Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Penyesalan Terbesar
Sampai saat ini, tidak ada yang tahu kalau pelaku yang mencelakai Naya adalah putri dari pemilik yayasan. Saat Lita datang menemui Naya, hanya dia, Tigor dan Lusi yang tahu. Dan penghuni panti lain tidak ingin bertanya pada Naya karena takut membuatnya mengingat lagi kejadian nahas itu. Gadis yang mengaku bernama Lita itu sudah menghilang saat orang-orang satang menolong Naya.
Indra baru saja turun dari mobilnya di halaman panti, ketika Bagas berlari menghampirinya dan memberitahukan tentang kondisi Naya. Indra segera kembali ke dalam mobil dan meminta Haris mengantarnya ke rumah sakit tempat Naya dirawat. Naya sedang dirawat luka ketika Haris membuka pintu kamar rawatnya.
“Nay.” Mata Indra berkaca-kaca melihat lengan Naya miliki luka bakar yang mengerikan.
“Paman.” Entah kenapa, airmatanya mengalir turun dengan derasnya tanpa seizinnya.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Saya permisi dulu. Naya, jangan sampai basah ya lukanya.” Pesan suster sebelum mendorong trolinya keluar.
Naya diam sejenak, menatap ke arah Haris dan Indra bergantian. “Ada seseorang yang datang ke panti memperingatkan Naya untuk menjauh dari paman dan membatalkan niat Naya untuk menikahi paman.”
“Pasti salah satu atau ketiga anakku. Siapa?”
“Bagaimana paman bisa tahu?” Naya terkejut bahwa Indra sepertinya tahu pelakunya.
“Karena hanya mereka yang megira aku akan menikah denganmu.”
“Bagaimana bisa?”
“Panjang ceritanya. Tapi itu hasil kesimpulan mereka sendiri setelah melihat kedekatan kita. Siapa yang datang padamu?”
“Lita.”
“Lita? Aletha?”
“Mungkin. Dia memperkenalkan diri sebagai Lita.”
Indra mengeluarkan ponselnya. Meminta Naya mengidentifikasi foto Aletha yang ada di galeri ponselnya. Naya mengangguk membenarkan bahwa gadis dalam foto itu yang mendatanginya.
“Maafkan paman, Nay. Kamu harus mengalami hal seperti ini ketika paman tidak ada.” Pagi tadi, Indra baru kembali dari Singapura untuk berobat sakitnya. “Paman sangat menyesal mengetahui kondisimu sekarang adalah karena perbuatan anak paman.”
“Paman tidak bersalah. Naya yang seharusnya meminta maaf, mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi Naya ingin sementara waktu tinggal bersama bu Laras.”
Hati Indra berkedut nyeri mendengar penuturan Naya. “Kita bicarakan nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit. Paman harus kembali ke kantor dulu.”
“Kita pulang, Ris. Siapkan semuanya.”
“Baik, Pak.” Haris mengarahkan mobilnya ke jalur kanan, menuju kediaman majikannya.
Tiga puluh menit kemudian, Indra sudah duduk di balik meja kerjanya dan menatap tajam pada ketiga anaknya. Masih belum percaya dia, bila anaknya mampu melakukan hal buruk pada orang lain.
“Sekarang, jelaskan dengan detail apa yang terjadi di sini selama papa tidak ada.” Suaranya menggeram menahan marah.
“Semua sudah Alan selesaikan, Pa.”
“Jelaskan.” Ulangnya dengan nada sedikit naik dari sebelumnya.
“Kami hanya tidak ingin papa menikahi gadis ingusan. Karena itu semua ini terjadi.” Alan mencoba menutupi kesalahan adiknya.
“Jadi kamu menyalahkan papa, Alan?”
“Tidak. Itu hanya alasan yang mendasari perbuatan mereka.” Alan mendebat.
“Cih. Kamu pikir papa tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan? Ini semua karena laporan asisten pribadimu yang ngawur itu.” Indra memberi isyarat pada Haris agar memberikan amplop pada Alan.
Alan membuka amplop dengan tidak sabar. Matanya melebar melihat apa yang ada di dalamnya. Henry yang dia tugaskan memata-matai Naya dan ayahnya, sedang dimata-matai oleh orang suruhan Haris. Foto Dante sedang membonceng Naya di sekitar Anyer. Bahkan ada foto Aletha sedang bertemu Naya di panti sebelum insiden petasan itu.
“Besar juga nyalimu, memata-matai ayahmu sendiri.”
Semua tertunduk. Mereka melupakan kenyataan bahwa ayahnya hidup lebih lama dan jauh lebih berpengalaman dari mereka semua. “Pa, Alan sudah,”
“Terserah apa yang sudah kamu lakukan untuk menghukum adikmu, tapi yang jelas ada sesuatu yang perlu kalian dengar langsung dari papa.” Indra Hartawan berdiri tepat di hadapan Alan.
“Papa sudah putuskan akan mewujudkan keinginan kalian semua dengan menikahi Naya. Ini adalah hukuman untuk kalian sekaligus bentuk penyesalan terbesar papa pada Naya.”
“TIDAK! Bahkan Alan sudah membuangku ke London untuk masuk asrama wanita. Papa tidak bisa tetap menikahi gadis kampungan itu.” Aletha berteriak histeris.
PLAK. Pertama kalinya Aletha menerima sebuah tamparan dari papa yang sangat dia sayangi dan itu karena gadis panti bernama Naya. Aletha tidak menangis, merintih pun tidak dia lakukan.
“Papa harap kalian mulai membiasakan diri. Hormatilah calon ibu sambung kalian.” Indra berbalik kembali ke belakang meja dan memutar kursinya membelakangi ketiga anaknya.
Alan merangkul kedua adiknya dan membawa mereka keluar ruangan. Dia tidak menyangka ayahnya akan memutuskan hal gila untuk menghukum mereka.
"Kau tidak bisa membiarkan ini terjadi, Kak." Aletha masih bersikeras.
****
Sudah satu minggu Naya tinggal bersama Laras. Memulihkan tubuh dan pikirannya dari banyak hal yang menerpanya belakangan ini. Selama satu minggu ini, Naya banyak berpikir tentang semua yang telah terjadi dan merancang rencana masa depannya.
“Kamu sedang apa, Nay? Sudah malam, kenapa belum tidur?” Laras menghampirinya.
“Naya sedang berpikir, Bu.”
“Lakukan perlahan saja, Nay. Tubuhmu butuh istirahat agar lukamu segera sembuh. Kamu sudah minum obat?” Naya menganggukkan kepala.
“Bulan depan, LaModѐ sudah memulai program awal tahun ajaran. Semua calon mahasiswa diminta hadir untuk menerima pengarahan. Naya sudah tidak sabar menghadirinya.”
Laras mengulum senyuman dan membelai rambut panjang milik Naya. “Sebulan tidak akan lama. Pengumuman lomba desain pakaian musim dingin Freya Design kapan, Nay?”
“Kalau di brosur kemarin, sepertinya bulan depan. Doakan Naya bisa memenangkan hadiah utama ya, Bu.”
“Pasti. Sebaiknya kamu tidur dulu. Besok pak Indra akan menjengukmu ke sini. Ada yang beliau ingin bicarakan denganmu.”
“Bu, apa boleh Naya tidak menemui paman Indra? Naya takut dengan reaksi anak-anaknya yang seperti monster.” Naya bergidik ngeri membayangkan wajah Alan dan Lita, hanya Dante yang membuatnya nyaman.
“Naya, pak Indra tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpamu. Beliau hanya ingin melihat kondisimu. Tidak baik menolak tamu, temui saja ya. Kamu sudah melarangnya datang saat beliau ingin menjemputmu keluar dari rumah sakit. Nanti saat bertemu langsung, kamu bisa sampaikan apa yang kamu ingin sampaikan.” Laras membelai kepala Naya, lagi.
“Sepertinya ibu benar. Kalau begitu, Naya ke kamar dulu.”
Laras menatap punggung Naya yang mulai menjauh. Rasa iba sekaligus bangga tergambar di matanya yang mulai banyak dihiasi keriput. Andaikan aku memiliki anak sepertimu, menjadi tua dan ditelan usia bukan sebuah kekhawatiran yang perlu diperhitungkan, lirihnya.
Di dalam kamarnya, Naya membuka lagi amplop yang dulu pernah Indra berikan padanya. Tawaran memberikan beasiswa kuliah dan berkas-berkas persyaratan mengadopsi Naya yang sama sekali belum dia isi.
“Pak, apa yang sebaiknya Naya lakukan? Apakah sombong bila Naya menolak uluran tangan paman Indra? Naya hanya takut bantuan yang paman berikan akan membawa masalah yang pelik seperti sekarang.” Naya menatap luka bakar di lengannya yang mulai mengering.
Naya merebahkan tubuhnya sambil terus membolak-balik kertas yang ada di tangannya. “Naya tidak ingin mempunyai penyesalan dalam hidup, Pak. Apa yang harus Naya lakukan?”
Malam itu, tidur Naya tidak tenang. Semua kejadian berputar kembali seperti film dokumenter dalam mimpinya. Mulai meninggalnya kedua orangtuanya, kejadian di sekolah, hingga insiden petasan di dapur panti. Naya bangun terduduk dengan tubuh basah oleh keringat dan napas yang memburu.
Setelah menyadari bahwa semua itu hanya mimpi, Naya turun dari ranjang dan keluar ke dapur. Dia ingin minum, tenggorokannya terasa kering setelah mengalami mimpi buruk tadi. Naya meraih gelas di meja dan mengambil air di dalam kulkas, menghabiskannya dalam sekali teguk. Saat akan kembali ke kamar dan melewati ruang tengah, dia melihat sosok pria yang mengendap-endap memasuki sebuah kamar.
Naya meraih sapu yang kebetulan ada di sebelahnya, bersandar di dinding. Dengan langkah gemetar yang berusaha ditahannya sekuat tenaga, Naya mendekati pria itu sambil mengendap. Begitu dirasa sapunya bisa
mencapai pencuri itu, Naya melayangkan sapunya ke kepala pencuri sekuat tenaganya.
PLETAK. “Arrgh…!” pencuri itu berteriak dan memegang kepalanya yang Naya pukul dengan gagang sapu.
****
Like, komen dan Vote yuk kak, supaya authornya semangat.
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..