JANGAN BOOM LIKE! Kasih jeda 2 atau 3 menit.
Kehidupan keluarga kecil Puspa sangatlah damai tanpa adanya pertengkaran walaupun mereka orang sederhana, Puspa punya keinginan besar untuk merubah nasib keluarganya. Namun, tak ada yang tau mengenai takdir manusia termasuk Puspa sendiri.
Sosok pahlawan yang tak lain adalah Bapak Puspa menjadi perantara dimulainya kehidupannya yang tak lagi damai, ia menghancurkan keluarga kecil Puspa, ia terpikat pada seorang janda bahkan Ibu dan Adik Puspa meninggal.
Puspa bertemu dengan sosok laki-laki cuek dan dingin bernama Arga, namun lagi-lagi kisah hidupnya tidak sehalus dan semulus kertas HVS. Akankah Puspa mampu mencapai kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan?
"Serba salah... Padahal ini rumahku bukan rumahmu. Ganteng sih tapi sombong"
Suasana hening mendominasi ruangan itu. Hanya ada suara sruputan teh yang masih panas.
Puspa sangat canggung. Sementara di luar sana hujan pasang surut (Kayak laut aja😂). Reda, deras, reda, deras.
"Tutup pintunya, airnya nyiprat kesini" Titah Arga
"Baik." Puspa langsung berdiri untuk menutup pintu. Saat akan menutupnya, Puspa berhenti dan menatap Arga
"Bukannya lebih baik di buka saja Tuan Muda. Daripada dapat tuduhan yang aneh-aneh dari warga."
"Kamu ini tidak mengerti bahasa manusia? Tamu adalah raja. Ku bilang tutup ya di tutup" Arga mendengus kesal
Puspa sontak menutup pintu dan fikirannya berkeliaran memikirkan tetangga yang bermulut ember pasti akan mencemooh dan bergosip tentangnya. Tamu laki-laki dan malah menutup pintu, itupun 2 orang lelaki dan 1 perempuan.
"Hujannya makin deras. Menyebalkan" Gerutu Arga. Supirnya hanya tersenyum
"Alhamdulillah"
Arga dan supirnya menatap aneh gadis di depannya ini. Puspa yang merasa jadi pusat perhatian merasa makin tegang. Keringat keluar dari dahinya
"Eee kenapa... Ada yang salah denganku?" Tanya Puspa
" Tentu sangat salah.. Ohhhh aku mengerti.. Pasti kamu bahagia kan di datangi tamu terhormat sepertiku?" Arga tersenyum licik
"Ehhh bukan begitu.. Cuaca apapun patut di syukuri. Kalau tidak ada hujan, bumi akan kekeringan" Puspa kikuk
"Oohhh termasuk badai, topan, ****** beliung dan stunami patut di syukuri."
"Errr ituuuu" Puspa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Ngomong-ngomong, stunami masuk kategori cuaca? entahlah persetan dengan itu semua."
10 menit berlalu.. Hujan masih deras. Entah kenapa bokong Arga masih nyaman saja duduk di kursi itu.
"Kamar mandinya dimana?" Tanya Arga ketus
"Di belakang dapur Tuan Muda."
"Hm"
Arga berjalan seakan-akan ia tau dimana kamar mandinya itu.
"Heh kau ini tidak sopan ya. Harusnya antar aku. Kau fikir ini rumahku yang bisa ku ketahui letak kamar mandinya."
"Ah iya Tuan maaf" Puspa berdiri dan berjalan di depan Arga sembari menunjukkan arah.
"Ribet banget hidupmu. Ini yang Elisa kagumi? Kurasa dia harus operasi mata"
3 Menit kemudian....
Puspa masih berdiri di dekat kamar mandi karena ia tidak ingin mendapat omelan lagi.
"Sedang apa kau disini, mau mengintipku? Memalukan."Arga meninggalkan Puspa yang masih berdiri di depan kamar mandi.
"Dalam sekejap aku merasa ini bukan rumahku" Bathin Puspa
"Hujan sudah reda Tuan Muda..." Lapor supir
"Ya. Kita pulang. Mataku sakit melihat rumah sempit ini." Puspa merasa geram. Seenak jidat ia berkata begitu.. Ingin rasanya Puspa memasukkan air mendidih ke dalam mulut pedas milik Arga
"Oh ya, kalau kau butuh pekerjaan, ya untuk merenovasi rumah sempitmu ini, kau bisa datang ke rumahku untuk bekerja menjadi pelayan. Jika beruntung kau bisa jadi pelayan pribadiku." Arga merapikan baju dan rambutnya
Telinga Puspa melebar, pekerjaan, ia ingin itu. Tapi haruskah jadi pelayan?.
"Tapiii bagaimana saya bisa mengetahui rumah Tuan Muda?" Arga menyodorkan kartu berisikan alamat rumahnya.
"Lumayan jauh dari sini" Puspa melihat alamat yang tertera.
"Terima kasih Tuan, Oh iya nama Tuan Muda?"
"Arga, panggil saja itu. Oh tidak panggil aku Tuan Muda. Arga tersenyum bangga
"Oooh nama saya Puspa, Tuan" Puspa sedikit membungkuk sopan karena di hadapannya ini adalah keturunan holang kaya yang bebas berbuat hal apapun. Kalau ia tidak sopan bisa jadi ia merobohkan rumah kecilnya ini.
"Tidak penting namamu, dan aku sudah tau namamu" Arga bergegas meninggalkan rumah Puspa tapi terlebih dahulu ia meneguk habis Teh nya.
"Terima kasih Tuan.." Puspa menunduk terpaksa saat Arga mulai memasuki mobilnya.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, Puspa menutup pintu dengan keras.
"Hhuuffttt akhirnya.. Tersiksa sekali dengan kehadirannya.. Tapiii pekerjaan ini... Apa ku terima saja ya? Tapi apakah aku akan kuat? tidak lebih 1 jam bersama dia saja sudah membuat tensiku seperti naik rasanya. Apalagi menjadi pelayan di rumahnya.. Tapii.. Kalau ku tolak, aku dapat darimana uang ya. Tapi... Ah kebanyakan tapi aku ini. Sebaiknya kau mandi dan makan Puspa..." Puspa bermonolog sendiri.
kau tega menyakiti kami pengagum sosok Arga,,,,😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
tega menyakiti perasaan sahabatnya sendiri,,,
...............hati Bapak Puspa sering beregup
Thor, itu ☝️☝️
Seperti ABG yang sedang..................
...............hati Bapak Puspa sering berdegup
bukan beregup