Rate 21+
Scrol kebawah.
Amanda Rahayu, Seorang Nanny yang di hadapkan akan takdir cinta yang rumit.
Ketulusan cinta dan kasih sayang yang dia berikan untuk Gisela, Nona kecil asuhannya. Membuat dia bukan hanya mendapat balasan cinta dan kasih sayang dari Gisela, Namun juga, dari Tuan Muda Sergio Putra Kaana, Daddy Nona kecil asuhannya.
Pertemuan cerita singkatnya dengan Salman, Hingga terjadinya sebuah kesalahan yang menyisakan benih di dalam rahim Amanda.
Sergio yang mengetahui akan kehamilan Amanda, justru mengikatnya dengan Ikatan suci pernikahan dan membuatnya tetap tinggal sebagai Istri untuknya dan juga Nanny untuk putrinya.
Kemanakah, Takdir cinta akan membawa sang Nanny, Ikatan suci pernikahannya dengan Gio, atau Ikatan darah dagingnya dengan Salman??
Perjalanan cintanya semakin rumit saat Amanda mengetahui bahwa antara Gio dan Salman terjalin Ikatan Persaudaraan yang erat.
Mampukah ketiganya melewati rumitnya cinta di antara mereka,?
Berakhir dengan bahagia kah? Atau Ikatan yang terjalin itu justru akan tercerai berai??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nasiroh Iroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 20 masih dilema
Amanda dan Gisela tengah duduk di sofa sambil menonton acara televisi, tapi pikiran Amanda tidak sepenuhnya pada televisi didepannya ,Gisela yang berbicara terus menenerus menceritakan acara televisi yang ditontonnya hanya dijawab anggukan oleh Amanda
Saat Gisela tengah memencet mencet remote mengganti saluran tiba tiba Amanda menghentikan tangan Gisela
"Doraemon" ucap Amanda
"Doraemon" Gisela mengulangi kata kata Amanda dan menatap Amanda
"Kau menyukai acara kartun Doraemon kau mau menonton ini" lanjut Gisela
Amanda hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, Gisela lalu menyandarkan punggung disofa sambil mengangkat bahu dan tersenyum
Amanda masih tidak benar benar menonton televisi, melihat gambar ditelevisi saat ini kembali mengingatkannya pada Salman,dia memejamkan mata, kebersamaan dengan Salman disiang hari di danau kembali berputar dalam ingatannya
"Kau bisa naik sepeda"tanya Salman
"Tentu saja kau meremehkanku"jawab Amanda sambil berkacak pinggang
"Ayo kita balapan sepeda mengelilingi danau ini,siapa yang lebih dulu sampai disini lagi dia pemenangnya"ucap Salman sambil mengulurkan tangan
"Baik siapa takut, aku sangat jago naik sepeda, kau akan menyesal mengajakku taruhan, aku akan meminta banyak hadiah karna aku akan menang"ucap Amanda membalas uluran tangan Salman
"Mari kita buktikan siapa pemenangnya, kau boleh meminta apapun padaku jika kau menang,dan aku juga akam meminta apapun jika aku yang menang,tidak boleh menolak" ucap Salman dengan penekanan diakhir kata katanya
"Kau tidak akan meminta yang aneh aneh bukan, kenapa aku jadi curiga padamu"ucap Amanda ragu
"Jangan berpikir macam macam,ayo" ucap Salman menarik tangan Amanda menuju tempat penyewaan sepeda lalu memilih sepeda dan mulai menaikinya
"Bagaimana kau sudah siap" ucap Salman saat keduanya telah menaiki sepeda masing masing
"Siap dong"Ucap Amanda
"Okeh dalam hitungan ketiga kita mulai 1 2 3 " ucap Salman menoleh pada Amanda
Amanda mengangguk dan setelah hitungan selesai mereka mulai menggowes sepeda masing masing
Amanda berada didepan dia memang pandai bersepeda dia sangat lincah menggowes sepedannya meskipun jalanan danau padat pengunjung tapi tidak menghalangi laju sepedanya dia menembus padatnya jalanan sambil sesekali menengok kebelakang melihat Salman yang masih belum mampu mengejarnya
Saat Amanda telah hampir sampai dia kembali menengok Salman tapi dia tidak melihat Salman, Amanda lalu berhenti dan mengitari pandangan memcari keberadaan Salman namum dia tetap tidak menemukan Salman dibelakangnya, lalu dia mendengar suara memanggil namanya dan diapun melihat kedepan dan menemukan Salman telah sampai sambil tangannya diletakan didada dan tersenyum tipis, Amanda langsung menggowes kembali sepedanya dengan lebih cepat
"Kenapa kau bisa sampai duluan bukankah kau ada dibelakangku, kau curang yah" ucap Amanda saat telah sampai dan berhenti didepan Salman
"Hai aku tidak curang, tapi aku pandai aku lewat jalan pintas" ucap Salman sambil matanya melirik pada jalan setapak
"Jadi aku pemenangnya,ini untukmu"lanjut Salman sambil menyerahkan kalung perak dengan bandul bergambar doraemon
"Apa ini, kenapa kau memberikan ini untukku" ucap Amanda mengambil kalung ditangan Salman
"Aku akan memikirkan apa yang akan kuminta sebagai hadiah kemenanganku"Salman mengambil kembali kalung dari tangan Amanda dan memakaikannya dileher Amanda
"Kau sangat cantik Dora, walau itu hanya kalung perak semoga kau tetap menyukainya, simpan kalung itu sebagai hadiah kemenanganku,kau mau kan" ucap Salman sambil menatap kedua bola mata Amanda
"Aku suka kalungnya terima kasih Salman" ucap Amanda sambil melihat kalung dilehernya dan tersenyum menatap Salman
Amanda merasakan ada sentuhan dikeningnya
"Salman" gumam Amanda lirih lalu membuka mata, dan betapa terkejutnya dia saat tahu siapa yang ada didepannya
"Tuan, anda sudah kembali" ucap Amanda mengeser duduknya menjauh
Gio hanya tersenyum tipis ada raut wajah kecewa saat Amanda menyebut nama pria lain dihadapannya, apa Amanda sedang memikirkan pria itu , apa Amanda berharap bahwa pria itu yang mencium keningnya, Gio tidak menjawab pertanyaan Amanda dia lalu beranjak dan meninggalkan Amanda yang masih duduk menatap punggung Tuannya
Gio berjalan menuju ruang belajarnya saat dia akan masuk kedalam dia kembali melihat kebawah dimana Amanda masih duduk dan melihatnya hingga kedua mata itu saling beradu pandang menyisakan jarak diantara keduanya
Tuan Gio keluar dari ruang belajarnya dia melihat Pak Har didepan kamar tamu tempat Amanda beristirahat, lalu dia melihat Amanda keluar dari kamarnya memakai jaket hoodmenutup kepalanya dan tangannya dimasukan dalam saku jaket
"Kau mau kemana" ucap Tuan Gio berjalan kearah Amanda
"Maaf Tuan saya ingin makan martabak saya akan keluar sebentar"
"Tengah malam begini"
"Saya sudah memesan ojek online dan Pak Har juga akan ikut menemani saya, benarkan Pak Har" ucap Amanda menoleh pada Pak Har
Sebelumnya Amanda datang menemui Pak Har diruang kerja dia mengatakan tiba tiba ingin martabak hangat yang dimakan ditempat itu langsung, dia mengatakan mungkin itu keinginan bayinya, Pak Har merasa cemas jadi dia mengizinkannya keluar tapi Pak Har juga harus ikut dengannya, akhirnya Amanda setuju dan memesan dua ojek online
"Benar Tuan saya akan memastikan Nyonya akan kembali"ucap Pak Har
"Aku yang akan mengantarnya, kau boleh istirahat Pak Har" ucap Tuan Gio menoleh pada Amanda
"Tidak perlu Tuan saya ditemani Pak Har saja, anda pasti lelah telah bekerja seharian" ucap Amanda
Tuan Gio lalu menatap Pak Har, Pak Har yang tahu arti tatapan itu segera mengundurkan diri
"Baik Tuan, saya permisi"
"Tuan saya tidak jadi ingin martabak ,maaf Tuan , silahkan istirahat saya permisi" ucap Amanda hendak kembali kekamarnya tapi tangannya telah digenggam Tuan Gio
" Kau mau aku gendong lagi atau jalan sendiri"
"Tuan saya, " ucap Amanda ragu ragu, lalu Tuan Gio mengulurkan tangannya hendak menggendong Amanda "Ah iya saya akan jalan sendiri" ucap Amanda lalu melangkahkan kakinya lebih cepat berjalan didepan Tuan Gio
Suasana dimobil sangat sunyi tidak ada suara yang terdengar mungkin hanya detakan jantung Amanda yang berdegub semakin kencang dan membuatnya susah bernafas, hingga mobil telah terparkir disebuah kafe mewah dengan sorot lampu sangat terang dan terlihat pengunjung yang masih ramai meski telah larut malam
"Tuan kita dimana ini" ucap Amanda melihat sekeliling
"Bukankah kau ingin makan martabak, ini kafe terkenal dengan martabak terenak, ayo turun"ucap Tuan Gio lalu melepas seatbeltnya
" Tapi aku tidak ingin makan martabak disini" ucap Amanda sambil menundukan kepala dalam
" Lalu, kau ingin makan dimana" tanya Tuan Gio
"Disana" ucap Amanda sambil menunjuk gerobak martabak dipinggir jalan yang tidak jauh dari tempat itu dan tersenyum bahagia
"Makanan pinggir jalan itu tidak higienis, kita akan makan dikafe itu"ucap Tuan Gio tegas lalu turun dari mobilnya meninggalkan Amanda yang masih duduk diam menunduk
Tuan Gio lalu membukakan pintu untuk Amanda , tapi Amanda tetap diam bahkan menunduk semakin dalam dan setetes cairan bening menetes dari matanya, Tuan Gio meraih wajah Amanda dengan kedua tangannya dan membuat wajah itu menghadapnya
"Kau menangis, apa kau sungguh ingin makan disana" ucap Tuan Gio sambil menghapus airmata Amanda dengan kedua ibujarinya
Amanda mengangguk dan belum berani menatap Tuannya
"Baiklah ayo kita makan disana,jangan menangis lagi"ucap Tuan Gio mengambil dagu Amanda dengan jari telunjuknya dan tersenyum
Amanda mengangkat pandangannya dan menatap Tuannya yang tersenyum dan menganggukan kepala lalu mengambil tangan Amanda dan membantu melepaskan seatbelt , pandangan keduanya kembali saling beradu sangat dekat bahkan hembusan nafas keduanya bisa saling tercium
Amanda telah berdiri disamping gerobak mengantri bersama para penikmat martabak yang lainnya,martabak itu memang terkenal enak walaupun hanya dipinggir jalan tapi rasanya tidak kalah dengan martabak khas kafe,jadi tidak heran jika martabak itu selalu ramai pembeli yang rela antri demi bisa menikmati kelezatan martabak itu ,Gio yang memperhatikan Amanda yang berdiri lama itu segera menghampiri dan mengeluarkan lembaran uang dari dalam dompetnya dan diletakan diatas gerobak
"Aku sudah membeli semuanya jadi kalian pergilah"ucap Tuan Gio menatap para pembeli yang sedang mengantri
"Sudah sana pergi kenapa masih berdiri disini, kalian boleh datang besok lagi ,ayo pergi" ucap Tuan Gio mengibaskan tangannya
"Tuan anda itu apa apaan kenapa mengusir mereka"ucap Amanda menatap Tuan Gio sambil sesekali menengok pada pembeli yang telah berlalu pergi sambil mulutnya mengoceh karna kelakuan Tuannya
"Mereka semua sudah tidak ada, jadi kau tidak perlu mengantri lagi, ayo duduk pesananmu akan segera siap"ucap Gio menarik tangan Amanda untuk duduk dikursi
Dan benar tidak berselang lama martabak pesanan Amanda telah siap dihadapan Amanda,Amanda segera mengambil garpu dan ditusukan diatas martabak miliknya dan meniup niupnya supaya cepat dingin
"Jangan meniup makanan seperti itu, sini" Tuan Gio mengambil garpu ditangan Amanda dan menggeser martabak kehadapannya memotong motong menjadi beberapa bagian dan menusukkan kembali kegarpu dan menempelkan dibibirnya dan setelah tidak terlalu panas dia menyuapkan pada Amanda
"Ayo buka mulutmu ini sudah tidak panas" ucap Tuan Gio sambil ikut membuka mulutnya
Amanda menurut dan membuka mulutnya menerima suapan Tuan Gio
"Sekarang kau senang , sudah memakan martabak langsung ditempatnya seperti yang kau mau" ucap Tuan Gio masih sambil terus menyuapi Amanda martabak dengan cara ciuman tidak langsungnya
Amanda mengangguk cepat dan tersenyum bahagia
"Tuan anda juga harus mencobanya"ucap Amanda lalu mengambil garpu dan menusukannya saat hendak menyuapkan ke Tuannya tangannya terhenti
"Kenapa kau tidak mencobanya dulu mungkin itu masih panas" ucap Tuan Gio
Amanda lalu menarik tangannya menempelkan pada bibirnya dengan ragu ragu sambil melihat Tuannnya yang tersenyum dihadapannya, dan setelah merasa telah dingin Amanda kembali menyuapkan pada Tuannya dan Gio membuka mulutnya dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya.
tapi yang ngasi Vote kok dikit yaa
semangat Kakak