Muna Hidayatullah
Anak gadis pasangan Betawi yang
karena terbentur biaya
Setelah lulus SMA
terpaksa melamar menjadi seorang OB
di sebuah perusahaan.
Takdir bernasib baik padanya.
Sebab pemilik perusahaan itu jatuh hati padanya.
Simak perjalanan kisah cintanya.
Happy Reading🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : DIA SIAPA?
Mau tidak suka, Muna mencoba untuk bersikap biasa saja di depan Kevin. Berusaha menganggap semua yang ia lakukan adalah masih sebatas hubungan antara atasan dan bawahan saja. Walau dengan panggilan yang terdengar spesial.
Muna sudah menyelesaikan sholat asharnya. Memilih pakaian setelan panjang Bali Baby doll ala rumahan, pilihan Kevin saat mereka belanja bersama minggu lalu. Dengan pakaian itu, tentu Muna merasa lebih nyaman, dan entah ia merasa seolah di rumah sendiri.
Muna tentu tampak segar, setelah sholat dan mengenakan pakaian itu. Muna terlalu asyik di dalam, sehingga ia tidak mendengar jika ternyata di ruang tengah itu sudah ada tamu wanita yang duduk hampir dempet dengan Kevin. Bahkan terlihat membantu Kevin mengancing pakaiannya yang sempat terbuka.
"Dasar mesum." Hati Muna meronta melihat adegan di depannya.
Muna mengangguk kepalanya sedikit, pertanda minta ijin dan hormat pada tamu Kevin yang terlihat cantik itu. Melangkah dengan pelan, menuju dapur untuk merazia bahan apa saja yang dapat ia masak untuk Kevin sesuai permintaannya.
Muna memulai pekerjaan dengan mencuci semua perabotan yang akan di gunakannya. Muna sudah memutuskan untuk membuatkan sop ayam saja, untuk makan malam Kevin.
"Abang... makan bubur atau nasi?" tanya Muna melalui ponsel di tangannya, menghindari obrolan yang mungkin saja mengganggu Kevin dan wanita itu.
"Makan kamu aja, boleh?"
"Muna pulang!!!"
"Prety... aku bolehnya makan bubur dulu atau nasi?" tanya Kevin pada wanita yang sekarang sudah bergeser dari tempat duduknya yang tadi begitu dekat dengan Kevin.
"Bubur boleh, tapi harus sering. Nasi juga boleh asalkan lembek." Jawab wanita itu dengan lembut.
"Nasi aja Mun, tapi dimasak agak lembek." Balas Kevin pada chat Muna tadi.
"Kak..., dia siapa?" tanya Prety setengah berbisik di dekat telinga Kevin karena penasaran.
"Kalo kakak bilang calon istri, percaya ga, Pre...?" Jawab Kevin bahkan lebih dekat lagi ke telinga wanita itu.
Jika tidak ingat akan statusnya yang hanya seorang OB, Muna sesungguhnya sudah ingin menghempas panci yang di pegangnya itu ke atas kepala Kevin. Atau minimal ia lemparlah beberapa alat masak itu, saat melihat kedua insan itu bisik-bisik, so mesra di ruangan tengah itu.
"Sabar Mun...sabar. Salah elu sendiri pan. Yang selalu susah nolak perintah bos yang ga jelas perintahnya ini. Ciih... kesel aye ama sila kedua lagi. Kemanusian, kemanusian. Cuek aja ama dia bisa ga sih aye." Sungut Muna dalam hati sendiri.
"Beneran kak...?" tanya Prety dengan suara yang tidak berbisik lagi.
"Maunya kakak sih, tau dianya mau atau ga sama kakak."
"Cantik... blesteran ya kayaknya."
Kevin menggendikkan bahunya.
"Prety boleh kenalan?"
"Silahkan."
"Kakak boleh mandi ga sih Pre...?" Suara Kevin kini dapat di tangkap oleh indra dengar Muna yang dari tadi so' asyik mulai memasak dengan hati sedikit gusar.
"Jangan dulu, di seka saja. Bentar Prety siapkan, ke kamar yuk." Ajak Prety yang begitu santainya masuk ke kamar pribadi Kevin.
"Dasar mesum...mesum...mesum. Sekali mesum tetap mesum. Awas aja kalo tu orang berani ngajak Muna begituan... aye gibeng pokoknya." Muna terus saja berkhayal memikirkan sesuatu yang membuat hatinya panas sendiri, ga jelas.
Wanita itu tampak sudah selesai membantu Kevin di dalam kamarnya. Kemudian berjalan ke arah Muna yang masih sibuk dengan masakannya.
"Hai...kenalkan aku Prety. Adik sepupu kak Kevin." Sapa wanita itu ramah pada Muna.
Hati Muna mencelos karena malu, semalu-malunya. Akan prasangka buruknya terhadap wanita yang ternyata sepupu Kevin tersebut.
"Maaf tangan aye kotor. Aye Muna, OB di kantor pak bos Kevin." Jawab Muna dengan jujur.
Kata-kata Muna jelas tidak bisa Prety percayai, secara Muna yang bertampang bule itu hanya mengaku dirinya sebagai OB, bukankah tadi Kevin justru bilang. Kalau wanita ini, calon istrinya.
"Haha...ha. Muna suka bercanda ya. Mana ada OB secantik ini. Kalau Muna OB di kantor kak Kevin, Muna juga kenal dong sama kakak kandung Prety...?" Pancing Prety yang tidak percaya dengan pengakuan Muna.
"Siapa?" tanya Muna penasaran.
"Kak Ferdy."
"Oh... Pak Ferdy. Ya, Muna kenal banget lah. Bos Muna semua tuh." Jawab Muna yang suasana hatinya sudah mencair dari sesak dadanya, akibat kedekatan Kevin dan Prety tadi.
"Mun, masih lama? Abang sudah lapar lagi nih." Kevin membaurkan dirinya mendekati dua wanita yang berada di dapurnya.
"Nasinya 10 menit lagi bang. Sopnya udah matang. Tapi... cuma ini yang Muna masak." Jawab Muna.
"Iya ga papa. Kak Kevin juga belum boleh tuh makan, makanan yang di goreng dan tumisan. Baiknya, rebusan dulu. Lambungnya masih meradang." Jelas Prety tanpa di minta.
"Muna, ini Prety. Adiknya Ferdy. Dia ini seorang dokter. Cuma terlalu sibuk, sejak tadi malam sudah aku hubungi untuk memeriksa keadaanku. Tapi, sekarang baru bisa datang. Keburu parah kan akunya." Ujar Kevin sambil merangkul bahu Prety terlihat sangat sayang.
"Kakak, obatnya ga pernah di stok. Keburu habis kan." Jawab Prety berkata sambil meraba kening Kevin.
"Makanya nikah kak, biar ada yang ngurusin." Timpal Prety lagi.
"Iya... bentar. Tunggu Muna mau di ajak nikah. Ini masih training jadi istriku. Mau kan Mun?" Tiba-tiba saja Kevin memberondong Muna dengan kalimat yang sulit Muna cerna.
"Mpok Prety, selain obat sakit lambungnye. Kasih juga obat buat otaknye si abang. Tuh, kayaknye ikutan sakit deh." Jawab Muna dengan cueknya.
Membuat Prety takjub dengan kata-kata yang baru saja di dengarnya. Sungguh selama ini, yang Prety tau wanita yang mendekati Kevin adalah wanita yang penuh wibawa, menjaga sopan santun juga pandai bermain peran agar tampak manis di depan Kevin. Tapi tidak dengan Muna. Ia tampak biasa, blak-blakan bahkan terlihat tidak sedang menjaga imej nya.
Kevin hanya tertawa garing mendengar ucapan Muna.
"Bang... nasinya udah mateng. Muna sudah boleh pulang ya. Udah hampir sore ini." Pamit Muna pada Kevin yang sesungguhnya masih ingin berlama-lama dengan Muna.
"Boleh tapi, besok pagi ga usah ke kantor ya. Muna langsung ke sini aja." Pinta Kevin sambil berjalan di belakang Muna.
"Ngapain?"
"Sarapan abang apa buat besok? Siapa yang buat biasanya?" Sebenarnya Kevin masih mau Muna lama di apartemennya.
"Besok Muna buatkan di rumah aje ye bang. Tapi Muna cuma ngantar, terus ke kantor. Oke." Jawab Muna yang sudah mengunci dirinya di kamar untuk segera mengganti pakaiannya dengan yang ia kenakan tadi saat datang.
Kevin tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dan obrolan itu tidak luput dari tatapan heran dari Prety yang seolah tidak di anggap ada di antara mereka.
Muna keluar kamar, kembali dengan pakaian kerjanya tadi pagi. Sekilas memandang Kevin yang tampak masih menunggu ia keluar dari balik pintu.
"Besok pagi-pagi ya Mun."
"Iya... jam 6 Muna udah nongol di mari deh bang. Permisi, mpok Prety. Aye pulang duluan ye... babay" Pamit Muna dengan ramah.
"Kak Kevin... serius. Dia siapa sih?" Rupanya Prety masih bingung akan status Muna.
Bersambung...
Naah... besok Muna nongol lagi
Jempol reader apa kabar??
Nongol juga dong pastinya
Lopeh buat klean semua ya readerkuh yang setia. Beserta komen yang semakin bikin aku semangat 💪💪
zyan bkn sie?
itu mata asli pak bozz.. bkn lensa kontak... elaaahhh🤣🤣
.. Ma nyak...😁😁😁