Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Status Sosial
Bab 22 Status Sosial
Kalila terus melihat ke arah yang berasal dari sekolahnya. Tidak butuh waktu lama dia akhirnya melihat Akbar dari kejauhan. Kalila pun dengamcepat memalingkan wajahnya dan tertunduk sambil senyum bahagia.
‘Kenapa aku sebahagia ini!’ gumam Kalila.
Berbeda dengan Kalila, Akbar nampak terlihat sangat panik. Sejak tadi Kalila keluar dari ruang guru, pikiran Akbar benar-benar tidak tenang. Dia sangat penasaran dengan maksud Kalila tadi di sekolah. Sampai di halte, Akbar berhenti tepat di depan Kalila. Halte bis hanya ada Kalila di sana, karena bis jam segini baru saja berangkat, sebelum Akbar datang.
Akbar memakirkan motornya dan menghampiri Kalila yang masih duduk dengan mimik wajah yang acuh 'tak acuh.
“La, ayo!” ajak Akbar menbuat Kalila mengerutkan keningnya.
“Kemana?” tanya Kalila. Tanpa menjawab pertanyaan Kalila, Akbar langsung menarik tangannya dan saat sampai di depan motor, Akbar langsung mengenakan helm pada Kalila. Sejak tadi Kalila hanya diam pasrah.
“... naik!” titah Akbar dan Kalila pun langsung naik ke atas motor bebek gurunya itu.
Setelah Kalila naik ke atas motor, Akbar langsung melajukan motornya. Kalila nampak heran kenapa Akbar tidak melewati jalan menuju rumahnya. Badan Kalila pun sedikit maju untuk bertanya pada Akbar.
“Kak, mau kemana?” tanya Kalila yang berbicara di samping telinganya.
“Nanti.juga kamu tahu!” jawab Akbar dan membuat Kalila diam seketika.
Perjalanan cukup lama dan akhirnya keduanya sampai di depan cafe yang cukup menarik dari luar. Kalila pun turun di susul dengan Akbar. Dia pun membuka helm Kalila sambil menatap wajahnya tersenyum kecil. Akbar pun berjalan masuk ke dalam cafe itu dan diikuti Kalila di belakangnya.
Sengaja Akbar memilih tempat di luar ruangan yang berada di belakang cafe. Ternyata cafe itu sangat besar di belakangnya dengan menggunakan konsep taman. Karena ini siang hari, tempat duduknya pun masih dihiasi payung besar di setiap meja. Akbar memilih tempat duduk yang berada di pojokan cafe dekat taman bermain anak-anak.
“Ayo duduk!” ucap Akbar sambil menarik tangan Kalila, karena sejak tadi gadis cantik itu hanya berdiri menatap Akbar dengan tatapan serius. Kalila pun terpaksa duduk di hadapan Akbar.
Sebelumnya, Akbar memesan minuman dan dessert yang terkenal di cafe itu. Setelah memesan, Akbar menatap Kalila sambil tersenyum kecil membuat dia merasa heran.
“Ngapain sih ke sini?" tanya Kalila ketus.
“La, maafin aku ya!” ucap Akbar yang kini nampak serius.
“Buat apa?” tanya Kalila masih dengan nada yang ketus.
“Permisi Kak, ini minuman dan makanannya,” ucap pelayan cafe sambil menyimpan pesanan di atas meja. Akbar hanya mengangguk tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
“Di minum dulu, La!” titah Akbar.
“Kakak mau apa sebenarnya?” Akbar meminum minumannya terlebih dahulu dan dengan ragu-ragu dia menggengam tangan Kalila yang ada di atas meja, membuat gadis cantik itu seketika kaget.
“La, maafin aku yang selama ini selalu membuat kamu menderita ya! Aku tahu kalau aku bukan orang yang pemberani dan terkesan suka mengantung perasaan orang lain. Maaf, aku membuat kamu semalam sampai tidak bisa tidur karenaku! La, selama ini aku mencoba menahan perasaan aku padamu. Tapi, semakin aku menahannya, semakin hati aku sakit. Terlebih saat melihat kedekatan kamu dengan Danes. La, sejak dulu sampai sekarang, perasaan aku sebenarnya tidak pernah berubah. Aku mencintai kamu, sangat menyuaki dirimu. Mungkin aku egois sekarang, mengungkapkan perasaan ini, setelah dulu menolak kamu. Tapi sungguh, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku bicara seperti ini memberanikan diri dan membuang rasa minder aku yang merasa tidak pantas menjadi pasangan kamu, karena aku hanya orang yang sederhana dan kamu ....” Kalila langsung menarik tangan tangannya dan beranjak dari tempat duduknya.
Sambil berjalan keluar, Kalila sudah 'tak kuasa menahan tangisnya. Akbar menyimpan uang di atas meja dan segwra menyusul Kalila yang sudah jauh keluar.
“Mbak, saya sudah simpan uang di meja dan kembaliannya ambil saja,” ucap Akbar dan dengan cepat menyusul Kalila.
“La! Kalila, tunggu!” Akbar akhirnya berhasil mengejar Kalila dan menarik tangannya sampai Kalila menghadap ke dirinya.
“La, maafkan aku! Apa aku melakukan kesalahan.” Kalila hanya tertunduk dan masih menangis.
“... La, maaf kalau kata-kata aku membuat kamu sakit hati, aku ....”
“Kenapa? Kenapa kamu terus membuat aku berharap padamu dulu? Kamu tahu bagaimana aku berusaha mengubur rasa cinta aku buat kamu? Selama tiga tahun aku berusaha membuang rasa ini, walaupun sangat sulit, tapi aku tetap berusaha setiap harinya. Dan sekarang kamu bilang, kamu menyukai aku sejak dulu dan terpaksa menolak aku, karena status sosial kita? Kamu luar biasa, Akbar!” Kalila benar-benar merasa sakit hati dan kembali membalikkan badannya. Tetapi dengan cepat Akbar menarik tangannya dan memeluk tubuh Kalila.
Akbar tidak peduli mereka jadi pusat perhatian. Dia tidak mau lagi kehilangan Kalila untuk kedua kalinya. “Maafkan aku, La!” ucap Akbar yang tampak menyesal.
Kalila masih menangis menumpahkan semua rasa sakitnya. Akbar membiarkan gadis yang disukainya menangis puas, sambil menepuk bahunya. Perlahan Kalila melepaskan pelukan Akbar sambil mengusap air matanya.
“Udahan nangisnya?” lirih Akbar dan Kalila hanya mengangguk pelan.
“Mau masuk lagi atau pulang?” tanya Akbar sambil merapihkan rambut Kalila yang sedikit acak-acakan.
“Mau, Pulang.” Akbar membuang napasnya, mengangguk dan memakaikan helm pada Kalila. Saat Akbar membalikkan badan untuk mengeluarkan motornya, Kalila menarik baju Akbar membuat dia melirik ke arah Kalila.
“... kenapa?” tanya Akbar.
Kalila masih tertunduk membuat Akbar menundukan wajahnya untuk melihat wajah Kalila. “Aku juga cinta sama Kak Akbar,” lirih Kalila membuat Akbar seketika tersenyum.
“Apa? Aku enggak denger!” goda Akbar. Kalila mengangkat wajahnya dan menatap sinis ke arah Akbar.
“Kita ke taman dulu mau enggak?” Kalila mengangguk tersenyum.
Selama perjalanan menuju taman, Akbar terus menggenggam tangan Kalila.
“Kak, bahaya menyetir satu tangan,” ucap Kalila.
“Aku membawa motornya dengan pelan kok, kamu tenang saja,” jawab Akbar membuat Kalila tersenyum dan semakin memeluk tubuh Akbar dengan erat.
~Bersambung~