NovelToon NovelToon
Senandung Impian

Senandung Impian

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:7.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: ARyanna

Menceritakan seorang gadis yang berjuang dalam keterbatasan. Berusaha meraih impian juga citanya yang terhalang sebab keadaan.
————————————————————

Ayu Andhini itulah namaku. Aku kelahiran Solo, keturunan pribumi dengan ciri hidung berukuran minimalis, kulitku tak seputih para model iklan di televisi namun terkesan berwarna eksotis, khas gadis jawa.

Penampilanku sungguh terkesan biasa, sebab untuk tampil luar biasa sungguh pasti butuh dana, sedangkan aku saja terlahir dari keluarga sederhana.

Usiaku kini menginjak remaja, masa puber yang sedang ingin tahu segalanya, termasuk ingin mengenal apa itu arti cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Hujan di malam hari ini awet, dari tadi menunggu di warung tenda tak juga kunjung reda, akhirnya Pak Akram memaksakan diri tetap memacu motornya menerobos hujan untuk mengantarku pulang.

Hampir tengah malam kami tiba di tempat kos, dan kulihat ibuku sedang menungguiku di teras.

"Maaf Pak merepotkan dan terimakasih telah mengantarkan saya sampai rumah," ucapku kala turun dari motornya.

"Ya sudah sana masuk," ucap Pak Akram dan aku berlari menuju teras. Kulihat kini Pak Akram mengangguk memberi salam pada Ibuku seraya berkata, "Kalau begitu saya permisi dulu Bu."

"Iya nak terimakasih sudah mengantar Ayu sampai rumah," ucap Ibuku.

"Iya Bu sama-sama. Assalamualaikum," ujar Pak Akram pamit kemudian perlahan memacu motornya hingga keluar dari pekarangan kos.

Ibu bernafas lega kemudian mengajakku untuk masuk kamar kos.

"Ayu segera ganti baju dulu, nanti masuk angin," perintah Ibuku kala aku membongkar barangku dari dalam tasku, terutama ingin mengambil ponselku dari dalam sana, sebab aku berniat ingin menghubungi Sandi.

"Iya Bu," sahutku dan aku menggeletakkan ponsel yang berada ditangan ke atas meja dan beranjak mengambil pakaian bersih untuk ganti.

Usai aku membersihkan diri dan berganti pakaian kini aku merebahkan diriku diatas kasur, mencoba membuka ponselku. Kulihat pada pesan lampau milik Sandy terdapat tulisan online, segera aku mengetikkan pesan padanya untuk menyampaikan maafku padanya.

To: Sandy

Apa kamu masih belum tidur?

Sandy maaf untuk yang tadi, Pak Akram menawarkan bantuan saat aku hendak ingin pulang dan aku tak enak untuk menolaknya. Dan lagi, aku baru saja sampai rumah soalnya tadi terjebak hujan di jalan.

Akupun segera mengirim pesan itu, berharap Sandy segera membalasnya. Sebab jujur saja aku merasa tak enak hati padanya, seengaknya dengan aku berujar kata maaf dia mau memakluminya dan lagi bila dipikir-pikir kalau aku pulang bersama Sandy, dia akan kerepotan kehujanan dan harus menempuh jarak bolak-balik untuk sampai rumah.

Aku menunggu cukup lama namun pesanku tak kunjung juga dibalas olehnya. Apa mungkin dia sudah tidur, batinku.

Tapi setelah ku cek pesanku sudah ada tanda dua centang berwarna biru, kan itu artinya sudah dibaca olehnya tapi kenapa tidak kunjung dibalas," tanyaku dalam hati.

Karena rasa lelah dan ngantuk yang mendera, aku memilih untuk memejamkan mata, sebab malam juga telah larut dan esok aku diharuskan untuk kembali beraktivitas pergi ke sekolah.

Dalam mata terpejam aku tersenyum, mengingat akan kebersamaanku dengan Pak Akram tadi. Perhatiannya dan kepeduliannya seakan membangkitkan perasaan yang aku miliki padanya.

Mataku terbuka sesaat setelah Ibu membangunkanku dengan mengguncang lenganku. Kulirik jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi, rasanya enggan sekali untuk beranjak dari kasur. Tubuhku masih lelah ditambah rasa kantuk yang luar biasa menyerang hingga tanpa sadar tubuhku ambruk kembali di atas kasur.

"Ayu, sudah siang!" pekik ibu sontak membuatku terperanjat bangun.

"Kenapa balik tidur lagi!" ucap Ibu seraya berdecak. "Lihat itu sudah jam setengah tujuh!" sambung Ibu menunjuk ke arah jam dinding dan seketika saat aku menoleh melihat ke arah jam membuat mataku serta merta membeliak.

"Astagfirullah! Ayu bakal telat!" ucapku terpekik dengan tergesa aku bangkit mengambil keperluanku untuk mandi, bergegas pula aku menuju kamar mandi umum, dan sungguh sial! Ternyata semua bilik kamar mandi sudah penuh.

Rasanya aku sudah mengeram emosi, mau nunggu sudah tak punya banyak waktu lagi. Akhirnya aku memilih menyalakan kran air yang berada diluar untuk mencuci muka dan gosok gigi dengan catatan hari ini terpaksa aku ke sekolah tanpa mandi.

Aku bernafas lega sebab tiba di sekolah tepat waktu pada saat bel berbunyi. Bergegas pula aku menuju kelasku takut-takut bila keduluan oleh guru.

"Tumben telat," ucap Sarah saat aku mengambil tempat duduk di sebelahnya.

"Kesiangan," sahutku berbisik, sebab kini guru telah hadir di kelas kami.

Sarah mengangguk paham dan saat mulutnya terbuka hendak bertanya kini Pak Rozak mulai membuka kelas alhasil dia mengurungkan niatnya untuk bertanya hal lebih sebab jam pelajaran kini mulai berlangsung.

Saat masih jam pelajaran hingga istirahat tiba dari tadi aku celingak-celinguk mencari seseorang yakni Sandy, tapi dari pagi hingga kini aku tetap tak menemui batang hidungnya. 'Kemana dia?' gumamku dalam hati.

"Nyariin siapa sih?" celetuk Sarah membuatku menoleh menatapnya.

"Sandy, apa dia gak masuk?" tanyaku.

"Masuk kok."

"Tapi dari tadi aku gak lihat dia?" sahutku bingung.

"Ada, pagi aja tadi aku bareng sama dia," jawab Sarah seraya mengunyah satu tusuk cilok pedasnya. "Itu!" ucapnya menunjuk ke arah kursi paling belakang.

Akupun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sarah dan benar saja ada Sandy yang duduk di kursi belakang merebahkan punggungnya pada punggung kursi dengan mata terpejam.

"Ngapain nyariin dia?" tanya Sarah menatapku.

"Gak sih, cuma sedikit urusan," sahutku lalu beranjak hendak menghampiri Sandy tapi Sarah mencekal lenganku dan bertanya lagi, "urusan apa?"

Aku memutar bola mataku lalu berujar, "Mau tau banget sih!" dengan gerakan mencubit pipi Sarah gemas hingga dia mengaduh kesakitan dan melepaskan cekalan tangannya.

"Ih dasar!" ucapnya kesal namun aku malah membalasnya dengan ejekan yakni memasang ekspresi muka jelek yang kubuat-buat. Setelahnya aku bergegas menuju ke arah Sandy.

Kini aku mengambil tempat duduk sampingnya dan tentunya memanggil namanya, "Sandy."

Sudah tiga kali aku berusaha namun dia tetap tak menyahut dan saat aku perhatikan ternyata dua kabel headset terhubung pada telinganya.

Aku mendegus. "Pantas saja panggilanku tak di hiraukan," gumamku.

Tanganku pun mengulur guna menarik satu kabel headset miliknya seraya aku memiringkan setengah tubuhku guna memajukan wajahku menatapnya dan saat yang bersamaan mata Sandy kini terbuka, hingga sesaat kami saling bersitatap dalam diam dan tentunya dengan jarak yang sangat dekat.

"Hkkmmm. Ada apa?" ucap Sandy seraya berdehem, sontak membuat mataku berkedip beberapa kali kemudian kualihkan pandanganku darinya dengan kembali memposisikan diri duduk tegak menghadap ke depan.

Kondisi kelas hari ini memang agak sepi sebab masih jam istirahat, jadi jelas tak ada yang menyaksikan interaksi kami tadi. Akupun segera menyampaikan tujuanku padanya.

"Aku semalam mengirimimu pesan, tapi tidak kamu balas," ucapku dengan kedua tanganku saling bertaut diatas meja.

"Oh, aku ketiduran jadi gak sempat balas," sahutnya datar dan kembali memasang kabel headset ke telinganya tapi buru-buru aku cegah. Karena hal itu sontak dia kini menoleh ke arahku dan segera aku berujar, "Kamu marah?"

Dia menatapku sesaat dan berkata, "Marah, untuk apa?"

"Ya marah karena kamu hujan-hujanan berniat buat jemput aku, tapi kamu tahu gak kemarin itu hujannya deras banget dan kalau aku diantar sama kamu bisa-bisa kamu malah yang gak bisa pulang karena kejebak hujan dijalan. Aku aja loh sampai rumah jam dua belas malem dan untungnya kamu gak jadi nganterin aku. Tapi makasih banget ya atas niat baik kamu," ucapku seraya menjelaskan kejadian semalam.

Sandy memang dari tadi menyimak kata-kataku tapi ada ekspresi wajahnya yang tak bisa aku jelaskan, harusnya dia kan bersyukur karena tak kurepotkan tapi kenapa justru sorot matanya kini menampilkan kekecewaan, tanyaku dalam hati.

"Sandy?" panggilku lirih dan dia kini menoleh ke arahku. "Apa aku salah?" tanyaku memastikan apa benar aku telah berbuat salah padanya.

Dia menggeleng lalu tangannya mengulur mengusap kepalaku sejenak, kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Yang terpenting kamu bisa pulang dengan selamat."

To be Continue

1
Sri Suherlinawati
tor, banyak banget bawangnya
Sri Suherlinawati
😭😭😭😭
Fadil21 Nazwa
bagus banggggggeeeeettt thooooor isiiiiinyya 😘😍🥰
GZone Reborn
verita yang sangat bagus
GZone Reborn
sepertinya video zahra di bully
GZone Reborn
thor seharusnya kasih tau urutan novelnya biar bacanya nyambung. akhirnya harus baca novel sebelumnya deh sebelum lanjut 😭
GZone Reborn
mending uangnya titip ke aku yu, buat bayar cicilan pinjol 🤣
Yanni Santoso
dr pak Akram Sandy tp jodoh Ayu Kevin wijaya pemilik hotel dan lagi" CEO kaya raya
Dara
Fiktif tp disajikan seperti kisah nyata ...terimakasih Author yg keren
Dara
Kejam sekali kamu thor...😭😭😭😭
Sarlina Sihotang
bagus mertua ayu menasehati menantunya itu mantap
Sarlina Sihotang
kwkkwk kek aku dulu saat malam pertama halangan kacian kevin lanjut thor critanya bagus tidak membosankan
Sarlina Sihotang
terharu thoor kasian kevin
Sarlina Sihotang
uluh uluh swit bangat tomantisnya
bagus ceritanya lanjut thor sampai punya cucu ayu dan kevin
Sarlina Sihotang
ceritanya bagus thor lanjut
Sarlina Sihotang
wah senang deh kepin ama ayu kepin yg begitu perhatian
Sarlina Sihotang
aku suka ayu sama kevin ajalalah
Sarlina Sihotang
mantap idenya soraya
Sarlina Sihotang
thor kemana semua temannya rico sandy kok hilang
Sarlina Sihotang
bagus ceritanya biasa aku baca novel ketenaran aja dan kekayaan tapi ini critanya sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!