Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Pertama Kali Dekat
Keesokan paginya, Senja bangun sebelum alarm.
Dia berbaring di sisi kiri ranjang, menatap bantal panjang di tengah. Semalam, setelah pulang dari gala dinner, mereka tidak membicarakan apa pun lagi. Rayhan menerima dua panggilan kerja, Senja mandi, lalu keduanya tidur dengan punggung menghadap arah masing-masing.
Namun kalimat di mobil terus kembali.
Siapa pun yang berani mengatakan satu kata buruk tentangmu, beri tahu aku.
Kalimat itu bukan puisi. Bukan janji cinta. Bahkan kalau ditulis di kertas, mungkin terdengar seperti memo keamanan. Tetapi jantung Senja tetap mengingatnya dengan cara yang tidak masuk akal.
Dia menyentuh dadanya sebentar, lalu cepat duduk.
"Jangan bodoh," bisiknya pada diri sendiri.
Di ruang makan, Rayhan sudah ada. Untuk pertama kalinya, Senja merasa lebih gugup menghadapi sarapan daripada menghadapi meja sosialita.
Rayhan meliriknya. "Matamu bengkak?"
Senja langsung menyentuh bawah matanya. "Tidak."
"Kamu tidur jam berapa?"
"Jam sebelas lewat sedikit."
"Lewat sedikit itu berapa?"
"Rayhan."
"Pertanyaan sederhana."
"Jam sebelas tiga puluh."
"Terlalu malam."
Senja mengambil sendok. "Selamat pagi juga."
Pak Hadi yang menuangkan teh hampir berhenti.
Rayhan menatap Senja.
Dia baru sadar apa yang baru saja dia katakan. Pipinya memanas, tetapi dia menolak menunduk. Semalam di mobil, Rayhan meminta dia memberi tahu jika ada orang berkata buruk. Mungkin pagi ini, dia boleh memberi tahu kalau suaminya sendiri terlalu cerewet.
Beberapa detik berlalu.
Rayhan mengambil kopi. "Pagi."
Satu kata itu membuat Pak Hadi benar-benar menunduk lebih dalam.
Senja menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum.
Setelah sarapan, saat Senja hendak mengambil tas untuk pergi ke sanggar, Rayhan meletakkan sebuah kartu nama di meja.
"Kontak Gedung Kesenian Jakarta."
Senja mengambilnya. Nama seorang manajer program tertulis di sana. "Untuk ide pertunjukan donasi?"
"Kamu bilang ingin tanya Ko Jefri dulu."
"Aku memang belum tanya."
"Tanya hari ini. Kalau dia setuju, besok kita ke sana."
Senja mengangkat wajah. "Kita?"
"Aku yang punya kontak."
"Kamu bisa memberikan nomornya saja."
"Bisa."
"Tapi?"
"Aku ingin melihat ruangnya."
Alasan itu terlalu rapi.
Senja menatapnya dengan curiga. "Kamu tertarik pada ruang pertunjukan tari?"
"Aku tertarik pada investasi lampu yang pernah dibayar Wijaya."
"Tentu."
Rayhan mengangkat alis tipis. "Ada masalah?"
"Tidak. Sangat efisien."
Kali ini, sudut bibir Rayhan bergerak sangat sedikit. Hampir tidak ada. Tetapi Senja melihatnya.
Di sanggar, Ko Jefri menerima ide itu lebih serius daripada yang Senja perkirakan. Dia membaca brosur klinik anak, mendengar penjelasan Senja, lalu duduk di lantai latihan dengan buku catatan.
"Pertunjukan kecil bisa dilakukan," katanya. "Tapi kalau Gedung Kesenian Jakarta terlibat, skalanya tidak akan kecil."
Lara langsung berseru, "Itu bagus!"
"Bagus kalau kita siap," jawab Ko Jefri. "Kita harus hati-hati. Jangan sampai nama Wijaya membuat orang berpikir ini proyek pencitraan."
Senja mengangguk cepat. "Aku juga memikirkan itu. Rayhan bilang bisa memberi kontak tanpa menaruh nama Wijaya di depan."
Lara memandangnya dengan alis naik. "Rayhan bilang?"
"Iya."
"Rayhan yang sama dengan pria menyebalkan yang datang ke sanggar dan memaksa kamu makan?"
"Dia tetap menyebalkan."
"Tapi berguna."
Senja tidak menjawab.
Lara tersenyum penuh kemenangan. "Diam berarti iya."
Ko Jefri mengetuk buku catatan. "Besok kamu bisa survei ruang?"
Senja ragu. "Rayhan bilang... kita bisa ke sana."
"Kalian berdua?"
Lara pura-pura batuk.
Senja menatapnya. "Jangan mulai."
"Aku belum mulai."
Ko Jefri tampak ingin tersenyum, tetapi menahan. "Pergi. Lihat ruangnya. Tapi ingat, Senja, kalau proyek ini berjalan, kamu harus berdiri sebagai penari, bukan hanya Nyonya Wijaya."
"Aku tahu."
"Bagus. Pastikan suamimu juga tahu."
Senja teringat kalimat Rayhan di gala: istri saya diundang karena tari.
"Sepertinya dia tahu."
Sore itu, ketika Senja pulang, Rayhan belum kembali. Dia makan malam sendiri, membaca catatan Ko Jefri, dan menulis daftar pertanyaan untuk manajer program Gedung Kesenian Jakarta. Semakin dia menulis, semakin gugup dia merasa.
Ini bukan hanya tentang donasi.
Ini tentang kemungkinan menggunakan status barunya tanpa kehilangan dirinya.
Menjelang pukul sembilan, Rayhan masuk ke ruang keluarga. Dia melihat kertas-kertas di meja.
"Ko Jefri setuju?"
"Setuju untuk survei. Belum tentu untuk program."
"Besok pukul sepuluh."
Senja berhenti menulis. "Kamu sudah membuat janji?"
"Aku tanya Pak Hadi. Jadwal latihanmu siang."
"Kamu bahkan tidak bertanya padaku dulu."
Rayhan diam sebentar, lalu mengambil ponsel. "Kalau kamu tidak mau, aku batalkan."
Jawaban itu membuat Senja tidak siap. Dulu, Rayhan akan berkata semua sudah diatur. Sekarang dia mengatakan bisa dibatalkan.
"Aku mau," kata Senja cepat. "Aku hanya..."
"Tidak suka hidupmu diatur."
Dia menatapnya.
Rayhan memasukkan ponsel kembali. "Aku ingat."
Dua kata itu menghentikan protes yang belum sempat keluar.
Senja menunduk ke kertasnya. "Jam sepuluh tidak masalah."
"Aku yang jemput dari rumah. Pak Hadi tidak ikut ke dalam."
"Kenapa?"
"Kamu ingin terlihat sebagai penari yang sedang survei ruang, bukan Nyonya yang dikawal seluruh rumah."
Senja menatapnya lagi.
Rayhan sudah berjalan menuju tangga sebelum dia sempat menjawab. Namun di tengah langkah, dia berhenti.
"Pakai sepatu nyaman."
Senja memeluk catatan ke dadanya. "Itu perintah?"
Rayhan menoleh sedikit.
"Pengalaman dari gala."
Lalu dia naik.
Senja tetap duduk di ruang keluarga dengan kertas-kertas di meja dan sesuatu yang hangat, pelan-pelan tumbuh di tempat yang selama ini terlalu sering dipenuhi takut.
Ponselnya bergetar.
Lara: Jadi besok survei sama suami dingin itu?
Senja menatap pesan itu, lalu melihat ke arah tangga tempat Rayhan menghilang.
Senja: Jangan panggil begitu.
Lara: Wah. Sudah membela.
Senja: Bukan membela. Hanya... dia tidak seburuk yang kamu kira.
Lara: Aku tidak pernah bilang dia sepenuhnya buruk. Aku bilang dia menyebalkan.
Senja tersenyum. Itu masih terdengar seperti Lara.
Lara: Pakai sepatu nyaman.
Senja: Dia juga bilang begitu.
Lara: Aku mulai khawatir punya pola pikir sama dengan Rayhan Wijaya.
Senja tertawa kecil di ruang keluarga yang sunyi.
Dia membuka lemari dekat foyer, mencari sepatu flat hitam yang biasa dipakai ke sanggar. Sepatu itu tidak semahal heels dari stylist, tetapi bentuknya mengikuti kakinya, tahu bekas langkahnya, tahu cara tubuhnya menjaga keseimbangan.
Besok dia akan masuk Gedung Kesenian Jakarta bukan sebagai boneka dalam gaun mahal, melainkan sebagai penari yang ingin melihat kemungkinan panggung.
Dan anehnya, Rayhan akan berjalan di sampingnya, bukan di depan untuk menariknya, bukan di belakang untuk mengawasinya.
Kesadaran itu membuat Senja menutup lemari lebih pelan dari biasanya, seolah suara keras sedikit saja bisa membuat rasa hangat itu kabur sebelum sempat ia pahami.
Besok terasa sedikit menakutkan, tetapi tidak sepenuhnya buruk.