Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dusk Till Down
Sebelum lanjut baca kalian bisa muter lagu yang berjudul Dusk Till Down dari Aak Zayn ft Sia karena pada episode ini ngena banget sumpah.
...****...
Langkah gontai ini menemaniku keluar dari ruang operasi pengangkatan tumor di kepala pasien yang baru saja kujalani. Entah ini terbilang operasi yang sudah ke sekian kalinya bagiku, dan jangan ditanya lagi sudah berapa nyawa yang pernah Tuhan tolong melalui tangan ini.
"Dok, istirahatlah! sejak kemarin malam Anda belum beristirahat sama sekali."
Ku tengok pria yang berbicara santai padaku saat kami berdua berada di wastafel tepat di samping ruang sterilisasi. Kutatap pria yang berumur lebih muda dariku itu. Dia adalah salah satu asisten dokter yang membantuku melaksanakan tugas yakni operasi pengangkatan tumor pada otak wanita paruh baya yang menjadi pasienku.
Sebagai seorang dokter, sudah menjadi tugasku untuk membantu seseorang yang memerlukan bantuan medis. Salah satunya wanita yang menjadi pasienku hari ini.
"Iya, aku akan ke lantai empat!" jawabku, lalu menoleh dari pandangan sebelumnya.
Pria muda itu pasti sudah hafal kebiasaan yang sering kulakukan. Riyan merupakan asisten yang sering menemani pekerjaanku ketika aku mulai pindah kerja ke tempat ini. Meski belum lama mengenalnya, aku berpikir bahwa Riyan adalah orang yang baik.
"Riyan, apa aku bisa bertanya padamu?"
"Boleh, apa itu dok?"
Bagaimana caraku memulai pertanyaan ini? Aku sadar umurku sudah tak muda lagi, sangat memalukan bila harus membahas masalah ini dengan Riyan yang notabenenya masih sangat muda daripada aku. Bila tak salah taksiranku, umur Riyan lebih kurang umur dari Andrian.
Argh ... dokter muda itu kini menjadi sainganku dalam memperebutkan perhatian dari Della. Wanita yang kutahu hingga kini masih tetap membenci diriku. Andrian merupakan sandungan dalam perjalanan masa depanku nanti.
"Katakan saja dok, jangan sungkan padaku!" Riyan menatapku seakan ingin menyentuh perasaan kalut ini. Meski aku masih enggan membagi keluh ini padanya.
"Kamu pasti memiliki kekasih bukan? Apa yang akan kamu lalukan bila kekasihmu marah padamu?" Ku beranikan diri ini untuk membagi kegundahan ini pada Riyan, junior yang selalu membantuku.
"Aku akan menjelaskan padanya dengan kasih sayang! bila masih belum cukup, aku akan memeluknya agar ia mau menerima permintaan maaf dariku."
Penjelasan dari Riyan tadi cukup terasa berat untukku. Aku tak yakin wanita itu akan mau mendengarkan apa yang ingin kujelaskan padanya. Aku juga tidak terlalu percaya bila wanita yang kumaksud itu akan bersedia bila kupeluk.
"Oh, terimakasih atas saran dari kamu!"
Mendengarkan saran dari Riyan tak menyingkir gundah di dalam benakku, aku semakin takut. Takut bila ia akan lepas lagi dari genggamanku.
Karena aku telah membuat kedua manik berwarna hitam itu dialiri air mata lagi. Sepasang iris itu kembali berlinang karena kecerobohannya dariku. Sungguh bodohnya, aku sangat bodoh!
Tak terhitung berapa kali aku mengobati pasienku, namun aku tak bisa mengobati penyakit dari wanita yang hingga kini mengisi relung jiwaku.
Aku melangkahkan kaki ini meninggalkan Riyan menuju ruang kerjaku di lantai empat. Ruangan itu memang dikhususkan untuk diriku. Untuk jajaran direksi sekaligus dokter spesialis di rumah sakit ini, aku memiliki hak istimewa yang ditujukan untukku.
Kurasa bukan hanya pasienku saja yang merasakan nyeri pada bagian kepala mereka, namun aku juga merasa kepalaku berdenyut bila mengingat akibat apa yang telah ku perbuat pada Della.
Aku duduk menyangga kepala ini menggunakan kedua tanganku, pikiranku kacau bila teringat semua hal yang telah ku perbuat pada wanitaku. Bahkan efek dari kebodohan ini membuat Della, nama wanita yang bayangannya tak pernah enyah dari benakku memutuskan untuk pindah rumah sakit guna menjalani pengobatan pada penyakitnya.
Bukan hal yang susah bagiku untuk mendapatkan informasi apapun bila masih berkaitan dengan dunia medis. Aku mendapatkan kabar bahwa Della telah mengunjungi salah satu rumah sakit untuk berobat, kebetulan aku mengenal dengan baik dokter yang didatangi oleh Della.
Della beralasan pindah karena biaya pengobatan di rumah sakit ini terlalu mahal. Lalu ia memutuskan untuk pindah ke rumah sakit daerah, lucu sekali! Sangat lucu, wanita itu bercanda padaku. Aku tahu seperti apa watak wanita yang memiliki sifat kepala batu itu, mendapatkan potongan biaya bukan hal yang menjadi masalah pindah rumah sakit. Ingin menghindari aku adalah alasan utama baginya.
Bila bukan karena sifat profesional kerja yang kumiliki, aku pasti akan mengirim Andrian ke tempat terpencil dengan alsan kemanusiaan. Ah andai wanita itu masih sendiri! mungkin aku tak akan setega ini pada orang lain meski dia sainganku.
Aku tahu dalam hidup, memang dihadapkan pada banyak pilihan. Kehidupan yang kujalani sejauh ini pada dasarnya merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang pernah kuperbuat dahulu.
Sebagai manusia, aku tak selalu bisa membuat keputusan tepat, kendati sudah melakukan pertimbangan. Hal itu dapat membawa tubuh ini ke dalam jurang penyesalan.
Berkali-kali pula aku mencoba meminta maaf padanya dengan cara yang tak biasa, tapi apa hasil yang kudapat? Aku mendengar bahwa Della selalu membuang barang yang kuberi untuknya. Harus dengan cara apakah agar ia bersedia membuka kembali hatinya hanya untukku.
Pergi meminta maaf langsung seperti apa kata Riyan mungkin salah satu cara agar Della bersedia menjeremba dan menerima kembali diri ini dalam hatinya. Aku harus pergi menemuinya hari ini dan menjelaskan apa yang selama ini selalu mengganggu pikiran serta daksaku. Aku tak ingin semakin jauh terjerembab pada kelamnya buana.
Ingin sekali rasanya ku memutar waktu dan mengulang kisah indah kita, agar aku mampu menghapus semua bercak noda yang pernah kutorehkan pada hatimu nona. Namun aku bisa apa? Keras hatimu tak mampu ku sentuh meski itu sekali saja.
Aku juga ingin mengulang waktu, agar aku bisa membuatmu selalu bahagia bersamaku. Aku ingin kembali ke masa itu, agar tak ada lagi air mata dan baunya noda itu. Kasihku, begitu kokohnya tembok di hatimu hingga tak mampu ku jangkau.
...****...
Just tryna be in this
Tell me, are you too?
Can you feel where the wind is?
Can you feel it through
All of the windows
Inside this room?
'Cause i wanna touch you baby
And i wanna feel you too
I wanna see the sunrise
On your sins just me and you
Light it up, on the run
Let's make love tonight
Make it up, fall in love, try
But you'll never be alone
I'll be with you from dusk till dawn
I'll be with you from dusk till dawn
Baby, i am right here
I'll hold you when things go wrong
I'll be with you from dusk till dawn
I'll be with you from dusk till dawn
Baby, i am right here
...🍁🍁🍁🍁...
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻