya.
"Apakah aku salah tanya Mika?" kataku membuat ia sadar dari lamunannya.
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe