NovelToon NovelToon
Asmara Anastasya

Asmara Anastasya

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:69.2k
Nilai: 5
Nama Author: Adzana Raisha

Bahagia. Satu kata, sarat makna yang belum pernah dikecap oleh seorang Anastasya. Berkubang dalam lara, hingga gadis itu lupa akan arti bahagia.

Kisah ini bagian dari Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ku Panggil Kau 'Tasya'

Sepanjang menyusuri lorong apartemen, Inces tak hentinya mengoceh. Terlebih saat ketiga sudah masuk kedalam apartemen milik Sarah.

"Hei Ana, bagaimana kau bisa mengenal pria kaya seperti dia?" Entah keberapa kali Inces melempar pertanyaan yang sama pada Anastasya, sementara Maya hanya bisa mengendikan bahu dan memilih menghempaskan tubuh kesebuah sofa, untuk beristirahat.

"Kami bertemu karna ketidaksengajaan," jawab Anastasya ringan.

Inces pun dibuat terperangah. Benarjah jika Anastasya tak tau akan identitas pria itu sebenarnya.

"Ya tuhan Ana, kau memang kampungan, tetapi di kampung apa kau tak pernah membaca koran atau pun televisi?" Inces mengeleng tak percaya.

"Hei, sudahlah," potong Maya bersikap menengahi. "Jangankan Ana, aku saja tak tau kemana arah pembicaraanmu." Gadis itu menuang minuman segar yang baru saja di sajikan oleh Bi Atun kedalam gelas, lantas meneguknya. Sensasi segar langsung menyapa tenggorokan yang kering kerontan.

"Dasar kudet." Berkacak pinggang, Inces menatap kedua gadis yang terduduk di sofa. Memandanginya bergantian dengan pandangan tajam.

"Pria tampan itu adalah putra tunggal keluarga Wiratama. Memang sih, dia baru saja datang ketanah air selepas beberapa tahun menempuh pendidikan di negara tetangga. Akan tetapi, aku masih ingat betul dengan parasnya, dan aku tidak salah lagi. Dia pasti Rangga Wiratama. Putra dari Sofyan Wiratama, dan apa kalian tau? kompetisi model yang kini sedang kau ikuti, Ana, adalah Agensi model yang dimiliki oleh Wiratama group, yang artinya adalah masih milik dari pria tampan yang kita temui tadi," papar Inces panjang lebar.

"Sebentar, sebentar. Maksudmu, pria tampan itu putra tunggal keluarga Wiratama yang cukup terkenal di ibukota itu?" Maya mengurai pernyataan sang sahabat.

"Yap, betul," sambar Inces secepat kilat.

Anastasya sendiri masih mencerna kalimat panjang lebar yang terlontar dari bibir Inces, sementara memori otaknya memutar rekaman beberapa peristiwa yang tanpa sengaja mempertemukannya dengan sosok pria muda yang bernama Rangga.

"Hei, Ana. Kenapa kau masih diam saja? Atau jangan-jangan kau sudah lupa jika pernah bertemu dengannya? Ya tuhan, bodoh sekali kau Ana," rutuk Inces dengan menahan rasa geram. Terbukti dengan giginya yang saling bergemeletuk.

Anastasya hanya tersenyum hambar.

"Sudahlah, dia tak terlalu penting. Yang harus kita fikirkan sekarang, bagaimana kita mempersiapkan babak final lusa. Aku juga ingin bicara langsung pada Kak Sarah. Berterima kasih, juga mengucapkan selamat." Anastasya coba mengalihkan pembicaraan.

Benar-benar diluar dugaan. Setelah melakukan penyeleksian. Memangkas finalis berjumlah ratusan orang hingga menyisakan dua puluh besar finalis, Anastasya cukup berbangga sebab tergabung dalam nama peserta yang berhasil lolos dan berhasil menuju tahap selanjutnya.

Tak ingin macam-macam. Sudah masuk ketitik ini pun Anastasya sudah cukup bangga, hingga tak masalah jika ia harus gugur dan tak mampu bertahan. Akan tetapi, takdir berkata lain, Anastasya tersebut di dalam nama finalis yang memasuki babak final bersama empat finalis berbakat lainnya. Sungguh diluar dugaan. Hingga Anastasya mengira, jika semua hanya mimpi belaka.

"Ah ya, benar juga." Kali ini, inces dan Maya ikut berfikir. Keduanya harus kompak bekerja keras, mengerahkan semua kemampuan guna menyongsong keberhasilan Anastasya menuju puncak.

Anastasya memang tak membayar keduanya sepeser pun. Akan tetapi, Sarahlah yang merogoh kocek dalam, namun tanpa sepengetahuan Anastasya.

"Kita bicarakan ini setelah Sarah pulang," ucap Maya.

Inces mengangguk setuju.

"Memang, di mana dia sekarang?" tanya inces.

Maya berdecak sebelum menjawab pertanyaan sang sahabat.

"Memang kau fikir kemana lagi. Aku kira pemotretan sudah selesai, dan bisa dipastikan bersama siapa Sarah saat ini."

Jawaban Maya membuat Inces menghela nafas dalam. Diam-diam Anastasya mengamati ekspresi wajah dua orang yang tengah bersamanya saat membahas tentang Sarah.

Iya, benar. Di mana Kak Sarah sebenarnya sekarang. Terlihat sangat jarang berada di rumah, apa mungkin dia menginap di suatu tempat? Ah sudahlah. Itu bukan urusanku.

*****

Untuk kali pertama Anastasya keluar Apartemen tanpa ditemani siapa pun. Kehabisan stok pembalut dan beberapa barang kebutuhan pribadi membuatnya mau tak mau harus keluar sendiri, mengingat bi Atun tengah sibuk membersihkan kamar milik Sarah.

Setelah beberapa kali keluar masuk bersama Inces dan Maya dengan menggunakan lift, kini gadis itu mulai faham dan tak lagi kebingungan.

Pintu lift terbuka. Selepas beberapa orang keluar, kini gadis itu mulai melangkah memasukinya. Di tekannya satu digit angka, menuju lantai dasar. Pintu lift pun perlahan hendak tertutup, namun dengan cepat sesosok tubuh menyusup masuk kearah pintu yang hampir tertutup separuh.

Brak

Anastasya terkesiap. Tubuh seseorang itu bahkan nyaris menubruknya.

"Maaf," ucap seseorang itu dengan nafas terengah. Kedua tangannya tampak menahan tubuhnya agar tak menghimpit Anastasya yang membentur tembok lift.

Anastasya terdiam. Akan tetapi pandangannya tertuju pada sepasang netra elang yang juga tengah menatapnya.

Posisi keduanya hanya berjarak satu jengkal, dengan wajah saling berhadapan. Tak ingin jika sang pria berulah macam-macam, gadis itu lekas mendorong tubuh seorang pria yang nyaris menghimpitnya.

"Ma-maaf, aku benar-benar tak sengaja." Rangga hanya bisa meminta maaf, saat mendapati gadis itu tengah menatapnya tajam.

"Tidak apa-apa," jawab Anastasya seraya memposisikan tubuhnya untuk menjauh. Terlebih saat lift mulai berfungsi, ia menggeser tubuhnya hingga sisi keujung lift, dan enggan berdekatan dengan sosok pria yang tengah bersamanya.

Rangga hanya bisa menghela nafas dalam. Andai saja ia sampai satu menit lebih cepat, tentu tak seperti ini kejadiannya. Berujung salah faham, dan gadis itu menganggap jika dirinya adalah pria kurang ajar yang gemar memanfaatkan keadaan.

Sunyi, senyap.

Kedua orang dalam ruang berjalan itu memilih bungkam. Anastasya ketakutan, sementara Rangga dipenuhi penyesalan.

"Maaf, bukan maksudku untuk melakukan hal tak baik kepadamu, hanya saja aku sedang terburu-buru, hingga akhirnya justu menabrakmu," sesal Rangga dengan memberanikan diri untuk menatap wajah Anastasya, seolah meminta pengampunan.

Gadis yang sempat tertunduk itu, kini mendongak.

"Tidak apa, tuan. Saya menutup pintu lift, karna tak melihat keberadaan anda. Maaf, jika harus membuat tuan terjatuh." Gadis itu mengulas senyum simpul.

Rangga terpesona. Dalam jarak sedekat ini, ia dengan jelas betapa manisnya wajah Anastasya. Bumi seolah berhenti berhenti berputar. Pria tampan itu tertegun, memandang teduh wajah gadis yang tengah bersamanya.

"Tuan," panggil Anastasya yang mana membuat Rangga mengerjap sadar.

"I-iya." Rangga tersenyum kikuk. Ia lantas menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berusaha mengusir rasa canggung.

Lift terhenti, sementara pintu pun terbuka. keduanya menarik diri untuk keluar. Rangga tak mampu menyembunyikan rona bahagia saat keduanya melangkah beriringan.

"O ya, kalo boleh aku tau, siapa namamu?"

Menatap pria disampingnya, Anastasya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan sang pria.

"Anastasya, tuan." Gadis itu menghentikan langkah, dan mengulurkan tangan kanan kearah Rangga, sebagai lambang perkenalan.

Langkah Rangga pun terhenti. Diluar dugaan, gadis manis itu bahkan mengulurkan tangan.

"Namaku, Rangga. Sungguh senang berkenalan dengan gadis seperti dirimu."

Gadis itu lekas melepaskan jabatan selepas beberapa detik.

"Lalu, nama panggilanmu?" Rangga seolah memanfaatkan momen yang ada. Dengan seperti ini, setidaknya ia bisa mengorek jati diri Anastasya tanpa perantara orang lain.

"Ana, semua orang memanggilku Ana."

Muncullah satu ide dibenak Rannga yang tak pernah terfikir sebelumnya.

"Em, bagaimana jika aku memanggilmu, Tasya. Ya, Tasya. Nama yang manis bukan? Tentunya, semanis dirimu," goda Rangga bak perayu ulung yang gemar mengobral pujian.

"Tasya?" Gadis itu terlihat berfikir. Mungkin baginya terdengar Asing. Mengingat ia hanya dipanggil dengan sebutan Ana selama belas tahun lamanya.

"Kenapa? Apa kau keberatan jika aku memangilmu demikian?"

Gadis itu spontan menggeleng.

"Ti-tidak, tuan. Saya tidak keberatan, lagi pula itu juga bagian dari nama saya."

Rangga tersenyum senang. Keduanya pun kembali melangkah dan terpisah di area parkir apartemen. Sejujurnya Rangga ingin mengantar gadis itu lebih dulu kearea pusat perbelanjaan, akan tetapi dengan lembut gadis itu menolaknya.

Pria itu hanya bisa pasrah. Lagi pula, ia tak berhak untuk memaksa. Kelak, pasti bukannya rasa simpati yang ia dapat, melainkan ketidaknyamanan.

Lengkung sedikit tebal milik Rangga tak henti mengulas senyum. Dengan mengemudikan mobil sport berwarna hitam miliknya, ia menyisir jalanan kota dengan hati riang. Setidaknya, dengan bertemu Anastasya, membuat semangatnya bekerja timbul begitu saja.

"Oh Wiratama Management, aku datang," gumam Rangga saat menuju gedung agensi model keluarganya.

Bersambung...

1
Endang Werdiningsih
jgn mau ana,,,sarah sih ngaja mau menjebak ana..
Sarah S
lanjut dong jadi penah saran kelanjutan nya
Zainab ddi
💪💪💪selalu bekarya 😍😍😍
Zainab ddi
😭😭😭 akhir ceritanya yg menyedihkan
Zainab ddi
😭😭😭sedih banget ya
Zainab ddi
ceritanya menarik
yesi yuniar
sama2 kakak
tetap semangat utk terus berkarya 💪💪😍😍😍
yesi yuniar
aduh kakak... jangan bikin anastasya kehilangan utk ketiga kalinya 😢😢😢
yesi yuniar: tp memang semua akan kembali pada pemilik-Nya, tp kadang kita jg ingin egois 🤭🙏
total 1 replies
yesi yuniar
selamat datang nathasya 😍😍😍🙈
yesi yuniar
😆😆😆 kiara pingin dimanja seperti zara
yesi yuniar
selamat anastasya, setelah perjuangan panjang dan kesabaran akhirnya diberikan anugrah terindah 🤗
yesi yuniar
menjauh memang pilihan yg sangat tepat 👍👍
Aida Arifin
mulailah kehidupan baru di sana... kenan buat anstasya bahagia ya...
yesi yuniar
menikah lagi bukan berarti melupakan, tp memang hidup harus terus berjalan dan bukan terus2an terpuruk pada penyesalan masa lalu...
yesi yuniar
akhirnya part antara kenan dan anastasya sudah hadir 🤗🤗🤗
ditunggu kelanjutan kisah mereka 😍😍😍
lielie tamiii
uwuuwwwww..benar2 pasangan serasi
yesi yuniar
sampai sekarang masih begitu terharu dgn ketulusan dan pengorbanan anastasya....
yesi yuniar
ini pertemuannya dengan zara ....
lanjut kak 🙏💖💖💖
semangat 💪💪
yesi yuniar
bersabarlah ana, kebahagiaan pasti akan kamu raih 🤗🤗🤗
makasih up nya kak...tetep semangat 💪💪💪
Efan Zega
kasihan anastasya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!