"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Pintu
Arnold menggenggam ponselnya kencang saat Jessica telah menghubunginya kalau Pak Raka menyetujui mereka akan mengadakan lamaran di Kemang.
Satu pintu seperti berhasil Arnold buka untuk membebaskan Arini dari sangkar emas Ayah biologisnya.
Arnold senang hingga menengadahkan wajahnya ke atas seraya duduk di kursi kerjanya dan membuat Bagas mengernyitkan dahinya heran.
Mantan tunangan Arini itu tidak tau jika Arini tengah diculik oleh Ayah biologisnya.
"Tuan! maaf jika saya lancang, Anda terlihat lega sekali." Bagas mengomentari Arnold yang senyum-senyum sendiri.
Arnold tersadar jika tadi Bagas ada di ruangannya, lalu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban tanpa menjelaskan.
"Kapan Anda akan honeymoon, Tuan?" Bagas bertanya namun Arnold malah menatapnya tajam, "Maaf Tuan, hanya saja saya ingin menandai pekerjaan Anda yang mana saja yang bisa ditunda dulu."
"Masih lama." Arnold mendongak menatap langit-langit ruang kerjanya, "besok malam aku akan melamar Jessica."
"Tuan!" teriak tertahan Bagas, "Nyonya Arini mau Anda duakan?"
"Cuman itu yang bakal jadi pintu biar aku bisa ketemu Arini."
"Maksud Tuan?" Bagas gagal paham rasanya, maksudnya apa Tuannya ini, mau melamar Jessica tapi untuk menjadi pintu ketemu Arini, lalu Arini dimana memangnya, "Nyonya Arini ada di mana, Tuan?" Bagas bertanya lagi saat Arnold hanya diam seraya menatap tajam dirinya.
"Arini diajak pergi Papanya Jessica."
"Kok bisa, Tuan?" Bagas kembali dengan cepat bertanya.
"Bisa. Karena Papa Jessica baru tau kalau Arini anak biologisnya." Arnold menyandarkan punggungnya, "Kamu pasti tau maksud Arini minta ijab kabul dengan menggunakan bahasa Arab."
"Jadi Ayah biologis Arini selama ini Pak Raka pemilik Diamond Grup?" Bagas melebarkan matanya mendengarnya dan Arnold mengangguk sebagai jawaban.
"Susah kalau mau menembus Pak Raka, Tuan. Bisa saja beliau setuju Anda melamar Nona Jessica, tapi Nyonya Arini sudah dipindahkan ke tempat yang berbeda." Bagas mengingatkan, "Diamond Grup perusahaan yang begitu licik Tuan, ia akan mengubah pasal-pasal secara tiba-tiba yang membuat ia bisa mengakuisisi perusahaan yang bekerja sama dengannya. Anda perlu hati-hati, Tuan."
Arnold menganggukkan kepala, karena ia juga mendengar itu dari perusahaan-perusahaan yang diakuisisi Diamond Grup.
Kring~~~
Mom Celia menelpon Arnold dan Arnold pun langsung menjawabnya. "Ada apa, mom?"
"Arnold! Kamu mau melamar Jessica kenapa enggak ngasih kabar sama Mom?" teriak Mom Celia.
Andai Arnold ada di depannya, mungkin telinga Arnold sudah habis dijewer Mom-nya.
"Arnold akan datang sendiri bersama para pengawal."
"Arnold!" marah Mom Celia bersungut-sungut, "Kamu anggap apa Mom dan Dad di hidupmu?"
"Kalian orangtua Arnold." jawab Arnold cepat.
"Nah, kalau orangtua, kenapa hari bahagia anaknya enggak dikasih kabar?" Mom Celia geregetan.
"Arnold tidak perlu menjelaskan dua kali apa yang sudah Arnold katakan, Mom."
"Arnold!" teriak Mom Celia begitu nyaring dan sukses membuat Arnold menutup telinganya. "Mom mau ikut melamar Jessica."
"Tidak. Arnold tidak mengizinkan Mom ikut."
"Kenapa Mom tidak boleh ikut, Arnold?" tanya Mom Celia terperangah dengan jawaban anaknya.
"Karena acaranya cuman keluarga aja, Mom."
"Dan Mom keluarga inti kamu, Arnold."
"Itu dulu Mom."
"Kok dulu? Memangnya sekarang Mom enggak jadi Mom kamu lagi?" Mom Celia geregetan dengan putra bungsunya.
"Mom tetap Mom Arnold! Tapi keluarga inti Arnold sekarang ya istri Arnold." jelas Arnold dan sukses membuat Mom Celia langsung berteriak memanggil namanya.
"Mom kenapa suka sekali teriak-teriak? Telinga Arnold sakit, Mom." gerutu Arnold.
"Kamu itu! Gimana Mom enggak teriak kalau kamu aja segemesin itu. Huh!"
"Udah dulu ya, Mom.. Arnold mau meeting. Bye!" Arnold memutus sambungan secara pihak lalu memejamkan matanya sesaat.
Ia akan melamar Jessica bukan dengan niat benar-benar melamar, ia hanya ingin masuk ke rumah Pak Raka yang ada di Kemang itu untuk bertemu dan mengajak Arini pergi dari rumah itu walaupun skenario yang ia buat mempunyai peluang yang begitu kecil.
Namun Arnold tetap ingin memanfaatkan peluang itu untuk sebisa mungkin gerak cepat menemukan Arini.
***
Hari berganti begitu cepat, dan waktu malam pun datang.
Arnold yang tengah memakai kemeja, celana dan jas berwarna abu-abu disertai sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat sudah sampai di depan gerbang rumah Pak Raka yang ada di Kemang.
Arnold tidak perlu berbicara dengan satpam jaga, tapi ia langsung mengeluarkan hapenya memanggil nomor Jessica untuk berbicara pada wanita itu jika ia telah sampai.
Dan saat Jessica sudah menyuruh satpam untuk membuka pintu gerbangnya, Arnold pun masuk beserta pengawalnya.
Namun, saat Arnold turun dari mobilnya, Laki-laki bermuka bengis itu mengernyitkan dahinya saat melihat ada mobil satu lagi yang sangat ia kenali juga masuk ke rumah Pak Raka.
"Mom!" panggil Arnold saat Mom Celia turun dengan pakaian serba mewahnya.
"Dari dulu Mom maunya punya mantu Jessica. Yang kaya raya biar kamu jadi makin kaya." Mom Celia berbisik di telinga Arnold, "Dan Mom tidak mungkin tidak hadir saat keinginan Mom tercapai."
Arnold menggelengkan kepalanya mendengarnya.
"Kamu hebat, Arnold!" ujar Dad Graham dan membuat Mom Celia mendelik mendengarnya.
"Maksudnya hebat ini konteksnya gimana, Dad?" Mom Celia menatap suaminya tajam, "Dad juga mau menikah lagi?"
"Tidak! Kapan Dad bilang begitu?" kilah Dad Graham seraya susah menelan saliva.
"Awas aja kalau Dad mau menduakan Mom. Dad bakalan jadi gelandangan." ancam Mom Celia dan sukses membuat Arnold terus menggelengkan kepalanya.
"Mom melarang Dad menikah lagi karena sudah menikah dengan Mom, tapi Mom mendukung Arnold menduakan Arini." ujar Arnold dan Mom Celia langsung membuka kipas yang selalu di tangannya dan mengipasi wajahnya.
"Mom hanya ingin kamu bahagia, Arnold. Dan itu beda."
"Tapi Mom sama Arini sama-sama perempuan." bantah Arnold dan Mom Celia memutar matanya malas.
"Kamu ini niat mau melamar Jessica apa enggak sih?" Mom Celia melirik tajam putra bungsunya, "Sudah sampai depan rumahnya, kamu mau berubah pikiran, Arnold?"
Arnold menggelengkan kepala sebagai jawaban, lalu berjalan di depan Mom dan Dad-nya masuk ke dalam rumah Pak Raka.
Di dalam rumah Pak Raka, ada Pak Raka, Ibu Kinara dan tentunya Jessica yang sudah dandan begitu cantik oleh MUA hits pilihannya, kebayanya pun kebaya limited yang didesain khusus hanya untuk Jessica.
"Selamat datang di rumah kami." Pak Raka menyambut lalu menyalami tamunya satu persatu walaupun pandangan Arnold sedari tadi memutar melihat sekeliling.
"Kami mengantar Arnold yang mau melamar Jessica, Pak." Dad Graham memulai pembicaraan dan Arnold semakin gelisah di kursinya.
Laki-laki bermuka bengis itu berdehem sebentar lalu minta izin untuk ke toilet untuk menunda acara tukar cincin yang akan berlangsung demi bisa menemukan Arini terlebih dahulu.
"Kak Arnold tau letak toiletnya?" Jessica bertanya saat Arnold sudah mulai melangkah.
"Aku bisa mencarinya." jawab Arnold dengan maksud lain di dalamnya namun Pak Raka hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Tidak semudah itu kamu mau mengelabuhi ku, Arnold. batin Pak Raka.
Bersambung...