Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Harga awal untuk sertifikat tanah Teluk Emas dibuka di angka lima puluh milyar rupiah."
"Kelipatan penawaran adalah lima milyar rupiah."
"Silakan dimulai."
Wush.
Dimas langsung mengangkat papan nomornya ke udara tanpa ragu sedikitpun.
"Enam puluh milyar."
Pembawa acara menunjuk ke arah Dimas dengan semangat.
"Enam puluh milyar dari Tuan Dimas."
Beberapa pengusaha lain yang awalnya berniat ikut menawar langsung menurunkan papan mereka.
Mereka tahu kondisi Dimas sedang terjepit saat ini dan pria itu pasti akan melakukan tindakan nekat.
Namun tiba-tiba sebuah suara santai terdengar dari barisan paling depan.
"Seratus milyar."
Sony mengangkat tangannya tanpa memegang papan nomor sama sekali.
Keheningan seketika melanda seluruh aula tersebut.
Semua orang menatap kaget ke arah pria berjas hitam itu.
Seratus milyar diucapkan semudah membeli kacang goreng di pinggir jalan.
Wajah Dimas memerah karena amarah yang mulai memuncak ke kepalanya.
"Seratus sepuluh milyar."
Dimas kembali mengangkat papannya sambil menatap tajam ke arah punggung Sony.
"Dua ratus milyar."
Sony kembali menyebutkan angka yang membuat jantung semua orang di ruangan itu seolah berhenti berdetak.
"Gila."
"Siapa sebenarnya pria itu?"
"Dia menaikkan harganya nyaris dua kali lipat dalam satu tarikan napas."
Bisikan para tamu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih panik.
Dimas mulai berkeringat dingin mendengarnya.
Dua ratus milyar sudah melebihi seluruh uang tunai yang bisa dia kumpulkan malam ini.
Dimas menoleh ke arah Wijaya dengan tatapan memelas.
"Pak Wijaya, tolong pinjamkan saya lima puluh milyar lagi."
"Saya jamin tanah itu akan menjadi milik kita."
Wijaya menelan ludah dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau sudah gila, Dimas."
"Harga tanah itu paling mahal hanya seratus lima puluh milyar di pasaran."
"Aku tidak mau ikut campur dalam ego gilamu itu."
Wijaya langsung bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kursinya begitu saja.
Dimas merasa dunia di sekitarnya runtuh seketika melihat satu-satunya donaturnya pergi meninggalkannya.
"Dua ratus milyar, apakah ada yang mau menawar lebih tinggi lagi?"
Pembawa acara bertanya dengan suara bergetar karena sangat bersemangat.
Aula itu hening total, tidak ada satupun yang berani melawan angka gila tersebut.
"Dua ratus milyar satu kali."
"Dua ratus milyar dua kali."
Tok.
Suara palu kayu dipukul dengan keras ke atas meja mimbar.
"Dua ratus milyar tiga kali, terjual kepada Tuan di barisan depan."
Tepuk tangan riuh langsung menggema memenuhi seluruh ruangan aula.
Dimas duduk mematung di kursinya dengan wajah sepucat mayat hidup.
Satu-satunya jalan keluar yang dia miliki baru saja dihancurkan tepat di depan matanya sendiri.
Sony perlahan bangkit berdiri dari kursinya dan merapikan jasnya.
Dia menoleh ke belakang dan menatap Dimas yang terlihat seperti orang kehilangan jiwa.
Sony berjalan santai mendekati kursi Dimas dan membungkukkan sedikit badannya.
"Bagaimana rasanya, Dimas?"
"Melihat semua harapanmu hancur berkeping-keping di depan mata semua orang yang kau kenal."
Sony berbisik tepat di telinga Dimas dengan nada yang sangat pelan namun mematikan.
"Ini baru hari pertama aku kembali ke kota ini."
"Dan kau sudah kehilangan setengah nyawamu."
Dimas mendongakkan kepalanya menatap Sony dengan mata yang sudah memerah penuh urat darah.
"Aku akan membunuhmu, Sony."
"Aku bersumpah akan mencincang tubuhmu malam ini juga."
Desis Dimas dengan suara serak yang tertahan di tenggorokannya.
Sony hanya tersenyum mengejek mendengar ancaman kosong tersebut.
"Aku akan menunggu anjing-anjing suruhanmu itu datang mencariku."
"Pastikan kau membayar mereka dengan mahal."
Sony menegakkan badannya kembali lalu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
[Sistem Pemberitahuan: Lelang Berhasil Dimenangkan]
[Sisa Kendali Finansial Grup Dimas Turun Menjadi Nol Persen]
[Aset Tanah Teluk Emas Kini Masuk Ke Dalam Inventaris Tuan]
Layar biru transparan muncul tepat di depan wajah Sony memberikan laporan hasil kemenangannya.
Sony membalikkan badan dan berjalan keluar dari aula lelang itu diikuti oleh Leo dari belakang.
Meninggalkan Dimas yang duduk gemetar menahan rasa malu dan kekalahan telak di depan seluruh elit kota Jakarta.
Namun tanpa Sony sadari, dari atas balkon lantai dua aula tersebut.
Sepasang mata tajam sedang mengawasi setiap pergerakannya di bawah sana.
Seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi yang menutupi separuh wajahnya berdiri dalam diam di area gelap balkon.
Srek.
Pria itu menarik pelatuk pistol berperedam suara miliknya perlahan-lahan.
Sebuah lambang tengkorak kecil berwarna perak terlihat terukir di gagang senjatanya.
Itu adalah tanda kebesaran dari Sindikat Bayangan.
"Target sudah dikonfirmasi."
Pria misterius itu bergumam pelan di balik kerah jaketnya sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam.