NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Cincin Pusaka dan Kebenaran yang Terkunci Masa Lalu

Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti berabad-abad lamanya. Erlan menyetir dengan kecepatan tinggi namun tetap terkendali, rahangnya terus terkatup rapat seolah menahan segala kekhawatiran yang meluap-luap. Di pangkuanku tergeletak liontin giok berbentuk matahari itu benda yang kukira hilang dicuri orang asing, ternyata disimpan rapi oleh ayah Erlan selama belasan tahun tanpa sepengetahuan siapa pun. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalaku: Apa hubungan orang tua kami dengan rahasia kekuatan waktu itu? Mengapa benda milik ibuku dianggap sebagai kunci yang sama pentingnya dengan pusaka keluarga Erlan?

Sesampainya di rumah sakit, kami langsung diantar ke ruang perawatan intensif. Di sana terbaring Rian kepala pengawal yang selama ini kami percaya tubuhnya penuh luka memar dan jahitan, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal lemah seolah setiap tarikan napas terakhirnya adalah perjuangan berat. Dokter yang merawatnya menyapa kami dengan wajah sedih. "Kondisinya sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah dan mengalami gegar otak cukup parah. Dia sempat sadar sebentar dan terus meminta bertemu Anda, Tuan Erlan, sebelum kembali tak sadarkan diri."

Erlan mendekat perlahan ke tepi tempat tidur, tangannya menggenggam tangan Rian yang terasa dingin. "Aku di sini, Rian. Terima kasih sudah menyelamatkan bukti itu. Kamu tidak bersalah sama sekali. Bertahanlah, kita butuh kamu."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, jari-jari Rian bergerak perlahan. Matanya terbuka sedikit, menatap Erlan dengan pandangan yang kabur namun penuh keprihatinan. Suaranya terdengar samar dan terputus-putus, seolah setiap kata memakan sisa tenaga terakhirnya.

"Mereka... bukan hanya menginginkan harta..." bisiknya lemah. "Cincin... dan liontin itu... jika disatukan... akan membuka gerbang tempat di mana kekuatan waktu itu bersemayam. Paman Dika... hanya patung. Pemimpinnya... orang yang kamu percaya paling selamat, Tuan Muda. Dia sudah menunggu kesempatan ini sejak kakekmu masih hidup."

Rian berhenti sejenak untuk mengumpulkan napas, lalu menatapku sejenak sebelum kembali menatap Erlan. "Hati-hati dengan cincin itu... jangan pernah biarkan mereka memegangnya. Kekuatan itu tidak memihak kebaikan maupun kejahatan... dia memihak pada siapa yang berani berkorban nyawa demi orang yang dicintai. Dan satu hal lagi..."

Suaranya perlahan mengecil, matanya mulai terpejam kembali. Erlan menggoyangkan bahunya pelan berusaha menyadarkannya. "Rian! Katakan saja siapa pemimpinnya! Di mana letak persembunyian cincin itu!"

"Di... tempat di mana semuanya berawal..." Itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari bibirnya sebelum dia kembali tak sadarkan diri dan alat pemantau jantung berbunyi nyaring memanggil dokter. Kami terpaksa keluar ruangan saat tim medis berusaha menyelamatkan nyawanya kembali.

Kami berdiri di koridor rumah sakit yang panjang dan sunyi, perasaan berat menyelimuti hati kami berdua. Tidak ada lagi petunjuk jelas, hanya teka-teki yang makin rumit. "Tempat di mana semuanya berawal..." gumam Erlan pelan seolah sedang menyusun potongan kepingan yang hilang. "Apakah dia bermaksud rumah masa kecilku? Atau tempat kejadian kecelakaan orang tuaku?"

Tiba-tiba mataku tertuju pada liontin yang masih kugenggam erat. Di bagian belakangnya, ada ukiran halus yang belum pernah kulihat sebelumnya sebuah peta kecil yang menunjuk ke arah sebuah bukit di pinggiran kota, bukit tempat dulu kami sering bermain bersama saat masih kecil, tempat di mana aku dan Erlan pertama kali bertemu mata satu sama lain di bawah pohon beringin raksasa.

"Aku tahu tempat itu!" seruku seketika. "Itu bukit di pinggiran kota, bukan tempat lain. Di sana dulu ada rumah tua milik kakekmu, Mas. Rumah yang sudah lama ditinggalkan dan tak pernah kamu izinkan ada orang yang mendekatinya."

Erlan terbelalak sejenak, lalu wajahnya berubah tegas. "Benar sekali. Kakekku menghabiskan sisa hidupnya di sana sebelum meninggal. Dia selalu berpesan agar rumah itu tidak pernah dibongkar atau direnovasi dengan alasan apa pun. Sekarang aku tahu alasannya. Dia menyembunyikan cincin itu di sana agar tidak ada yang bisa menemukannya sembarangan."

Kami memutuskan untuk segera pergi ke sana sebelum kelompok misterius itu menyadari petunjuk yang ditinggalkan Rian. Namun saat kami hendak melangkah menuju pintu keluar, seseorang menyapa kami dari belakang dengan suara yang tenang dan sopan suara yang selama ini kami anggap paling aman dan terpercaya di dunia ini.

"Kalian terlihat sangat terburu-buru. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi?"

Kami berdua berbalik perlahan. Di sana berdiri Paman Haris sahabat karib ayah Erlan, orang yang merawat Erlan selama bertahun-tahun setelah orang tuanya meninggal, orang yang kami kira tidak akan pernah menyakiti kami walau dengan nyawanya sendiri. Dia berdiri tersenyum lembut, namun senyum itu kini terasa dingin dan menyembunyikan niat jahat yang dalam. Di dadanya terpasang lencana kecil yang sama persis dengan yang pernah kulihat digenggam Paman Dika saat kami berhadapan di rumah lamaku dulu.

Jantungku terasa berhenti berdetak sejenak. Rian benar. Pemimpin yang selama ini kami cari, orang yang memegang kendali atas segala kejahatan ini ternyata berdiri tepat di depan mata kami, menyamar sebagai pelindung setia selama belasan tahun.

"Kau..." suara Erlan bergetar namun penuh amarah yang tertahan. "Kau yang memerintahkan pembunuhan orang tuaku? Kau yang memanipulasi Dimas dan Paman Dika? Semua ini kau rencanakan sejak awal?"

Paman Haris tertawa pelan, suaranya menggema di lorong rumah sakit yang sepi. Dia tidak lagi menyembunyikan wajah aslinya yang penuh keserakahan dan kebencian. "Kau akhirnya sadar, Erlan. Sayang sekali terlambat. Kakekmu yang curang dulu mengambil hak kekuasaan itu dari ayahku. Sekarang aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan gadis di sampingmu... dia bukan sekadar istri kontrakmu. Dia adalah kunci penggerak kekuatan itu. Tanpa keturunannya, cincin dan liontin itu tidak akan pernah menyala."

Tanganku meremas liontin itu erat. Jadi bukan hanya rahasia waktu yang mereka cari, tapi darah yang mengalir dalam nadaku adalah kunci utamanya. Garis keturunanku ternyata memiliki hubungan rahasia yang tak terputus dengan asal-usul kekuatan itu.

"Kau tidak akan bisa melangkah sejauh itu," ancam Erlan sambil mendorongku perlahan ke belakang seolah memberi isyarat untuk lari jika keadaan memburuk. "Aku tidak akan membiarkan kau menggunakan kami untuk ambisimu gila itu."

Paman Haris mengangkat tangannya, dan dari ujung koridor muncul beberapa orang berbadan tegap yang mengepung kami perlahan. "Kalian pikir aku datang sendirian? Aku sudah menunggu momen ini terlalu lama. Serahkan liontin itu dan ikut aku dengan tenang, dan aku mungkin akan membiarkan nyawa orang tua Dian selamat. Jika tidak... kau akan melihat kehancuran yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan nyawa."

Kalimat itu menghantamku keras. Dia memegang orang tuaku sebagai sandera. Dia sudah memikirkan segala kemungkinan dengan sangat matang, bahkan kelemahan terbesarku sekalipun. Di hadapan kami kini berdiri musuh yang paling berbahaya orang yang tahu setiap kebaikan dan keburukan kami, orang yang memegang kendali atas nasib semua orang yang kami sayangi. Dan di tengah ancaman yang mematikan itu, Erlan perlahan menarikku ke belakang punggungnya, lalu berbisik pelan hanya agar aku bisa mendengarnya:

"Lari ke bukit itu sekarang juga. Ambil cincin itu dan lindungilah dengan nyawamu. Aku akan menahan mereka selama mungkin. Ingat, jangan percaya pada siapa pun di sana kecuali kata hati yang paling dalam. Itu satu-satunya warisan yang ditinggalkan kakekku padamu."

Sebelum aku sempat menolak atau meminta ikut bersamanya, Erlan sudah berlari menerjang ke arah Paman Haris untuk memberi kesempatan bagiku melarikan diri. Di tengah kekacauan itu, aku melihat tatapan matanya penuh keyakinan, penuh cinta, dan janji bahwa dia akan segera menyusulku. Aku tidak punya pilihan lain selain berlari secepat mungkin keluar dari rumah sakit, menuju tempat di mana segalanya bermula, menuju kebenaran yang akan menentukan nasib kami berdua dan seluruh dunia ini.

Namun di sudut jalan yang gelap saat aku berlari menuju kendaraan, aku melihat sosok seseorang berdiri diam menungguku. Itu Dimas. Dia tidak membawa senjata, wajahnya penuh keraguan dan pertarungan batin yang hebat. Apakah dia datang untuk menangkapku atas perintah Paman Haris? Atau dia akhirnya datang untuk membantuku setelah mengetahui kebenaran yang selama ini tertutup rapat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!