Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Mata Santi melotot sempurna, saat melihat apa isi kertas itu. Dia tidak menyangka bahwa ibu mertua nya akan melakukan hal ini secara diam - diam.
"Mas, jangan percaya mas semua ini. Ini semua tidak benar!" Santi berkata pada Gibran.
"Terserah pada mu Gibran, kau mau percaya atau pun tidak. Ibu sudah memberi tahu mu kebenaran ini, jika kau masih tidak percaya maka silahkan saja datangi rumah sakit tempat tes itu di lakukan!" Bu Meri berkata dengan penuh ketegasan.
"Ayo Sarah, kita pergi dari sini!" Bu Meri segera mengajak Sarah pergi dari tempat itu.
"Baik bu!" Jawab Sarah sambil mengangguk kan kepala nya.
"Bu, tunggu bu!" Pak Burhan menahan bu Meri.
"Ada apa lagi, pak? Selingkuhan mu lebih membutuhkan mu di bandingkan aku!" Sindir bu Meri dengan ketus.
"Bu, percaya lah pada ku. Dia hanya teman ku, bukan selingkuhan ku!" Pak Burhan berkata dengan nada memelas.
"Teman? Teman tapi mesra nya melebihi istri sendiri!" Balas Bu Meri.
"Ayo Sarah, tidak ada guna nya berlama - lama berada di dekat manusia - manusia tak bermoral ini!" Ajak Bu Meri pada Sarah.
Kedua nya pun keluar dari tenda itu, mereka memasuki mobil dan langsung pergi dari sana. Bu Meri dan Sarah sengaja menggunakn jasa sopir, karena tempat nya cukup jauh jika Sarah mengemudikan mobil nya sendiri.
Sementara itu, di tempat pesta resepsi itu berlangsung. Ketegangan tampak masih jelas terlihat, wajah Gibran merah padam menahan amarah dan malu.
"Santi, katakan pada ku dengan jujur. Apa benar Kevin bukan lah anak ku?" Tanya Gibran dengan tatapan mata nyalang.
"Mas, itu tidak benar. Kevin adalah anak mu, dia anak kita berdua. Tolong jangan percaya dengan surat palsu itu!" Santi berkata sambil meraih tangan Gibran.
"Iya nak Gibran, Santi tidak berbohong. Percaya lah pada nya, Kevin adalah putra mu, darah daging mu!" Bu Tuti ikut meyakin kan menantu nya.
"Gibran, jangan dengarkan kata - kata ibu mu. Dia pasti berbohong dan bapak yakin, semua ini pasti ide nya Sarah!" Pak Burhan ikut menimpali.
"Iya nak, jangan jangan percaya semua ini!" Bu Meri ikut bersuara.
Gibran ingin percaya pada ucapan mereka semua, tapi hati kecil nya sendiri merasa bahwa surat ini tidak mungkin salah.
"Aku akan membuktikan semua nya sendiri, aku akan pergi ke rumah sakit dan memeriksa nya sendiri!" Ucap Gibran pada akhir nya.
Wajah Santi semakin pucat mendengar ucapan Gibran, dia tidak mau Gibran sampai mengetahui semua kebenaran nya.
'Gawat, mas Gibran tidak boleh tahu jika Kevin bukan lah darah daging nya. Aku harus melakukan sesuatu, aku harus bisa mencegah mas Gibran pergi ke rumah sakit!' Santi membatin di dalam hati.
"Mas, kau tidak perlu ke rumah sakit. Buat apa kau memeriksa nya kembali, semua ini sudah pasti palsu. Ini adalah ulah Sarah, dia cuma iri melihat kebahagiaan kita dan dia ingin menghancurkan nya!" Santi berkata sambil meraih tangan Gibran.
"Tidak Santi, aku harus bisa membuktikan semua ini sendiri. Aku merasa terganggu dengan kedua surat ini, aku akan pergi selarang juga!" Gibran berjalan turun dari pelaminan.
"Tidak mas, kau tidak boleh pergi!" Santi berteriak dengan histeris.
Gibran langsung menghentikan langkah nya, ketika dia mendengar teriakan dari Santi. Mendadak rasa curiga mulai muncul di dalam hati Gibran, sikap Santi barusan membuat nya merasa yakin bahwa Santi tengah menyembunyikan sesuatu selama ini.
"Kenapa Santi? Kenapa kau takut? Apa semua yang ibu ku katakan itu benar?" Tanya Gibran dengan tatapan tajam.
"Ti,,,, tidak. Bukan begitu mas, aku cuma tidak mau kau sampai meninggalkan pesta resepsi pernikahan kita. Di sini ada banyak para tamu undangan, jadi tidak mungkin kan jika pengantin pria nya tidak ada. Mereka bisa bertanya - tanya nanti nya!" Santi memberikan alasan agar Gibran tidak curiga.
Jawaban Santi barusan bukan nya membuat Gibran percaya, justru dia semakin curiga dengan Santi.
"Santi, sekali lagi aku bertanya pada mu. Apakah Kevin benar bukan lah anak ku?" Gibran kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Mas, aku sudah menjawab nya sejak tadi. Kevin itu adalah anak kita, dia darah daging mu. Kenapa kau menanyakan nya kembali!" Jawab Santi dengan suara bergetar.
"Jika itu memang benar, kau tidak akan takut Santi. Tapi aku melihat ketakutan di dalam bola mata mu, katakan Santi, apakah Kevin itu bukan anak ku?" Kembali Gibran bertanya sambil membentak Santi dengan suara menggelegar.
Melihat Gibran yang sudah sangat marah, Sangi pun langsung ketakutan. Kedua orang tua Santi langsung maju, untuk menenangkan Gibran.
"Nak Gibran, Santi sudah menjawab nya sejak tadi. Kenapa kau malah memarahi nya?" Tanya bu Tuti.
"Kalian berdua jangan ikut campur urusan ku dan Santi, aku bertanya pada Santi. Jika aku sampai menemukan kebenaran dari surat ini, maka aku tidak akan memaafkan kalian semua. Khusus nya kau Santi!" Gibran berkata sambil menudingkan tangan nya ke wajah Santi.
Gibran langsung berbalik, dia tidak ingin menunda lagi. Dia ingin tahu kebenaran dari kedua surat ini, tapi tiba - tiba ucapan yang keluar dari mulut Santi membuat nya menghentikan langkah.
"Aku sudah hamil duluan sebelum menikah dengan mu, mas!" Jawab Santi tiba - tiba.
Ucapan yang keluar dari mulut Santi bagaikan petir yang menyambar Gibran, dia tidak menyangka Santi akan membohongi diri nya selama ini. Gibran langsung membalik kan badan nya, dia menatap santi dengan tajam seperti binatang buas yang melihat mangsa nya.
"Ulangi lagi, Santi!" Perintah Gibran dengan suara bergemuruh.
"Maafkan aku mas, dulu aku hamil duluan dengan pacar ku. Tapi dia tidak mau bertanggung jawab, dan dia malah meninggal kan aku. Aku tidak tahu harus bagai mana, itu lah sebab nya aku menjebak mas Gibran agar mas Gibran mau menikah dengan ku!" Jelas sambil berlutut di kaki nya Gibran.
Gibran langsung terdiam mendengar nya, dia tidak menduga bahwa wanita yang sangat dia percaya selama ini akan menipu nya selama bertahun - tahun. Selama 8 tahun ini, Santi dan keluarga nya sudah membohongi diri nya.
"Apa? Jadi Santi menjebak Gibran, anak itu bukan lah anak Gibran!" Seorang warga berkata dengan suara keras sehingga semua orang mendengar nya.
"Dasar wanita murahan, dia merebut seorang suami sah dari wanita lain. Demi menutupi aib dan juga dosa nya, benar - benar wanita murahan!" Warga yang masih berada di sana mulai menghujat Santi.
Kini Santi hanya bisa berlutut di kaki nya Gibran sambil menangis, rahasia yang dua simpan selama 8 tahun ini akhir nya terbongkar di hadapan warga kampung ini.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah