Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.Kepolosan Anin.
Sesampainya disebuah restauran mewah, Anin sungguh dibuat terkejut lagi oleh mereka.
"Danis, beruntung punya teman-teman anak orang kaya dan mereka sangat baik padanya. Tapi aku masih tetap kekeh dengan pesan mama, aku tidak boleh tertarik pada orang kaya." Batin Anin dalam hatinya.
"Kakak Anin, kamu kenapa?" Tanya Aqila.
"Tidak apa-apa Qila, aku hanya baru pertama ke tempat seperti ini. Pasti ini restauran mahal," Kata Anin dengan begitu polosnya.
Anin yang hanya tinggal disebuah rumah susun sederhana dan berkerja sebagai pelayan cafe. Sungguh ia tidak pernah bermimpi bisa makan direstauran mewah seperti yang ia lihat sekarang.
Lagi-lagi Danis dibuat kagum oleh seorang Anin gadis biasa yang hanya pelayan cafe.
"Inilah yang membuat aku tertarik padamu, aku tidak apa-apa dihukum oleh papa dan fasilitasku tidak kembali yang penting aku bisa menjadikanmu sebagai istriku nanti." Hati Danis terus bicara, matanya terus terpaku pada kecantikan Anindiya.
"Dan, sudahlah jangan terus menatapnya nanti kamu ngiler gara-gara kecantikannya." Bisik Dafa ditelinga Danis, dengan kesal Danis menginjak kaki Dafa, membuat Dafa meringis kesakitan.
"Dasar Danis sialan." Batin Dafa dalam hati.
"Jangan berani memuji Anin cantik, dan jangan sekali-kali kamu meliriknya. Itu lirik saja sih Aqila." Tegas Danis, yang membalas bisikin Dafa.
Anin menatap Danis dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Apa sih yang sedang mereka debatkan?" Batin Anin, ia terus melihat Danis dan Dafa yang sedang berdebat.
Danis memang dari dulu, paling tidak suka jika gadis yang ia sukai dilirik oleh laki-laki lain termasuk Dafa sahabatnya sendiri. Dan sifat ini menurun dari bapaknya yang begitu cemburuan.
"Baik-baiklah, ayo kita masuk atau Aqila akan kelaparan gara-gara kita terus berdebat." Dafa menarik tangan Danis masuk ke dalam restauran itu.
Aqila juga sudah mengandeng tangan Anin untuk masuk ke dalam restauran itu.
.
.
Setelah mereka masuk, kini mereka langsung duduk Anin duduk disebelah Danis dan Aqila duduk disebelah Dafa.
"Anin kamu mau pesan apa?" Tanya Danis dengan nada lembut.
"Sama saja dengan kamu." Jawab Anin dengan nada lembut juga.
"Aku mana tahu makanan di tempat seperti ini? Biasanya aku makan di taman dekat rumah, eh ini makan di restauran mewah." Gumam Anin dalam hati.
"Baiklah, biar aku saja yang memesannya." Kata Aqila dan langsung memesan makanan untuk mereka.
Aqila menunjukkan apa saja yang ia pesan ada pelayan. Setelah Aqila selesei memesan semuanya sang pelayan langsung pergi untuk membuatkan pesanan mereka semua.
"Kak Anin, kenapa bengong?" Tanya Aqila yang melihat Anin dari tadi bengong.
"Dia tidak bengong, dia itu sedang memperhatikan wajah tampanku ini." Cetus Danis, yang membuat Anin mengalihkan pandangannya dari wajah Danis.
"Dih, dasar laki-laki mesum siapa juga yang sedang memperhatikan wajah mesummu itu." Batin Anin dalam hatinya.
"Apa kamu bilang? Dasar laki-laki mesum kamu itu terlalu kepedean." Anin menjulurkan lidahnya, tapi Danis malah tersenyum penuh kemenangan.
"Sudahlah, kalau suka bilang nikah ehh makadudnya suka." Dafa tersenyum dengan jail, membuat Danis rasanya ingin menjitak sahabatnya itu.
"Dafa....!!" Danis dan Anin menatap kesal Dafa.
"Sudah-sudahlah, ini makanan kita sudah datang. Kalau kalian masih terus berdebat sana keluar! Aku lapar mau makan." Aqila mengomel karena Danis dan Dafa terus berdebat.
Dafa tersenyum manis melihat Aqila, gadis yang saat ini sudah menjadi kekasihnya. Tapi Aqila malah mengalihkan pandangannya dan fokus dengan makannya.
Danis memperhatikan Anin yang sedang makan, ia terus menatapnya tanpa berkedip.
"Ini makanan apa? Rasanya aneh sekali." Kata Anin dengan suara lirih, ia kembali menaruh sendok dan garpu ke dalam piring, kini ia hanya melihat makanannya karena tidak cocok dengan lidahnya.
Danis yang mendengar suara lirih Anin, hanya bisa menyembunyikan senyumannya dalam hati.
"Apa dia sepolos ini? Dia bahkan tidak suka dengan makanan yang Aqila pesan." Batin Danis dalam hatinya.
"Apa kamu tidak suka dengan makanan ini?" Bisik Danis ditelinga Anin, membuat Anin terkejut dan menjauhkan kepalanya dari Danis.
Anin hanya menganggukkan kepalanya, lalu Danis tersenyum.
"Nanti malam kita makan di taman ya, tapi aku tidak mau makan bubur lagi." Ajak Danis tentu saja dengan niat agar bisa lebih dekat dangan Anin.
Dafa dan Aqila sebenarnya mendengar percakapan mereka, tapi mereka pura-pura tidak dengar dan asik menikmati makanan mereka.
"Kenapa, kamu cemburu sama tukang bubur tampan itu?" Anin senyam-senyum, ia mulai berani meledek Danis dengan kejailanya.
"Tidak, untuk apa juga aku cemburu." Elak Danis, yang berusaha menyembunyikan rasa kesalnya.
Dafa dan Aqila, mereka sudah selesai makan sedangkan makanan Danis dan Anin masih utuh dipiring.
"Apa kalian tidak makan?" tanya Aqila menatap Danis dan Anin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf Qila, lidah aku tidak cocok memakan makanan seperti itu." Jawab Anin merasa tidak enak pada Aqila.
Aqila yang tadinya sudah mengrucutkan bibirnya, kini ia melebarkan senyumnya.
"Kak Anin, kamu itu lucu sekali. Apa Kak Anin mau makan yang lain?" Tanya Aqila dengan penuh perhatian.
"Tidak usah, aku mau pulang kaki aku sudah pegel." Jawab Anin sambil meringis.
"Dafa sayang, ayo kita pulang!" Rengek Aqila dengan suara cemprengnya.
"Iya ayo kita pulang!" Dafa mengandeng tangan Aqila, dan mengajak Aqila keluar dari restauran itu.
Danis dan Anin berjalan dibelakang Aqila dan Dafa.
"Aqila, sepertinya Danis sedang berusaha mendekati Anin." Kata Dafa sambil berjalan menuju mobilnya.
"Mungkin, tapi biarkan sajalah! Biar Kak Danis bisa lupa dengan Kak Fani." Jawab Aqila.
.
.
Kini mereka semua sudah naik ke dalam mobil, Dafa menyalakan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobilnya kerumah Danis dan Anin.
"Aku yakin kalau kalian pacaran, pasti akan enak apalagi kalian tetanggaan, bahkan rumah kalian tidak ada satu meter." Dafa mulai menjaili Danis dan Anin kembali.
Sungguh Danis merasa sangat geram pada sahabatnya itu.
"Kalau aku ini atasanmu, pasti aku sudah memecatmu. Sayangnya aku sedang berperan sebagai pelayan cafe." Kesal Danis dalam hatinya.
"Berhentilah bicaralah, menyetirlah dengan benar." Danis menatap kesal Dafa yang sedang menyetir.
Anin hanya memejamkan matanya dan tanpa sadar ia tertidur, kini kepalanya sudah bersandar di bahunya Danis.
"Wangi sekali rambutnya." Batin Danis dalam hatinya.
Danis bisa merasakan harumnya rambut panjang Anin, karena sekarang sungguh tidak ada jarak di antara mereka.
Dafa fokus menyetir mobil, sedangkan Danis sedang menikmati harumnya aroma rambut Anin.
.
.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mereka sampai dirumah Anin dan Danis.
"Kak Anin, masih tidur." Kata Aqila yang melihat Anin masih tertidur pulas.
"Dan, kamu angkat saja! Sepertinya dia kecapean." Kata Dafa sambil melihat Danis.
Dafa dan Aqila sudah turun lebih dari mobil, Sedangkan Danis masih terdiam memperhatikan Anin yang masih terlelap tidur.
"Sungguh, kamu cantik sekali." Danis membenarkan rambut Anin yang sedikit berantakan.
"Bibirmu juga sangat imut, siapa laki-laki yang sudah mencicipinya." Danis menatap bibir mungil Anin.
Dafa dan Aqila merasa kesal menunggu Danis yang lama tidak turun-turun dari dalam mobilnya.
"Sebenarnya, apa yang mereka lakukan?" Dafa pemasaran, dan hendak berjalan menuju ke mobilnya tapi dengan cepat Aqila menarik tangan Dafa.
"Kenapa?" Tanya Dafa.
"Biarkan saja! Aku yakin Kak Danis tidak akan berbuat macam-macam pada Kak Anin." Cegah Aqila, ia berusaha meyakinkan Dafa.
Kini Dafa mengurungkan niatnya, untuk pergi menuju mobilnya ia berdiri disamping Aqila dan sabar menunggu Danis dan Anin turun dari mobilnya.
Merasakan bibirnya ada yang menyentuhnya, Perlahan-lahan Anin membuka matanya dan tiba-tiba ia berteriak, karena wajah mereka sudah sangat dekat.
"Aaahk... Danis apa yang mau kamu lakukan?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...