NovelToon NovelToon
(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Saras Arindu

Nikah muda sesungguhnya tidak begitu masalah buat Arin, tapi kenapa harus mendadak? Tanpa pesta dan terkesan buru-buru. Apalagi calon suaminya yang tidak dikenalnya, ralat, tidak ia ketahui sama sekali, bahkan hanya untuk nama.

Dihari H, ia dikejutkan dengan satu hal bahwa suaminya adalah kakak dari mantan terindahnya. Kenyataan itu membuatnya merasa aneh dan berpikir bahwa ia sedang dipermainkan.

Tapi tanpa Arin sadari seiring berjalannya waktu, tingkahnyalah yang seakan mempermainkan kakak beradik itu.

Penasaran bagaimana kisahnya? Bagaimana Arin mempertahankan pernikahannya dan menyatukan dua bersaudara yang bersitegang karenanya? Jika ingin tahu jawabannya, mari baca dari awal sampai akhir.
***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Arindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

"Kak Ken, bangun!"

Arin mengoyang-goyang tangan Kenzi

tapi hanya dibalas dengan gumaman saja. Arin mencoba lebih keras menggoyangkan

tubuh Kenzi sambil memanggil-manggil nama pria itu sedikit keras. Tapi tetap

saja tidak ada perubahan.

Lelah membangunkan dengan cara halus

tapi tak ada reaksi, otak Arin bekerja cepat tentang apa yang harus ia lakukan.

Ia tersenyum lembut, meraba wajah Kenzi dengan sayang. Sentuhan jamarinya

diwajah Kenzi dibuat selembut mungkin. Lalu dengan cepat ia layangkan tangannya

ke udara dan ia daratkan dipipi Kenzi dengan keras.

"Aw.." Kenzi membuka mata

dan menatap Arin tak percaya. Ia memegang pipinya yang terasa panas. "Kamu

kenapa jadi jahat?" Desisnya.

"Bangun, mandi lalu sarapan,

sudah siang." Kata Arin sambil berlalu meninggalkan Kenzi yang masih

meraba pipinya.

"Tahu begini tadi langsung bangun

saja." Gerutu Kenzi menyesal. Ia memang sudah terbangun sejak sang istri

kembali masuk kedalam kamar. Tapi karena ia suka mendengar suara Arin saat

membangunkannya yang menurutnya terdengar kesal-kesal manja, jadi ia

berpura-pura masih tidur dan belum mau bangun.

Tindakan Arin yang menamparnya tadi

bisa pernah ia duga. Pasalnya selama ini jika Kenzi belum mau bangun, Arin

hanya akan menggoyang tubuh Kenzi dengan keras. Jadi cara Arin membangunkannya

tadi adalah pertama kali. Menipu, pikir Kenzi. Awalnya Arin terlihat seperti

sedang menggodanya tapi setelahnya ia mendapatkan tamparan keras. Sebuah tamparan

pertama dalam perjalan hidupnya.

Begitu keluar dari kamar mandi, tempat

tidur yang biasanya sudah rapi dan diujung tempat tidur akan ada pakaian untuk

Kenzi pakai, sekarang tempat tidur itu masih berantakan dan tidak ada pakaian

untuknya.

Arin tidak menyiapkan pakaian

untuknya? Ah, mungkin Arin hanya sedang kesal dan lupa akan hal itu. Pikir

Kenzi positif.

Sebulan terakhir Arin memang selalu

menyiapkan pakaian untuknya dan tidak pernah alpa, bahkan dihari minggu. Tapi

sepertinya hari ini pengecualian, Arin hanya lupa pasti.

Kenzi turun dengan pakaian kerjanya.

Terlihat Arin tengah duduk santai dimeja makan sedang menikmati sarapannya.

"Hanya roti?" Tanya Kenzi

sedikit terkejut melihat sarapannya. Hanya beberapa lembar roti selai. Sungguh

ini tidak pernah terjadi. Selama ini Arin tidak pernah menyajikannya roti

sebagai sarapan. Tapi sepertinya hari ini kembali pengecualian.

Arin menganguk sekali. "Lagi

malas," katanya sambil melanjukan makannya.

Kenzi mengernyitkan kening melihat apa

yang sedang disantap Arin. "Kamu makan apa?" Arin hanya mendongak

menatapnya sekilas lalu kembali makan. "Kamu makan es campur

pagi-pagi?"

"Kalau kamu mau, masih ada

dikulkas tinggal campur saja." Ucapnya santai seakan makan es campur

pagi-pagi itu adalah hal biasa.

Kenzi melahap roti selainya dan

mengabaikan Arin yang masih semangat menikmati es campur. Kenzi merasa itu

tidak masalah asal jangan sering-sering saja. Tapi porsinya itu membuat Kenzi

geleng kepala. Sudah satu mangkuk sup Arin habiskan dan sekarang sekarang sedang

menikmati semangkuk lagi.

Astaga, Arin bisa sakit perut.

"Kak Ken, mau ke mana?"

Tanya Arin memecah keheningan diantara mereka.

"Ya kerjalah." Jawabnya

masih dengan menatap Arin aneh.

"Hari minggu, kan. Kok

kerja?"

Seketika Kenzi tersedak roti yang ia

makan. Buru-buru ia meminum secangkir kopi yang Arin sajikan. Tapi langsung ia

semburkan.

"Makanya hati-hati." Kata

Arin datar, tidak menyadari tatapan aneh dari Kenzi.

"Kopinya bukan panas tapi

asin." Balas Kenzi menjelaskan. Yang membuatnya menyemburkan kopinya

memang bukan karena masih panas tapi karena kopi yang dibuat Arin itu bukan

manis melainkan asin sekali.

"Siapa yang suruh minum kopi

asin?" Masih dengan nada datar Arin berucap. Ia bangkit lalu meninggalkan

meja makan.

Mata Kenzi melebar mendengar ucapan

Arin. "Ini tidak dibereskan dulu?" Tanyanya sedikit keras.

"Nanti, masih malas."

Ucapan santai Arin malah membuat Kenzi

ternganga. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Tidak sadar bahwa masih ada

piring bekas rotinya tadi membuatnya meringis kecil.

Arin kenapa?

Tingkah Arin memang sedikit tidak

biasa. Mungkin memang sedang malas. Lagi-lagi Kenzi berpikir positif.

Karena Arin sedang malas, Kenzi

berinisiatif untuk membersihkan rumah. Kalau biasanya mereka akan berkerja sama

membersihkan rumah, sepertinya hari ini Kenzi membersihkan seorang diri

sementara Arin tengah duduk santai didepan televisi dan memangku toples kacang

telur. Kenzi membiarkan, biar saja istrinya itu sedikit bersantai saat

menikmati hari libur.

Usai membersihkan rumahnya yang cukup

besar dan seorang diri, Kenzi kembali membersihkan dirinya yang terasa lengket.

Saat keruang tengah, Arin sedang berbaring miring disofa dengan tangan kiri

digunakan sebagai penyangga kepala. Dan yang tidak berubah adalah mulutnya yang

tidak berhenti mengunyah sejak pagi. Kali ini dimeja sudah berserakan berbagai

macam bungkus snack. Sekarang saja mulutnya sedang mengunyah donat. Sekotak

donat yang Kenzi yakini berisi dua belas kini hanya tersisa dua buah saja.

Kenzi mengusap rambutnya keatas sambil

menghela nafas pelan. "Tidak takut gemuk makan terus dari tadi?"

Arin menatap Kenzi sengit.

"Memang kenapa kalau aku gemuk? Ngga suka? Mau tinggalkan aku? Mau cari

yang lain? Cari saja sana!" Arin bangkit meninggalkan Kenzi yang

tercengang.

"Dia kenapa sih? Sensitif

sekali."

Tak lama terdengar suara Arin yang

berteriak kencang. Cepat Kenzi berlari kearah taman belakang karena sempat ia

lihat tadi Arin berjalan kesana. Dan benar sana Arin berada disana, tepatnya

diruang olahraga milik Kenzi. Wanita itu menunduk dan menutup wajahnya dengan

kedua tangan. Bahunya bergetar dan terdengar isak tangis.

"Ada apa?" Suara Kenzi

terdengar khawatir.

Arin mengangkat kepalanya dan langsung

memeluk Kenzi. Kenzi sedikit terkejut apalagi suara tangis Arin semakin menjadi

dipelukannya.

"Hei, ada apa?" Kenzi

berusaha mengurai pekukan mereka tapi Arin semakin mengeratkan pelukannya.

"Ada apa, hem?" Kali ini

Kenzi tak berusaha mengurai. Ia mengelus sayang kepala Arin. "Ada apa,

Arin?" Tanyanya sekali lagi.

"Berat badanku... na..ik."

Kata Arin terhisak.

Ingin rasanya Kenzi tertawa tapi

berusaha keras ditahannya. Kalau ia tertawa mungkin tangis Arin semakin

menjadi. "Memangnya kenapa kalau naik?"

"Nanti jadi gendut, ngga

mauu." Kali suara Arin terdengar merengek.

"Eh, kenapa ngga mau?"

"Nanti kamu tinggalin aku. Huwaa

ngga mauu.." katanya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan semakin

mengeratkan pelukannya.

Kenzi tertawa pelan. "Tadi

katanya tidak apa-apa kalau aku cari yang lain?" Godanya.

Arin mendongakan kepalanya.

"Tidak boleh!" Katanya galak.

Kenzi tertawa lagi. "Iya, tidak

akan. Tenang saja ya? Kamu mau gemuk atau kurus tetap saja cantik."

"Benarkah?" Tanya Arin

semangat. Kenzi hanya tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu itu aku mau

makan lagi."

"Eh?"

1
💝🧚SHA_QUANDRA 😇
Kenzi pergi selama itu psti karena merasa sakit hati liat bininya yg msh bermanja2 ke mantan. Lagian si bini jg gk bs menempatkan diri dgn sewajarnya. Gak tahu batasan. Polos sih polos tp ini terkesan bodoh si arin. Mending kenzi cari bini aja lg.
fifid dwi ariani
trus bersyukur
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus berkarya
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus sehat
Fitriyani Puji
ini crita nya galih sembuh dan menikah ama risda ato bagemana ini
Fitriyani Puji
kamu ngak tau aja di hamil pertama arin tidak tkut kluar mlm untuk cari makn ,jangn bilang erin di culik galih lagi
Fitriyani Puji
ini ank ngak ada dwasa nya ya ya jelas emosi kalo kerj d gangu mndeng kalo di sayang ini kaya ayam di cabuyi bulu nya kalo aku udah tk tendang
Fitriyani Puji
kenapa ngak lngsong aja ngak usah seassn 2
Fitriyani Puji
jangan lagi ada konflik ya seasen 2 biar kn mereka bahagia jangan ada lagi kemelut
Fitriyani Puji
trnyata kenzi suami pengertian semoga slalu tentram dan bahagia amiin
Fitriyani Puji
hhhhh gokil mereka
Fitriyani Puji
lsnjut thor jangan ada konflik baru lagi
Fitriyani Puji
kenapa mati thor dia belum menyesali perbuatan jahat nya pada ank sendiri hadeeeeh
Fitriyani Puji
bagemana bisa ank kandong berasa ank tiri ternyata kenzi sudah menderita sejk balita semoga kedepanya dia bahagia dengan kluarga kecil nya amiin
Fitriyani Puji
oalah ibu macam apa itu msak ngak merasa dia ank sendiri anh deh
Fitriyani Puji
ah rahasia apa lagi thor kenapa bnyak sekali teka teki nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!