NovelToon NovelToon
RUMI Cintaku

RUMI Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Petualangan
Popularitas:116.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lasmi

Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?

Padahal sudah di jodohkan dan di sayangi kedua belah pihak keluarga, tapi tetap perjodohan yang sudah di rancang itu tidak bisa di teruskan.

Apa alasannya? Padahal pernikahan itu adalah impian dari keduanya.

Kenapa tiba-tiba Fatih melepaskan perempuan yang telah di carinya selama belasan tahun lalu?


Mungkinkah mereka bisa bersama lagi setelah melalui banyak hal?

Perjalanan mereka untuk bisa bersatu kembali tidak mudah, mengalami banyak konflik dan drama kehidupan sehari-hari yang menguras air mata dan menyakitkan dada karena terlalu banyak tertawa.

Ya benar, kalian bisa merasakan salah satunya atau kedua-duanya secara bersamaan.

Kalau belum tahu rasanya tertawa dengan meminum air mata, kalian bisa coba baca novel ini, semoga kalian suka😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan dengan Warga

"Hari besok kita akan melakukan finising, saya meminta laporan teman-teman selama saya tidak ada di sini!” Fatih membuka rapat malam ini, setelah beberapa hari ia tinggalkan karena menemani Rumi di Rumah Sakit.

“Semuanya sudah 90% berjalan seperti semula mas, tidak ada laporan lagi tentang warga yang hilang. Para warga sudah bekerja di ladang-ladang mereka, rumah-rumah yang roboh sudah diperbaiki, jalan-jalan yang terdampak longsor sudah dapat di gunakan kembali dan pembangunan Rumah pengganti pun sudah selesai. Para kontraktor besok sudah pergi meninggalkan kampung ini,” Aldo berkata panjang lebar mewakili teman-teman relawan lain memberikan laporan.

“Alhamdulillah kalau begitu, teman-teman tugas kita di sini sudah di anggap selesai, besok teman-teman bisa melakukan apa yang mau di lakukan atau yang belum sempat di lakukan, lakukanlah! karena lusa kita akan pulang,” senyuman manis Fatih merekah, melihat setiap senyuman yang tergambar dari bibir teman-temannya, Fatih selalu bisa tersenyum meski sesungguhnya hatinya sedang cacat.

Malam ini para relawan membuat api unggun yang cukup besar mereka menghirup udara yang hampir satu bulan ini setia menemani.

Pemandangannya pun cukup mengasyikkan, melihat raut-raut wajah kerinduan yang akan segera terobati, senyuman-senyuman lepas yang tak lepas dari setiap gelak tawa canda mereka malam ini, sebagian ada yang bernyanyi dan sebagian lagi ada yang menikmati untuk menutup masa-masa indah di kampung ini.

Samar-samar Reno terlihat berjalan mendatangi mereka membawa tentengan makanan yang cukup banyak, teman-teman relawan antusias menghampiri dan saling berbagi.

“Kapan pulang Ren?” Fatih membuka mulutnya saat melihat Reno sudah ada di sampingnya.

“Mungkin lusa, karena besok ada yang harus aku lakukan,” Reno menjawab pertanyaan Fatih setelah membenahi tempat duduknya.

“Bagaimana kabar Rumi?” Fatih bertanya pelan, tangannya mulai mencabuti rumput-rumput liar yang ada di sampingnya, sedangkan matanya menatap polos pada api yang berkobar-kobar melahap setiap kayu yang di suguhkan.

“Bagaimana aku harus menjawabnya Fat? tentu saja dia menangis tanpa henti, kesedihannya, baru pertama aku melihat nya seperti ini,” Reno ikut memandang api unggun yang terkadang terseok oleh hembusan angin.

Reno ingat jelas rasa marah karena kekecewaan Rumi berubah drastis ketika ia tahu alasan yang sebenarnya, kekecewaan itu berubah pada sebuah kesedihan yang tak berujung, kesedihan yang bahkan tidak bisa ia tanyakan kenapa jadi seperti ini? kesedihan yang tidak bisa ia adukan keadilannya. Sama persis seperti yang ia rasakan saat pertama tahu alasan mengapa Fatih mencampakkan Rumi hari itu. Hari dimana Reno bertemu Fatih pertama kalinya, laki-laki yang telah menyakiti sahabatnya.

Reno memang bukan orang yang bisa memendam amarah dan sabar dalam setiap masalah, ia tak akan segan langsung bertanya apa yang menjadi akar permasalahanya.

Reno langsung menghampiri Fatih sesaat setelah melihat Rumi bersedih ketika bertemu Fatih, Reno tak segan bertanya kenapa Fatih menyakiti sahabatnya, namun setelah ia tahu alasannya, kekecewaan terhadap Fatih berubah menjadi suatu kesedihan yang tidak bisa ia ungkapkan pada sahabatnya, Rumi.

Sehingga selama ini Reno hanya berdiam memendam rahasia yang tidak ingin sama sekali ia ungkap, tapi hari ini rahasia itu terungkap dan benar dugaannya Rumi benar-benar terpuruk dalam kesedihan.

“Kesedihan itu akan ikut terseret waktu, Rumi adalah perempuan kuat, ia pasti bisa melewatinya,” Fatih mencoba menjawab kegelisahan Reno dan juga sebenarnya kegelisahannya sendiri.

Malam semakin larut, rasa kantuk akhirnya datang, satu persatu para relawan termasuk Reno meninggalkan api unggun masuk ke rumah dan kamp masing-masing.

“Mas tidak mau masuk?” Dika hendak beranjak masuk ke kamp mengajak Fatih yang masih memandang api unggun yang hanya meninggalkan bekas bakaran yang menghitam.

“Masuklah duluan!"Fatih menjawabnya pelan.

Dika masuk ke kamp dan tak lama keluar lagi dengan membawa bantal dan selimut. Ia berbaring di samping Fatih menyelimuti dirinya dengan selimut.

Fatih menoleh dan tersenyum dengan perilaku Dika. Fatih sangat bersyukur di kelilingi orang-orang yang mencintainya.

Sesaat kemudian hembusan angin terasa begitu dingin menusuk tulang, Fatih bergidik kedinginan lalu ikut masuk ke dalam selimut Dika.

“Sini mas aku peluk biar hangat,” Dika memeluk Fatih dari belakang setengah sadar merasakan ada orang yang masuk dalam selimutnya.

“Hiss geli,” Fatih tertawa dan tertidur dengan sebaris senyuman.

**

Pagi datang menyongsong, para relawan saling menyapa setelah shalat subuh bersama, bercengkrama bersama warga melepas rasa yang lama tidak akan bersua.

Fatih dan teman-teman relawan berkeliling ke rumah-rumah warga melihat apa yang belum selesai untuk bisa dikerjakan hari ini sebelum mereka pulang, sekaligus berpamitan kepada para warga. Para warga antusias menyambut mereka, mengucapkan terimakasih dan berfoto bersama.

“Terimakasih mas Fatih, dan sampaikan terimakasih saya untuk nak Rumi, sayang sekali kami tidak bisa bertemu lagi,” Ibunya Dita menangis menyampaikan itu.

“Ingsa Allah ya bu saya sampaikan kalau ada kesempatan, doakan saja semoga Rumi bisa cepat sehat kembali,” Fatih menjawab dengan membungkukan tubuhnya, karena ibunya Dita terus membungkuk seraya menangis tersedu.

“Setiap malam saya berdoa untuk nak Rumi, semoga nak Rumi segera diberi kesembuhan dan kebahagiaan oleh Allah mas,” Ibunya Dita mengusap tangisnya.

“Dan semoga kalian bisa bersama, ibu sangat bahagia kalau mas Fatih sama nak Rumi bisa menikah,” Ibunya Dita tersenyum menggoda Fatih.

“Aamiin,” teman-teman relawan menjawab serempak.

Fatih hanya tersenyum mendengar mereka.

Kegiatan hari ini sudah selesai, hanya sedikit saja yang dikerjakan mereka langsung pulang ke kamp setelah menyapa semua warga.

Mereka sibuk menyiapkan kepulangan, membereskan barang-barang bawaan supaya tidak ada yang tertinggal.

Hari ini adalah hari terakhir mereka di sini. Fatih berjalan-jalan di sekitar kamp terlintas kenangan-kenangan yang ia habiskan bersama Rumi, mungkin hanya saat itu kesempatannya bisa bersama Rumi, setelah ini tidak alasan untuknya bertemu lagi.

Fatih menggenggam batu putih yang sempat ia berikan pada Rumi tapi Rumi membuangnya, ia merasa sudah tidak berhak lagi menyimpannya, tapi begitu sayang kalau harus ia buang.

“Suster apa melihat dokter Reno?” Fatih datang ke Puskemas mencari Reno.

“Ada mas di dalam, masuk saja,” jawab suster itu ramah.

“Terimakasih sus,” Fatih membalas dengan senyuman dan melangkah menuju ruangan Reno.

Tok..tok..

Tak ada jawaban dari dalam, Reno membuka sedikit pintu dan ia melihat Reno sedang menelpon dengan tertawa-tawa, sedang tanganya sibuk membereskan barang-barangnya.

“Hai Fat,” Reno menyapa Fatih setelah melihatnya berdiri di depan pintu.

“Siapa yang menelpon Ren? sampai tertawa itu terdengar renyah,” Fatih nyelonong duduk di kursi dan melihat Reno mengakhiri pembicaraannya di telepon.

“Temen,” kata Reno masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam dus.

“Cowok?” tanya Fatih lagi.

“Iya,” jawab Reno ringan.

“Oohh…” jawab Fatih.

Reno mengangkat alisnya mendengar jawaban Fatih yang singkat tapi menimbulkan tanda tanya, ia tahu rasa penasaran Fatih masih belum terjawab soal dirinya.

“Ada apa kamu kemari, tumben?” Reno melangkah menghampiri Fatih dan duduk di depan kursi yang di duduki Fatih.

“Mau menitipkan ini sama Rumi,” Fatih menyodorkan sebuah kotak.

Reno menerima dan membuka kotaknya, “Apaan nih? Batu kali sama bunga kering,” kata Reno tertawa dengan beribu pertanyaan tersirat dari ekspresi nya.

“Kasih aja, kamu gak bakalan ngerti,” Fatih menekan pembicaraanya.

“Ok, aku amanin dulu,” Reno menyimpan kotaknya dalam tas pribadinya.

“Thank’s ya brow,” Fatih datang memeluk Reno.

“Apaan sih lu, kaya mau di telan bumi aja, pake permisahan begitu, ngeri gue,” Reno berucap aneh dengan sikap Fatih yang gak biasa.

“Aneh apaan cuma ngucapin perpisahan, apa lu emang gak mau berpisah sama gue?” Fatih mengangkat kedua alisnya.

“Hiss nyari yang keren lah gue dari pada sama lu,” Reno tertawa dan menepuk pundak Fatih.

“Hati-hati ya,” Reno mengucap salam perpisahannya.

Malam ini para relawan tidur lebih awal, barang-barang sudah di kemas, sebagian sudah naik ke dalam mobil, mungkin hati-hati mereka sudah lebih dulu pulang, hingga mata minta sesegera terpejam agar malam ini lebih singkat terasa.

Hari itu pun tiba dimana mereka harus meninggalkan kampung ini, kampung yang memberi mereka banyak saudara, kampung yang memberi mereka banyak kesedihan dan tawa, kampung yang banyak mengajarkan bahwa bencana bisa datang kapan saja dan menimpa siapa saja. Tapi mereka tidak sendiri, mereka masih punya saudara yang siap menjaga, memberi, dan berbagi.

Lambaian tangan para warga mengantarkan mereka pada sebuah cerita, kalau kebaikan bisa mereka tebar di mana saja.

Tak sedikit dari mereka yang mengantar dengan tetesan air mata dan di balas dengan air mata kebahagiaan.

Mereka masih setia melambaikan tangan melepas saudara yang tiba-tiba datang membawa secercah harapan saat badai menerjang, hingga para relawan lepas dari pandangan, mereka saling merangkul menguatkan.

1
Aryani💞hambaliAziz
udh lama di rak buku tp baru baca, sepertinya bagus, klu udh baca trs jatuh cinta sama novel ini jgn digantung ya kak... 😍
Sokili Madil
hai
Inggri
nyimak 😊
🍒⃞⃟🦅Aza_thv🐨
smngt kk othor 💪😄
🍒⃞⃟🦅Aza_thv🐨: done kk lion
total 2 replies
Ipah Cakep
konyol kamu Thor 😁😁😁😁
Ipah Cakep
😁😁😁😁😆😆😆😅😅🤣
Ipah Cakep
can't say anything just laugh 😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
Ipah Cakep
Auto ngakak guling-guling cekikikan tengah malam ni Thor 😁😁😁😁😁😁😁😁😅
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim.. Reno 🤒🤢🤕🤮🤧🥵🥶
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim
Ipah Cakep
Lucu banget kamu Thor aku padamu Thor semangat kk
Ipah Cakep
Auto mewek lagi Thor 😔😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
betul banget Thor! sekali berbohong org ga bakal percaya lagi
Ipah Cakep
Rumi dikit ceroboh ya Thor harusnya dia tw diri kan guru anak muridnya bukan kawan papa Rena.🤔😒🙄😔 Hadeuuuhh.. Ga tw mw dibawa hubungan kita eh cerita ini. up to you lah Thor..
Ipah Cakep
Love you too k Lasmi 🥰😍🤩😘😇
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim
Ipah Cakep
Eh tu mah mama n papa Rena aj yg ga mw diskusi ngurus anak2nya.. harusnya saling melengkapi 1 sm lain namanya rumah tangga penghuninya harus melangkah bersama melalui banyak tangga. kalo rumah hantu yg penghuni hantu kayak rmh Rena menakutkan hihihihihi....apan sih curhat 😄😄😄😄😅😅😅
Ipah Cakep
konyol banget bg Ahmad 😁😁😁😁😁😄😄😄😄😄🤣🤣🤣
Ipah Cakep
Rumi lemah lembut n penyayang anak2 ya Thor.. aku suka aku suka.. 🥰 Apa ibunya Rena yg buat lebam gt Thor??
Ipah Cakep
😆😆😆😆😆😆😆😊😆🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!