Jayamantingan adalah seorang pengembara muda miskin yang tetap melanjutkan pengembaraannya meski tidak memiliki tujuan sama sekali. Dirinya terasing akibat penampilannya yang sangat buruk. Ia lebih mirip pengemis tanpa kasta ketimbang pengembara.
Namun, segalanya berubah setelah perjumpaannya dengan seorang wanita aneh yang membuat dirinya harus menemukan sebuah bunga ajaib bernama Kembangmas. Kendati bunga tersebut hanya ada di kisah dongeng semata, Jayamantingan tetap menerimanya mengingat dirinya tidak lagi memiliki tujuan hidup.
Pengembaraan mencari kemustahilan itu lambat-laun menuntunnya menemui takdir menjadi salah satu Pemangku Langit, pendekar terkuat di atas segala pendekar yang menguasai dunia persilatan.
Mampukah Jayamantingan membawakan Kembangmas kepada Kenanga? Ataukah justru kematian menjemputnya terlebih dahulu di belantara persilatan, yang jumlah kematiannya bagaikan guguran daun diterpa angin badai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WestReversed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di Pasar Cikahuripan
Mantingan bangkit dari dipan di terasnya sebelum berjalan sampai depan pintu kamar sewaan Rara. Ia mengetuk pintunya sebanyak tiga kali dengan sedikit berdeham. Pintu terbuka tak lama kemudian, menampilkan Rara yang matanya tampak amat sembab.
“Bersiaplah, akan ada pasar dadakan malam nanti. Kau ikut aku.”
“Untuk apa?” Rara memiringkan kepalanya sedikit.
Mantingan tersenyum tipis. “Kau memerlukan pakaian ganti untuk meneruskan perjalanan ke Kanoman. Kemungkinan, perjalanan menuju Kanoman akan mengambil waktu yang panjang dan melelahkan.”
“Diriku tidak membawa uang, dan aku tak ingin memakai uangmu.”
“Ini bukan uangku, ini adalah uang dari kerajaan. Karena dibuat dan dikeluarkan oleh kerajaan. Sekarang apa ada alasanmu lagi yang harus aku bantah?” Tentu Mantingan hanya bergurau tentang uang itu, tetapi sekiranya itu cukup untuk mengatakan bahwa dirinya siap membelanjakan Rara apa pun.
Rara kemudian mengembuskan napas panjang. “Aku akan mendatangimu lagi nanti malam. Mungkin kau juga membutuhkan istirahat. Jadi beristirahatlah.”
“Ketuk saja pintunya nanti malam, dan buka saja pintunya jika aku tak kunjung membalas. Akan kubiarkan pintunya tidak terkunci.”
“Terima kasih.” Rara tersenyum sekilas lalu menutup pintu.
Mantingan menggeleng pelan sebelum kembali ke rumah sewaannya, dan untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam bangunan tersebut. Cukup terkagum-kagum Mantingan dibuatnya. Betapa rumah ini biarpun kecil, tetapi tetap terlihat luas. Tidak banyak barang yang tak berguna, hampir semuanya berguna. Pajangan yang dipasangpun dapat berguna sebagai penutup jendela. Mantingan masuk ke sebuah ruangan yang di sanalah terdapat sebuah ranjang, ia merebahkan diri di atasnya sebelum terlelap dengan cepat setelah melepas semua beban di punggung dan pinggangnya.
***
Mantingan dengan jelas mendengar suara ketukan di pintu depan. Ia segera bangkit dan memasangkan salah satu kantung pundi-pundi di pinggangnya. Membawa bundelan berisi perbekalan dan keperluan mengembara adalah suatu hal yang sangat tidak diperlukan jika hanya untuk pergi ke pasar. Lekas ia pergi ke depan dan membuka pintu perlahan. Terpampanglah sosok Rara yang rupanya jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Gadis itu tampak jauh lebih segar dan boleh dikata jauh lebih cantik, jelas telah mandi beberapa saat yang lalu. Kepalanya menunduk sebab merasa tidak enak.
“Kita akan berangkat sekarang, adakah hal lain yang mungkin tertinggal?”
Rara menggeleng. Lagi pula sedari awal, ia tak membawa apa pun selain pakaian yang melekat di badannya. Maka Mantingan segera mengajaknya keluar dari kawasan penginapan. Di senjakala seperti ini, jalanan terlihat lebih lenggang. Orang-orang beribadah di rumahnya masing-masing, sebelum melaksanakan kegiatan lainnya.
Rara tetiba bertanya akan suatu pertanyaan yang jelas membuat Mantingan terkejut. “Apa kau tidak beribadah?”
“Aku berusaha beribadah dengan cara berbuat kebaikan terhadap alam dan terhadap manusia. Mungkin aku salah, tetapi aku merasa bahwa menyembah bukanlah sebuah bentuk pengabdian semacam apa pun. Pujaan dan sanjungan tidak akan menyenangkan Sang Hyang.”
Rara menangguk pelan dan tidak mempermasalahkan hal itu lebih jauh lagi.
Mantingan yang mengingat arah menuju pasar itu berjalan dengan langkah pasti, diikuti oleh Rara yang kesulitan mengimbangi langkah kakinya. Jika saja Rara memiliki sedikit keberanian, dan ia meminta Mantingan untuk berjalan lebih lambat, maka sebuah keniscayaan bahwa Mantingan akan memenuhi permintaan teraebut dan mengimbangi langkah gadis itu.
Tak lama kemudian, pasar mulai terlihat. Walau sepi, tetapi setidaknya para penjual telah bersiaga di gerainya masing-masing. Mereka itulah yang memilih untuk beribadah di gerainya masing-masing, sehingga aroma asap dupa tercium jelas di kawasan ini. Beberapa pengunjung juga terlihat sedang tawar-menawar dengan penjual. Keadaan yang tidak ramai seperti inilah yang disukai Mantingan, semakin sedikit kemungkinannya untuk terjadi sesuatu hal yang tak diinginkannya.
“Sekarang kau yang berjalan di depan, beli yang ingin kau beli.” Mantingan mundur beberapa langkah ke belakang dan melipat tangannya ke belakang pula. Sedangkan Rara terlihat gugup, tetapi tetap melangkah.
Mereka masuk ke dalam pasar yang di kanan-kiri jalan adalah gerai-gerai. Aneka macam barang yang mereka jajakan. Banyak yang menjual perlengkapan tani atau senjata untuk mempertahankan diri. Tetapi tidak terlalu banyak yang menjual kain pakaian untuk wanita. Rara menemukan salah satu toko yang menjual barang tersebut setelah berjalan agak jauh. Ia menoleh kepada Mantingan dengan tatapan yang sangat tidak percaya diri.
“Apakah tidak mengapa jika aku ....”
“Beli saja.” Mantingan tertawa pelan dengan memberi tatapan yang meyakinkan pada Rara.
Gadis itu akhirnya mengangguk dan bercakap-cakap dengan penjual yang menjajakan kain pakaian untuk perempuan itu. Mantingan memilih untuk tidak mendengarkan segala percakapan itu, yang mungkin saja akan menyangkut hal-hal pribadi milik Rara yang sebaiknya tidak perlu diketahui. Ia memandang ke arah lain, dan mendengarkan suara yang lain pula.
Tak lama kemudian Rara memanggil Mantingan dan menunjukkan sebuah kain berwarna biru padanya. “Bolehkah ....”
“Ambil saja.” Mantingan maju menghadap penjual kain. “Berapa harganya, Paman?”
“Lima keping perak untuk yang Saudari ini ambil,” jawabnya.
Mantingan memincingkan mata dan melihat pakaian itu lebih rinci lagi, ia menemukan bahwa kain itu tidak memiliki kualitas yang bagus. “Adakah lagi yang mirip dengan kain itu, tetapi dengan kualitas yang lebih bagus?”
“Tentu aku mempunyainya, tetapi harganya akan lebih mahal lima keping perak.”
Mantingan mengeluarkan satu keping emas dan langsung memberikannya pada si penjual. “Sahaya ambil yang Paman sebutkan itu.”
“Baiklah, tunggu di sini sebentar.”
Rara terlihat terkejut beberapa saat sebelum menimpali, “Aku mau yang ini saja, Mantingan.”
Si penjual terhenti gerakannya, dan memandang heran dua orang itu.
Mantingan mengangguk ke arah Rara. “Baiklah kalau begitu.” Lalu ia beralih pada si penjual. “Saya ambil keduanya saja, Paman.”
Rara membeliakkan mata pada Mantingan, tetapi Mantingan tak terlalu menanggapinya. Dua pakaian serta puluhan keping perak datang dari tangan si penjual. Mantingan berterimakasih lalu mengajak Rara segera untuk pergi dari gerai itu.
“Apa lagi yang ingin dikau beli?”
“Tidak ada lagi.” Rara menggeleng sambil tersenyum.
“Aku tidak yakin. Kau tidak hanya membutuhkan sehelai kain saja, bukan?”
Rara menghela napas panjang sebelum berkata, “Aku membutuhkan kain jarik, tetapi penjual itu berkata bahwa dirinya kehabisan kain jarik. Setelah itu tak akan ada yang dibeli lagi, paham?”
Mantingan tersenyum. Namun mengapakah kiranya justru Rara yang mengarahkan Mantingan dan seolah bertindak sebagai orang yang lebih tua? Apakah memang Rara memiliki rasa kedewasaan yang secara tak sadar membuatnya ingin mengarahkan Mantingan sebagai adiknya, ataukah mungkin juga disebabkan oleh usianya yang beberapa tahun lebih tua daripada Mantingan?
“Memangnya tadi benar-benar tidak ada?”
Rara menggeleng. Penjual itu, berdasarkan perkataannya, sedang kehabisan persediaan kain jarik. Sebenarnya Rara langsung tak berniat lagi ingin membeli kain jarik, tetapi setelah melihat Mantingan tidak keberatan sedikitpun, maka ia memutuskan untuk mencarinya lagi.
“Bukankah kain jarik hanya akan mengganggu laju jalannya kaki?” tanya Mantingan kemudian, mempertimbangkan bahwa mereka akan lebih sering berjalan kaki di masa mendatang.
“Sepertinya tidak ada pilihan lain bagi perempuan.”
“Ada sebenarnya.” Mantingan berdeham sekali. “Di sini pastinya telah ada yang menjual pakaian-pakaian dari Negeri Atap Langit ....”
“Mantingan!”
“Apa?” Mantingan terkejut.
“Kau tahu itu kain yang mahal, bukan?”
“Akan tetapi, kain itu adalah kain yang kuat dan sangat cocok untuk pejalan kaki. Dan konon katanya, pakaian-pakaian itu adalah pakaian yang digunakan para pendekar wanita. Sudah pasti itu bukanlah kain untuk bersantai-santai di rumah saja.”
“Kau percaya tentang keberadaan pendekar?”
“Tentu saja, bukankah mereka secara terang-terangan telah menunjukkan diri?”